
Dimalam hari, Evan dan teman-temannya berkumpul dengan duduk mengelilingi api ungun yang menghangatkan tubuh dan menerangi malam mereka.
Mereka mengobrol dan melakukan diskusi. Luo Bai dan yang lainnya merasa heran dengan Evan yang tidak ingin membuat suatu Tim atau kelompok, untuk pergi memata-matai dan mencari informasi Pasukan Musuh.
"Evan, apakah kamu yakin tidak ingin mengirim pasukan untuk memata-matai keadaan Kerajaan Mo?" tanya Luo Bai merasa heran pada Evan.
"Benar Kakak Besar. Apakah kamu tidak ingin mencari informasi tentang kekuatan pasukan musuh?" tanya Sea Lin yang juga merasa heran pada Evan.
"Kalian tenang saja, urusan mematai-matai dan mencari informasi kekuatan Pasukan musuh sudah aku serahkan kepada Han Zo dan Sai, bahkan sebelum kita pergi berangkat berperang. Seharusnya sebelum matahari terbit, mereka berdua akan kembali dan memberi laporan kepadaku!" kata Evan memberitahu teman-temannya.
Mendengar itu, seketika Luo Bai merasa jengkel kepada Evan yang tidak memberitahukan hal tesebut lebih awal.
"Jika memang benar begitu, mengapa kamu tidak memberitahu kami lebih awal?. Kamu sudah membuat kami merasa heran!" ujar Luo Bai merasa kesal dan jengkel kepada Evan.
Melihar Luo Bai yang kesal, Evan tersenyum dan tertawa.
"Hehe.., masa hal kecil seperti itu saja, juga harus mengatakannya kepada kalian?" ujar Evan sambil tersenyum jenaka kepada Luo Bai dan teman-temannya.
Kemudian Evan bangkit berdiri. "Sekarang sebaiknya kita bersiap-siap, malam ini mungkin akan ada pasukan musuh yang datang untuk memata-matai kita!" kata Evan menebak pergerakan Pasukan musuh selanjutnya.
...****************...
Sementara itu di atas benteng pertahanan Kerajaan Mo, tampak Mo Sueyan yang sedang melihat ke arah perkemahan Pasukan Nanzhou yang tampak cahaya-cahaya lenteranya.
"Siapkan pasukan untuk pergi mata-matai perkemahan musuh. Jika ada kesempatan, bakar perkemahan mereka!" kata Mo Sueyan memberi perintah kepada Dua Komandan Pasukan yang berada dibelakangnya.
"Siap Putri!" kata dua Komandan tersebut menerima perintah sambil memberi hormat kepada Mo Sueyan.
Pada tengah malam, sekelompok Prajurit Kerajaan Mo yang terdiri dari sepuluh prajurit berbaju hitam, yang dipimpin orang salah satu komandan dari dua komandan sebelumnya, pergi menyelinap ke perkemahan Pasukan Nanzhou untuk memata-matai dan mencari informasi.
Dengan diam-diam, sekelompok Prajurit Kerajaan Mo tersebut berhasil menyelinap masuk kedalam Perkemahan Pasukan Nanzhou dengan sangat mudah tanpa ketahuan.
Dengan kehati-hatian dan rasa waspada, sang komandan yang memimpin sekelompok prajurut tersebut terus melihat daerah sekitarnya.
Komandan itu melihat bahwa tidak ada satu pun prajurit yang menjaga area tempat mereka menyelinap. Melihat tidak da prajurit yang berjaga, Komandan beserta semua prajurit mata-mata yang dipimpinnya merasa senang.
__ADS_1
"Mudah sekali, sepertinya orang-orang Nanzhou ini tidak begitu hebat atau pintar seperti yang dirumorkan." kata Komandan yang memimpin Sekelompok Prajurit tersebut.
Komandan tersebut terus memimpin Sekelompok prajurit masuk menyelinap, hingga akhirnya mereka sampai ke satu tenda yang menjadi tempat gudang penyimpanan obat-obatan dan peralatan medis.
Melihat tak ada satu orang prajurit pun yang menjaga, Sang komandan dan sekelompok prajurit yang dipimpunnya merasa senang dan tersenyum menyeringai.
"Cepat nyalakan api dan bakar gudang obat mereka!" kata sang komandan memberi perintah kepada Para Prajurit yang ada dibelakangnya.
Kemudian dua orang prajurit dengan membawa api obor yang ada ditangan, mereka berniat untuk membakar tenda yang menjadi gudang penyimpanan obat Pasukan Nanzhou.
Akan tetapi saat dua prajurit tersbut berjalan maju dan mencoba menghampiri tenda, tiba-tiba kilatan hitam langsung menebas kepala mereka hingga terpenggal.
