
"Ayo kita serang dia bersama-sama!" seru salah satu dari Murid Utama memimpin para Murid Utama lainnya.
16 Murid Utama tersebut pun langsung menyerang Evan bersama-sama sekaligus dengan mengeluarkan jurus dan senjata yang berbeda-beda.
Melihat para wanita Murid Utama tersebut maju bersama menyerangnya, Evan pun menjadi lebih senang dan lebih bersemangat dari pada sebelumnya.
Kemudian Evan menancapkan pedangnya dan menyatukan kedua telapak tangannya.
"PLAK!" suara tangan yang disatukan tampak bersemangat, dan kemudian Evan mengeluarkan Aura Energi Petir berwarna biru yang menyelimuti tubuhnya.
"Karena kalian tampak tidak sabar maka aku akan mengakhiri pertarungan ini dengan cepat!" kata Evan dengan bersemangat yang bersamaan dengan Aura Energi Petir berwarna biru yang menyelimuti tubuhnya semakin kuat dan membesar.
"Maju, jangan mundur!, Serang Dia bersama-sama!" kata salah satu wanita murid utama yang memipin para murid utama lainnya.
"SERANG !!" seru para wanita murid utama tersebut bersama-sama maju menyerang Evan dengan Jurus terkuat mereka.
Disisi lain secara bersamaan, Evan juga mengeluarkan jurus terkuat Elemen Petirnya.
"Jurus Pemusnah!, Naga Petir Sembilan Kali!" ucap Evan mengeluarkan Jurus Petir berbentuk sembilan Naga Petir.
Satu Jurus Evan melawan Enam Belas Jurus milik 16 wanita Murid Utama.
"BOOMM!! JEDUAARR!!"
Hantaman dan Ledakan pun terjadi dengan hebat, 16 wanita murid utama pun terpental dan jatuh bergeletakan bahkan ada beberapa dari mereka sampai terlempar keluar dari arena, sedangkan tampak masih berdiri kokoh ditempatnya.
"Bagaimana Mungkin!?, Kau memang monster yang sangat mengerikan!" kata salah seorang murid utama yang tergeletak di atas arena.
"Cucuku memang hebat!, dia memang pantas menjadi anaknya Rue Nuayi dan Li Xiaonan!" kata Nenek Rue Qianyu dalam hatinya yang merasa bangga kepada Evam.
Semua orang yang melihat pertarungan dibuat sangat terkejut dan heran oleh Evan, Kekuatan yang sudah ditekan hingga ketingkat Jenderal Level Lima dapat mengalahkan 16 orang tingkat Kaisar, Hal itu hanya Evan lah sang pemilik 12 Elemen yang bisa melakukannya.
Kemenangan itu juga bukan semata karena Evan mengandalkan kekuatan dari para Elemen saja, tetapi karena Evan juga memiliki Pengalaman Bertarung (berperang) dan Pelatihan Raga dan Rohnya.
Melihat Evan telah berhasil mengalahkan semua murid utama, Nenek Rue Qianyu pun langsung mengumumkan hasil pertarungan tersebut.
"Aku umumkan, Pertarungan ini dimenangkan oleh Topeng Perak!" kata Nenek Rue Qianyu mengumumkan kepada semua orang.
__ADS_1
Setelah mendengar pengumuman hasil pertarungannya Evan pun merasa puas, kemudian Evan pun turun dari arena dan menghampiri Ruyin Li.
"Bagaimana penampilanku tadi?, hebat bukan?" ujar Evan kepada Ruyin Li.
"Hebat sekali, dan mungkin setelah ini aku pasti akan dimusuhi oleh teman-temanku karena kamu!" ujar Ruyin Li merasa kesal kepada Evan.
"Hehe maaf, tapi penampilan aku tadi sudah hebatkan, jadi apakah aku tidak akan mendapatkan hadiah?" tanya Evan berharap kepada Ruyin Li.
"Baiklah, kamu pejamkan matamu" ujar Ruyin Li.
Mendengar itu Evan pun merasa senang dan dengan patuh dia menutup matanya dan memuncungkan bibirnya.
Namun bukannya mendapat ciuman tetapi Ruyin Li malah menertawakannya, dan kemudian Evan pun membuka matanya dengan wajah merona.
"Hahaha..., dasar anjing penurut, siapa yang ingin menciummu?, aku hanya bercanda saja dan kamu malah menganggapnya serius, Hahaha...." ujar Ruyin Li menertawakan Evan.
