
Di suatu kota kecil di bagian Utara Kerajaan Xiao. Hiduplah sebuah keluarga kecil bahagia yang hidup dengan sederhana.
Keluarga kecil tersebut terdiri dari Ayah, Ibu, seorang anak laki-laki berumur delapan tahun, dan seorang anak perempuan berumur enam tahun.
Dengan manfaatkan lahan pertanian kecil yang ada di belakang rumah, keluarga kecil tersebut dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Hingga suatu masa, kota kecil tempat mereka tinggal tiba-tiba mengalami musim paceklik yang cukup panjang.
Karena lahan pertanian yang dimiliki keluarga kecil tersebut hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, maka saat tibanya musim paceklik keluarga kecil tersebut pun mengalami kelaparan.
Sang Ayah yang tidak tega melihat Istri dan kedua anaknya kelaparan, kemudian terpaksa pergi mencuri makanan untuk diberikan kepada keluarganya.
Namun naas, saat Sang Ayah mencuri sekantung beras, Sang Ayah ketahuan dan dipukuli oleh warga sampai meninggal dunia.
Sang Ibu yang mengetahui Suaminya telah meninggal karena ketahuan mencuri dan di pukuli oleh warga, kemudian menyusul suaminya dengan gantung diri.
Kini yang tersisa dari keluarga kecil hanya Kakak laki-laki dan Adik perempuannya.
Sang Kakak yang sangat menyayangi Adik perempuannya, kemudian membawa Adiknya untuk mengemis di jalanan.
Seringkali saat mereka mengemis di jalanan, mereka kerap diusir bahkan di tendang oleh orang-orang di sekitar mereka.
Karena terkadang uang yang mereka dapatkan dari hasil mengemis hanya cukup untuk membeli sedikit makanan, seringkali Sang Kakak lebih memilih untuk memberikan makanan miliknya kepada Sang Adik.
Walau Sang Kakak seringkali merasa sangat lapar dan sakit pada perutnya, namun Sang Kakak tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya tersebut di hadapan Adik perempuannya.
Hari demi hari berlalu, namun musim paceklik tidak kunjung berhenti.
Tubuh Sang Kakak semakin lemah dan sakit-sakitan, amun walaupun begitu Sang Kakak masih akan tetap tersenyum di hadapan Adiknya.
Hingga pada suatu hari, Kedua anak kecil itu bertemu seorang Kakek Tua yang datang dari luar kota.
Karena melihat Sang Kakak memiliki Fisik Langka dan cocok untuk berlatih ilmu Kultivasi, kemudian Kakek Tua tersebut memutuskan untuk membawa Sang Kakak dan Sang Adik keluar dari kota kecil tersebut.
Setelah pergi meninggalkan Kota kecil tersebut, ternyata Kakek Tua itu membawa Sang Kakak dan Sang Adik ke suatu perguruan beladiri yang bernama Sekte Matahari Merah.
Kakek Tua itu merupakan salah satu Tetua di Sekte Matahari Merah tersebut. Walaupun posisi yang dimiliki Kakek Tua tidaklah tinggi, tetapi Kakek Tua sangat dihormati oleh semua murid yang ada di Sekte Matahari Merah.
__ADS_1
Dengan adanya Kakek Tua yang memberikan bimbingan dan ajaran untuk berkultivasi kepada mereka, kini Sang Kakak maupun Sang Adik bersama-sama belajar dan berlatih menjadi seorang Kultivator bersama-sama.
Dengan adanya Kakek Tua dan teman-teman sekte bersama mereka, kini hidup Sang Kakak dan Sang Adik kembali bahagia.
Sepuluh tahun telah berlalu.
Kini Sang Kakak telah menjadi seorang Pemuda Tampan yang dikagumi oleh banyak wanita.
Sedangkan Sang Adik, kini telah menjadi seorang gadis cantik yang dikagumi oleh banyak pria.
Keduanya saling melengkapi satu sama lain.
Namun pada suatu hari, Sang Kakek Tua yang selama ini merawat dan membesarkan mereka meninggal dunia.
Rasa sedih karena di tinggalkan oleh orang yang paling mereka sayangi, kini terjadi lagi.
Mereka berdua merasa sangat sedih dan menangis seharian di depan makam Sang Kakek Tua.
Namun kesedihan tidak berakhir sampai di situ saja.
