KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 161 : Terowongan Bawah Tanah


__ADS_3

Malam Hari, Kota Yanzhou kediaman Jenderal, Evan dan teman-temannya berkumpul di aula.


"Evan, apa kita sungguh akan berperang dengan Negara Mo?, Kita bahkan belum membereskan daerah kita, jika kita memulai perang pasti akan menyebabkan mempengaruhi perkembangan Daerah!" ucap Luo Bai berdiskusi.


"Memang cukup sulit, tapi mereka sudah mulai menyerang kita secara terang-terangan. ini sama saja sudah mendeklarasikan perang!. jika kita hanya terus bertahan kita akan semakin terpojok, menyerang adalah cara terbaik untuk bertahan!" kata Evan dengan teguh.


"Karena Negara Mo sudah mulai menyerang selanjutnya pasti akan ada gelombang serangan berikutnya, Persiapkan Seluruh pasukan untuk berjaga!" perintah Evan.


"Lapor Tuan Jenderal, Ray si pencuri datang ingin menemui anda, kami sudah menghalanginya tapi kami malah dihajar olehnya!" kata seorang Prajurit yang datang melapor pada Evan sambil berlutut.


Kemudian Evan dan teman-temannya pun pergi menemui Ray, Beberapa saat kemudian dihalaman tampak Ray yang sedang menginjak seorang penjaga.


"Kamu lepaskan penjagaku!" pinta Evan yang datang bersama dengan teman-temannya.


"Maaf, aku hanya memberi mereka pelajaran karena menghalangiku!" ujar Ray menjawab Evan sambil mengangkat kakinya yang menginjak seorang prajurit.


"Kamu!, kamu masih berani datang kesini?, aku masih belum memperhitungkan yang kamu melemparkan bom cabai padaku!" ucap Sea Lin yang kesal setelah melihat Ray.


"Itu bukan salahku, suruh siapa kamu terus mengejarku, aku hanya berusaha melindungi diriku...." jawab Ray tanpa rasa bersalah.


"Melindungi diri?, gara-gara kamu mataku hampir buta, Tau tidak!?" Ucap Sea Lin semakin kesal.


"Matamu buta atau tidak itukan bukan urusanku..." ucap Ray sembari mengangkat kedua bahunya.


"Sudah hentikan, jangan buat keributan!" ucap Evan menengahi mereka berdua, dan kemudian fokus kembali kepada Ray yang ada perlu apa datang mencari Evan.


"Ada perlu apa kamu mencariku?" tanya Evan dengan raut wajah serius.


"Boleh kita berbicara berdua?" pinta Ray dengan rayt wajah serius.


"Apa yang kamu bicarakan katakan saja disini!, mereka adalah teman-temanku, aku percaya pada mereka!" jawab Evan dengan tegas.


"Aku tidak suka bernegosiasi!" ujar Ray dengan dingin.


"Tapi kamu tidak punya hak untuk bernegosiasi denganku!" ucap Evan dengan dingin.


"Kamu sungguh membuatku kesal, baiklah kalau begitu kalian ikuti aku!" ajak Ray yang kemudian berbalik.


Beberapa saat kemudian jalan menuju pinggiran kota Yanzhou, Evan dan kawan-kawan mengikuti Ray.


"Nama kamu Evan Li bukan?, kamu masih sangat muda bahkan lebih muda dariku, aku pikir kamu menjadi seorang Jenderal penguasa Nanzhou karena bantuan orang dalam, tetapi ternyata aku yang salah paham" ucap Ray yang sedang memimpin jalan.


"Terima kasih, karena telah memberi banyak bantuan dan memimpin Nanzhou dengan baik, aku mewakili masyarakat Nanzhou berterima kasih pada kamu dan teman-temanmu!" ucap Ray tersenyum tipis.


"Sama-sama, melindungi dan mengayomi Rakyat Nanzhou memang sudah seharusnya karena itu adalah kewajibanku sebagai pemimpin mereka!!" ujar Evan menjawab.


"Hem, kita sudah sampai!" ucap Ray yang berhenti.


