KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 258 : Pinjam Kakak Ririnnya Sebentar


__ADS_3

Satu Jam kemudian, Evan pun telah memuaskan Reya hingga tertidur pulas, tubuh mereka yang tidak memakai pakaian saling memeluk didalam selimut.


"Haahh.., akulah yang sebenarnya salah karena membawa gadis lain dan meragukan kamu, kenapa jadi aku yang marah?, aku memang egois!" kata Evan dengan suara pelan menyalahkan dirinya sendiri.


"Emmm!..." Reya menggeliat dan semakin memeluk Evan dengan erat dan dada reya semakin menempel dan menekan kedada Evan, dan kaki Reya pun bahkan juga menyentuh tubuh terlarang bagian bawah Evan.


"aku mohon kamu jangan terus menggeliat seperti itu atau nanti aku akan melakukannya lagi walaupun jika kamu tertidur!" kata Evan dengan suara pelan dan wajah merona.


Reya yang tertidur tidak mendengar peringatan Evan, dia menggeliat sekali lagi dan semakin menekan Evan, dan kaki Reya pun semakin naik dan merangkul pinggang Evan hingga menggesek batang Evan yang sudah tidak dapat dikendalikan lagi, bibir Reya yang tipis dan mungil sungguh sangat menggoda Evan yang kesabarannya sudah diambang batas.


Evan yang sudah tidak kuat lagi langsung menepati perkataannya, Evan langsung mencium bibir Reya yang mungil dan kemudian langsung menimpa tubuh Reya.


[Dan lanjutannya di Skip lagi, hehehe..., ntar novel ini takutnya di blok jika adegannnya terus dilanjutkan]


Sementara itu diluar kamar, tampak Cao Cao si bocil pengganggu datang berjalan ke arah kamar Reya.


Setelah berjalan cukup dekat ke kamar Reya, Cao Cao sontak terkejut mendengar suara Reya yang merintih keenakan, namun bagi Cao Cao suara rintihan tesebut adalah rintihan kesakitan.


"Aaaaahh!! Aaaaahh!!...." Cao Cao yang mendengar Reya merintih kesakitan didalam kamar pun merasa panik dan khawatir.


"Kakak Reya kenapa?, apakah dia sedang sakit?" pikir Cao Cao dalam hatinya merasa khawatir.


Dengan panik dan khawatir Cao Cao langsung bergegas ingin masuk kedalam kamar untuk melihat apa yang terjadi pada Reya hingga membuatnya merintih kesakitan.


Namun disaat Cao Cao ingin mengetuk pintu dan memanggil nama Reya, tiba-tiba tangan seorang wanita langsung menutup dan membungkam mulutnya.


Cao Cao sangat terkejut namun setelah Cao Cao melihat wajah wanita tersebut ternyata adalah Ririn, Cao Cao menjadi heran.


"Kakak Ririn?" sebut Cao Cao merasa heran sambil melihat wajah Ririn.


"Cao Cao tidak boleh mengganggu Kakak Reya, Kakak Reya sedang tidur, jadi Cao Cao tidak boleh mengganggu istirahatnya!" ujar Ririn mengingatkan Cao Cao.


"Tapi suara tadi sepertinya Kakak Reya sedang kesakitan!" ujar Cao Cao yang merasa khawatir.


"Kakak Reya baru saja pulang dari barak militer, mungkin dia sedang sangat kelelahan jadi bermimpi buruk, jadi Cao Cao tidak perlu merasa khawatir pada Kakak Reya, karena dia tidak kenapa-napa!" ujar Ririn berbohong untuk kebaikan.


"Benarkah hanya bermimpi buruk?" tanya Cao Cao yang masih merasa khawatir pada Reya.

__ADS_1


"Benar, jadi Cao Cao tidak boleh mengganggu Kakak Reya, sudah yah, Cao Cao cepat pergi berlatih dihalamam belakang saja, biar Kakak Ririn saja yang menjaga Kakak Reya!" ujar Ririn menyuruh Cao Cao untuk berlatih dihalaman belakang.


"Baiklah, Cao Cao akan lanjut berlatih!" kata Cao Cao yang kemudian pergi ke halaman belakang kediaman Jenderal.


Setelah melihat Cao Cao pergi, Ririn pun merasa lega dan kemudian menoleh melihat ke arah kamar Reya.


"Pantas saja tidak langsung mencariku, ternyata sedang bersama dengan Reya, tetapi baguslah malam ini berarti Evan tidak akan menggangguku, Hihihi akhirnya mereka ada gunanya untuk membebaskan aku dari Evan!" pikir Ririn merasa senang dan riang terbebas dari Evan yang selalu ingin meniduri dirinya.


Sore hari kemudian, Evan sudah sangat puas melakukan itu dengan Reya.


Evan memeluk dengan hangat tubuh Reya yang lemah dan kelelahan, tubuh mereka yang tidak berpakaian ditutupi oleh selimut.


"Sekarang aku tahu alasannya kenapa Ririn sangat tidak ingin tidur denganmu dan meminta kami untuk menjadi istrimu!" ujar Reya kepada Evan.


