Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 104. Tempat yang Indah


__ADS_3

"Bisakah kamu menunjukkan seperti apakah tanaman yang kamu cari? Mungkin aku bisa membantumu menemukannya sehingga kamu tidak perlu jauh-jauh pergi ke Hutan Bintang Selatan," ucap Kakek Zhu pada Fang Yin.


Fang Yin mencoba berkonsentrasi untuk menemukan gambaran tanaman itu di dalam ingatannya lalu membuka telapak tangannya energi Cahaya Emas membentuk salah satu tanaman langka di tangan kanannya. Tanaman langka yang satunya juga muncul di tangan kirinya.


"Rumput Lentera Perak dan rumput Ekor Naga. Kamu ingin membuat pil sumber daya, bukan?" tanya Kakek Zhu.


Fang Yin terperanjat ketika mendapati laki-laki tua di hadapannya itu mampu menebak tanaman dan apa kegunaannya.


"Maaf, Kek. Apakah kakek tahu di mana aku bisa mendapatkan tanaman-tanaman ini?" tanya Fang Yin berharap mendapatkan jawaban yang dia harapkan.


"Aku pernah melihatnya ada di sekitar tempat ini. Aku akan menunjukkannya padamu." Kakek Zhu dengan senang hati akan menunjukkan tanaman itu pada Fang Yin.


"Ayo, Kek! Aku ingin melihatnya sekarang!" seru Fang Yin bersemangat.


"Bukankah kamu bilang sangat lapar?" Ketua Sekte tersenyum geli melihat Fang Yin.


"Persetan dengan perut ini! Aku ingin segera mendapatkan tanaman itu lalu pulang ke sekte." Fang Yin berusaha mengabaikan rasa laparnya demi tercapainya tujuannya.


Mereka bertiga berjalan dengan kakek Zhu yang memimpin di depan.


"Hei! Tunggu!" seru keempat pria yang tadi bersama dengan kakek Zhu.


Mereka berlari-lari menyusul rombongan Fang Yin dengan membawa buah-buahan segar.


Mata Fang Yin berbinar ketika melihat buah-buahan itu lalu segera berdiri di hadapan mereka sambil membuka tangannya.


Mereka sama-sama memakan buah-buahan itu sambil berjalan menuju ke tempat tujuan mereka.

__ADS_1


"Eh, tempat ini kan?" Fang Yin melirik ke arah Ketua Sekte lalu membulatkan matanya mengingat hal buruk yang dia alami semalam.


Kakek Zhu terus membawa mereka mendekati pohon tempat di mana tanaman roh itu merambat.


"Kak Feng! Bukankah kita semalam berputar-putar dan tidak menemukan jan keluar semalam?" bisik Fang Yin bertanya pada Ketua Sekte.


"Benar! Semoga kali ini kita lebih beruntung." Ketua Sekte tidak khawatir karena ada Kakek Zhu yang tahu seluk beluk wilayah ini.


"Di sini adalah tempat yang sangat berbahaya. Jangan menyentuh sesuatu tanpa ijin dariku." Kakek Zhu mencoba mengingatkan.


Fang Yin bergidik sambil mengusap lengannya yang merinding, mengingat tanaman cantik itu telah menyeret dan menggantungnya terbalik semalam.


Kakek Zhu terus membawa mereka berjalan melewati pohon itu hingga sampai di sebuah tebing.


Dia berjalan memutari tebing itu dengan arah ke kiri hingga terdapat tangga batu menurun.


"Wah!" Fang Yin menunjukkan kekagumannya ketika melihat pemandangan di depan matanya.


Di ujung tempat itu terdapat sebuah danau kecil dengan aliran air yang mengucur dari atas tebing.


"Apakah ini surga?" Fang Yin tidak henti-hentinya mengagumi tempat itu.


"Aku tahu tempat yang lebih indah dari ini. Jika ada waktu aku akan membawamu ke sana," ucap Ketua Sekte yang memiliki tempat favorit yang tersembunyi juga.


"Benarkah! Aku akan menagihnya nanti!" jawab Fang Yin sambil melirik ke arah Ketua Sekte.


Kakek Zhu terlihat berjalan menuju ke sebuah tempat di dekat danau. Dia duduk berjongkok seperti sedang mengamati sesuatu dengan serius.

__ADS_1


Tidak lama kemudian dia kembali berpindah ke tempat yang lainnya, begitu seterusnya hingga dia berhenti di tempat yang lumayan jauh.


"Nona! Kemarilah!" panggil kakek Zhu pada Fang Yin yang sedang asyik menikmati pemandangan sambil bersendau gurau bersama Ketua Sekte.


Mendengar panggilan itu, Fang Yin pun segera berlari mendekat ke arahnya.


Hampir saja Fang Yin membuka mulutnya untuk bertanya. Namun pandangan matanya menangkap sesuatu yang sangat menarik baginya.


"Rumput Ekor Naga!" pekik Fang Yin merasa sangat senang melihat tanaman langka yang dicarinya ada di depan matanya.


Kini dia tinggal mencari rumput Lentera Perak.


"Ambillah secukupnya saja! Agar tanaman ini bisa kembali tumbuh dan tidak punah," ucap Kakek Zhu.


"Baik, Kek! Aku mengerti." Fang Yin mencabutnya beberapa batang lalu menyimpannya di dalam cincin penyimpanannya.


"Sekarang, mari kita kembali ke desa!" ajak Kakek Zhu.


Fang Yin masih merasa enggan untuk meninggalkan tempat itu. Selain tempatnya yang indah, dia juga masih perlu untuk mencari rumput Lentera Perak.


"Tap-tapi, Kek? Aku belum menemukan rumput Lentera Perak."


"Rumput itu tidak berada di sini," ucap Kakek Zhu sambil berjalan meninggalkan tempat itu.


"Tunggu!" teriak Fang Yin.


"Bagaimana dengan rumput yang belum aku temukan, Kek?" imbuh Fang Yin menatap kakek Zhu dengan tatapan yang meminta penjelasan.

__ADS_1


****


Bersambung ...


__ADS_2