
"Sea Lin serang!" perintah Evan kepada Sea Lin yang berdiri disampingnya.
Mendengar perintah Evan, kemudian Sea Lin pun langsung berlari dengan cepat ke arah Mo Liang sambil membawa tombak sabit miliknya.
Setelah Sea Lin berlari pergi, Evan pun langsung menyatukan kedua telapak tangannya yang bersamaan mengganti Elemen tubuh bagian kirinya menjadi Elemen Petir.
"Sembilan Naga Petir Pemusnah!" kata Evan mengeluarkan sebuah jurus berupa sembilan naga petir yang sama besarnya dengan Lima Naga Tanah milik Mo Liang.
Kemudian tampak Golem Tanah Raksasa dan Lima Naga Tanah berhasil keluar dan menghancurkan akar kayu yang menjerat dan melilit mereka.
Setelah itu Sembilan Naga Petir milik Evan pun langsung berhadapan melawan Lima Naga Tanah milik Mo Liang.
Kemudian Naga-Naga tersebut pun saling menyerang dan melilit, tampak empat naga petir milik Evan yang tersisa menyerang dan melilit Golem Tanah Raksasa.
"ROAAAARRR!!" golem tanah Raksasa mengaum dan mengamuk sambil bertarung melawan empat naga petir yang melilitnya.
Golem Tanah Raksasa menangkap dan menghantamkan salah satu kepala Naga Ke tanah.
Sedangkan dari sisi lainnya, tampak Sea Lin yang langsung melompat dan terbang melesat ke arah Golem Tanah Raksasa yang sedang bertarung dengan empat naga petir milik Evan.
"Tebasan Tombak Malaikat Pencabut Nyawa!!" kata Sea Lin mengeluarkan jurus berupa ayunan tombak yang langsung menciptakan sebuah gelombang tebasan kegelapan berwarna hitam.
"SRIIINNGG!!" gelombang tebasan kegelapan seketika langsung menebas dan membelah golem tanah raksasa menjadi dua bagian.
Tidak lama kemudian dibelakang Sea Lin tampak Lima Naga Tanah dililit dan digigit hingga hancur oleh Naga Petir milik Evan.
Sementara jauh dibelakang Sea Lin, tampak Evan bergerak melesat dengan gerakan Zig-Zag melewati puing-puing batu yang menghalangi jalannya.
Kemudian tampak Enam Naga Petir milik Evan yang tersisa bergerak maju dan menyerang Mo Liang.
"BAAMM! BAAMM! BAAMM! BAAMM!!" Mo Liang dengan cepat terus menghindari enam naga petir milik Evan datang menyerangnya.
"Tombak Emas Raja Vraja Penghancur Gunung!" kata Mo Liang mengeluarkan sebuah jurus dengan menghunuskan tombak emasnya.
Kemudian dari hunusan tombak emas keluar sebuah energi emas yang berbentuk tombak Emas raksasa yang seketika menghancurkan Enam Naga Petir Milik Evan.
Sementara itu dari atas udara Sea Lin melemparkan Empat Bom Darah Halilintarnya ke arah Mo Liang.
"BOOMM! BOOMM! BOOM! BOOM!!" empat Bom Darah mennyerang Mo Liang, hingga membuat daratan tempat pijakan Mo Liang meledak dan hancur seketiga.
__ADS_1
Setelah ledakan selesai tampak Mo Liang yang masih hidup dengan empat buah dinding batu yang menutupi dan melindungi dirinya.
Kemudian dari arah depan tampak Evan dengan pedang yang diselimuti oleh energi bintang berwarna ungu mengkilat.
"Hunusan Pedang Penghancur Bintang!" kata Evan mengeluarkan sebuah jurus dengan menghunuskan pedangnya.
Kemudian dari ujung pedang Evan keluar sebuah cahaya ungu mengkilat yang menyerang ke arah dinding batu yang menutupi dan melindungi Mo Liang.
"SHOOOSSH!!" cahaya ungu tersebut seketika langsung menghancurkan empat dinding yang melindungi Mo Liang.
Mo Liang yang terkena cahaya ungu tersebut langsung terlempar dan terseret hingga puluhan ratusan meter jauhnya.
Kemudian Sea Lin turun mendarat dan berlari melesat bersama Evan ke arah Mo Liang yang terlempar ratusan meter jauhnya.
"Sekali Lagi!" kata Evan kepada Sea Lin yang ada disampingnya.