Mereka semua berhenti disebuah tanah sepetak di dekat Benteng pertahanan, tampak Ray mengigit satu jarinya hingga berdarah hingga menetes ke tanah, kemudian Ray memukul tanah dengan telapak tangan kanannya.

__ADS_1


"FORMASI BUKA!"


Kemudian sebuah formasi pun terlihat di atas tanah, kemudian sebuah teromongan bawah tanah terbuka yang bersamaan dengann menghilangnya cahaya formasi.


Ray bangkit berdiri. "Ini adalah ruangan rahasia yang tidak ada satu orang pun yang tahu tempat ini kecuali aku dan mendiang Jenderal Besar Yang Qi dan para pengawal kepercayaannya!" kata Ray dengan raut wajah menyimpan kesedihan yang mendalam.


"Jenderal Yang Qi adalah Jenderal penguasa Nanzhou dua generasi sebelumnya, dia menghilang beserta seluruh pasukan kepercayaannya 13 tahun yang lalu!" ucap Zhang Pin membisiki Evan.


"Kenapa mereka semua bisa menghilang?" tanya Evan berbisik.


"Tidak ada yang tau apa penyebab mengapa mereka semua menghilang, mereka menghilang seperti ditelan oleh bumi begitu saja!" jawab Zhang Pin berbisik.


Setelah mendengar itu Evan melihat ke arah Ray yang terlihat dari wajah Ray yang menyimpan kesedihan yang mendalam.


"Baiklah Pintu Teromongannya sudah terbuka, ayo kita masuk!" ajak Ray yang kemudian turun ke bawah melalui tangga yang ada diteromongan yang Kemudian diikuti oleh Evan dan teman-temannya.


Mereka berjalan menuruni tangga hingga beberapa saat kemudian akhirnya mereka sampai kelantai bawah yang berupa sebuah teromongan panjang berbentuk lurus kedepan.


(Ray masih memimpin jalan)


"Sebuah terowongan lagi?" ucap Evan yang terkejut dengan wajah serius.


"Yah, diterowongan ini sebaiknya kita berhati-hati!" kata Ray.


"Tetapi ada kamu yang membawa kami kesini pasti tidak akan ada masalah kaan?" ujar Tang Chen.


"APA!!?" terkejut mereka bersamaan.


"Bukannya tadi katamu kamu tahu dan sudah pernah ke tempat ini!?, Kenapa kamu tidak tidak tau disini ada jebakan atau tidak!?" tanya Tang Chen yang kesal.


"Aku pernah kesini dulu waktu aku masih berumur lima tahun!, sekarang sudah 15 tahun berlalu, saat itu aku masih kecil mana mungkin bisa mengingat semuannya!" jawab Ray menjelaskan.


"Sudah cukup jangan bertengkar!" ucap Evan menengahi mereka berdua, Ray dan Tang Chen saling membuang muka.


Evan melihat ke arah depannya. "Kakak Elemen, aku butuh bantuan kalian." pinta Evan melalui kesadarannya kepada para Elemen yang ada dilautan spiritualnya.


"Di depan memang banyak jebakan, tetapi tenang saja selagi ada kami maka semua jebakan ini bukanlah apa-apa!" ucap Gelap.


"Tapi kalian tetap harus berhati-hati, jika salah satu langkah saja maka nyawa bisa melayang!" ucap Petir mengingatkan.


"Lebih baik kalian kurangi orang karena semakin banyak orang yang ikut akan semakin berbahaya!" ujar Angin.


Setelah mendengar peringatan para Elemen, Evan pun meminta sebagian orang untuk naik keluar dari terowongan bawah tanah itu, terutama para wanita.


"Ririn, kalian para wanita kembalilah ke kediaman jenderal, terowongan ini banyak sekali jebakan yang mungkin bisa merenggut nyawa, jadi kalian keluarlah dari sini dan kembalilah!" perintah Evan dengan lembut sembari mengusap kepala Ririn.


Ririn dengan cepat menyingkirkan tangan Evan. "Jangan sentuh kepalaku!" ucap Ririn dengan wajah kesal yang menggemaskan.


