
Sore menjelang malam, Evan dan Cao Cao kembali pulang ke Kediaman Jenderal
"Cao Cao, kamu kembalilah ke kamarmu. Besok Kakak akan menemani kamu berlatih." ujar Evan dengan lemah lembut.
Cao Cao yang masih merasa sedih hanya mengangguk pelan dan kemudian berjalan pergi menuju kamarnya.
"Haaiiss....." Evan menghela nafasnya.
Kemudian disaat Evan ingin berjalan pergi menuju kamarnya, tiba-tiba Evan mendengar suara seseorang sedang berlatih dari arah Lapangan latihan.
Evan yang merasa penasaran kemudian berjalan pergi menuju Lapangan latihan, tempat asal suara tersebut.
Sesampainya di lapangan latihan, Evan melihat Ran Ran yang sedang berlatih sebuah Jurus Tinju. Sesaat Evan melihat ke arah tembok yang penuh lubang besar bekas pukulan milik Ran Ran.
"Sayang, apakah kamu sedang berlatih Jurus Tinju?" tanya Evan mengejutkan Ran Ran.
"Sayang, Kamu sudah pulang?" tanya Ran Ran segera menyudahi latihannya.
"Yah, aku sudah pulang. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa ada di sini?" ujar Evan berjalan menghampiri Istrinya.
"Pertanyaan aku tadi, kamu masih belum menjawabnya. Apakah kamu sedang berlatih Jurus Tinju?" tanya Evan lagi.
"Yah, aku memang sedang berlatih satu Jurus Tinju. Nama jurus ini Tinju Angin Api. Jurus ini menggabungkan dua kekuatan Elemen dan memusatkannya pada satu kepalan tangan dalam satu kali serangan." jawab Ran Ran sekaligus menjelaskannya kepada Evan.
"Wah, sepertinya Jurus Tinju yang hebat!" ucap Evan dan kemudian kembali melihat Tembok yang dipenuhi lubang bekas pukulan.
"Bagaimana, jika kamu memperagakan Jurus Tinju Angin Api ini bersamaku?" tanya Evan kembali melihat ke arah Istrinya.
"Apakah kamu serius? Jurus Tinju Angin Api ini cukup kuat untuk membunuh seseorang Tingkat Kaisar dengan satu kali pukulan. Takutnya saat aku memperagakan Jurus Tinju Angin Api ini denganmu, aku tidak sengaja melukaimu." ujar Ran Ran.
"Melukaiku? Apakah Istriku ini ingin membuatku tertawa?" Evan tersenyum jenaka.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Jika kamu berhasil melukaiku, maka itu akan lebih baik. Tetapi jika kamu tidak berhasil melukaiku, atau serangan kamu tidak bisa mengenai aku, maka malam ini kamu harus membuat aku senang." ujar Evan ada maunya.
"Baik, aku setuju. Tetapi jika serangan Tinju Angin Api milikku bisa mengenai kamu, maka malam ini kamu yang harus menyenangkan aku." ujar Ran Ran tidak mau kalah.
Kemudian Evan dan Ran Ran berdiri di tengah lapangan latihan. Mereka berdua bersiap untuk bertarung.
"Majulah!" kata Evan sambil menggerakkan jari telunjuknya.
Melihat suaminya yang sedang meremehkan kemampuannya, kemudian Ran Ran langsung maju menyerang Evan dengan Tinju Angin Api miliknya.
__ADS_1
Melihat Istrinya telah maju menyerang, Evan sama sekali tidak bergerak. Hingga saat Tinju Angin Api milik Ran Ran telah sedikit lagi mengenai tubuhnya, tiba-tiba Evan langsung menangkap pergelangan tangan Ran Ran dan mencium bibirnya.
Ran Ran terkejut dan Evan tersenyum melihatnya.
"Apakah kamu masih tetap tidak ingin menyerang?" ujar Evan setelah melepaskan ciumannya.
Ran Ran yang merasa terkejut segera tersadar dan langsung mengayunkan tinju kirinya untuk menyerang Evan.
Namun saat tinju kiri Ran Ran tinggal sedikit lagi mengenai wajah Evan, tiba-tiba Evan menghilang dari hadapannya.
"Sayang, bokong kamu sepertinya semakin besar." kata Evan yang tiba-tiba memeluk dan meremas pan*tat Ran Ran dari belakang.