"Memang apa?" tanya Evan merasa penasaran.


"Kamu terlalu ganas, jadi Ririn ingin kami menjadi penggantinya untuk menerima siksaan keganasanmu!" kata Reya merasa sebal kepada Evan.


"Aha ternyata seperti itu, tapi menurutku aku masih tidak terlalu kasar, aku masih bersikap lembut." kata Evan yang merasa masih melakukannya dengan lembut.


"Baiklah lain kali aku akan melakukannya dengan lebih lembut, atau bagaimana jika kita melakukannya sekali lagi?, aku berjanji akan melakukannya dengan lebih lembut!" ujar Evan meminta dengan lemah sambil memeluk dan mencium kening Reya.


"Tidak mau!, kamu sudah melakukannya berulang kali denganku, Sekarang kamu pergilah cari Ririn, dia sangat merindukan kamu, dia pasti sudah menunggumu dari tadi!" ujar Reya menolak permintaan Evan.


"Hmm.., benar juga, aku hampir melupakan Ririn, dia pasti sedang menungguku!" kata Evan setelah teringat.


"Tuh Tau, sekarang kamu pergilah cari Ririn, biar dia juga merasakan keganasanmu!" kata Reya.


"Baiklah aku tidak akan menyiksamu lagi!, CUP!" kata Evan dengan lemah lembut dan mengecup kening Reya.


Setelah mengecup kening Reya, Evan pun bangkit bangun dari tempat tidur dan berpakaian.


Setelah selesai berpakaian Evan pun keluar dan meninggalkan kamar Reya, kemudian pergi mencari Ririn.


Setelah beberapa saat kemudian, Evan akhirnya menemukan Ririn yang sedang duduk dibawah pohon dan menemani Cao Vao berlatih dihalaman belakang kediaman.


"Ririn, Ternyata kamu disini!" kata Evan yang tiba-tiba memeluk Ririn tercinta yang sedang duduk dari belakang, hingga membuat Ririn sontak kaget.

__ADS_1


"Evan, apa yang kamu lakukan?, disini ada masih ada Cao Cao, jangan bertindak sembarangan!" ujar Ririn yang hendak menolak Evan.


"Tenang saja, aku tidak akan bertindak sembarangan kepadamu disini!" ujar Evan dengan lemah sambil memeluk Ririn.


Mendengar itu Ririn pun merasa lega. "Baiklah kalau begitu kamu lepaskan aku, nanti takutnya Cao Cao melihat kita dan itu tidak baik untuknya!" ujar Ririn yang meminta Evan untuk melepaskan tangan yang memeluk perutnya.


"Ehm??, siapa yang mau melepaskan kamu?, kamu sepertinya sudah salah paham dengan perkataanku, maksudku aku tidak akan bertindak sembarangan kepadamu disini karena takut nanti dilihat oleh Cao Cao, tetapi bukan berarti aku akan melepaskan kamu karena kita akan melakukannya dikamar agar tidak dilihat oleh Cao Cao!" kata Evan menjelaskan maksud perkataanya.


Mendengar penjelasan Evan, Ririn pun sontak terkejut dan kemudian tiba-tiba Evan mengangkat dan menggendong Ririn dengab gendongan putri.


"Evan aku tidak bisa, aku masih harus menemani Cao Cao berlatih disini!" kata Ririn yang ingin menolak Evan.


"Itu tenang saja, Cao Cao! Kakak pinjam Kakak Ririnnya sebentar yah?, besok Kakak Evan kembalikan!" kata Evan meminta ijin kepada Cao Cao yang sedang fokus berlatih.


Mendengar suara Evan, Cao Cao pun terkejut senang dan langsung menoleh melihat ke arah Evan.


"Kakak Evan!?, baiklah, Kak Evan bawa saja Kakak Ririn, Cao Cao juga sudah selesai latihan!" kata Cao Cao langsung mengijinkan Evan membawa Ririn tanpa ragu.


Mendengar perkataan Cao Cao, Ririn pun merasa kesal.


"CAO CAO!?" sebut Ririn merasa kesal dan marah.


"Hahaha Cao Cao memang adikku yang terbaik!, Ririn sayang ayo kita pergi ke kamar!" kata Evan meraa sangat senang sambil berbalik badan dan berjalan pergi sambil menggendong Ririn ditangannya.


Ririn yang ingin menolak terus memberontak dalam gendongan Evan, namun bagaimanapun Ririn memberontak tetap saja tidak berguna, karena Evan yang sekarang sudah jauh lebih kuat dari Ririn.


"Cao Cao!, kamu adik pengkhianat!, besok Kakak pasti akan menghukum kamu!" kata Ririn yang merasa kesal kepada Cao Cao sambil memberontak didalam gendongan Evan.


Kemudian Evan pun pergi berjalan meninggalkan halaman belakang kediaman dan pergi menuju menuju kamar Ririn, sambil menggendong Ririn ditangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...****************...


......................

__ADS_1


__ADS_2