"Evan, apa kamu menganggap kami semua wanita lemah?, kami akan ikut denganmu!" ucap Reya membantah perintah Evan.

__ADS_1


"Jangan Membantah, apa lagi kamu Reya juga masih terluka, aku hanya tidak ingin kalian bertujuh terluka ( Ririn, Reya, Nan Ruyu, Lu Rao Rao, Ran Ran, Chu Xian, dan Qin Yun)!" ujar Evan dengan lembut.


"Benar apa yang dikatakan Evan, Rao Rao ajaklah yang lainnya untuk naik ke atas keluar dari sini" pinta Luo Bai pada Lu Rao Rao.


"Sayang kamu juga keluar yah, nanti kalau kamu mati disini siapa yang akan menikah denganku nanti?, aku tidak mau menikah dengan wanita lain..." ujar Sea Lin pada Chu Xian.


"Kamu berani mengutuk aku mati?, dan siapa juga sayangmu, Humph!" ucap Chu Xian yang sebal.


"Baiklah kalau begitu kami akan keluar, kalian berhati-hatilah..." ucap Qin Yun menjadi yang pertama melangkah pergi.


"Evan kamu jangan sampai terluka..." ucap Reya.


"Baik...." ucap Evan terhenti ketika Reya dengan cepat maju ke arahnya dan mencium bibir Evan.


"CUP!" Evan terkejut begitu juga dengan Ririn yang terkejut dengan wajah marah, Namun Ririn menjadi terkejut lagi ketika Ran Ran dan Nan Ruyu juga ikut maju mencium pipi kanan kiri Evan secara bersamaan.


Evan sangat terkejut kepada ketika gadis cantik itu, dan tidak tahu harus mengatakan atau melakukan apa untuk menolak mereka bertiga yang menciumnya dengan tiba-tiba.


"Evan kamu harus pulang dengan selamat!" ucap Ran Ran setelah menncium Evan dan Nan Ruyu juga mengatakan yang tidak jauh berbeda dari Ran Ran setelah mencium Evan.


"Humph aku juga bisa, aku tidak akan kalah dari Reya!" batin Ran Ran dan Nan Ruyu yang bersaing dengan Reya, disamping itu Ririn yang melihat hal itu menjadi sangat kesal yang sebagai kekasih sesungguhnya Evan.


"Kalian Bertiga Menyingkir dari Evan!" ucap Ririn dengan niat membunuh sembari mengeluarkan aura dingin.


"Ririn....." Evan dan ketiga gadis itu merasa tidak enak, ketiga gadis itu pun melepas Evan dengan wajah berkeringat.


Ririn maju dan langsung mencium Evan juga, mereka yang melihat itu pun tidak bisa berkata-kata.


"Sial, ada apa dengan para gadis ini?, sungguh membuatku menjadi muak!" batin Ray kesal.


Kemudian Qin Yun memanggil dari atas. "Kalian sedang apa, mengapa kalian lama sekali?, cepat naik!"


Setelah mendengar suara Qin Yun yang sudah sampai Naik keluar dan memanggil mereka, Ririn pun melepas ciumannya. "Kamu Tidak boleh mencium wanita lain selain aku!" ucap Ririn mengingatkan Evan.


Ririn berbalik menoleh ke arah tiga gadis itu dan memperingati ketiga gadis itu. "Dan untuk kalian bertiga awas saja, aku akan mengawasi kalian bertiga! Humph!." Kemudian Ririn pun pergi dari tempat itu yang selanjutnya diikuti oleh para gadis lainnya meninggalkan terowongan.


"Kakak besar kamu hebat sekali!, Empat wanita cantik menciummu dimalam yang sama!" ucap Sea Lin yang disertai tawa teman-teman yang lainnya kecuali Ray yang hanya diam dingin seperti Es (tidak suka dengan cinta-cinta'an)


"Sudahlah jangan menertawaiku, sekarang fokus saja bagaimana kita akan melewati terowongan penuh jebakan ini!" ujar Evan fokus kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...----------------...


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2