KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 164 : 4 Calon Istri Evan


__ADS_3

Evan dan Ray tersadar dengan nafas terengah-engah, Tekanan dari Pedang Raja Lautan yang menyerang mereka pun seketika menghilang.


Tampak Ray yang telah berhasil mengangkat dan mengambil pedang lengkung tersebut. Ray yang merindukan kedua orang tuanya seketika menangis saat melihat pedang Raja Lautan.


"Ayah-Ibu..., Aku akan segera membalaskan dendam kalian!" batin Ray memeluk pedang Raja Lautan dengan hangat.


Disisi lain tampak Evan yang sedang melihat ke arah Ray yang sedang memeluk pedang raja lautan dengan penuh kasih sayang.


Melihat Ray yang sangat merindukan kedua orang tuanya, tentu Evan juga dapat merasakan apa yang saat ini sedang Ray rasakan.


"Jangan menangis!" kata Evan sembari tersenyum dan memegang pundak Ray Qi.


Mendengar perkataan Evan, kemudian Ray pun mengangguk pelan sambil mengusap air matanya. Sementara itu tampak Sea Lin dan yang lainnya merasa bingung melihat tindakan Evan dan Ray.


Disaat suasana masih belum tenang, tiba-tiba Tang Chen melihat ada sebuah surat didalam peti tersebut.


"Lihat!, didalam peti ini masih ada sebuah surat!" ucap Tang Chen sembari menunjuk sebuah kertas surat yang ada di dalam peti.


Kemudian Ray pun mengambil surat tersebut dan membacanya, Ray membaca sambil menangis.


"Ray, ini Ibu yang menulis surat ini, bagaimana apakah kamu suka hadiah dari ibu?, ibu harap Ray putra ibu menyukainya. Ray berlatihlah ddngan rajin dengan kitab yang ibu berikan dan jadilah orang kuat yang melindungi banyak orang, Jagalah kedua hadiah ini jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah!, ibu dan ayah akan sangat senang melihat Ray menjadi orang yang hebat saat dewasa nanti!" begitulah isi surat singkat tersebut.


Setelah membaca surat itu Ray yang tadi sudah berhenti menangis kini menangis lagi, air mata keluar tanpa terkendali, Ray menangis sampai terduduk dan terisak.


Evan dan teman-temannya hanya diam membiarkan Ray menangis sampai puas, hingga beberapa saat kemudian Ray yang telah meluapkan semua kesedihannya pun menjadi lebih tenang dan berhenti menangis.


"Ibu, Ray sangat senang!, Aku pasti akan menjaga hadiah dari ibu dan menjadi orang hebat seperti yang Ayah dan Ibu harapkan!" ucap Ray sembari tersenyum.


Melihat Ray yang sudah kembali menjadi lebih tenang, Evan dan teman-temannya pun turut ikut senang.


"Baiklah, ayo kita keluar dulu dari tempat ini, nanti aku akan menyuruh prajurit untuk memindahkan semua barang yang ada disini!" ujar Evan.


Setelah Ray mengambil kitab dan pedang lengkung tingkat semesta itu, Mereka pun bergegas keluar dari tempat itu.


Beberapa saat kemudian Evan dan yang lainnya pun keluar dari terowongan, setelah keluar ternyata para wanita itu tidak ada yang pulang, mereka semua menunggu Evan dan yang lainnya untuk keluar dari terowongan.


Melihat Evan dan yang lainnya keluar dari terowongan para Wanita itu pun langsung senang.


"EVAN !" seru Ririn, Reya, Nan Ruyu, dan Ran Ran menghampiri Evan.


"Kalian kenapa belum pulang? bukankah aku sudah katakan kembali ke kediaman?" tanya Evan kepada empat gadis cantik itu.

__ADS_1


"Evan, kamu sungguh menyebalkan!, sebelumnya kami tidak boleh ikut kalian masuk ke terowongan sekarang kamu juga tidak membolehkan kami menunggu kalian!?" ujar Reya sebal.


"Benar Evan, kami disini menunggu kamu karena kami khawatir kamu kenapa-napa!" ujar Ran Ran.


Tidak tahu kenapa ke empat gadis itu Tampak akur tidak seperti waktu sebelumnya.


"Keempat gadis ini kenapa bisa akur?, aku jadi punya firasat buruk!" batin Evan merasa tak tenang dalam hatinya saat melihat keempat wanita tersebut dapat akur.


"Evan kami ada sesuatu yang ingin kami sampaikan padamu!" kata Reya membuat Evan dan yang lainnya menjadi merasa penasaran.


"Apa yang ingin kalian sampaikan?" tanya Evan dengan hati tidak tenang dan merasa penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh para wanita tersebut.


"Kami berempat tadi sudah berdiskusi, bahwa kamu boleh menikahi Ririn menjadi istri pertamamu!" kata Reya memberitahu Evan dengan raut wajah tersenyum.


