
"Terima Kasih Evan, kedepannya aku pasti akan mendapatkan hati Yuna Li, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan padaku!" kata Tang Chen tersenyum tipis sambil melihat ke arah Evan yang berjalan menjauh sambil menggendong Yuna Li dipunggungnya.
Kemudian tampak Evan berjalan-jalan mengelilingi kota Siun sambil menggendong Yuna Li dipunggungnya, sambil berjalan mereka tertawa lepas dengan sangat gembira.
Mereka berjalan berkeliling sambil mengobrol disepanjang jalan.
"Pangeran Evan, aku merasa sangat senang, kedepannya bisakah kita melakukan hal ini lagi?, berkeliling melihat pemandangan kota sambil tetawa gembira" ujar Yuna Li yang sedang digendong punggung oleh Evan.
"Mungkin tidak bisa, tetapi aku pasti akan berusaha!, dan Yuna Li, apakah kamu tidak ingin melakukan hal ini dengan orang lain selain Aku?, contohnya Tang Chen?" tanya Evan kepada Yuna Li.
"Aku tidak mau!, Tang Chen itu pria yang kasar tidak lembut seperti Pangeran!" kata Yuna Li.
"Eh?, seperti itukah?, tetapi menurutku Pangeran itu cukup baik dan sangat pengertian, walaupun penampilan luarnya terlihat seperti orang kasar dan bodoh tetapi sebenarnya Tang Chen itu adalah orang yang sangat pengertian, bijak, dan menyenangkan tidak seperti yang kamu pikir!" kata Evan mencoba membuat Yuna Li memiliki kesan baik terhadap Tang Chen.
Mendengar perkataan Evan yang mencoba membuat Tang Chen terkesan baik dimatanya, Yuna Li pun mengerutkan alisnya.
"Walaupun memang benar begitu, tetapi aku tetap tidak mau digendong olehnya!, cukup hanya sekali itu saja!" kata Yuna Li dengan tegas.
"Kenapa?, Tang Chen itu cukup baik dan pengertian, kenapa kamu tidak mau?" tanya Evan merasa heran dan penasaran.
"Karena dia tidak setampan Pangeran Evan, dia Jelek!" jawab Yuna Li dengan lukas.
"Puufft!, Hahahaha......." tawa Evan setelah mendengar jawaban dari Yuna Li.
"Tang Chen kumohon kamu jangan salahkan aku karena lebih tampan darimu!" batin Evan dalam hatinya.
"Kenapa Pangeran tetawa?, apakah perkataan Yuna ada yang salah?, Tang Chen, dia memang tidak setampan Pangeran!" kata Yuna Li.
"Hehehe..., kamu memang tidak salah, aku memang lebih tampan dari Tang Chen!" kata Evan merasa sangat senang dipuji tampan oleh Yuna Li.
"Tetapi walaupun Tang Chen tudak setampan diriku, dia tetap tampan bukan?" ujar Evan kepada Yuna Li.
"Hmmm....., lumayan, tetapi tetap saja dia tidak setampan dan sebaik Pangeran!" kata Yuna Li bersih teguh.
"Belum tentu, kamu berkata seperti ini karena kamu belum mengenal Tang Chen dengan baik" ujar Evan.
"Hmmm..., Kenapa sepertinya Pangeran terus membahas Tang Chen?, apakah Pangeran ingin menjodohkan aku dengannya?" tanya Yuna Li menebak dengan curiga.
"Hehehe..., ternyata kamu menyadarinya, karena kamu sudah tahu maka aku tidak akan menyembunyikannya lagi, sebenarnya Tang Chen telah menyukai kamu sejak pandangan pertama, aku hanya sedang membantunya saja" ujar Evan menjawab dengan terbuka kepada Yuna Li.
"Tang Chen menyukaiku sejak pandangan pertama?!" tanya Yuna Li sontak heran mendengar jawaban Evan.
"Benar sekali!, maaf jika kamu tidak senang karena aku terus membahasnya!" ujar Evan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku tidak marah" ujar Yuna Li.
"Mungkin aku memang harus melepaskan Pangeran, Pangeran mengangapku sebagai adik aku sudah cukup senang, dan sepertinya aku mencoba mempertimbangkan Tang Chen." pikir Yuna Li dalam hatinya.
"Baguslah, aku senang jika kamu tidak marah, Sekarang ayo kita kembali ke kediaman kamu, mungkin yang lainnya sudah kembali pulang kesana!" kata Evan kepada Yuna Li.
"Baiklah, aku akan menuruti Kakak Pangeran!" kata Yuna Li dengan patuh sembari memeluk dan mendekap Evan dengan hangat.
Evan yang melihat itu pun terkejut, apa lagi disaat Yuna Li menyebutnya dengan sebutan 'Kakak Pangaran' yang membuatnya menjadi lebih nyaman berada didekat Yuna Li.
"Kakak Pangeran sungguh adalah sebutan yang bagus!" pikir Evan dalam hatinya.
Kemudian Evan pun menggendong dan membawa Yuna Li pulang ke kediaman Jenderal.
Singkat cerita sore hari pun tiba, Evan dan Yuna Li telah sampai di kediaman Jenderal Yunfan Li, yang mana tampak kalau Yuna Li sudah turun dari gendongan Evan, Yuna Li berjalan diikuti oleh Evandari belakang.
Setelah Evan dan Yuna Li sampai dihalaman kediaman, tampak Ruyin Li, Bibi Rue Luanyi dan Jenderal Yunfan Li sedang menunggu mereka.
