
Melihat Cao Cao yang telah menjadi bersemangat membuat Evan merasa senang dan tersenyum.
"Bagus! ini baru adikku! Ayo kita mulai lagi latihan bertarungnya!" kata Evan mengajak Cao Cao untuk mulai melanjutkan latihan bertarung mereka.
Kemudian Evan dan Cao Cao langsung maju menyerang satu sama lain. Dengan senjata yanga ada ditangan mereka, Evan dan Cao Cao latihan bertarung dengan penuh semangat.
Evan dan Cao bertarung dengan cukup lama. Dari pagi sampai sore hari mereka bertarung tanpa henti dan istirahat.
Dalam latihan bertarung mereka, Evan tidak hanya sekali atau dua kali memukul Cao Cao, tetapi Evan memukul Cao Cao sampai berkali-kali, hingga membuat seluruh tubuh Cao Cao dipenuhi oleh luka lebam, bahkan beberapa diantaranya ada yang sampai berdarah.
Tampak Cao Cao dengan tubuh penuh luka masih tetap berdiri kokoh dihadapan Evan, sambil memegang tombak tulang emas dengan kedua tangannya. Sedangkan dihadapan Cao Cao, Tampak Evan yang masih berdiri dengan kokoh tanpa terluka sedikit pun, bahkan nafasnya juga masih terjaga dengan baik dan sangat tenang.
"Ayo Kakak, kita lanjutkan lagi! aku masih belum lelah!" kata Cao Cao dengan sangat pantang menyerah menantang Evan yang berada dihadapannya.
Melihat Cao Cao yang masih ingin berlatih dan bertarung, membuat Evan merasa senang dan tersenyum.
"Karena kamu masih ingin berlatih, maka Ayo Kakak akan menemani kamu berlatih!" kata Evan menerima tantangan Cao Cao dengan sangat senang hati.
Kemudian Evan dan Cao Cao lanjut bertarung lagi dan mengeluarkan serangan mereka masing-masing.
Sementara itu dipinggir lapangan, tampak para penonton yang melihat pertarungan Evan dan Cao Cao ditengah lapangan sudah berkurang. Jika sebelumnya para penonton yang melihat pertarungan Evan dan Cao Cao berjumlah delapan orang, kini para penonton hanya tersisa empat orang saja, yaitu Ririn, Reya Sea Lin dan Qiu Nia Lan saja. Sedangkan empat orang lainnya harus pergi meninggalkan lapangan, karena mereka memiliki urusan yang harus mereka lakukan.
Ririn, Reya, Sea Lin dan Qiu Nia Lan menonton dan melihat pertarungan Evan dan Cao Cao dengan seksama.
"Sepertinya Cao Cao benar-benar menjadi serius dan bersemangat setelah di provokasi oleh Evan!" kata Reya sambil melihat pertarungan Evan dan Cao Cao yang berlangsung ditengah lapangan.
"Kasihan sekali Cao Cao, dia terlalu memaksakan dirinya. padahal seluruh tubuhnya telah dipenuhi oleh luka, aku sangat tidak tega nelihatnya di siksa seperti itu!" kata Qiu Nia Lan merasa kasihan dan tidak tega melihat Cao Cao yang penuh luka.
"Dasar Evan, memukul Cao Cao sampai seperti itu, apakah dia tidak kasihan pada Cao Cao?" ujar Ririn yang juga merasa kasihan pada Cao Cao yang penuh luka akibat dipukuli oleh Evan.
__ADS_1
"Sebenarnya, siapa yang mengajari Cao Cao teknik bertombak? kenapa sepertinya dia sangat mahir sekali?Walaupun umur Cao Cao masih sangat muda, tetapi aku yakin diantara Para Prajurit Nanzhou, hanya sedikit orang saja yang bisa mengalahkan Cao Cao dengan Tingkatan pencapaian Kultivasi yang sama!" kata Sea Lin merasa sangat takjub pada kemampuan bertarungnya Cao Cao.
Mendengar perkataan Sea Lin membuat Reya merasa senang dan bangga, karena selama ini Reya lah guru yang mengajari Cao Cao teknik bertombak.
"Tentu saja teknik bertombak Cao Cao yang paling hebat, karena aku lah yang mengajarinya!" kata Reya merasa sangat senang dan bangga pada dirinya.
Mendengar perkataan Reya yang mengaku sebagai orang yang mengajari Cao Cao teknik bertombak, seketika membuat Sea Lin juga merasa kagum pada Reya.
