KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 95 : Saling Mengenal


__ADS_3

Para penjahat seketika terkejut melihat evan yang tiba-tiba datang dan membunuh penjahat yang menyerang putri Gu Mei.


"Dia!?" gumam mereka terkejut melihat Evan, yang tadinya ditendang oleh putri Gu Mei.


Evan berdiri tegak memegang pedangnya. "Kalian Enyahlah sebelum aku membunuh kalian!." Ucap Evan mengnunjukan Sayap aura miliknya, yang menunjukan kalau dirinya sudah berada ditingkat Jenderal level 5.


"Jenderal level Lima!?" gumam si penjahat ketakutan hingga gemetar.


"Boss, bagaimana ini?" bisik salah satu anak buah.


"mau bagaimana lagi?, mundur!" perintah si boss penjahat yang paling kuat.


Para penjahat itu pun langsung kabur terbirit-birit, tau kalau mereka bukanlah tandingan Evan yang berada ditingkat Jenderal level lima.


"Kau beruntung putri ada orang yang menolongmu, lain kali kami tidak akan melepaskanmu!" ucap si boss penjahat sembari berbalik kabur.


Setelah semua penjahat itu kabur, sang putri Gu Mei menghela nafasnya, namun ketika dia melihat ke arah Evan, Evan seperti ada yang tidak beres.


"Tuan..?" sang putri Gu Mei khawatir ketika melihat dari belakang Evan yang hanya berdiri dengan kaki gemetar sembari menghilangakan sayap aura miliknya.


"aaaaahh....." rintih Evan kesakitan memegang selakangannya. Evan berdiri sempoyongan dan jatuh.


Dan dengan sigapnya putri Gu Mei menangkap Evan dan menopangnya berdiri.


"Terima kasih" ucap Evan.


Namun sang putri memalingkan wajahnya dengan wajah merona, karena Evan sampai sekarang masih belum memakai pakaiannya (telanjang).


Seketika Evan sadar ketika melihat sikap putri Gu mei. "Ma-maaf, aku bisa berjalan sendiri." ucap Evan menutupi ***********.


Beberapa waktu kemudian di bawah pohon pinggir danau. Evan duduk dengan kedua kaki terbuka seperti orang yang baru dikhitan. Putri Gu Mei datang menghampiri Evan dengan rasa bersalah.


"Maaf, aku tidak tau kalau kamu adalah orang baik, aku kira kamu adalah salah satu dari teman mereka. "ucap Putri Gu Mei meminta maaf.


"Sudah tidak apa-apa."


"Apakah masih sakit?" tanya putri gu mei berjongkok dan hendak memegang untuk memeriksa.


"Aaaaaa.... janngan sentuh!, apa kamu tidak tau malu?, sembarangan memegang ******** pria yang tidak kamu kenal?, kamu ini putri loh!?" marah Evan menepis tangan tangan putri Gu Mei.


Karena melihat Evan marah, Putri Gu Mei memasang tampang sedih sambil memegang tangannya yang tadi ditepis oleh evan.

__ADS_1


Melihat putri Gu Mei yang sedih Evan menghela nafasnya dan meminta maaf, walau pun evan tau kalau putri Gu Mei sedang berpura-pura.


"Masih sedikit sakit, sudah jangan menangis. putri, kamu kenapa bisa sampai ke wilayah kerajaan Xiao?"


Putri Gu Mei mengusap air mata bohongannya sambil berlagak menyedihkan.


"Aku di utus oleh Ayahku kaisar Gu Tianxing, untuk datang ke kerajaan Xiao untuk negoisasi perjanjian perdamaian yang diajukan kerajaan Xiao, tapi kami tidak tau kalau itu adalah Jebakan yang Kerajaan Xiao agar bisa menangkap aku, dan memanfaatkan aku agar supaya ayahku menyerah dalam perang diwilayah selatan." Putri Gu Mei menjelaskan.


"Ternyata seperti itu, Negara Xiao memang sangat licik, aku tidak boleh membiarkan mereka terus hidup!" ucap Evan mengepalkan tangannya dengan Geram.


"Tuan, Apa kamu memiliki dendam dengan kerajaan Xiao?" tanya Putri Gu Mei setelah melihat Evan yang begitu kesal terhadap Kerajaan Xiao.


"Yah, Dendam yang sangat besar!" kata Evan.


"Ngomong-ngomong, sepertinya aku belum memperkenalkan diri. Namaku Evan Li, apakah boleh tau nama Tuan Putri?" lanjut Evan bertanya.


"Namaku Gu Mei!" jawab Putra Gu Mei dan Evan mengangguk.