Mendengar itu, Evan merasa lega. "Ooh aku pikir apa!" kata Evan menjadi jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Kami belum selesai!" kata Reya yang belum menyelesaikan kalimatnya.


Mendengar itu, seketika Evan memiliki firasat buruk lagi dan menjadi tidak tenang sama seperti sebelumnya.


"Ririn boleh jadi istri pertama, tetapi kamu harus menikahi kami juga! yaitu Aku, Nan Ruyu dan Ran Ran!" kata Reya sembari tersenyum kepada Evan.


"APA!?" kata Evan sontak merasa sangat terkejut mendengar hal itu. Tidak hanya Evan saja yang merasa sangat terkejut, tetapi juga Sea Lin dan teman-teman Evan yang lainnya.


"Kamu tidak salah dengan dan kamu juga sama sekali tidak bercanda!" kata Nan Ruyu pada Evan.


Mendengar itu, Evan sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hingga kemudian Evan mencoba meminta kejelasan dari Ririn yang berada disitu juga.


"Ririn kamu tidak setujukan!?" ucap Evan dan meminta kejelasan dari Ririn.


"Aku setuju!" jawab Ririn dengan ringan dan singkat sembari tersenyum pada Evan.


Para gadis itu tampak saling tersenyum yang sepertinya mereka telah merencanakannya sebelumnya.


"Evan kamu jangan menolak lagi, kami berempat sudah membahasnya bersama-sama dan Ririn juga sudah setuju!" kata Nan Ruyu dengan sangat senang dan gembira.


"Kalian..., Aku masih terlalu muda tapi kalian sudah membahas menikah denganku seperti ini, ini terlalu cepat!" kata Evan mencoba menolak para wanita tersebut.


"Tenang, kami akan sabar menunggumu dewasa kok!" kata Reya sembari tersenyum pada Evan.


"Benar, kami akan menunggu kamu sampai berumur 18 tahun, sekarang kamu sudah mau berumur 16 tahun, berarti hanya tinggal menunggu 2 tahun lagi. Tetapi asalkan kamu sudah siap, kami semua juga bersedia untuk menikah denganmu!" kata Ran Ran memperhitungkan dengan cermat.

__ADS_1


"Kalian sungguh mengerikan!" batin Evan yangtak mampu untuk melawan dan berkata-kata lagi setelah melihat sikap keempat wanita tersebut.


"Kenapa kamu tampak tidak senang?, apa kamu tidak suka dengan kami?, apa kami masih kurang cantik atau kurang baik untukmu?" tanya Nan Ruyu dengan raut wajah sedih pada Evan.


"Tidak, Tidak, kalian sangat cantik dan baik, tapi kalian sebaiknya jangan terlalu terburu-buru untuk mengambil keputusan ingin menikah dengan siapa, karena kita juga tidak tahu kedepannya akan jadi seperti apa!" kata Evan pada gadis-gadis itu.


"Pokoknya kami sudah menentukan ingin menikah dengan kamu!, Ti-Tik !" kata Reya yang sudah bertekad.


"Ya sudah terserah kalian saja deh!" ujar Evan pasrah pada nasibnya.


"YEAY!!" Keempat gadis itu menjadi sangat senang dan langsung menempel pada Evan.


"Calon Suami Ayo Kita Pulang!" ajak mereka dengan sangat manja.


"Aku punya firasat buruk jika para wanita ini benar-benar jadi istriku semua!" pikir Evan dalam hatinya.


Evan dan keempat gadis itu pun pergi meninggalkan yang lainnya, mereka berjalan kembali pulang dengan penuh canda tawa ke kediaman Jenderal milik Evan.


Disisi lain, teman-teman Evan hanya diam melihat ke pergian Evan dengan keempat wanitanya.


"Kakak besar sungguh luar biasa, Andai saja Chu Xian sayangku juga seperti itu, pasti seru!" gumam Sea Lin yang terdengar oleh Chu Xian yang berdiri disampingnya.


"Kalau mau seperti itu bukannya tidak boleh, asal kamu sudah siap untuk jadi kasim!" kata Chu Xian tersenyum mematikan pada Sea Lin.


Mendengar itu Sea Lin seketika menjadi takut. "Sayang tenang saja, aku berjanji akan selalu setia pada kamu seorang saja karena dihatiku cuman ada kamu yang paling berharga dan paling aku cinta !" kata Sea Lin menjunjung.


Perkataan Sea Lin terdengar oleh yang lainnya.


"Dasar!" kata Chu Xian yang malu dilihat oleh yang lainnya.


"Chu Xian sayang, aku bersungguh-sungguh!" ucap Sea Lin mencoba meyakinkan Chu Xian.


Teman-teman yang lainnya pun tersenyum dan tertawa riang melihat Sea Lin yang sedang membujuk kekasihnya Chu Xian.


Malam itu adalah malam yang penuh ke bahagian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...----------------...

__ADS_1


......................


......................


__ADS_2