KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 486 : Lelah


__ADS_3

Setelah orang itu memberikan semua informasi kepada Evan, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, orang itu dan sembilan belas orang lainnya tiba-tiba terbakar oleh api yang sangat membara.


Melihat itu, Evan sontak merasa terkejut.


Api itu sangat panas. Hingga hanya dalam waktu sekejap mata, dua puluh orang itu telah habis terbakar menjadi abu.


Setelah dua puluh orang itu lenyap menjadi abu, Evan mengepal tangannya dengan erat.


"Kerajaan Xiao bajingan! Aku bersumpah, aku pasti akan membuat kalian membayar apa yang kalian lakukan!" ucap Evan merasa sangat marah dan geram.


Setelah itu, kemudian Evan pun keluar dari ruangan tersebut.


Di luar ruangan terlihat Sea Lin dan yang lainnya sedang menunggu dan berjaga di depan pintu.


"Kakak Besar, bagaimana orang-orang itu?" tanya Sea Lin segera setelah Evan keluar dari ruangan tersebut.


"Mereka semua memang mata-mata yang di kirim oleh Kerajaan Xiao. Tetapi mereka melakukan hal ini karena terpaksa. Keluarga mereka ditahan oleh Kerajaan Xiao. Tetapi beberapa hari lalu mereka mendapat kabar, bahwa Keluarga mereka yang ditahan oleh Kerajaan Xiao telah melakukan bunuh diri. Maka dari itu, mereka memilih mengkhianati Kerajaan Xiao dan memihak kepada kita." jawab Evan panjang lebar.


"Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan kepada mereka?" tanya Qiu Shen.


"Tidak ada yang perlu kita lakukan kepada mereka. Mereka semua sudah mati." kata Evan membuat mereka semua merasa terkejut.


"Sebelum mereka diberangkatkan ke sini untuk menjadi mata-mata oleh Kerajaan Xiao, mereka telah dipaksa untuk memakan sebuah Pil yang dapat mengendalikan jiwa dan kehidupan mereka. Jadi saat mereka melakukan pengkhianatan dan lebih memilih memihak kepada kita, mereka akan mati terbakar hingga menjadi abu" lanjut Evan menjelaskan.


"Namun sebelum mati mereka sempat memberikan beberapa informasi penting kepadaku," sambung Evan lagi, dan kemudian menyampaikan semua informasi yang ia dapatkan kepada Sea Lin dan yang lainnya.


Setelah beberapa saat kemudian, Evan pun akhirnya telah menyampaikan semua informasi yang ia miliki kepada Sea Lin dan yang lainnya.


"Jadi sekarang, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus menyerah pada Kerajaan Xiao?" Tang Chen bertanya.


"Tang Chen, aku sekarang sedang serius. Jadi tolong, jaga mulut bodoh mu itu." kata Evan yang sama sekali tidak merasa senang dengan candaan Tang Chen.


"Jika kita menyerah pada Kerajaan Xiao, maka tidak akan ada lagi orang yang bisa menghentikan mereka. Aku sudah bersumpah, aku pasti akan membinasakan seluruh Kerajaan Xiao dan anjing-anjingnya." kata Evan penuh dendam dan kebencian.


******

__ADS_1


Sore menjelang malam, Evan kembali ke Kediaman Jenderal dengan semua beban pikiran yang ada di kepalanya.


Di dalam kamar mandi, Evan berendam dengan air hangat di dalam bak mandinya.


Sambil berendam, Evan masih terus berfikir sambil memegang jidatnya yang mulai terasa pusing.


Setelah lama berfikir namun tetap tidak menemukan ide, kemudian Evan menghela nafas untuk yang sekian kalinya.


"Apakah kamu merasa lelah?" tanya seorang wanita dengan lembutnya.


"Ririn?" sebut Evan melihat Ririn yang baru masuk ke dalam kamar mandinya.


Ririn yang menggunakan piyama untuk menutupi tubuhnya, kemudian berjalan mendekati Evan.


Setelah berdiri di belakang Evan, kemudian Ririn mencelupkan jarinya ke dalam air bak tempat Evan berendam.