Sikap Ruyin Li dan Bibi Rue Luanyi dalam menyambut masih tampak dingin, namun sudah lebih baik dari pada waktu sebelumnya.
Kemudian Yuna Li berjalan menghampiri Bibi Rue Luanyi dan Jenderal Yunfan Li dengan raut wajah tersenyum.
Setelah Evan mengantar Yuna Li kembali ke kediaman Jenderal Yunfan Li dengan selamat, Evan pun pamit untuk pergi kembali pulang ke tempat penginapannya.
"Apakah Pangeran Evan harus buru-buru?, kenapa tidak singgah disini sebentara saja?" ujar Jenderal Yunfan Li menawarkan kepada Evan.
"Maaf Tuan Jenderal, saya tidak bisa mungkin lain kali saja, saya harus segera pulang karena teman saya Tang Chen mungkin sedang menunggu saya untuk pulang!" kata Evan menolak tawaran dari Jenderal Yunfan Li.
"Kalau begitu baiklah, aku juga tidak bisa memaksa Pangeran!" ujar Jenderal Yunfan Li.
"Baiklah saya pamit pergi dulu!" ujar Evan yang kemudian pergi meninggalkan kediaman Jenderal Yunfan Li.
Namun tidak lama Evan pergi meninggalkan kediaman Jenderal Yunfan Li, Evan tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
"Ruyin, sejak aku keluar dari kediamanmu kamu terus mengikutiku, sekarang kamu keluarlah jangan bersembunyi lagi!" kata Evan.
Kemudian Ruyin Li pun muncul dengan melompat ke samping Evan.
"Cih!, siapa yang bersembunyi darimu!" kata Ruyin Li yang telah berdiri disamping Evan.
"Berarti kamu mengikutiku!" ujar Evan mempermainkan Ruyin Li.
Mendengar itu Ruyin Li tidak menyangkalnya dan hanya memutar bola matanya.
__ADS_1
"Selama Adikku bersamamu tadi, kamu tidak ada melakukan apa padanya kan?" tanya Ruyin Li yang tidak percaya pada Evan.
"Kamu pikir aku adalah laki-laki seperti apa!?" tanya Evan merasa jengkel kepada Ruyin Li yang selalu mencurigainya.
"Tentu saja kamu adalah laki-laki brengsek dan mesum!" jawab Yuna Li tanpa ragu.
"Dasar, sebelumnya kamu mengataiku Pecundang Sampah tidak berguna, sekarang kamu mengataiku Laki-laki brengsek dan mesum!, kamu sebenarnya maunya apa agar bisa menghilangkan semua pikiran buruk kamu terhadapku?" ujar Evan merasa jengkel kepada Ruyin Li.
"Lagi pula dari mana kamu melihatku bahwa aku adalah laki-laki brengsek dan mesum?" tanya Evan yang merasa kesal dan jengkel.
"Heh!, apakah kamu sudah tidak mengingatnya?, saat kamu baru lahir kamu bukannya menangis tetapi malah mencari susu, saat kamu baru berusia empat tahun kamu mencuri pakaian dalam para wanita dikediaman istana, saat kamu berusia enam tahun kamu sudah mencium seorang gadis dengan paksa hingga menangis, usia tujuh tahun kamu ketahuan mengintip para sepupu wanita kamu mandi, usia delapan tahun kamu mengatakan kepada semua orang kalau cita-cita kamu ingin membangun istana harem dengan ratusan wanita cantik didalamnya, usia sembilan tahun kamu sudah pergi kerumah bordil, usia sepuluh tahun kamu pernah memegang bokong Kakak seperguruanku..............." Ruyin Li menyebutkan semua kenakalan Evan dari kecil hingga remaja yang tidak ada habisnya.
Melihat Ruyin Li yang terus menyebutkan kenakalan-kenakalannya tanpa henti, Evan pun dengan cepat langsung menutup (membungkam) mulut Ruyin Li dengan tangannya.
"Cukup jangan dikatakan lagi!" kata Evan kepada Ruyin Li.
Kemudian Ruyin Li pun langsung melepaskan tangan Evan yang menutup mulutnya.
"Aku belum selesai menyebutkan semuannya, kenapa kau menutup mulutku?" ujar Ruyin Li kepada Evan.
"Apakah kamu ingin membuatku malu?, disini ada banyak orang yang mendengarnya!" ujar Evan sambil menunjuk orang-orang yang ada disekitar mereka.
"Aku kira kamu adalah orang yang tidak tahu malu!" kata Ruyin Li.
"Dasar kau wanita mulut berbisa, tidak bisakah kau mengatakan hal baik kepadaku?, kenapa kau seperti sangat ingin membuatku marah!?" ujar Evan merasa sangat kesal.
"Kamu mengatai aku apa tadi?, Wanita mulut berbisa!?, kamu adalah Pria brengsek dan mesum!" kata Ruyin Li ikut menjadi kesal.
Kemudian Evan dan Ruyin Li pun saling adu mulut dan saling mengatai sembari saling tunjuk dan menunjuk.
Namun saat ditengah pertengkaran mereka seseorang Pria pemabuk dengan dua wanita disampingnya menabrak Evan dari belakang.
"BRUK!" Tabrakan Pria pemabuk tersebut mendorong Evan kedepan ke arah Ruyin yang sedang memaki (membuka mulut).
"CUP!" bibir Evan dan bibir Ruyin Li saling melekat menjadi satu dan Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
......................
......................
__ADS_1