
Tiga hari kemudian setelah Evan pingsan, akhirnya diapun siuman dari pingsannya, dia membuka matanya perlahan dan terlihat wajah Harimau Putih tepat didepan wajahnya yang swketika membuatnya kaget.
"Aaaaaaakh....!!" teriak Evan dengan keras hingga membuat burung-burung yang disekitar berterbangan.
Setelah beberapa saat kemudian ,setelah tenang Evan pun duduk dan mulai bertanya kepada Harimau Putih.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Evan sambil duduk bersila di atas tanah.
"Tiga hari." jawab harimau putih dengan singkat.
"Ternyata aku sudah pingsan selama tiga hari, kalau bukan karena Elemen Apiku yang bisa menyembuhkan lukaku dengan cepat mungkin aku sudah mati." pikir Evan sambil melihat luka-luka ditubuhnya yang sudah pulih.
Namun tetap saja Evan sekarang sama sekali tidak memiliki energi spirtual sedikitpun didalam tubuhnya karena pertarungannya yang terakhir kali di Sekte Matahari Merah.
Merasa sudah tidak punya Energi Spiritual (tenaga dalam) lagi, Evan pun ingin berlatih untuk mengumpulkan Energi Spiritual ke dalam tubuhnya.
"Harimau putih, lindungi aku selagi aku berlatih dan memulihkan diri." pinta Evan sambil duduk bersila, dan diapun memasuki Alam Lautan spiritualnya.
"Kamu sudah sadar?" tanya Elemen Api yang berada didalam Ruang Lautan Spiritual Evan bersama dengan para Elemen lainnya.
"Yah aku sudah sadar seperti yang kalian lihat?, dan aku ingin berterima kasih kepada kalian karena sudah membantuku bertempur dengan para Prajurit Kerajaan Xiao sebelumnya!." ucap Evan berterima kasih kepada para Elemen.
"Kamu jangan sungkan seperti itu, kami juga dengan senang hati membantumu!" Ujar Elemen Daun kepada Evan.
"Benar, bagaimana pun kami juga tinggal dalam tubuhmu, jika kamu mati maka kami juga akan ikut mati." Kata Elemen Kegelapan.
"Benar sekali, kalau kau ingin berterima kasih kepada kami kau hanya perlu berlatih dengan giat dan rajin, dan jadilah kuat agar tidak selalu mengandalkan kami!" ujar Elemen Angin kepada Evan.
"Yah tentu saja aku pasti akan berlatih dengan giat dan rajin, tetapi aku akan tetap berterima kasih pada kalian, tidak hanya aku, tapi aku mewakili seluruh sekte matahari merah berterima kasih kepada kalian!." ucap Evan yang tetap merasa sungkan.
"Yah sudah, kamu cepat pulihkan dulu kekuatanmu, kami ingin mengajari kamu sesuatu." kata Elemen Petir pada Evan.
"Baik" jawab Evan dengan patuh dan bersemangat.
__ADS_1
Kemudian Evan mengeluarkan banyak kristal Spiritual miliknya dan menenggak menghabiskan semua pil yang dia buat sebelumnya
Dan kemudian Evan pun mulai berlatih dan mengumpulkan kembali energi Spiritualnya.
Dan diwaktu yang sama Sea lin dan yang lainnya telah sampai dikota Salju Merah Darah, kedatangan mereka disambut dengan baik oleh para murid namun ada juga yang kurang senang karena mereka mendengar para Tetua mati karena berkorban untuk menyelamatkan mereka.
Namun karena kedatangan mereka berempat keributan yang dibuat oleh para murid sekte menurun dan mulai bisa dikontrol. sedangkan para murid yang kurang senang sedikit-demi sedikit dibimbing oleh mereka agar tidak membangkang.
Kabar Sea lin dan yang lainnya pulang terdengar oleh para wanita yang menunggu mereka, para wanita itu langsung mendatangi Sea lin dan yang lainnya.
Melihat Luo bai, lu rao rao langsung berlari dan masuk kedalam pelukan luo bai dalam keadaan menangis dan memeluk luo bai dengan erat.
