
"SERRAAAANG!!" seru Para Elemen berpencar untuk menyerang.
Semenatara itu disisi lain Jenderal Tong merasa gemetar melihat jurus Evan.
"Jurus apa yang digunakan bocah ini, itu membuatku gemetar?" gumam jenderal Tong dengan tangan yang terus gemetar.
"Huh !, hanya seorang tingkat ahli silat saja, Prajurit tembakan panah!" ucap jenderal Tong yang tidak ingin merasa takut dan memberikan perintah kepada para prajuritnya
Kemudian para prajurit tersebut pun dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan oleh Jenderal Tong, para prajurit tersebut pun menembakan panah mereka bersama-sama ke arah para Murid Sekte Matahari Merah.
Namun kemudian Elemen Angin maju kedepan.
"Tinju Dewa Gerakan Keenam, Tinju badai kacau!!." seru angin Angin mengeluarkan sebuah jurus angin topan yang langsung menghalangi semua panah yang diluncurkan dengan membuat angin badai.
"Jangan berpikir kau akan berhasil jika aku masih berdiri!" ucap Angin berdiri dengan gagahnya.
"Tembakan panah lagi." kata Jenderal tong memberikan perintah lagi, namun seketika Elemen Api sudah berada dibelakangnya.
"Masih berani memberikan komando?, perhatikan belakangmu bodoh!."kata Elemen Api dengan tangan mengepal siap meninju Jenderal Tong.
"BOOOM !!." Api memukul Jenderal Tong yang sedang terbang hingga meluncur ke bawah dan menghantam tanah dengan kerasnya.
"TAK" Api mendarat ketanah dengan satu tangan menyokong tubuhnya, dan kemudian berjalan menghampiri Jenderal Tong yang sedang berusaha untuk bangkit berdiri.
"Bagaimana mungkin? sebuah bayangan memiliki kekuatan sebesar ini?." gumam jenderal Tong merasa terkejut dan heran sambil berusaha untuk bangkit berdiri tegak.
"Seorang jenderal level 5 saja jangan berlagak sombong didepanku!" kata Elemen Api sambil terus berjalan mendekati jenderal Tong yang tampak sudah berditi tegak.
Sementara itu Disisi lain, tampak Elemen Air menghabisi bagiannya yaitu para murid-murid sekte yang berkhianat.
"Matilah dengan tenang dineraka, AIR TENANG MEMATIKAN !!" seru Elemen Air mengayunkan pedangnya yang seketika langsung menebas banyak murid hingga terpotong-potong.
Dan sementara itu di waktu yang sama Petir dan Kegelapan membantai habis seluruh prajurit kerajaan Xiao seperti sedang menari dan bermain.
"Hahaha.. Petir bagaimana dengan bagianmu?." tanya Elemen Kegelapan sambil menebas semua prajurit yang ada didepannya dengan sebuah tarian pedang.
"Aku hanya sedang bermain disini!." jawab Elemen Petir sambil menebas prajurit dengan langkah Kilat Surgawi dan Tebasan Kilat Surgawi.
Disisi lain Evan menghampiri Ririn dan Cao Cao.
__ADS_1
"Ririn cepat bawa Cao Cao tinggalkan tempat ini!."pinta Evan yang tampak tergesa-gesa.
"Aku tidak mau meninggalkan kamu disini!." jawab Ririn yang tidak ingin meninggalkan Evan.
"Kak Evan apa yang sebenarnya terjadi?." tanya Cao Cao dengan polisnya dan tidak mengerti apa-apa.
"Cao cao, kakak tidak bisa menjelaskannya padamu sekarang, setelah kita bertemu lagi nanti baru Kakak akan ceritakan!" ujar Evan kepada Cao Cao.
"Ririn cepat tinggalkan tempat ini!, disini sangat berbahaya!, kamu cukup menolakku waktu itu saja tapi jangan sekarang!." ujar Evan berusaha bersikap tegas kepada Ririn.
Namun Ririn tetap tidak ingin meninggalkan Evan pergi, apa lagi disituasi yang sangat amat berbahaya tersebut.
"Aku tidak mau pergi!" ucap Ririn terus menolak perintah Evan untuk pergi.
"CUP!, Maafkan aku Ririn...." ucap Evan setelah mencium kening Ririn.
