KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 384 : Kematian Kaisar Mo Luo Tai


__ADS_3

Sementara itu di Istana Kerajaan Mo. Evan masuk ke dalam Aula Istana dan bertemu dengan Kaisar Mo Luo Tai.


Didalam Istana tidak ada orang lain lagi, selain Evan dan Kaisar Mo Luo Tai yang duduk di atas singgasananya.


Melihat kedatangan Evan, terlihat wajah Kaisar Mo Luo Tai yang tersenyum putus asa.


"Akhirnya kamu datang juga, Jenderal Li!" kata Kaisar Mo Luo Tai sembari tersenyum pada Evan.


"Tentu saja aku datang, aku akan selalu menepati perkataanku!" kata Evan sambil tersenyum dengan dingin pada Kaisar Mo Luo Tai.


"Tidak aku sangka, ternyata Jenderal Besar Penguasa Nanzhou yang menaklukan Kerajaanku adalah seorang Anak Muda berumur belasan tahun, sangat luar biasa!" kata Kaisar Mo Luo Tai merasa kagum dan takjub pada Evan.


"Terima kasih atas pujian Kaisar. Kaisar berbicara santai denganku disini, apakah Kaisar tidak ingin melakukan perlawanan terakhir?" ujar Evan bertanya dengan wajah tersenyum pada Kaisar Mo Luo Tai.


"Jenderal Li jangan meledekku. Dengan kondisi tubuhku yang seperti ini bagaimana mungkin bisa bertarung dengan Jenderal. Aku tidak ingin melakukan perlawanan yang sia-sia." ujar Kaisar Mo Luo Tai.


"Kaisar Mo memang seorang Pemimpin hebat yang bijaksana." kata Evan sambil tersenyum pada Kaisar Mo Luo Tai.


"Hahaha...., Jenderal Li tolong jangan meledekku lagi." kata Kaisar Mo Luo Tai sembari tersenyum dan tertawa.


Kemudian raut wajah Kaisar Mo Luo Tai yang sebelumnya tersenyum dan tertawa, kini menjadi tersenyum sedih.


"Jenderal Li, bolehkah aku bercuhat dengan Jenderal Li sebentar?" pinta Kaisar Mo Luo Tai pada Evan.


"Tentu saja boleh, Tuan Kaisar silahkan bercurhat,aku akan menjadi teman curhat dan pendengar yang baik!" kata Evan mengabulkan permintaan Kaisar Mo Luo Tai.


Melihat Evan yang mengabulkan permintaannya, Kaisar Mo Luo Tai merasa senang.


Kemudian Kaisar Mo Luo Tai mulai bercurhat dan menceritakan semua pengalaman hidupnya kepada Evan.


"Dahulu aku adalah orang yang sangat ambisius dan gila akan kekuasaan. Demi kekuasaan dan tahta Kaisar ini, aku sebagai Pangeran terakhir harus membunuh semua Saudara dan Saudariku, bahkan seluruh keluargaku. Setelah aku membunuh semua orang yang ada didekatku, barulah aku dapat menduduki tahta Kaisar dengan senang dan bangga."

__ADS_1


"Akan tetapi setelah beberapa waktu aku menjadi Kaisar, aku menyadari, bahwa aku telah menjadi seseorang yang hidup sendiri tanpa keluarga. Hari demi hari aku jalani dengan penuh rasa kesepian dan penyesalan. Hingga pada suatu hari aku bertemu dengan seorang wanita yang dapat mewarnai kembali hidupku. Kami berdua menikah dan mempunyai satu orang Putra dan satu orang Putri."


"Namun sepuluh tahun lalu terjadi sebuah penyerangan dari Kerajaan Ning. Dalam kejadian penyerangan itu, aku kehilangan Istri tercintaku. Sebelum meninggal Istriku berpesan padaku untuk selalu menjaga Putra dan Putri kami dengan baik. Setelah kehilangan Istriku, aku kembali kehilangan hidupku yang berwarna."


"Tetapi setelah mengingat kembali, bahwa aku sudah memiliki Putra dan Putri yang menemani hidupku, aku merasa bahagia. Namun setelah dewasa siapa yang menyangka, kalau mereka berdua akan menjadi seperti ini. Putraku menyukai adiknya sendiri dan tidak ingin menjadi pewaris tahta, sedangkan Putriku sama sekali tidak pernah mau mendengarkan semua perkataanku."