"Luo Bai, kenapa kamu baru datang? aku sudah mengkhawatirkanmu dan menunggumu berhari-hari, aku sangat merindukan dirimu!" ucap Lu Rao Rao sambil memeluk luo bai dengan penuh kerinduan.
"Tetapi bukankah sekarang aku sudah datang, sudah jangan menangis lagi." ujar Luo Bai mencoba menenangkan Lu Rao Rao dan mengusap air mata Lu Rao Rao sambil memeluknya dalam dekapannya yang hangat.
"Kakak Shan !!" Qin Yun berlari menghampiri Qin Shan dan masuk kedalam pelukan Qin Shan yang penuh kehangatan.
"Qin Yun, kamu baik-baik saja kan?" tanya Qin Shan kepada adiknya dengan lemah lembut sambil memeluk Qin Yun dengan hangat.
"Tentu saja aku baik-baik saja, sebaliknya aku yang seharusnya khawatir dan bertanya padamu, apa kau baik-baik saja atau tidak." ucap Qin Yun berbalik bertanya kepada Qin Shan dengan tegas.
Namun Sea Lin yang biasanya bersemangat apa lagi jika bertemu dengan pujaan hatinya mentor Chu Xian, kini Sea lin terlihat sangat muram.
Walaupun ekspresi wajahnya terlihat tersenyum namun dalam senyumannya dia menyembunyikan rasa kesedihannya yang mendalam.
Merasa sangat sedih dengan tidak punya siapa-siala lagi yang bisa menemani dan menghibur dirinya, Kemudian Sea lin pun pergi menjauhi keramaian untuk menenangkan dirinya yang merasa kesepian.
Tang chen yang melihat Sea lin pergi dan menjauhi keramaian, Tang Chen pun ikut pergi juga da mengikuti Sea Lin.
Sea Lin terus berjalan dan Tang Chen pun juga terus mengikutinya, Hingga pada akhirnya Sea lin pun sampai kesebuah danau yang tak jauh dari kota Salju Merah Darah.
Sea Lin berhenti dan berdiri menghadap danau tersebut dengan tatapan mata yang menyimpan banyak kesedihan.
__ADS_1
Kemudian sea lin meluapkan semua perasaan yang terpendam dihatinya dengan berteriak histeris sambil menangis.
"AAAAAAAAKKHHH !!!" Sea Lin berteriak dengan sangat keras dengan mata yang mengeluarkan tetesan air mata.
"Ayah, kakek....., hiks hiks hiks..., aku sudah tidak memiliki siapapun lagi sekarang, aku sudah tak memiliki keluarga, aku sendirian..." ucap Sea Lin dengan sangat sedih sambil menangis.
Tang Chen yang sedari tadi mengikuti dan mengintip Sea Lin yang dari belakang pohon pun akhirnya keluar dan menghampiri Sea lin yang sedang menangis dengan sangat sedih.
"Sea lin! kau tidak sendiri........" ucap Tang chen dari belakang yang mencoba menenangkan Sea Lin yang sedang sedih.
Sea lin pun mengusap air matanya dan kemudian menoleh melihat ke arah Tang Chen.
"Kamu tidak sendiri, ada aku, dan teman-teman dan yang lainnya, semuannya adalah satu keluarga." kata Tang chen mencoba untuk menghibur Sea lin yang sedang bersedih.
"Kalian dan keluarga itu berbeda, teman yah teman, keluarga adalah keluarga, teman bisa dicari lagi yetapi keluarga tidak....." ucap Sea lin membantah dengan lemah perkataan Tang Chen.
Setelah itu Sea lin pun kembali berbalik menghadap ke arah danau, Tang Chen yang melihat itu tidak ingin berkata apapun lagi dan hanya diam menghela nafasnya.
Namun tidak lama kemudian ada seseorang wanita yang menepuk pundak Tang Chen dari belajang.
Setelah Tang Chen menoleh ke arah wanita itu, ternyata wanita itu adalah mentor Chu Xian.
Mentor Chu Xian meminta Tang Chen untuk pergi dan meninggalkan dirinya berdua dengan Tang Chen dengan bahasa isyarat mata.
Melihat itu Tang Chen pun menurut dan pergi meninggalkan Mentor Chu Xian dan Tang Chen berdua dipinggir danau.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
......................
__ADS_1