
Dua hari kemudian akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Pernikahan mereka tidak berlangsung megah dan kabar pernikahan mereka hanya seisi kota Yanzhou saja yang tahu, hal itu dilakukan untuk menghindari adanya musuh yang tahu dan akan melakukan penyerangan secara tiba-tiba.
Tampak didalam tandu pengantin yang membawa lima orang mempelai wanita, Reya dan Ruyin Li tampaknya masih kurang akur dan kedua tidak mau saling bicara dan mengabaikan.
Suasana didalam kereta sangatlah canggung, tidak ada satu orang pun yang ingin berbicara, Ririn yang melihat itu pun mencoba untuk sedikit mencairkan suasana.
"Reya dan Ruyin, kenapa kalian berdua masih bertengkar?, kita semua sebentar lagi sudah menjadi istri Evan, bisakah kalian berdamai dan melupakan masalah yang sudah lalu?" pinta Ririn kepada Reya dan Ruyin Li.
Mendengar permintaan Ririn, kemudian Reya dan Ruyin Li pun saling melirik sekilas.
"Tidak!" kata Reya dan Ruyin Li bersamaan sambil langsung mengalihkan pandangan mereka.
"Aku mohon?, yah?, berdamai yah?" pinta Ririn dengan manjanya.
"Benar, jika Evan melihat kalian berdua tidak akur begini maka dia pasti akan kecewa dan sedih, jadi kami mohon berdamailah, tidak hanya demi Evan tetapi demi kami dan semua Rakyat Nanzhou!" ujar Nan Ruyu ikut memohon kepada Reya dan Ruyin Li untuk berdamai.
"Kalian berdamai yah?" pinta Ran Ran ikut membujuk Reya dan Ruyin Li.
Mendengar itu Reya dan Ruyin Li pun saling termenung dan kemudian memandang satu sama lain.
"Hmmm..., baiklah aku terpaksa akan berdamai dengannya, tetapi tidak tahu yang disana ingin berdamai atau tidak!" ujar Ruyin Li yang tampak masih kurang senang.
"Huh!, baiklah aku juga terpaksa berdamai dengannya demi Evan, kalian, dan masyarakat Nanzhou!" ujar Reya yang juga tampak masih kurang senang.
Melihat Reya dan Ruyin Li sudah ingin berdamai Ririn, Nan Ruyu dan Ran Ran pun merasa senang.
"Kalau begitu kalian berdua harus saling bersalaman dan meminta maaf, cepat cepat bersalaman!" ujar Ran Ran yang kemudian langsung menarik tangan Reya dan Ruyin Li.
Kemudian Reya dan Ruyin Li pun saling bersalaman dan meminta maaf.
"Maaf, sebelumnya memang salahku, tidak seharusnya aku bersikap sombong waktu itu, aku minta maaf!" ujar Ruyin Li sambil tersenyum.
Mendengar Ruyin Li mengakui kesalahannya dan meminta maaf padanya, Reya pun tertegun.
"Sama-sama, aku juga minta maaf karena telah memusuhi kamu mulai waktu itu, bisakah kita berdamai?, tidak hanya demi Evan, tapi juga demi kita sendiri!" ujar Reya yang juga meminta maaf.
"Baiklah, Berdamai!" kata Ruyin Li dengan senang hati untuk berdamai dengan Reya.
Akhirnya Reya dan Ruyin Li pun berdamai dan saling meminta maaf satu sama lain, Ririn, Nan Ruyu dan Ran Ran yang melihat itu pun ikut merasa sangat senang dan bahagia.
Ririn yang merasa sangat senang pun langsung merangkul dan memeluk Reya dan Ruyin Li.
"Aku senang sekali melihat kalian berdua berdamai, kedepannya kalian jangan bertengkar lagi yah?" pinta Ririn sambil memeluk Reya dan Ruyin Li dengan hangat.
"Iyah pasti!" ucap Reya dan Ruyin Li yang kemudian juga memeluk Ririn dengan hangat.
Tidak ingin ketinggalan, Nan Ruyu dan Ran Ran pun juga ikut saling memeluk dengan hangat.
"Semuannya berdamai!" kata mereka berlima sambil saling memeluk dengan hangat.
"Karena semuannya sudah berdamai maka ayo kita buat kerja sama untuk membalas Evan!, pinggangku sakit sekali dibuatnya kemarin!" kata Ririn dengan niat balas dendamnya.
__ADS_1
"Ayo kita buat Evan juga merasakan sakit pinggang!" kata Reya yang setuju dengan rencana Ririn.
Sementara itu tampak Evan yang sedang menunggangi kudanya, niat dendam lima istrinya terasa oleh Evan.
"Hachiuu!, kenapa anginnya berhembus sangat dingin?, aku punya firasat tidak enak!" batin Evan dalam hatinya sambil mengusap hidungnya.
...****************...
Singkat cerita pada malam hari di Aula perjamuan, tampak Evan yang sedang menjamu para tamu atau lebih tepatnya adalah teman-teman Evan.
Tampak teman-teman Evan yang sedang asyik saling bersulang minum arak, sedangkan Evan yang tidak kuat minum bingung mau minum atau tidak.
"Tada! semuannya lihat! ini adalah arak Bulan Suci, Arak tingkat dewa yang aku dapatkan dari Alam Fantasi Tujuh Bintang, ada yang mau tidak?" kata Tang Chen yang sedang memamerkan arak yang sebelumnya dia dapatkan dari Taman Ular Piton Bertanduk Tiga di Alam Fantasi Tujuh Bintang.