"Oh yah, sebenarnya aku ingin pergi kekerajaan Gu, untuk menjumpai ayah putri, Kaisar Gu Tianxing." ujar Evan lagi.


"Tuan ada urusan apa ingin menjumpai kaisar Gu Tianxing?" tanya Putri Gu Mei penasaran.


"Aku ingin memberikan Sebuah surat yang diberikan oleh seseorang untuk kaisar." jawab Evan.


"Dia jenderal Ryu dari kota Salju Merah Darah, dia telah meninggal beberapa hari yang lalu karena menolong sekte matahari merah ketika diserang oleh prajurit dari kerajaan Xiao, Hampir semua murid selamat, namun walau seperti itu sekte matahari merah tetap saja hancur, dan semua terua tewas." Ucap Evan bercerita dengan sedih.


"Jangan bilang kalau kamu adalah murid dari Sekte Matahari Merah itu?" tanya Putri Gu Mei penasaran setelah mendengar cerita evan.


"Benar, aku adalah murid Sekte Matahari Merah." jawab Evan.


Mendengar jawaban Evan, putri Gu mei tak terkejut. "pantas saja Evan sangat membenci Kerajaan Xiao, itu karena sektenya dihancurkan?, sungguh menyedihkan." batin putri Gu Mei sambil melihat Evan.


"Kalau seperti kamu sekalian saja mengantar aku kembali kekerajaan Gu, aku berjanji akan memberikanmu hadiah." ucap Putri Gu Mei menawarkan.


"Boleh, tapi aku masih ada banyak urusan yang harus aku lakukan untuk beberapa hari kedepan, jadi harap putri menunggu." pinta Evan


"Baik aku akan menunggu, tapi dari tadi kamu terus memanggil aku putri, panggil saja aku 'Mei' supaya lebih akrab dan nyaman." ucap putri Gu mei menyarankan.


"Baik mei, kalau seperti itu kamu juga harus memanggilku Evan jangan Tuan."


...****************...

__ADS_1


Hari mulai gelap, mereka pun mencari makanan untuk makan malam. karena kondisi ******** Evan yang kurang baik, Gu Mei menawarkan dirinya untuk menangkap ikan untuk makan malam mereka.


Evan tidak yakin kalau Seorang putri Kaisar seperti Gu Mei akan bisa menangkap ikan, jadi Evan pun melarangnya, tetapi Gu Mei tetap bersih keras dan tak ingin diremehkan.


Namun benar saja apa yang dipikirkan oleh Evan, Gu Mei tak pandai menangkap ikan.


"Kenapa susah sekali!?" keluh si putri Gu Mei. namun ketika dia mengeluh dia melihat seekor ikan ada didepannya, ia pun berhasil menangkapnya namun sayangnya terlepas lagi.


Evan menepuk jidatnya melihat kepayahan si putri Gu Mei.


"Putri Mei !" panggil Evan.


"Kau keluarlah dari air, biar aku saja yang menangkap ikannya." ujar Evan.


"Apa kau meremehkan aku? kau tidak percaya padaku kah, kalau aku bisa menangkap ikan?" ucap Gu Mei kesal.


"kalau aku harus terus menunggumu menangkap ikan, mungkin sampai besokpun tetap belum tertangkap ikannya!, kamu sebaiknya membuat apinya saja, biar aku yang menangkap ikan!." perintah Evan.


"tapi apakah itu kamu sudah tidak sakit?!" Ucap Gu Mei bertanya dengan kesal dan meremehkan.


"Sudah kamu keluar dulu saja dari air, walau masih sedikit sakit tapi gak bikin aku mati." ujar Evan menjawab.


Mereka pun bertukar tempat, Gu Mei bertugas menyalakan api sedangkan evan yang menangkap ikannya.


Setelah Gu Mei naik ke permukaan Evan berjongkok dipinggir danau, Evan memasukan kedua tangannya kedalam air.


"GELOMBANG PETIR!" gumam Evan menyalurkan kekuatan petirnya ke air danau untuk menyetrum ikan.


Disisi lain Gu Mei sudah menyalakan apinya. "Apinya sudah menyala, aku ingin lihat bagaimana pria sombong itu menangkap ikan."


Mei menghampiri evan yang sedang berada didanau, setelah sampai Gu Mei dikejutkan dengan tumpukakan ikan yang ditangkap oleh Evan.


"Ka,kau!, bagaimana bisa menangkap ikan sebanyak ini?" tanya Mei pada evan yang sedang duduk dibawah pohon dengan santai.


"Setrum!, sudah jangan banyak tanya, cepat panggang ikan itu!" perintah Evan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...****************...

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2