"Ternyata Kakak Ipar kedua yang mengajari teknik bertombak pada Cao Cao, pantas saja Cao Cao sangat hebat!" kata Sea Lin merasa kagum pada Reya dan Cao Cao.
Sementara itu ditengah lapangan, tampak Evan dan Cao Cao yang masih bertarung tanpa henti. Akan tetapi tampak Cao Cao yang seperti sudah benar-benar merasa kelelahan dan tidak sanggup untuk lanjut bertarung lagi. Dengan tubuh berdiri sempoyongan dan nafas yang terengah-engah, Cao Cao tetap memegang erat tombak tulang emas yanga ad ditangannya.
Melihat Cao Cao yang benar-benar sudah tidak sanggup untuk melanjutkan latihan bertarung lagi, Evan pun menyudahi latihan bertarung mereka.
"Sudah, hari ini cukup sampai disini saja latihannya. Lihatlah tubuh kamu, sudah penuh dengan luka memar. Kamu pulihkan terlebih dahulu lukamu, lain kali baru kita lanjut latihan bertarung lagi!" kata Evan menyudahi latihan bertarung mereka.
"Haaiihh.... lelahnya, tubuhku sakit semua...." kata Cao Cao merasa sangat lelah dan sakit pada seluruh tubuhnya.
Melihat keluhan Cao Cao yang melepaskan semua bebannya yang sebelumnya terpendam saat latihan bertarung, membuat Evan tersenyum. Pada hari itu, Evan merasa sangat puas dengan hasil latihan Cao Cao yang ditunjukan padanya melalui pertarungan mereka.
"Apakah kamu mau terus berbaring disitu? Hari sudah mulai gelap atau apakah kamu ingin tidur disini?" ujar Evan dengan lemah lembut pada Cao Cao.
"Tentu saja tidak!, aku hanya capek saja, sebentar lagi aku juga akan bangun." ujar Cao Cao menjawab Evan.
"Haaiiss...., ayo cepatlah berdiri, jangan bersikap manja seperti anak kecil!" ujar Evan menyuruh Cao Cao untuk cepat berdiri.
"Tapi Kakak, aku memang seorang anak kecil!" kata Cao Cao menjawab Evan dengan lugas hingga membuat Evam terdiam sesaat.
"Bukankah kamu ingin menjadi seorang pendekar yang kuat? Masa baru latihan seperti ini saja sudah lembek! Ayo cepatlah berdiri, agar Kakak bisa segera mengobatimu nanti!" ujar Evan mencari alasan lain untuk membujuk Cao Cao untuk cepat berdiri.
__ADS_1
"Kakak tenang saja, aku pasti akan segera berdiri! Tetapi Kakak sebelum itu, bisakah aku minta tolong padamu?" ujar Cao Cao yang ingin meminta tolong pada Evan.
"Kamu mau minta tolong apa?" tanya Evan merasa penasaran dan heran dengan Cao Cao yang ingin meminta tolong padanya.
"Bisakah Kakak menyuruh Nia Lan untuk memapahku? Aku ingin kembali ke kamarku, jika yanv memapah adalah dia!" kata Cao Cao meminta tolong pada Evan.
Mendengar permintaan aneh Cao Cao yang ingin dipapah oleh Qiu Nia Lan, seketika membuat Evan tersenyum.
"Nia Lan!" panggil Evan pada Qiu Nia Lan yang berada dipinggir lapangan bersama dengan Ririn, Reya dan Sea Lin.
Mendemgar Evan memanggilnya, kemudian Qiu Nia Lan berlari menghampiri Evan yang berdiri ditengah lapangan.
"Ada apa Kakak Evan memanggilku?" tanya Qiu Nia Lan merasa heran dan penasaran.
"Nia Lan, kamu bantu Kakak memapah Cao Cao ke kamarnya, Kakak lelah tidak bisa memapahnya." ujar Evan meminta tolong pada Qiu Nia Lan.
"Baik Kak!" kata Qiu Nia Lan dengan patuh menuruti perkataan Evan tanpa ragu.
Kemudian Qiu Nia Lan pun membantu memapah Cao Cao dan membawanya ke kamar milik Cao Cao. Sedangkan Evan, Ririn, Reya dan Sea Lin pergi meninggalkan lapangan tersebut dan kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
......................
......................
__ADS_1