Melihat arak berharga dan langka tersebut, orang-orang pun dengan cepat langsung berebutan arak yang ada ditangan Tang Chen tersebut.
Sementara itu Evan hanya bisa melihat orang-orang saling berebutan Arak Bulan Suci milik Tang Chen sambil memegang cawan araknya yang masih penuh.
"Eits?, sepertinya pengantin pria kita belum meminum araknya!" kata Tang Chen yang seketika melihat ke arah Evan.
Evan yang melihat Tang Chen langsung memiliki firasat buruk. "Apa yang ingin si bangsat ini lakukan?" batin Evan merasa tidak tenang.
Tang Chen berjalan perlahan dan merangkul Evan sambil memegang satu kendi arak Bulan Suci ditangannya.
"Evan, kenapa cawan arak masih penuh?, apakah kamu tidak menghormati kami sebagai tamu?" tanya Tang Chen sambil merangkul Evan.
"Hahaha ini juga baru ingin minum!" kata Evan dengan canggung yang kemudian mengangkat cawan araknya yang masih penuh.
"Arakmu sepertinya hanya arak biasa, cobalah Arak Bulan Suci milikku, rasanya jauh lebih enak!" kata Tang Chen mengambil cawan arak Evan.
Kemudian Tang Chen mengambil cawan arak kosong dan kemudian menuang Arak Bulan Duci dari kendi arak miliknya ke cawan kosong tersebut hingga penuh.
"Cobalah!" kata Tang Chen menyuguhkan cawan arak yang telah diisi penuh dengan Arak Bulan Suci.
"Hehehe.., biasanya kamu yang selalu mengerjaiku, sekarang giliranku untuk mengerjaimu!" batin Tang Chen sambil melihat ke arah Evan yang tampak ragu untuk minum.
"Sialan kau Tang Chen, lihat saja bagaimana aku akan membalasmu dimasa depan!" batin Evan merasa dendam sambil memegang cawan araknya.
Kemudian dengan terpaksa Evan pun meminum araknya hingga habis hanya dalam tiga kali tegukan, teman-teman Evan yang lainnya pun tersenyum melihat Evan meminum araknya hingga habis.
"Hahaha pengantin Pria kita memang hebat!" kata Tang Chen menepuk pundak Evan yang wajahnya sudah nampak merona dengan kepala yang pusing.
Singkat cerita setelah perjamuan selesai, Evan pun pergi ke kamar pengantinnya dalam kondisi mabuk berat.
Tampak kelima istri Evan yang masih menggunakan penutup wajah sedang menunggu Evan didalam kamar pengantin sambil saling berbincang.
Kemudian Evan pun masuk kedalam kamar pengantin dengan kondisi mabuk dan tubuh sempoyongan, kelima istri Evan seketika terkejut dengan kedatangan Evan yang dalam kondisi mabuk.
"Evan!?" sebut mereka bersama-sama.
Dengan bergegas Nan Ruyu langsung menghampiri dan segera memapah Evan hingga duduk di atas tempat tidur.
Evan yang duduk tidak stabil bersandar pada Ran Ran.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa mabuk?, bukankah kami sudah katakan jangan minum, kenapa masih minum?" ujar Ririn yang berada dibelakang Evan sambil mengomeli Evan dengan lemah lembut, dan sambil membuka jubah pengantin Evan, agar Evan tidak terlalu merasa gerah.
"Kasihan sekali suami kita, pasti orang-orang itu sudah memaksanya untuk minum!" kata Ran Ran sambil merangkuk dan mengelus pipi Evan.
"Sayang, apakah kamu ingin mandi lebih dulu?, aku akan menyiapkan airnya!" kata Ruyin Li bertanya dengan lemah lembut.
"Baiklah, maaf merepotkan kalian berlima" ujar Evan.
"Kenapa kamu bilang ini merepotkan kami?, kamu sekarang adalah suami kami, jadi ini adalah kewajiban kami melayanimu!" kata Reya dengan lemah.
"Terima kasih!" ucap Evan merasa senang.
Kemudian Evan pun bangkit berdiri untuk mandi, namun saat Evan berjalan beberapa langkah ke kamar mandi dia heran dengan lima istrinya yang mengikutinya.
Kemudian Evan pun menoleh ke arah lima istrinya yang mengikuti dirinya.
"Kalian?...." ucap Evan merasa bingung.
"Kenapa?" tanya Ririn.
"Kenapa kalian mengikutiku?" tanya Evan.
"Tentu saja karena ingin menemani kamu mandi, CUP!" ucap Ririn dan langsung mencium bibir Evan.
Seketika Evan pun sontak terkejut.
Kemudian lima istri Evan pun langsung mendorong Evan masuk ke dalam kamar mandi, setelah masuk kelima wanita itu pun langsung membuka seluruh pakaian mereka.
Melihat itu Evan pun sontak terkejut. "Kalian berlima, tidak mungkin ingin melakukannya bersama-sama kan?" tanya Evan yang tampak gugup sambil menelan air liurnya.
"Aaahh... sayang, kenapa sayang gugup?, bukankah sayang kuat dan hebat?" kata Reya sambil tersenyum.
Kemudian lima wanita tersebut pun dengan senang hati berjalan maju dan mendekat pada Evan.
Melihat lima istrinya berjalan mendekat Evan pun menjadi sedikit panik.
Kemudian Evan dengan lima istrinya pun melakukan hubungan layaknya suami istri.
Mulai pada malam itu Evan tidak tahu, apakah itu adalah awal dari dari kebahagiaan atau penderitaan baginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
......................
__ADS_1