"Airnya sudah tidak hangat lagi, apakah kamu masih tetap ingin berendam? Jika iya, biar aku akan ganti airnya dengan air hangat lagi"


"Tidak usah, aku sudah selesai. Kamu kembalilah ke dalam kamar, aku akan segera memakai handuk." kata Evan sembari memegang wajah Ririn dengan lemah lembut.


Melihat Evan yang sedang memiliki banyak beban pikiran, Kemudian Ririn dengan lembut mencium bibir Evan.


"Sayang, aku tahu kamu sedang banyak pikiran. Jika kamu merasa terlalu berat, kamu berbagilah denganku" ujar Ririn dan Evan mengangguk perlahan.


Sebelum Ririn meninggalkan kamar mandi, kemudian mereka berciuman sekali lagi dengan penuh kemesraan.


Beberapa saat kemudian di dalam kamar. Terlihat Evan yang sedang berbaring di atas pangkuan Ririn seperti biasanya.


"Sekarang ceritakan lah padaku, apa yang terjadi saat kamu keluar hari ini?" tanya Ririn dengan lembutnya.


"Hari ini ada banyak hal yang terjadi, apakah kamu benar-benar ingin mendengar semuanya?" ujar Evan.


"Yah, katakanlah, aku ingin mendengar semuanya" kata Ririn.


"Baiklah, akan aku ceritakan."

__ADS_1


Kemudian Evan menceritakan semuanya tentang semua hal yang terjadi hari ini kepada Ririn tercintanya.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Evan selesai menceritakan semuanya kepada Ririn.


Setelah Ririn mendengar semua cerita Evan, Ririn akhirnya mengetahui alasan kenapa semenjak pulang Evan selalu menghela nafas.


"Ternyata hari ini benar-benar sudah terjadi banyak hal. Pantas saja kamu selalu menghela nafas hari ini," ujar Ririn mengusap kepala Evan dengan kelembutannya.


Evan yang merasa lelah hanya mengangguk pelan.


"Sayang, bolehkah aku bercerita?" pinta Ririn.


"Boleh, tentu saja boleh. Aku suka mendengarkan cerita," Evan mengijinkan dengan senang hati.


"Tapi kamu berjanji jangan menertawakan aku yah?" pinta Ririn merasa malu untuk bercerita.


"Yah, aku janji tidak akan menertawakan kamu. Cerita lah..." ujar Evan sedikit merasa heran dan penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Ririn.


"Sebenarnya apa yang ingin aku ceritakan, hanyalah pengalamanku saat aku tinggal di hutan dulu. Saat usiaku masih delapan tahun, hutan yang aku tinggali itu terbagi menjadi lima wilayah kekuasaan. Empat wilayah diantaranya dikuasai oleh Hewan Monster yang menjaga wilayahnya masing-masing. Sedangkan satu wilayah yang tersisa akulah yang menjaganya" kata Ririn memulai ceritanya.


"Wah, apakah Istri tercintaku ini pernah menjadi Ratu Hutan? Kenapa aku tidak pernah tahu?"


"Sayang....., bukankah kamu berjanji tidak akan menertawakan aku?" Ririn merasa sebal.


"Haha, maaf. Sekarang kamu lanjutkanlah ceritamu. Aku berjanji tidak akan menertawakan kamu lagi," ujar Evan.


"Males ah, kamu menyebalkan!" Ririn yang merasa sebal lanjut mengambek.


"Tadi maksudnya aku serius mau ngasih saran setelah bercerita. Tapi kamu malah menertawakan aku," ujar Ririn mengatakan maksudnya.


Melihat Ririn yang sedang merasa kesal, kemudian Evan segera bangkit duduk dari pangkuan Istrinya.


"Maaf, aku hanya sedang bercanda saja tadi. Kamu jangan marah yah? Kasihan bayi kita jika kamu marah," bujuk Evan lemah lembut sembari memegang calon bayi yang ada di dalam perut Ririn.


Kemudian hati Ririn pun luluh seketika mendengar bujukan Evan.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan marah" Ririn dengan lembut memegang tangan Evan yang sedang mengusap perutnya.


"Sekarang bisakah kamu melanjutkan ceritamu?," kata Evan lanjut membujuk Ririn lagi.


__ADS_2