"Aku tidak tahu, apakah yang aku dapatkan sekarang adalah kesalahan atau karma untukku. didalam hidupku ini, selain penyesalan hanya ada kesedihan. Jika ada kesempatan dikehidupanku berikutnya, aku bersumpah untuk menjaga dan mempertahankan semua orang yang ada didekatku."


"Jadi, Jenderal Li, aku ingin memberimu sebuah nasehat. Janganlah terlalu ambisius sampai kamu melupakan kebahagianmu. Jagalah keluargamu dan orang-orang yang ada didekatmu, jangan sampai kamu kehilangan mereka. Karena setelah kamu kehilangan mereka, maka kebahagiaan kamu juga akan ikut menghilang bersama mereka." kata Kaisar Mo Luo Tai memberi nasehat pada Evan setelah selesai bercerita dan bercurhat.


Mendengar cerita dan nasehat dari Kaisar Mo Luo Tai, membuat Evan mendapatkan pencerahan dan menyadari sesuatu. Evan menyadari bahwa, tidak peduli seberapa kuat atau berkuasanya seseorang, tetapi jika tidak memiliki orang terdekat disampingnya, maka semua dia miliki tidak akan ada artinya lagi.


"Aku paham Kaisar. Terima kasih atas nasehatnya, aku akan mengingat selalu nasehat dari Kaisar!" kata Evan berterima kasih sembari tersenyum pada Kaisar Mo Luo Tai.


Melihat Evan yang menerima nasehat darinya dengan senang hati dan wajah tersenyum, membuat Kaisar Mo Luo Tai merasa senang dan lega.


"Sama-sama. Sekarang kamu kemarilah, lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, aku tidak akan melakukan perlawanan." ujar Kaisar Mo Luo Tai sembari tersenyum.


Mendengar itu, kemudian Evan berjalan menghampiri Kaisar Mo Luo Tai yang sedang duduk di atas singgasana.


Evan mengangkat pedangnya dan bersiap untuk memenggal kepala Kaisar Mo Luo Tai yang ada dihadapannya.


"Kaisar, karena kamu memberiku nasehat yang begitu berharga sebelumnya, apakah kamu ada permintaan terakhir untuk diajukan?" tanya Evan pada Kaisar Mo Luo Tai.


"Setelah aku mati, tolong kamu jaga seluruh Rakyat Kerajaan ini dengan baik!" pinta Kaisar Mo Luo Tai pada Evan.


Setelah mengatakan permintaan terakhirnya pada Evan, kemudian Kaisar Mo Luo Tai menutup matanya secara perlahan dan tersenyum.


Mendengae permintaan Kaisar Mo Luo Tai yang sangat peduli pada rakyatnya, Evan merasa kagum dan tersenyum.


"Kaisar tenang saja, aku berjanji akan menjaga seluruh Rakyat Kerajaan Mo dengan baik." kata Evan dengan senang hati mengambulkan permintaan terakhir Kaisar Mo Luo Tai.

__ADS_1


Evan yang merasa kagum, tidak ingin membuat Kaisar Mo Luo Tai mengalami rasa sakit dalam kematiannya.


Evan menutup kedua matanya dan mulai mengumpulkan energi air yang sangat tenang pada pedangnya.


Suasana Aula Istana menjadi sangat hening dan penuh ketenangan, sepertinya suasana hujan rintik yang mulai reda pada pagi hari yang cerah.


"TEBASAN HUJAN RINTIK, KEHENINGAN!!" suara hati Evan berbicara dengan lembut.


Evan mengayunkan pedangnya yang diselimuti oleh air yang tenang dengan sangat lembut.


Evan berhasil memenggal kepala Kaisar Mo Luo Tai tanpa berpindah dari tempatnya.


Perlahan energia air yang menyelimuti pedang Evan mulai menghilang.


Kemudian Evan mengibaskan pedangnya dan memasukannya kembali ke dalam cincin ruang penyimpanan.


Dengan tersenyun hampa Evan melihat Kaisar Mo Luo Tai yang telah mati dihadapannya.


Darah mulai mengalir keluar dari garis tebasan pedang yang melingkar dileher Kaisar Mo Luo Tai.


Evan merasakan kesedihan dan kehampaan dalam hatinya, saat melihat Kaisar Mo Luo Tai yang tetap tersenyum dalam kematiannya.


"Kaisar Mo Luo Tai, kamu tenanglah disana. Aku berjanji akan menjaga dengan baik seluruh Rakyatmu!" kata Evan sambil tersenyum melihat Kaisar Mo Luo Tai yang telah mati dihadapannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...****************...


......................

__ADS_1


......................


......................


__ADS_2