
Beberapa saat kemudian semua orang telah berkumpul di dalam ruang rapat.
"Karena semua orang sudah berkumpul, maka aku akan memulai rapatnya. Hari ini aku akan memberikan jawaban tentang pertanyaan Yue Zhong sebelumnya. Sekarang yang harus kita lakukan adalah mengalahkan Panglima Wu Shen dan merebut kembali Kerajaan Gu. Aku memiliki jalan rencana untuk mengalahkan Kerajaan Xiao serta para Anjing-anjingnya. Mulai sekarang latih seluruh Pasukan Gagak Malam untuk menjadi sekuat mungkin. Persiapkan mereka semua untuk melakukan pertempuran. Para Prajurit yang Kultivasi nya berada di bawah Tingkat Jenderal Level Lima akan tetap berada di Nanzhou untuk berjaga bersama dengan Tang Chen. Kita akan berangkat menuju Ibu kota Kerajaan Gu dua hari lagi." ucap Evan memberi keputusan.
"Siap Jenderal, Laksanakan!" jawab mereka semua dengan serentak.
Kemudian mereka semua membagi tugas mereka masing-masing.
Sai, Han Zo, Tian Yin dan Tian Yang bertugas melatih dan mempersiapkan Para Prajurit yang akan ikut berperang ke Ibukota Kerajaan Gu.
Qiu Shen dan Su Fan Ny bertugas mempersiapkan Alat Medis, Pil, dan Obat-obatan yang diperlukan untuk dibawa ke Medan Perang.
Tang Chen bertugas memberikan bimbingan dan pelatihan bagi Para Prajurit Pasukan Gagak Malam yang Kultivasi nya berada di bawah Tingkat Jenderal Level Lima, atau Para Prajurit yang akan tetap menetap di Nanzhou untuk berjaga.
Sedangkan untuk Evan, Sea Lin dan Yu Zhong, mereka bertiga bertugas menyusun rencana, taktik dan strategi yang akan digunakan dalam Perang nanti.
"Sekarang, aku akan menjelaskan taktik dan strategi yang akan kita gunakan untuk berperang nanti. Jika menurut kalian taktik dan strategi yang aku rencanakan ada yang kurang, atau jika kalian ingin menambahkan saran maka katakanlah. Kita akan rundingkan bersama-sama."
"Aku ingin sebelum kita melakukan serangan, kita terlebih dahulu mengirimkan sepuluh Prajurit mata-mata untuk mencari tahu situasi yang ada di dalam Ibukota Kerajaan."
"Setelah kita mengetahui bagaimana situasi yang ada di dalam Ibukota Kerajaan. Aku dan Sea Lin akan maju menyerang lebih dahulu ke dalam Ibukota Kerajaan. Jika belum ada tanda isyarat dariku, kalian tidak ada yang boleh melakukan serangan ke dalam Ibukota."
"Baiklah Tuan Jenderal. Tetapi kalau boleh aku tahu, apa yang ingin Tuan Jenderal dan Komandan Sea Lin lakukan dengan menyerang ke dalam Ibukota Kerajaan terlebih dulu?"
"Aku dan Sea Lin ingin membunuh Panglima Wu Shen dan Para Sekutunya terlebih dahulu. Aku ingin membuat Pasukan yang mereka pimpin kehilangan keberanian untuk berperang. Setelah Pasukan Pemberontak itu kehilangan keberanian mereka, maka itulah kesempatan kita untuk melakukan serangan dan mengalahkan mereka." jawab Evan.
******
Sore hari di atas benteng pertahanan. Terlihat Evan yang sedang melihat luasnya pemandangan padang gersang yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Sudah beberapa waktu berlalu sejak aku diusir dari Kerajaan Li. Aku tidak pernah menyangka aku akan mencapai pada titik ini. Dendam pengkhianat yang mereka lakukan padaku, aku pasti akan membalasnya. Setelah aku selesai membereskan masalah Kerajaan Gu, maka persiapkanlah diri kalian untuk membayar hutang kalian kepadaku. Aku akan membuat kalian membayarnya dengan nyawa kalian." ucap Evan dengan sorotan mata penuh dendam.
Namun sesaat kemudian datang Cao Cao menghampiri Evan.
"Kakak!" panggil Cao Cao dengan sangat bersemangat.
