KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 173 : Rencana Pencurian Sukses


__ADS_3

Jenderal Bian Luo dan pasukannya langsung bergegas menuju perkemahan bagian barat.


Beberapa saat kemudiah Jenderal Bian Luo dan pasukannya pun tiba dilokasi, namun yang terlihat hanyalah para mayat prajuritnya yang berserakan.


Melihat itu Jenderal Bian Luo sangat marah.


Evan maju kedepan. "Tuan Jenderal, sepertinya musuh telah melarikan diri setelah selesai membunuh pasukan kita yang disini!" ujar Evan dengan berpura-pura takut.


Jenderal Bian Luo yang marah dengan cepat menangkap dan mencengkik leher Evan.


"Kamu!..., Kamu jangan berani membohongiku!, apa kamu menyuruhku kesini agar aku tidak membantu para prajurit yang ada diperkemahan uatama?" ancam Jenderal Bian Luo dengan kejam.


"Tuan Jenderal...., aku tidak mungkin berbohong pada anda, Jenderal juga sudah melihat mayat para saudara kita yang mati, bagaimana mungkin aku berbohong pada Jenderal...?" ujar Evan dengan tubuh gemetar dan takut.


Mendengar itu Jenderal Bian Luo yang marah mengertakkan giginya dan melemparkan Evan.


"Prajurit rendahan sebaiknya kamu jangan berbohong padaku, jika tidak kamu tidak akan bisa menerima konsekuensinya!" ucap Jenderal Bian Luo berbalik bafan yang kemudian berjalan meninggalkan Evan.


"Seluruh pasukan, ikut aku menuju perkemahan utama!" seru Jenderal Bian Luo kepada pasukan.


"Sial, dia sudah mulai curiga, semoga Ray dan yang lainnya sudah selesai membersihkan persediaan mereka!" pikir Evan dalam hatinya.


Disisi Lain diluar pagar, Sea Lin sudah bersiap melemparkan Bom darah untuk ketiga kalinya.


"Ini adalah yang ketiga, semoga bisa berhasil mengalihkan perhatian (mengecoh) pasukan Negara Mo!" pikir Sea Lin dan kemudian melemparkan Bom darah.


"BOOM !" ledakan terjadi untuk yang ketiga kalinya.


Jenderal Bian Luo dan pasukannya mendengar dan melihat ledakan itu.


"Disana ada ledakan lagi!"


"Apa kita akan tetap akan pergi ke perkemahan utama?"


"Tetapi bagaimana jika disana ada musuh yang menyerang?"


Para prajurit menjadi bingung dan bimbang, begitu juga Jenderal Bian Luo.


"Sial, ledakan itu lagi!...." gumam Jenderal Bian Luo bimbang.


Melihat itu Evan pun tidak ingin membuang kesempatan itu.


"Tuan Jenderal, Mohon Tuan Jenderal untuk segera melihat ke lokasi ledakan untuk melihatnya sendiri, agar anda tidak salah paham dan curiga lagi padaku!" ucap Evan memberi hormat.


"Aku yakin pasti dilokasi ledakan itu ada para prajurit musuh yang sedang menyerang rekan-rekan kita!, ini adalah taktik pengecoh tuan Jenderal!" saran Evan.


Mendengar itu para prajurit pun mendukung Evan dan dengan terpaksa Jenderal Bian Luo pun menerima dan mengikuti saran Evan untuk melihat ke lokasi ledakan.


"Baiklah, ayo kita pergi menuju lokasi ledakan, jika tidak ada satu pun disana aku pasti akan membunuh prajurit sialan ini!" kata Jenderal Bian Luo dengan tegas.

__ADS_1


"Hehehe... Berhasil!" batin Evan yang tersenyum licik.


Diwaktu yang sama, Ray, Pasukan Gagak Malam, dan para Elemen telah menyelesaikan tugas mereka, semua persediaan telah digarap habis oleh mereka.


Mereka semua berkumpul disatu tempat.


"Bagaimana dengan persediaan obat-obatan dan senjata?" tanya petir.


"Tenang saja, semua persediaan senjata mereka telah aku bersihkan hingga ludes tak bersisa!" jawab Api dengan bangga.


"Persediaan obat-obatan mereka juga sudah kami bersihkan!" jawab Angin.


"Baiklah, tugas kita sudah selesai, kalian bawalah semua persediaan ini dan pergi dari sini!" perintah Petir sembari para Elemen memberikan Cincin ruang penyimpanan yang tadi untuk menyimpan persediaan hasil curian kepada Ray dan Pasukan Gagak Malam.


"Baik!" jawab Ray dan Pasukan Gagak Malam dan kemudian mereka pun pergi meninggalkan perkemahan pasukan Negara Mo.


Kemudian tubub bayangan para Elemen pun menghilang dan jiwa mereka kembali ketubuh tubuh Evan yang asli yang sedang berjalan menuju ke lokasi ledakan ke tiga.