Kepala dua prajurit tersebut terpisah dan jatuh menggelinding ke arah sang komandan yang memimpin sekelompok prajurit mata-mata tersebut.
Terlihat, bahwa yang memenggal kepala kedua prajurit mata-mata tersebut, ternyata adalah Sea Lin.
Dengan santai Sea Lin meletakan tombak sabit ke pundaknya. Kemudian Sea Lin berbalik badan menghadap ke arah komandan dan sekelompok prajurit mata-mata tersebut.
Sea Lin tersenyum menyeringai kepada Sang komandan dan sekelompok prajurit mata-mata Kerajaan Mo tersebut.
Dibelakang sang komandan, tampak delapan orang prajurit yang tersisa juga telah mengalami hal yang sama. Terlihat dibelakang masing-masing prajurit mata-mata kerajaan Mo, ada satu orang prajurit Pasukan Gagak Malam yang mengarahkan ujung pedang ke leher mereka.
Kemudian Evan dan Pasukan Gagak Malamnya menangkap dan membawa sekelompok prajurit mata-mata tersebut, beserta juga komandannya ke tenda ruangan introgasi.
Tampak kedelapan prajutit mata-mata tersebut dan komandannya sedang digantung, dengan kaki dan tangan terikat dengan erat.
Untuk mencari informadi tambahan tentang persiapan Pasukan Kerajaan Mo, dalam menghadapi pertempuran melawan Pasukan Nanzhou besok, Evan mengintrogasi Sang Komandan yang memimpin Sekelompok prajurit mata-mata Kerajaan Mo tersebut.
"Katakan padaku, apa yang telah Pasukan kalian siapkan untuk menghadapi kami dalam pertempuran besok!" kara Evan dengan tegas bertanya kepada Sang Komandan musuh yang tengah diikat dan digantung.
"Hahaha.., tentu kami sudah menyiapkan lubang kuburan untuk kalian semua!" kata sang komandan musuh tertawa dan tersenyum menyeringai.
"Hahaha!..., hebat! hebat!. Karena kalian sudah menyiapkan lubang kuburan, maka besok akan aku jadikan lubang yang kalian gali sendiri, menjadi lubang kuburan untuk kalian sendiri!" kata Evan tertawa dan tersenyum menyeringai kepada sang komandan musuh.
Mendengar perkataan Evan, seketika sang komandan musuh merasa sangat kesal dan marah.
__ADS_1
"Kalian tidak akan bisa melakukan itu. Besok kalian pasti akan kami kalahkan!" kata sang komandan musuh mencoba mempovrokasi Evan.
Namun tampak Evan sama sekali tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Sang Komandan Musuh. Evan kembali fokus untuk mengintrogasi dan mencari tahu informasi, tentang persiapan dan kekuatan Pasukan Kerajaan Mo.
"Baiklah, sepertinya kau tidak akan menjawab sebelum menderira terlebih dahulu!" kata Evan kepada sang Komandan musuh.
Kemudian Evan berjalan ke satu meja tempat alat-alat interogasi yang telah dipersiapkan. Diantara sekian banyaknya alat-alat untuk mengintrogasi, Evan lebih tertarik dan memilih satu jarum besar yang panjangnya kurang lebih lima belas centimeter.
Evan berjalan perlahan menghampiri sang komandan musuh yang tengan diikat dan digantung.
"Aku beritahu padamu, kalau benda kecil akan lebih menyakitkan dari sebuah pedang. Aku akan bertanya sekali lagi, apa yang telah kalian siapkan untuk melawan kami besok. Apakah itu jebakan?, perangkap?, atau yang lain?" ujar Evan mencoba menebak dan bertanya sekali lagi kepada sang komandan musuh.
Dihadapan sebuah jarum besar, sang komandan musuh tetap teguh dan tidak memberitahukan informasi apapun kepada Evan.
"Heh!, ingin mencoba menginterogasiku?. Kau tidak akan mendapatkan informasi apapun dariku!" kata Sang Komandan musuh.
"Ohh?" kata Evan tersenyum menyeringai pada komandan tersebut.
Kemudian Evan dengan jarumnya, langsung menusuk mata sang komandan musuh hingga pecah dan berdarah.
"AAAAAAKKHH!!......." teriak sang komandan musuh menjerit kesakitan dengan sangat kencang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
KESALAHAN SEKECIL APAPUN, JANGAN PERNAH KAMU ANGGAP REMEH.
KARENA HANYA SAAT KAMU MELAKUKAN SATU KESALAHAN KECIL, MAKA ITU AKAN MENJADI SATU KESALAHAN FATAL YANG DAPAT MEMBUNUHMU KAPAN SAJA.
...****************...
...****************...
......................
__ADS_1