Ketika menoleh ke asal suara, Evan merasa sangat terkejut melihat Cao Cao yang telah dapat terbang dengan Sayap Aura-nya.
Terlihat rasa penuh kegembiraan di wajah Cao Cao maupun Evan.
"Cao Cao!?"
"Hehehe...., apakah Kakak terkejut?" Cao Cao tersenyum kepada Evan.
Kemudian dengan perlahan Cao Cao turun dan mendarat tepat di hadapan Evan.
"Kamu baru berumur dua belas tahun, tetapi kamu sudah mencapai Tingkat Jenderal Level Lima. Kamu lebih hebat dari pada Kakak" kata Evan merasa bangga pada Adik angkatnya tersebut.
"Kakak, karena aku sudah mencapai Tingkat Jenderal Level Lima, bisakah aku ikut pergi denganmu ke Medan Perang?" pinta Cao Cao penuh harap.
"Kamu ingin ikut berperang?" tanya Evan merasa cukup terkejut mendengar permintaan Cao Cao.
"Benar Kakak. Aku ingin membantumu berperang melawan musuh!" kata Cao Cao sangat yakin dan tanpa ragu.
"Maaf Cao Cao, kamu tidak bisa ikut." jawab Evan dengan lembut.
Seketika Cao Cao merasa kecewa mendengar jawaban Evan.
"Kenapa?" Cao Cao yang kecewa mencoba bertanya.
__ADS_1
"Medan Perang adalah tempat yang sangat berbahaya. Semua orang saling membunuh tanpa belas kasihan. Kamu adalah adik yang paling Kakak sayangi. Kakak tidak ingin kamu terluka." kata Evan dengan penuh kelembutan.
"Tetapi Kakak, aku juga tidak ingin kamu terluka. Aku tahu aku belum cukup kuat untuk melindungi Kakak, tetapi setidaknya biarkan aku membantu Kakak melawan musuh."
"Kakak selalu berkata tidak ingin kami terluka, tetapi apakah Kakak tahu, kalau kami juga tidak ingin Kakak terluka?"
"Setiap kali Kakak pergi ke Medan Perang atau tempat-tempat berbahaya lainnya, aku selalu menunggu Kakak dengan perasaan khawatir. Aku selalu takut sesuatu yang tidak baik terjadi pada Kakak."
"Setiap hari aku berfikir, suatu saat aku pasti akan bisa berdiri melindungi Kakak. Maka dari itu, aku terus berlatih dan selalu berlatih untuk menjadi kuat agar dapat melindungi Kakak."
"Kakak selalu memberikan Cao Cao segalanya, sampai Cao Cao sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk membalasnya. Jadi Kakak, kali ini biarkan Cao Cao membantu Kakak melawan musuh di Medan Perang. Walaupun aku tidak bisa membalas semua kebaikan yang Kakak berikan padaku, tetapi setidaknya aku bisa memberikan Kakak sedikit bantuan." kata Cao Cao yang sangat ingin membalas kebaikan yang diberikan oleh Evan kepadanya.
"Baiklah, Kakak tahu apa yang kamu inginkan. Tetapi untuk saat ini Kakak tetap tidak bisa mengijinkan kamu untuk ikut dengan Kakak ke Medan Perang. Setidaknya tunggu kamu sudah berumur 14 tahun, barulah kamu boleh pergi ke Medan Perang untuk membantu Kakak."
"Untuk sekarang, kamu cukup bantu Kakak menjaga Kakak-kakak kamu. Jangan biarkan mereka terluka atau dilukai oleh siapapun. Kamu adalah satu-satunya laki-laki yang selalu bersama dengan mereka. Kamu harus menjaga mereka semua dengan baik." ujar Evan memegang pundak Cao Cao..
Mendengar itu, kemudian Cao Cao mengangkat kepalanya dan menatap wajah Evan. Mereka berdua saling menatap
"Baiklah Kak, aku akan mendengarkan kamu." ucap Cao Cao walau dengan sedikit perasaan sedih dan kecewa di hatinya.
"Sudahlah, jangan merasa sedih dan kecewa seperti itu. Jika kamu terus memasang wajah sedih seperti itu, Kakak akan jadi merasa bersalah padamu." ujar Evan merasa iba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1
...****************...