Tentu saja, karena perintah itu, Sang Kakak yang memiliki Fisik Spiritual Langka terpilih menjadi salah satu Pasukan bantuan yang akan dikirimkan ke Kerajaan Xiao untuk berperang.
Dengan sangat terpaksa dan berat hati, Sang Kakak pergi ke Medan Perang dan meninggalkan Sang Adik yang tetap tinggal di dalam Sekte Matahari Merah.
Sang Adik yang merasa sangat sedih Selalu mengira kalau perpisahan mereka hanyalah sementara, dan mereka pasti akan bertemu kembali di masa depan.
Namun apa yang terjadi sungguh sangat membuat hatinya merasa sangat sedih.
Beberapa bulan setelah Sang Kakak berangkat ke Medan Perang, Sang Adik mendapatkan kabar dari Kerajaan Xiao, bahwa seluruh Pasukan bantuan yang dikirimkan oleh Sekte Matahari Merah beberapa bulan lalu telah gugur di Medan Perang.
Mendengar kabar Kakak laki-lakinya telah gugur di Medan Perang, Sang Adik merasa sangat sedih.
Setelah sepeninggalan Sang Kakak, kini Sang Adik hanya hidup sebatang kara tanpa memiliki keluarga atau teman disampingnya.
------
Terlihat Ran Ran yang bercerita sambil menangis dan meneteskan air matanya.
__ADS_1
Melihat Istri yang sangat disayanginya menangis, Evan ikut merasa sedih. Evan tidak pernah menyangka, bahwa kehidupan yang dilalui Istrinya tersebut sangatlah menyedihkan.
"Maaf, seharusnya aku tidak menanyakan hal ini kepadamu. Menangis lah, jika ingin kamu menangis." kata Evan memeluk hangat tubuh Istrinya.
Kemudian Ran Ran pun menangis dengan deras di dalam pelukan hangat Suaminya.
Setelah Ran Ran kembali tenang, Evan mencium keningnya.
"Evan, terima kasih karena kamu sudah menjadikan aku sebagai Istrimu. Aku sangat bahagia memiliki kamu sebagai suamiku." kata Ran Ran memeluk hangat tubuh Suaminya.
"Aku juga bahagia memiliki kamu sebagai Istriku. Ingatlah, mulai sekarang kamu sudah memiliki keluarga yang akan selalu menemanimu. Kamu tidak boleh merasa sedih lagi." kata Evan memeluk hangat tubuh Istrinya.
Ran Ran yang mendengar itu kemudian semakin tenggelam ke dalam Pelukan hangat Suaminya.
Beberapa saat kemudian, Evan dan Ran Ran telah selesai mandi dan berganti pakaian.
"Sayang, apakah hari ini kamu tidak berangkat ke markas? Kenapa masih belum berangkat?" tanya Ran Ran yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
"Hari ini aku tidak akan berangkat ke markas. Hari ini aku ingin menemani Cao Cao berlatih." jawab Evan pada Ran Ran yang masih menyisir rambutnya.
"Ran Ran, aku ada satu hadiah yang ingin aku berikan untukmu." kata Evan berjalan mendekati Istrinya yang sedang menyisir rambut.
"Hadiah?" tanya Ran Ran penasaran.
Kemudian Evan mengeluarkan sebuah kalung giok dan menunjukkannya pada Ran Ran melalui pantulan cermin.
*Kalung Giok?* batin Ran Ran merasa sangat senang dan bahagia ketika melihat betapa indahnya Kalung Giok yang diberikan oleh Evan kepadanya.
Kemudian Evan memasangkan Kalung Giok tersebut ke leher Istrinya.
"Bagaimana, apakah kamu suka?" tanya Evan.
"Kalung ini sangat indah, Aku sangat menyukainya. Terima kasih Sayang!" ucap Ran Ran merasa sangat senang dan bahagia
Melihat Istrinya yang merasa senang dan bahagia dengan hadiahnya, Evan pun ikut merasa senang.
"Kalung Giok ini berisi lima bayangan milikku. Masing-masing dari mereka memiliki kemampuan yang setara dengan seorang Tingkat Kaisar Emperor Level Lima. Setiap bayangan mampu bertahan selama dua jam dalam setiap pertarungan. Jika kamu berada dalam bahaya, kamu bisa menggunakan mereka untuk melindungi dirimu." kata Evan memberitahu kegunaan Kalung Giok yang diberikannya.
__ADS_1