Ran Ran sontak terkejut dan wajahnya pun langsung menjadi merah merona.
Kemudian Ran Ran segera mendorong dan menjauhi Evan.
"Evan, kamu tidak boleh seperti ini. Bukankah tadi kamu bilang hanya ingin memperagakan Jurus Tinju saja? Mengapa kamu malah mencium dan meremas bo*kong*ku?" ujar Ran Ran merasa sangat malu dan kesal.
"Apakah aku tidak boleh mencium dan meremas bo*kong Istriku?"
"Tentu saja boleh. Tapi sekarang kita sedang berada di lapangan latihan, aku tidak ingin dilihat orang lain. Jika kamu menginginkannya kita bisa pergi ke kamar." ujar Ran Ran dengan malu-malu dan wajah yang merona.
"Tentu saja aku menginginkannya. Jadi, apakah kamu ingin menyerah?" tanya Evan.
Mendengar itu Evan tersenyum dan berjalan menghampiri Ran Ran.
"Apa yang ingin kamu lakukan?!" tanya Ran Ran yang tiba-tiba diangkat dan digendong oleh Evan.
"Apa yang ingin aku lakukan, tentu saja melakukan hal itu dengan Istriku." kata Evan yang kemudian menggendong Ran Ran ke kamar mereka.
-------
Beberapa saat kemudian setelah selesai mandi bersama. Di atas tempat tidur terlihat Evan yang sedang berada di atas tubuh Ran Ran.
"Sayang, apakah kamu benar-benar ingin melakukannya lagi? Kita baru saja melakukannya di kamar mandi dua kali. Tidakkah kamu ingin memberiku istirahat sebentar?" pinta Ran Ran memohon belas kasihan.
"Ran Ran, maaf. Aku sudah menahan diri selama satu bulan, sekarang aku sudah tidak bisa menahan diri lagi."
Kemudian Evan langsung menciumi leher Istrinya dan meremas gundukan di dadanya.
"Aaaahh....., Evan lembut sedikit" Ran Ran merintih kenikmatan.
__ADS_1
Kemudian ciuman Evan turun dari leher ke ujung gundukan lembut nan kenyal di dada Istrinya.
Dengan mulutnya Evan menjilat, mencium dan melahap dada Istrinya dengan rakus.
"Ran Ran, apakah kamu merasa nikmat?" tanya Evan sambil meremas gundukan dada Istrinya.
"Yah, aku merasa sangat nikmat." ucap Ran Ran yang telah terkulai lemas di bawah tubuh Evan.
******
Keesokan paginya, Evan yang telah terbangun lebih dulu terlihat sedang memandangi wajah Istrinya yang masih tertidur.
Hingga di saat Evan sedang fokus memandangi wajah Istrinya, Istrinya pun terbangun dan membuka matanya perlahan.
"Sudah bangun?" sapa Evan dengan senyuman.
"Kamu sejak kapan sudah bangun?"
"Sudah sejak matahari terbit." jawab Evan tak lepas memandangi wajah Istrinya.
"Apakah kamu dari tadi terus melihat wajahku seperti ini?" tanya Ran Ran lagi.
"Yah. Kamu terlihat sangat cantik saat kamu terbangun dengan wajah lelahmu. Jadi, aku tidak ingin melewatkannya." jawab Evan membuat Ran Ran tersipu malu mendengarnya.
Kemudian terlintas di benak Evan sebuah pertanyaan yang sudah cukup lama ingin ditanyakan nya kepada Ran Ran.
"Ran Ran, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" Evan ingin bertanya.
"Kamu ingin bertanya apa?" tanya Ran Ran merasa heran.
Evan menarik nafas dan kemudian bertanya.
"Apakah kamu memiliki keluarga?"
Ran Ran seketika terdiam mendengar pertanyaan Evan tersebut.
"Sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan hal ini kepadamu. Tetapi aku khawatir, karena pertanyaan ini kamu akan merasa sedih. Dan sekarang, sepertinya apa yang aku khawatirkan telah benar-benar terjadi." Evan merasa bersalah dan menyesal karena telah menanyakan hal tersebut kepada Istrinya.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah. Kamu adalah suamiku, kamu berhak menanyakan hal ini kepadaku." Ran Ran mencoba untuk tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...****************...