KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 210 : Cerita Lu Rao Rao dan Luo Bai


__ADS_3

Kemudian Evan dan Tang Chen pun mencari Luo Bai hingga akhirnya sampai di du depan pintu gerbang kediaman Jenderal Penjaga Kota Hao.


Para penjaga langsung mengenali Evan yang kedatangannya membuat para penjaga itu terkejut.


"Jenderal Li-Tuan Tang!" kata seorang prajurit terkejut dengan kedatangan Evan dan Tang Chen.


"Dimana Komandan Luo Bai?, apakah dia ada dikediamannya?" tanya Evan.


"Komandan Luo Bai sekarang ada didalam, dia sudah lama menunggu kedatangan Tuan Jenderal Li dan Tuan Tang Chen, silahkan kedua Tuan masuk, saya akan membawa kedua Tuan menemui komandan Luo Bai!" ujar si penjaga.


"Baiklah pimpin jalannya!" kata Evan.


Kemudian Evan dan Tang Chen pun dipimpin jalannya oleh si penjaga untuk bertemu Lui Bai.


Disisi lain tampak Luo Bai yang sedang fokus mengurus banyak kertas dokumen diruangan kerjanya, tak lama kemudian Lu Rao Rao datang menghampiri Luo Bai sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Luo Bai, kamu jangan terlalu sibuk bekerja, kamu fokus mengurus semua dokumen sampai lupa makan." ujar Lu Rao Rao dengan lemah lembut sembari meletakan nampan di atas meja.


"Sebentar, sedikit lagi sudah akan selesai!" jawab Luo Bai dengan lembut sambil fokus mengerjakan dokumen yang ada dihadapannya.


Tak sabar melihat Luo Bai yang terus fokus pada pekerjaannya, Lu Rao Rao mengambil kursi dan duduk di samping Luo Bai sambil mengambil makanan yang ada di atas nampan yang tadi dia bawa.


Luo Bai yang sebelumnya terus fokus dengan dokumen akhinya dia pun menoleh melihat ke Lu Rao Rao yang siap untuk menyuapinya makan.


"Rao Rao?" sebut Luo Bai bertanya heran.


"Karena kamu fokus mengerjakan pekerjaanmu maka aku bantu menyuapi kamu makan." kata Luo Rao Rao dengan sendok penuh nasi siap masuk ke mulut Luo Bai.


Dengan tersenyum Luo Bai pun dengan senang hati memakan suapan Lu Rao Rao.


Sementara itu diluar Evan dan Tang Chen sudah sampai di depan ruangan kerja Luo Bai.


"Tok Tok Tok....." si penjaga mengetuk pintu yang membuat Luo Bai berhenti makan sejenak.


"Komandan Luo Bai, Tuan Jenderal Li dan Tuan Tang Chen datang ingin bertemu dengan anda!" kata si Penjaga dari balik pintu yang tertutup.


"Persilahkan mereka masuk!" kata Luo Bai dengan raut wajah gembira.


"Tuan Jenderal Li, Tuan Tang Chen, kedua Tuan sudah boleh masuk ke dalam ruang kerjanya, saya mohon pamit untuk kembali menjaga pintu di depan!" kata si Penjaga sambil membungkuk dan memberi hormat pada Evan dan Tang Chen.

__ADS_1


"Pergilah, lakukan pekerjaanmu!" ujar Evan kepada si penjaga.


Kemudian si penjaga tersebut pun pergi meninggalkan Evan dan Tang Chen, dan kemudian Evan dan Tang Chen pun masuk ke ruangan kerja Luo Bai.


Evan membuka pintu dan tampak Luo Bai yang sedang makan dengan si suapi oleh Lu Rao Rao.


"Evan, Tang Chen akhinya kalian ada yang datang ke kota Hao, bagaimana dengan kabar kalian dan Nanzhou?" ujar Luo Bai bertanya pada Evan dan Tang Chen.


Evan berjalan mendekat ke Luo Bai.


"Semuannya baik-baik saja, tetapi Nanzhou tidak, kamu pasti tahu serangan besar-besaran yang dilakukan oleh Ras iblis dari Negara Kai sebelumnya, akibat serangan itu lebih dari 20 ribu prajurit kita gugur, sekarang prajurit yang tersisa di Nanzhou tidak lebih dari 35 ribu prajurit!, dan dinding benteng pertahanan Nanzhou pun rusak parah dan butuh perbaikan!" kata Evan menjawab Luo Bai.


"Maaf aku tidak bisa membantu Nanzhou saat dalam keadaan darurat!" kata Luo Bai.


"Tidak apa-apa yang penting sekarang Nanzhou sudah mulai kembali normal, tetapi sekarang kita membutuhkan banyak uang untuk melakukan perbaikan dinding pertahanan Nanzhou!" kata Evan.


"Hmm??, bukankah perbaikan dinding pertahanan Nanzhou biasanya tidak memakan banyak biaya?, kenapa sekarang memakan banyak biaya?" tanya Luo Bai merasa heran.


"Jika perbaikan yang seperti biasanya memang tidak akan memakan begitu banyak biaya, tetapi aku ingin membuat dinding benteng pertahanan Nanzhou menjadi benteng yang paling kuat di daratan timur ini, jadi aku telah membuat suatu rancangan benteng pertahanan yang sangat kuat, tidak hanya bisa bertahan tetapi juga bisa menyerang!" kata Evan menjawab Luo Bai.