Kemudian Evan menarik kalung Giok Phoenix dari leher Ririn. "PHOENIX!!" sebut Evan dengan lantang sambil melempar kalung Giok Phoenix ke udara.
"Bawa mereka berdua pergi ke kota Salju Merah Darah!" ujar Evan meminta bantuan pada Phoenix untuk membawa Ririn dan Cao cao pergi ke kota Salju Merah Darah.
"Apa!?" ucap Ririn merasa terkejut mendengat perkataan Evan. s
Kemudian Sang Phoenix pun mencengkram Ririn dan Cao cao dengan cakarnya dan membawa mereka berdua terbang menjauh meninggalkan Sekte Matahari Merah dan menuju kota Salju Merah Darah.
Kemudian Burung Phoenix yang membawa Ririn dan Cao Cao pun semakin terbang menjauh meninggalkan Sekte Matahari Merah.
"Aku akan segera menyusul kalian, kalian tunggu aku!" gumam Evan sembari memandang mereka yang terbang menjauh.
Namun tidak lama kemudian, Tiga Murid Elite pengkhianat datang menghampiri Evan.
"Hoho kita bertemu lagi!" ucap Feng Gang menyapa Evan dari belakang.
"Kali ini kami tidak akan kalah lagi darimu!" ucap Feng Gao dengan sombong.
"Khi khi khi aku sudah tidak sabar ingin bermain lagi denganmu." ujar Deng Ki yang tampak bersemangat ingin bertarung dengan Evan.
"Kalian hanya anjing yang beraninya main keroyokan, karena kalian bertiga sudah datang untuk menyerahkan nyawa kalian senduri maka aku tidak akan melepaskan kalian!." ucap evan mencibir mereka bertiga
"Huh, kau jangan sombong, kau tidak akan bisa berbicara seperti itu lagi setelah kami membunuhmu!" kata Feng Gao sambil mengeluarkan aura spiritual dari tubuhnya.
__ADS_1
Kemudian tanpa basa-basi Evan pun langsung menyerang lebih dulu.
"Akar jalar berduri! IKAT!." seru Evan menyerang mereka secara tiba-tiba dengan Akar berduri yang keluar dari tanah.
Namun Feng Gao dan Deng ki dengan cepat langsung menyadari serangan tiba-tiba Evan dan dapat dengan mudah menghindari serangan tiba-tiba tersebut.
Namun berbeda dengan feng gang yang terkena serangan Evan, Feng Gang terjerat dan terikat oleh tumbuhan rambat milik Evan.
"Jangan kira walau aku sudah membagikan elemenku, aku akan dapat dikalahkan dengan mudah. LILIT!" evan melilit Feng Gang dengan sangat kuat hingga membuat Feng gang menjerit kesakitan setengah hati.
Evan semakin memperkuat lilitan akar berdurinya hingga membuat tubuh Feng gang remuk dan tewas seketika.
Darahpun menetes dan mengalir disela-sela akar berduri dan menetes ke tanah, melihat adiknya Feng Gang mati, Feng Gao sebagai kakak pun murka dan tidak dapat mengendalikan emosinya.
Kemudian Feng Gao yang merasa sangat marah pun langsung menyerang Evan secara membabi buta sambil mencaci Evan.
Disaat Feng Gao sedang emosi dan tak terkendali, evan dengan mudah menemukan titik lemahnya, Evan menangkap kepala Feng Gao dari belakang dan menebas kepala Feng Gao hingga terlepas dari tubuhnya.
Darah mengalir dipedang Evan yang penuh dengan darah.
Sambil menjinjing kepala Geng Hao evan berbalik menghadap ke arah deng ki.
"Sekarang giliranmu.... Deng ki."kata Evan mengeluarkan niat membunuh sembari berjalan ke arah Deng Ki.
"Dia benar-benar monster, aku akan mati jika tetap ingin melawannya." deng ki yang ketakutan mencoba untuk kabur dan berbalik lari.
"Ingin lari?, kamu tidak akan bisa!" ujar Evan.
"Swoosshh... Tap!" Evan berhasil menangkap kaki Deng ki dengan akar jalarnya, evan berjalan mendekati deng ki dengan tatapan dingin yang ingin membunuh.
"Pengkhianat pantas mati.... Craasshh!." Evan menebas kepala Deng ki dengan pedangnya hingga mengalir keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
......................
__ADS_1
......................
......................