Mendengar itu Evan merasa kecewa dan menghela nafasnya.
"Sangat tidak lucu!" kata Evan yang ngambek dan merasa dipermalukan.
Kemudian datang seorang murid wanita yang menghampiri Evan.
"Sepertinya Nenek Tua itu sudah tidak sabar ingin bertemu denganku, baiklah aku juga sangat merindukannya!" kata Evan dalam hatinya merasa senang.
"Baiklah, tolong kamu tunjukan jalannya" pinta Evan kepada murid wanita tersebut.
Kemudian Evan pun pergi meninggalkan Ruyin Li dan mengikuti murid wanita tersebut dan pergi ke ruangan yang disebutkan untuk bertemu dengan Nenek Rue Qianyu.
Setelah sampai dan masuk keruangan tersebut murid wanita yang tadi mengantarnya pun pergi, tampak didalam ruangan tersebut hanya ada Nenek Rue Qianyu yang sedang menunggu Evan.
Kemudian Nenek Rue Qianyu pun berbalik badan ke arah Evan.
"Nenek, kamu pasti sudah mengetahui kalau ini aku bukan?, mereka pasti sudah memberitahukannya padamu!" ujar Evan berbicara kepada Neneknya.
"Hehe.., bocah bajingan, ternyata kamu masih hidup, aku kira kamu sudah mati sejak diusir dari istana dua tahun lalu, aku malah tidak menyangka bahwa kamu sekarang sudah menjadi sangat kuat, padahal dulu kamu adalah sampah tidak berguna yang hanya bisa mengadu pada Ibumu!" kata Nenek Rue Qianyu kepada Evan.
"Aku juga tidak menyangka bahwa kamu si Nenek Tua juga masih hidup, padahal tubuhmu sudah bau tanah pemakaman!" kata Evan sembari tersenyum kepada Nenek Rue Qianyu.
__ADS_1
"Dasar cucu bajingan yang tidak pernah menghormati orang tua!, beraninya kau mengutukku?" ujar Nenek Rue Qianyu merasa kesal dan geram kepada Evan.
"Hahaha...., Nenek masih sama saja seperti dulu, aku sangat merindukan kamu Nenek." kata Evan sambil tersenyum.
Mendengar kalimat Evan, seketika Nenek Rue Qianyu pun tertegun dan tidak merasa kesal lagi.
Nenek Rue Qianyu menghela nafasnya. "Evan, kamu ternyata sudah besar dan sudah bersikap lebih dewasa, dan Nenek senang melihatmu baik-baik saja, maaf Nenek tidak bisa membantu saat kamu kesulitan" ujar Nenek Rue Qianyu bersikap hangat dan merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Nenek, aku juga tahu kesulitan Nenek disini, aku juga senang melihat Nenek yang sehat dan baik-baik saja" ujar Evan sembari tersenyum dengan hangat.
Kemudian Evan pun mengeluarkan Tusuk Konde Giok Merah milik Nenek Rue Qianyu yang terjatuh saat di Penginapan Rumah Kayu sebelumnya.
Melihat Evan mengeluarkan Tusuk Konde Giok Merah miliknya, Rue Qianyu pun seketika terkejut.
"Tusuk Konde ini milik Nenek bukan?" tanya Evan membuat Nenek Rue Qianyu seketika panik dan gugup.
"Aah itu, itu mungkin jatuh saat aku sedang berjalan-jalan!" jawab Nenek Rue Qianyu dengan panik.
"Maaf sebelumnya aku menyerang Nenek, aku tidak sengaja karena aku tidak tahu kalau itu adalah Nenek, apakah Nenek terluka?" ujar Evan merasa bersalah dan memcoba menjadi seorang cucu yang baik untuk Nenek Rue Qianyu.
Mendengar Evan yang merasa bersalah, Nenek Rue Qianyu pun merasa tersentuh lagi.
"Tidak apa-apa, Nenek tidak terluka!" jawab Nenek Rue Qianyu dengan tersenyum.
"Baguslah jika Nenek tidak apa-apa, ini Tusuk Kondenya aku kembalikan!" ujar Evan berjalan mendekat dan mengembalikan Tusuk Konde Giok Merah kepada Nenek Rue Qianyu.
Dengan senang hati Nenek Rue Qianyu pun menerima Tusuk Konde Giok Merah tersebut dan menyimpannya kedalam cincin Ruang penyimpanan miliknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
...****************...
......................
__ADS_1
......................