"Yah!" jawab Sea Lin sambil berlari bersama Evan ke arah Mo Liang.
Kemudian Evan pun langsung mengepal tangan kanannya yang berubah warna menjadi ungu berkelap-kelip karena dipenuhi oleh energi bintang, sedangkan Sea Lin juga langsung mengumpulkan dan menciptakan Bom Darah berwarna merah yang bercampur dengan energi petir hitam.
"Ledakan Bintang-Ledakan Darah Halilintar!" kata Evan dan Sea Lin.
Dari telapak tangan Evan keluar sebuah cahaya bintang ungu yang berkelap-kelip, sedangkap Sea Lin dengan sekuat tenaga melemparkan Bom darah halilintar.
Mo Liang yang baru saja bangkit berdiri tegak langsung menciptakan sepuluh dinding tanah untuk menghalangi dan menahan dua serangan tersebut.
Kemudian Cahaya Bintang Ungu dan Bom Darah Halilintar terbang melesat dan menghantam 10 dinding tanah yang menghalanginya hingga hancur.
Melihat 10 dinding tanahnya tidak mampu menahan dua serangan tersebut, Mo Liang pun melakukan upaya terakhirnya untuk menahan dua serangan tersebut dengan memegang erat tombak emas raja vraja.
"Perisai Emas Raja Vraja!" kata Mo Liang menciptakan sebuah lingkaran perisai berwarna emas transparan didepan tombaknya.
"DOOOMMM!!" dua serangan tersebut menghantam lingkaran perisai milik Mo Liang dengan sangat kuat.
Mo Liang dengan sekuat tenaganya mencoba untuk bertahan menahan dua serangan itu, hingga membuat tanah yang tempat berpijaknya retak dan hancur.
"KRAAKK! KRATAAK!" perisai emas transparan milik Mo Liang retak sedikit demi sedikit.
Keretakan perisai emas transparan terus bertambah hingga akhirnya pecah dan hancur.
__ADS_1
"DUAAARR!!" Cahaya Bintang Ungu dan Bom Darah Halilintar menghantam dan meledak dengan sangat kuat, hingga daratan dan puing-puing batu terangkat dan terbang ke udara.
Tampak tombak emas raja vraja terlempar keluar dari ledakan besar tersebut, hingga akhirnya menancap di sebuah bongkahan batu yang letaknya jauh dari area ledakan.
Sementara itu jauh dari arah depan tampak Evan dan Sea Lin berlari melesat ke arah ledakan tersebut.
Tidak lama kemudian setelah ledakan selesai, tampak Mo Liang yang masih hidup dan berdiri tidak kokoh dengan tubuh emasnya yang mulai meredup.
Tulisan-tulisan mantra yang tertera disekujur tubuh Mo Liang pun perlahan memudar dan dan mulai menghilang, mata emas Mo Liang juga kembali seperti semula.
Sementara itu dari arah depan tampak Evan dan Sea Lin masih berlari melesat bersama ke arah Mo Liang.
"Serangan terakhir!" kata Evan kepada Sea Lin.
Kemudian Evan yang datang dari arah depan telah sampai didepan Mo Liang dengan pedang yang siap menebas perut Mo Liang, sedangkan dari sisi belakang tampak Sea Lin yang juga sudah sampai dan siap menebas leher Mo Liang dengan tombak sabitnya.
"SRAASSH! SRAASSH!" secara bersamaan Evan dan Sea Lin berhasil menebas perut dan leher Mo Liang hingga terbelah.
Seketika darah pun langsung memuncrat keuar dari tubuh Mo Liang yang tertebas dan terpotong menjadi tiga bagian.
Tubuh Mo Liang yang terpotong menjadi tiga bagian pun terjatuh dan mengalirkan darah ke tanah.
Evan dan Sea Lin yang berhasil mengalahkan Mo Liang pun saling menatap satu sama lain, dengan tangan kanan memegang gagang senjata mereka.
Sambil saling menatap mereka pun saling tersenyum dan tertawa.
"Hahaha kamu hebat!" sanjung Evan memuji Sea Lin.
"Kakak Besar Juga!" kata Sea Lin memuji Evan juga.
"TOSS!" ucap Evan dan Sea Lin sambil mengadu kepalan tangan tangan mereka, namun kemudian Sea Lin pun langsung terjatuh pingsan dan armor spiritnya pun menghilang secara bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1
......................
......................