
Keesokan paginya, Ririn terbangun lebih dulu dari pada Evan. Ririn seketika terkejut, saat membuka matanya ia langsung melihat wajah Evan yang sedang tertidur pulas berada didepan matanya.
Karena takut akan sesuatu, kemudian Ririn memeriksa seluruh tubuhnya. Ririn semakin terkejut saat dia menyadari, kalau dirinya telah tidur bersama Evan dalam keadaan tak berpakaian.
"Apakah tadi malam kami melakukan itu?" batin Ririn merasa merasa khawatir pada tubuhnya. Dengan perasaan takut, kemudian Ririn mencoba memeriksa barang miliknya. Ririn pun merasa lega dan menghela nafas panjang saat mengetahui kalau seluruh tubuhnya masih dalam keadaan utuh, dan sedangkan barangnya masih aman seperti sediakala.
Namun sesaat kemudian Ririn merasakan adanya suatu energi yang sangat hangat mengalir dalam tubuhnya, dan energi hangat tersebut seluruhnya berasal dari tubuh Evan yang sedang memeluk dirinya.
Dan Ririn menyadari kalau energi hangat yang dipancarkan oleh Evan, telah memulihkan seluruh tubuhnya seperti sediakala.
Karena itu Ririn tidak merasa marah tetapi malah tersenyum pada Evan yang masih tertidur sambil memeluk dirinya.
Tidak hanya merasa senang dan tersenyum saja, tetapi Ririn juga semakin menempelkan tubuhnya pada Evan dan membenamkan dirnya kedalam pelukan Evan yang hangat.
Beberapa saat kemudian Evan bangun dari tidur lelapnya. Saat bangun tampak ekspresi Evan yang masih saja merasa terkejut, ketika menyadari kalau dirinya telah tidur bersama Ririn sambil dan dalam keadaan tak berpakaian.
"Kamu sudah bangun?" tanya Ririn dengan lemah lembut dan sembari tersenyum kepada Evan.
Melihat Ririn yang telah bangun lebih dulu darinya, kemudian Evan segera bangkit dari tidurnya dan duduk. Dengan sangat terbata-bata, Evan mencoba menjelaskan pada Ririn, kalau apa yang dilihatnya saat ini tidak sama seperti yang dia bayangkan.
"Ri...Ririn!? Itu aku... aku..., kamu jangan salah paham, ini tidak seperti yang kamu bayangkan! kamu jangan marah! aku bisa jelaskan semuannya!" kata Evan mencoba menjelaskan pada Ririn dengan terbata-bata.
"Pfft... kamu lucu sekali!" Ririn tertawa kecil sambil berbaring bersembunyi didalam selimut.
"Eeeeh?, kamu tidak marah dan kamu bisa tertawa?" ucap Evan heran namun juga senang karena baru pertama kalianya ia melihat tawa Ririn yang begitu indah.
"Iyah aku tidak marah, aku percaya padamu kalau kamu tidak akan melakukan tindakan yang merugikan aku." jawab Ririn yang masih berbaring menutupi dirinya dengan selimut.
"Aku minta maaf karena tidak meminta ijin darimu terlebih dahulu."
"Tidak perlu minta maaf, aku yang seharusnya berterima kasih, Dan... kamu cepatlah berpakaian dan keluar dari kamarku sebelum ada orang yang datang." pinta Ririn yang masih menutupi dirinya dengan selimut.
"CUP !, kamu janganlah sedih lagi aku tidak ingin kau sakit, apa lagi kamu sakit karena aku." cium Evan dikening Ririn dan berkata dengan lembut.
Kemudian Evan segera bergegas turun dari tempar tidur dan berpakaian dan kemudian langsung pergi meninggalkan Ririn yang masih bersembunyi didalam selimutnya.
__ADS_1
Diluar kamar Evan menutup pintu kamar Ririn.
"KAKAK !" sambut Cao Cao mengagetkan Evan.
"AAaaa !!, Cao Cao kenapa kau ada disini?" tanya Evan.
"Kak Evan, apakah aku sebentar lagi akan menjadi seorang paman?" tanya Cao Cao bersemangat.
"Apa yang kau katakan!? Cao Cao kau salah paham, apa yang kau lihat tadi malam tidak seperti yang kau pikirkan!" jawab Evan.
