KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 97 : Kembali Ke Sekte Yg Sudah Hancur


__ADS_3

"Sepertinya sudah tidak bisa bersembunyi lagi, kalau begitu ayo kita bertarung sampai akhir" ucap Evan mengeluarkan sayap aura Elemen apinya.


"PEDANG KOBARAN API !!" seru Evan mengeluarkan jurus.


Evan mengayun putarkan pedangnya hingga membuat Pemimpin serigala mundur untuk menghindar. tahu kalah para serigala akan kalah jika bertarung secara normal, mereka para Serigala Bayangan Pembunuh menggunakan keahlian mereka yaitu menjadi tak terlihat.


Evan berdiri tegak memegang pedangnya dengan rasa wapada, setiap Evan merasakan seperti ada yang datang menyerang Evan akan langsung menebas, tetapi evan tetap selalu menyerang udara kosong, sungguh ke tidak terlihatan membuat evan sulit untuk menyerang dan menghindar.


Berkali-kali evan diserang namun untung evan dapat menangkis dan bertahan, tapi terkadang evan tetap saja terkena serangan cakaran dari para serigala hingga membuat pakaiannya banyak yang robek.


Para elemen mencoba membuat Evan supaya tetap tenang.


"Tenangkan hatimu, konsentrasi dan kosongkan pikiranmu...." Ucap Angin.


Evan mencoba untuk tenang ditengah gempuran serangan yang bertubi-tubi dari para serigala bayangan pembunuh.


Walau sangat sulit, Evan tetap tak menyerah, evan terus fokus berkonsentrasi dan tenang sambil menangkis setiap serangan yang tak terlihat olehnya.


Sedangkan Air tak berhenti untuk menuntun, setelah dalam kondisi seperti itu dengan waktu yang cukup lama, akhirnya Evan mencapai kesadaran kekosongan, setiap indra Evan jadi sangat sensitif, angin yang berhembus, bau serigala, suara angin dan gerakan yang ada disekitarnya dapat Evan rasakan perlahan.


Setiap gerakan Serigala bayangan pembunuh dapat Evan rasakan, walaupun Evan tak dapat melihat mereka tapi Evan sudah tau arah gerakan dan serangan para serigala.


Evan berdiri membuka lebar kedua kakinya, memegang gagang pesangnya erat-erat, Mencoba tetap terus tenang dan menarik nafasnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan sambil menejamkan mata.


Dan disaat ada salah satu serigala menyerang dan ingin menerkam Evan, Evan sudah siap untuk gilirannya menyerang.


"Hujan Rintik Tebasan Keheningan!" gumam Evan.


"SSRAAAASSHH...!!!" Evan mengayunkan pedangnya ke arah atas hingga menebas dan memotong serigala yang ingin menerkamnya menjadi dua bagian.


Darah bercipratan ke arah Evan yang sedang memegang pedang di atas kepalanya, tubuh Evan berlumuran dengan darah yang mengalir dan menetes disetiap bagian tubuhnya.

__ADS_1


Evan membuka matanya yang penuh dengan niat membunuh. "Sekarang giliran kalian!"


"Langkah laut tenang!, Hujan rintik tebasan keheningan!" seru Evan


Evan maju menyerang dengan langkah kaki yang tenang dan berirama menebas para serigala yang tak terlihat satu per satu.


Setelah beberapa saat, sekarang hanya tinggal satu serigala saja yang masih hidup yaitu sang pemimpin dari kawanan serigala.


"Hehe, kau sudah tak bisa kabur lagi, menyerah dan jadilah partnerku." ucap Evan menawarkan pada serigala bayangan pembunuh walaupun ia tak melihatnya.


"Aku tidak akan pernah tunduk pada manusia, walaupun jika aku harus mati!" tolak si pemimpin serigala yang dalam kondisi tak terlihat.


"Kalau begitu, maaf kau harus mati!" ucap Evan memejamkan matanya sambil berlari menghunuskan pedangnya.


Walau pun Evan tak dapat melihat si pemimpin serigala, tapi evan menyerangnya dengan tepat sasaran.


"SSRRAAASSHH !!!" darah menyembur dari tubuh si pemimpin serigala, si Pemimpin Serigala mati seketika dengan luka tusuk didadanya. Evan menarik pedangnya yang tertancap di dada si Pemimpin serigala, Evan menyarungkan pedangnya yang penuh darah.


Selesai mengambil inti dan menyerap mayat serigala, Evan tak langsung kembali karena ingin menyembuhkan lukanya terlebih dahulu, Evan duduk disebuah tanah kosong dan menyembuhkan lukanya.


......................


Esok paginya evan sudah pulih dan kembali dengan pakaian yang kacau ke pinggir sungai tempat Putri Mei berada, putri Gu Mei yang sudah bangun terkejut melihat Evan yang kembali dengan keadaan yang memprihatinkan seperti seorang pengemis.


"Hwahahaha..., Evan, kau kenapa? apa yang terjadi padamu??." tawa Putri Gu Mei ketika melihat evan.


Evan mengendurkan wajahnya ketika ditertawai oleh putri Gu Mei.


"Jangan menertawaiku seperti itu, tadi malam aku diserang kawanan serigala bayangan pembunuh makanya jadi seperti ini, masih beruntung aku tidak mati." ucap Evan bercerita.


"Hwahahahaha.... tapi tetap saja lucu, hwahahaha......" ucap putri Gu Mei tak berhenti tertawa.

__ADS_1


Di ejek lagi, Evan jadi malas untuk bercerita lagi dan mulai serius untuk melanjutkan urusannya.


"Sudah jangan tertawa terus!, ayo kita ke sekte matahari merahku!" ajak Evan.


"Baiklah baiklah aku tak akan tertawa lagi. menurutmu Sekte Matahari Merah akan seperti apa setelah kalian tinggalkan?" ucap putri Gu Mei penasaran.


"Aku juga tidak tau, tapi kemungkinan besar sudah dihancurkan."


Evan dan putriGu Mei pun berangkat keluar dari hutan kematian menuju ke Sekte matahari merah.


Setelah keluar dari hutan kematian.


Baru saja sampai disekte Evan dan putri Gu Mei sudah dikejutkan oleh pemandangan yang penuh dengan kehancuran, melihat itu Evan menarik nafsanya dalam-dalam dengan tangan mengepal hingga gemetar. Kerajaan Xiao menghancurkan semua yang ada disekte matahari merah, tak ada yang tersisa satupun, semuannya hancur merata.


Suasana yang sepi dan hening membuat angin terasa bertiup lebih kencang, pemandangan bangunan yang hancur terbakar juga berdebu membuat kesedihan yang mendalam untuk Evan.


Melihat sekte matahari merah yang seperti itu putri mei ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Evan sebagai salah seorang murid yang berbakti.


"Ayo!, kita menemui teman-teman kamu itu!" ajak putri Gu Mei memegang pundak Evan sekaligus untuk mencoba mengurangi kesedihan Evan juga.


Evan pun mengangguk tersenyum, dan mereka pun langsung pergi menuju Gunung Api Penyucian yang berada dibelakang sekte.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...----------------...


......................


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2