"Evan, rencana telah berhasil, semua persediaan mereka telah kami bersihkan dan teman-teman kamu telah membawanya pergi!" ucap Petir yang langsung terdengar dibenak Evan.


"Bagus sekali, rencana berjalan lancar dan sukses!" batin Evan merasa senang.


Diwaktu yang sama Tang Chen, Luo Bai dan Wolf sudah mulai kewalahan menghadapi begitu banyak musuh.


Mereka bertiga tampak sudah terengah-engah ditengah kepungan pasukan prajurit Negara Mo.


"Sial, bagaimana kita akan kabur dari kepungan ini?" ujar Tang Chen yang juga sudah kehabisan tenaga.


"Kita harus bertahan sebentar lagi, rencana Jenderal Li tidak mungkin gagal!" kata Wolf yang yakin dan percaya pada Evan.


"Shoooss...." Bom darah keempat meluncur ketengah-tengah pasukan yang sedang mengepung mereka bertiga.


"Sial itu jurus ledakan darah milik Sea Lin!, berlindung!" seru Luo Bai yang langsung menarik Tang Chen dan Wolf menjauh.


"BOOM !" ledakan Keempat pun terjadi hingga membuat tiga orang itu terlempar cukup jauh.


Namun ledakan itu berhasil membunuh banyak prajurit yang tadi mengepung mereka bertiga.


Kemudian seseorang berjalan ke arah mereka bertiga yang sedang bangkit berdiri karena ledakan tadi membuat mereka terlempar cukup jauh.


"Hei, apa kalian bertiga tidak apa-apa?" tanya Sea Lin sembari mengulurkan tangannya.


Mereka bertiga menoleh melihat ke arah Sea Lin yang sedang tersenyum sembari mengulurkan tangannya.


"Hehe...hehe...." tawa Tang Chen menunduk dengan wajah suram.


Dengan cepat Tang Chen menarik kerah baju Sea Lin dengan ekspresi kesal.


"Sialan kau Sea Lin...!!, kamu tau tidak kalau kami hampir kamu buat mati karena Jurus Ledakan Darah kamu tadi!?" tanya Sea Lin yang marah.

__ADS_1


"Hehehehe... maaf, soalnya aku tidak tau posisi kalian persisnya dimana karena aku melempar Bom nya dari luar pagar, jadi aku langsung lempar sembarangan saja!" jawab Sea Lin mengalihkan pandangannya.


"Sudah kalian berdua jangan berkelahi, bukankah sekarang kita juga masih baik-baik saja?, lagi pula kita juga sudah berhasil keluar dari kepungan!" ucap Luo Bai menengahi mereka berdua.


"Yah benar!, seharusnya kamu berterima kasih padaku karena sudah menyelamatkan kalian bertiga!" ujar Sea Lin.


Mendengar itu Tang Chen pun melepaskan Sea Lin. "Baiklah terima kasih!" ucap Tang Chen dengan terpaksa.


"Sudah, sekarang yang lebih penting adalah kita harus pergi dari sini dan kabur!" kata Wolf.


Mereka pun mengangguk dan pergi kabur dari kemah pasukan Negara Mo.


Dan sekarang hanya tinggal Evan sendiri saja yang masih didalam kemah pasukan musuh.


Jenderal Bian Luo dan pasukannya mendengar dan melihat ledakan dari arah perkemahan utama.


"Sial, disana ada ledakan lagi!"


"Bukankah disana adalah perkemahan utama yang sedang terjadi pertempuran?"


"Sepertinya kita sudah benar-benar dipermainkan oleh musuh!"


Jenderal Bian Luo dan pasukannya merasa sudah dibodohi dan dipermainkan oleh musuh dengan dibuat mondar-mandir tanpa melakukan apapun.


"Sialan, sialan, sialan!" marah Jenderal Bian Luo yang sudah sangat geram.


Jenderal Bian Luo melirik ke arah Evan dengan penuh amarah dan kebencian.


"Sebagian pasukan tetap pergi lihat ke lokasi ledakan yang ada disana, dan sisanya ikut aku keperkemahan utama!" perintah Jenderal Bian Luo dengan raut wajah marah.


"Jika disaat kalian sampai tetapi kalian tidak melihat apa-apa dilokasi ledakan maka bunuh dia!" perintah Jenderal Bian Luo sambil menunjuk Evan.


"Siap Jenderal!" ucap para prajurit dengan kompak.


Evan hanya menanggapinya dengan wajah dingin, Jenderal Bian Luo memalingkan wajahnya


"Berangkat!" seru Jenderal Bian Luo pada pasukannya.


Jenderal Bian Luo dan pasukannya meninggal Evan dengan sebagian pasukan lainnya menuju Perkemahan utama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...----------------...


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2