"Memangnya apa dilihat oleh Cao Cao?, mengapa dia bilang di akan jadi paman?" tanya Reya yang datang bersama dengan Qin Yun, Ran Ran, dan Lu Rao Rao. kedatangan mereka yang tiba-tiba membuat Evan terkejut.
"Itu semalam Kak Evan.., Uhmmm !!, Uhmmm!!" saat Cao Cao ingin menjelaskan Evan dengan cepat langsung menutup mulut Cao Cao.
"Semalam Kak Evan, apa!?" tanya Reya sekali lagi karena ia jadi semakin penasaran.
Cao Cao berhasil menyingirkan tangan Evan dan ingin langsung mengatakannya. "Itu semalam Kak Evan dan Kak Ririn, Uuhhmm!! Uhhmmmm!!" Evan sskali lagi langsung dengan cepat menutup mulut Cao Cao.
"Tidak, Tidak ada apa-apa, kalian jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh Cao Cao, Cao Cao ayo pergi, tadi katanya ingin berlatih dengan aku bukan? Ayo !" Ucap Evan beralasan agar bisa membawa Cao Cao pergi.
Singkat cerita disuatu tempat Evan berkumpul dengan Ririn, Cao Cao dan semua teman-temannya.
"Kak Evan, kau ingin melakukan apa hingga memanggil kami semua kesini? ini adalah tempat latihan untuk jenderal Ryu, ayah Reya!" tanya Sea Lin.
"Reya bolehkah aku meminjam ruang latihan milik ayahmu sebentar?" pinta Evan.
"Tidak masalah, jangan sungkan, gunakanlah anggap seperti milikmu sendiri!" ucap Reya.
"Terima kasih!"
Kemudian Evan masuk kedalam ruangan itu dan hanya beberapa menit kemudian Evan sudah keluar lagi, dan itu membuat Ririn dan yang lainnya heran.
"Mengapa kau sangat cepat keluar?, aku pikir kau ingin berlatih?" tanya Reya heran.
"Tidak, tapi rahasiakan kalau aku pernah datang kesini!"
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Reya.
"Aku menggunakan sebuah jurus yang bernama tubuh bayangan pengganti, aku tidak bisa menceritakan kalian detailnya, tapi aku yang sekarang hanyalah sebuah bayangan, dan tubuh asliku ada didalam ruang latihan ini!, kalian tolong jagakan tubuh asliku yang ada disini saat aku pergi!. aku akan pergi ke kerajaan Gu bersama dengan Sea Lin untuk mengantarkan Gu Mei kembali pulang ke kerajaannya!" jawab Evan.
"Dan yang paling penting kalian juga harus segera meningkatkan kekuatan dan meningkatkan kultivasi kalian, gunakanlah sumber daya yang aku berikan dengan baik!" pinta Evan.
"Baik, terima kasih atas semua kebaikanmu, nanti saat kau kembali maka kami pasti tidak akan mengecewakan kamu !" ucap Luo Bai. Evan tersenyum melihat wajah teman-temannya yang sangat bersemangat dan gembira.
"Kamu akan pergi lagi?" tanya Ririn yang tidak rela.
"Iyah, tapi aku memang harus pergi, aku berjanji akan membawakan kamu hadiah saat pulang nanti, oh iyah aku hampir lupa!" Ucap Evan mengingat sesuatu yang hampir saja terlupakan.
"TADAA !!" Evan mengeluarkan Limao (harimau kecil milik Ririn) dari ruang kesadarannya.
"Limau!?" ucap Ririn senang melihat Cao Cao lagi.
"Aku ingin memberikannya padamu sejak aku pulang, tapi masalah tidak kunjung selesai, jadi baru sekarang aku ingat memberikannya padamu!"
"Terima kasih, aku lupa untuk membawanya saat kejadian disekte matahari merah waktu itu!" ucap Ririn menerima dan menggendong Limao dengan senang hati.
Disisi lain, Evan yang melihat Ririn merasa senang gembira pun, juga ikut merasa senang dan gembira.
"Bagus, Sea Lin, Gu Mei, ayo kita berangkat!" seru Evan dengan sangat bersemangat mengajak Gu Mei dan Sea Lin berangkat pergi ke Kerajaan Gu.
"AYOO !!" saut Sea Lin dan Gu Mei bersorak dengan penuh semangat dan senyuman gembira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
......................
......................
__ADS_1
......................