
Sore hari didalam perjalanan, Evan dan kawan-kawan berada dijalanan hutan dengan menunggang kuda.
"Kak Evan, didepan sana adalah kota 'KWANZI'" kata Sea Lin sambil menunggang kudanya.
"Kota Kwanzi, kota ini masih dalam daerah kekuasaan Kerajaan Xiao, kerajaan Xiao ini memang sama seperti reputasinya, yaitu Negara paling luas didaratan timur ini!" batin Evan.
Disaat sudah beberapa mil lagi sampai digerbang kota kwanzi, ada 6 perampok menggunakan penutup wajah datang menghalangi Evan dan kawan-kawan.
"Serahkan semua harta kalian jika kalian tidak ingin mati!" kata si perampok menodongkan pedangnya.
"Hanya 5 orang tingkat pelatih aura dan satu tingkat prajurit?" batin Evan merasa lucu.
"Hanya dengan kalian?, kalian sebaiknya menyingkir dari jalanku agar tidak menyesal!" ujar Evan.
"Tinggalkan barang kalian maka aku akan membiarkan kalian pergi!" tolak si perampok.
"Mengganggu saja!, Kak Evan biar aku yang menyingkirkan mereka!" ucap Sea Lin kesal.
"Jangan bunuh Mereka!, dari tadi aku sama sekali tidak ada merasakan niat membunuh dari mereka sedikitpun!" perintah Angin dalam kesadaran Evan.
Sea Lin sudah bersiap menyerang para perampok itu dari atas kudanya. Para perampok itu langsung ketakutan hingga gemetar mengetahui yang mereka rampok adalah seorang pendekar kuat.
Para perampok itu hanya diam memegang gagang pedang mereka dengan erat walau tangan gemetar, sambil menatap pedang Sea Lin yang sudah siap untuk mengeluarkan jurus tebasan.
"Menyingkirlah !!" Seru Sea Lin ingin mengayunkan pedangnya.
"TRANG !" Evan menahan pedang Sea Lin dengan pedang miiknya.
__ADS_1
"Tenang, jangan bunuh mereka!" perintah Evan sembari menahan pedang Sea Lin, Sea Lin terkejut dan heran melihat Evan.
"Sepertinya mereka terpaksa melakukan ini!" ucap Evan kepada Sea Lin. "Kalian Katakan mengapa kalian ingin merampok kami!, jika tidak mengatakan dengan jujur maka jangan salahkan aku membunuh kalian!" ancam Evan.
Dengan takutnya para perampok gadungan itu memohon sambil berlutut dan bersujud.
"Mohon ampun tuan pendekar tolong jangan bunuh kami!, kami sangat terpaksa melakukan ini karena keluarga kami sedang sangat kelaparan, kami sudah hampir tiga hari tidak makan!" jawab si perampok itu dengan ketakutan.
Mendengar itu Evan dan yang lainnya mengerutkan dahi mereka.
"Kau jangan berani membohongiku!" uvap Evan kembali menegaskan.
"Saya sungguh tidak berani membohongi tuan! saya berani bersumpah!" ucap si perampok sambil bersujud ke tanah.
"Kalau begitu bawa kami kekeluargakan kalian!, jika kalian berani berbohong maka aku akan langsung membunuh kalian tanpa menyisakan mayat kalian!" ancam Evan.
"Cepatlah tunjukan jalannya!" perintah Evan.
Si perampok bangkit berdiri dan membuka penutup wajahnya. "silahkan ikut saya tuan."
Evan dan kawan-kawan mengikuti dari belakang 6 perampok tersebut, hingga akhirnya mereka sampai isebuah Desa yang tidak jauh dari pinggiran kota Kwanzi. terlihat sebuah desa yang telah diobrak-abrik dengan warga-warga desa yang hidup dengan tidak layak.
Evan dan kawan-kawan melihat dengan rasa iba dan prihatin.
"Ada apa ini?, kenapa dengan desamu?" tanya Evan yang prihatin melihat kondisi disekitarnya.
"Tuan, saya sungguh tidak berbohong!, seminggu yang lalu ada segerombolan prajurit yang datang ke desa kami!, mereka menjarah semua harta yang kami punya, bahkan, bahkan......." pria perampok tersebut gemetar ketika ingin melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Katakan!"
"Mereka juga membunuh dua orang putraku serta memperkosa banyak wanita didesa ini... huhuhuhu..., mereka juga membawa anak gadisku huhuhuhu....." jawab si perampok tersebut sembari menangis hingga berlutut.
"Apa semua orang didesa ini juga mengalami hal serupa?" tanya Evan pada 5 perampok yang lainnya.
Lima perampok itu menceritakan masalah mereka masing-masing pada Evan. Dan dari cerita lima perampok tersebut Evan dapat informasi bahwa penjarahan yang dilakukan itu adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan prajurit kerajaan Xiao, dan yang melakukan itu adalah prajurit dari kota kwanzi.
Sedangkan pemerkosaan dan penculikan yang para prajurit lakukan adalah hanya untuk mereka bersenang-senang, dan mereka juga membawa beberapa pemuda untuk dijadikan budak atau pekerja paksa.
Evan terdiam memikirkan betapa tidak manusiawinya kerajaan Xiao, Evan sangat emosi dan geram.
"Kak Evan, lihat apa itu disana!" kata Sea Lin sambil menunjuk kesebuah tiang kayu yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Evan menoleh melihat ke arah tiang kayu tersebut, Evan dan kawan-kawan menghampiri tiang kayu tersebut yang ternyata ditiang kayu tersebut ada mayat dua orang pemuda yang digantung ditiang tersebut dengan sangat tragis dan menyedihkan, pakaian mereka penuh dengan darah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
......................
......................
......................
__ADS_1
......................