"Hei Luo Bai, apakah kamu tidak bisa berhenti makan dulu?, kami disini sedang berbicara serius denganmu!" ujar Tang Chen merasa sebal melihat kemesraan Luo Bai yang disuapi oleh Lu Rao Rao.


"Cih, siapa yang iri?, muak aku melihatnya!" kata Tang Chen merasa kesal.


"Oh benarkah?, kalau begitu kamu lihat ini! CUP!" Luo Bai langsung menarik dan memegang kepala Lu Rao Rao dan mencium keningnya dengan lembut.


Terkejut akan hal itu Luo Rao Rao pun hanya diam dengan wajah merah merona sambil memegang mangkuk.


Setelah itu Luo Bai kembali menoleh ke Tang Chen dan mengangkat alisnya dengan raut wajah pamer yang ditunjukan kepada Tang Chen.


Melihat Luo Bai yang sengaja pamer kemesraan kepadanya, Tang Chen merasa semakin kesal.


"Aku ingin mencari udara segar diluar, aku tidak bisa bernafas disini!" kata Tang Chen merasa kesal dan pergi dengan langkah besar keluar dari ruangan kerja Luo Bai.


"Dasar Luo Bai, kamu jangan terlalu senang mengisengi Tang Chen, aku akan menyusulnya, kamu cepatlah selesaikan apa yang kamu lakukan setelah itu kamu cari aku, ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu!" ujar Evan.


"Baiklah kalian berdua tunggu aku di taman kecil di kediaman ini!" ujar Luo Bai.


Kemudian Evan pun pergi meninggalkan Luo Bai dan Lu Rao Rao di ruangan kerja tersebut dan menyusul Tang Chen yang tadi pergi dengan kesal.

__ADS_1


Sementara itu Lu Rao Rao masih saja menunduk diam dengan wajah merah merona, jantungnya terus berdegub kencang.


Luo Bai yang melihatnya pun tersenyum dan mengangkat wajah Lu Rao Rao dan mencium bibirnya.


"Lu Rao Rao, kita sudah dewasa, mengapa masih merasa malu?" tanya Luo Bai dengan lemah lembut.


Dengan cepat Lu Rao Rao melepas (menolak) ciuman Luo Bai.


"Luo Bai aku tidak mau!" kata Lu Rao Rao menolak Luo Bai.


"Kenapa kamu tidak mau?" tanya Luo Bai merasa heran.


"Aku hanya masih takut, aku takut kamu akan meninggalkan aku lagi setelah kamu mengambil semuannya dariku sama seperti sebelumnya!" kata Lu Rao Rao merasa trauma.


Lu Rao Rao kembali menunduk, Wajah yang sebelumnya merah merona kini pun berubah menjadi sebuah ratapan kesedihan mengingat kembali masa lalunya dengan Luo Bai.


"Kamu malam itu berkata dan berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku selamanya, mendengar itu aku rela memberikan hal yang paling berharga bagiku (tubuh dan malam pertama) untukmu pada malam itu, tetapi keesokan harinya kamu berkata ingin berpisah denganku, mendengar itu hatiku sakit Luo Bai, aku sangat sedih. Namun setelah aku tahu aku hamil aku kira kamu akan bisa kembali denganku, aku sangat senang saat itu, malam itu aku ingin memberitahukannya padamu, tetapi apa yang aku dapat?, aku melihat kamu bermain dengan banyak wanita dikamarmu, melihat itu hatiku sangat sakit Luo Bai. namun aku tetap bersih keras untuk memberitahukan padamu tentang kehamilanku, aku sangat berharap hadirnya nyawa kecil dalam perutku saat itu akan membuatmu kembali padaku, tetapi apa yang kamu katakan pada malam itu?, kamu malah mengatakan bahwa anak yang aku kandung bukanlah anakmu dan kamu menuduhku tidur dengan pria lain!....." Lu Rao Rao bercerita sembari menangis.


"Sejak saat itu aku tidak tau harus berbuat apa, aku takut dan bingung bagaimana aku akan menghadapi orang-orang, aku depresi, aku menjadi gila hingga akhirnya aku memustukan untuk menggugurkan anak tak berdosa diperutku saat itu. aku takut Luo Bai, aku takut hal yang sama terjadi lagi!" Luo Rao Rao berkata sambil menangis dengan kepala menunduk dan tubuh yang gemetar.


Air mata Lu Rao Rao bercucuran dan meneres di lantai, sedangkan Luo Bai yang mendengar itu pun merasa sangat menyesal dan sangat merasa bersalah pada Lu Rao Rao, Luo Bai meneteskan air mata dan memeluk Lu Rao Rao.


"Maaf....., itu semua memang adalah kesalahanku, aku telah sangat bersalah padamu, maafkan aku Rao Rao, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku......" ucap Luo Bai sambil memeluk Lu Rao Rao dalam dekapannya yang penuh kehangatan.


"Luo Bai, kamu harus berjanji padaku bahwa kamu tidak boleh meningglakan aku selamannya, walaupun aku mati kamu tetap tidak boleh mencari penggantiku, kamu harus berjanji!" pinta Lu Rao Rao yang masih terus menangis dalam pelukan Luo Bai.


"Yah, aku berjanji!, sampai nanti aku matipun aku akan tetap menjadi milikmu seorang, selamanya!" ucap Luo Bai memeluk Lu Rao Rao dengan pelukan hangat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...----------------...


......................


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2