
Panglima Jing melihat luka di lengan sebelah kiri Fang Yin dan noda darah yang mengering di bajunya.
"Apakah kamu mengalami luka yang cukup serius?" tanya Panglima Jing.
Fang Yin mengikuti arah pandang Panglima Jing. Di lengannya memang ada luka goresan pedang yang cukup dalam. Namun ini bukan masalah yang serius bagi Fang Yin.
"Ini bukan masalah besar. Luka ini akan segera membaik setelah aku obati. Panglima tidak perlu memikirkannya."
"Hmm." Panglima Jing mengangguk.
"Hari ini juga aku akan pergi ke ibukota Kekaisaran Benua Barat. Raja Yang harus segera diadili. Bolehkah aku meminta tolong padamu sekali lagi. Untuk itu aku akan membantumu menyelesaikan misimu," lanjut Panglima Jing.
Mata Fang Yin berbinar senang. Akhirnya dia mendengar kabar baik dari Panglima Jing.
"Saya tidak yakin bisa melakukan tugas dari Panglima Jing. Namun saya akan berusaha." Fang Yin menyatukan kedua tangannya untuk memberi hormat.
"Tidak sulit. Tetaplah tinggal di sini sampai aku kembali. Sebenarnya bisa saja aku membersihkan tempat ini dan membawa seluruh pasukan kembali. Namun sebagian di antara mereka masih terluka. Aku ingin mereka beristirahat beberapa hari untuk menyembuhkan luka mereka."
'Panglima Jing sungguh sangat mulia. Dia begitu memperhatikan kesejahteraan pasukannya.' Fang Yin memuji Panglima Jing.
"Saya akan tetap di sini sampai Panglima Jing kembali." Fang Yin menjawab masih dengan sikap yang sama. Menunduk dengan penuh rasa hormat.
Tidak ada lagi yang dikatakan oleh Panglima Jing. Sebuah kitab kuno dengan sampul dan warna yang sangat dikenal oleh Fang Yin muncul di atas telapak tangan kanannya.
"Ambillah! Aku tidak ingin menyimpannya lagi karena aku tidak mengerti apa isinya. Kitab itu terlihat kosong." Panglima Jing menyerahkan Kitab Sembilan Naga bintang lima kepada Fang Yin.
Fang Yin tidak langsung mengambilnya. Dia masih merasa ragu-ragu apakah Panglima Jing benar-benar memberikannya dengan semudah itu padanya.
"Saya akan meminjamnya beberapa saat, Panglima Jing. Setelah saya selesai membaca dan memahaminya, akan segera saya kembalikan," ucap Fang Yin yang masih terlihat gemetar.
"Kamu tidak mendengar apa yang aku katakan tadi? Kamu boleh memiliki kitab ini dan tidak perlu dikembalikan. Aku tidak mengerti apa isinya."
__ADS_1
"Terimakasih atas hadiah yang sangat bernilai ini, Panglima," ucap Fang Yin menerima kitab itu dengan senang hati.
Panglima Jing mengangguk lalu meminta Fang Yin untuk memeriksa keaslian kitab itu.
Fang Yin mengikuti perintah Panglima Jing. Dengan hati-hati Fang Yin membuka kitab itu. Dia pun merasa penasaran dengan apakah kitab itu kosong seperti yang dikatakan oleh Panglima Jing.
Di halaman pertama terdapat sebait syair yang berbunyi, "Sepoi angin berhembus dari kedalaman jiwa, menghapus jejak melegakan dahaga."
Setelah itu memang yang terlihat hanyalah halaman kosong. Namun sebenarnya ada tulisan yang mungkin akan muncul setelah seseorang memecahkan teka-teki itu.
"Bagaimana? Apakah kamu mengerti isi dari kitab itu?" tanya Panglima Jing penasaran.
"Untuk saat ini saya belum mengerti, Panglima. Akan tetapi saya akan berusaha untuk memecahkan misteri ini." Fang Yin merasa sangat yakin jika dia bisa memahami kitab itu.
Setelah beristirahat sejenak, Panglima Jing berangkat ke ibukota Kekaisaran Benua Barat dengan beberapa pasukan pilihan yang tidak mengalami cidera selama pertarungan. Ada pula yang meminta untuk ikut dalam rombongan karena sudah lama tidak pulang ke ibukota.
Setelah menyimpannya di tempat yang aman, Fang Yin segera meminta ijin untuk kembali ke tendanya. Dia ingin mengobati beberapa luka basah akibat terkena tebasan pedang lawan.
Demi sebuah kitab itu, apapun rela dia lakukan hingga bertaruh nyawa dalam peperangan. Namun semua pengorbanannya berbuah manis, kitab yang dia cari kini berhasil dia dapatkan.
Satu persatu dia menanggalkan pakaiannya hingga hanya menyisakan pakaian dalam saja. Setelah melihat luka-lukanya, Fang Yin segera mengeluarkan serbuk obat luka pemberian ibunya. Dia menaburkannya secara perlahan hingga semua lukanya terobati.
Fang Yin segera mengganti pakaiannya dengan baju yang bersih dan utuh dari ruang penyimpanannya. Tidak ingin mengundang kecurigaan orang, Fang Yin segera membuka mantra pelindungnya lalu bersikap seolah sedang beristirahat saja.
Mengingat Kitab Sembilan Naga adalah kitab yang banyak diincar oleh para kultivator, Fang Yin tidak bisa sembarangan untuk menunjukkannya. Sebisa mungkin dia harus merahasiakannya dan tidak memberitahu siapapun jika kitab itu ada di tangannya.
Untuk mempelajarinya, Fang Yin butuh waktu yang sepi saat tidak ada siapapun yang akan mengganggunya. Waktu yang tepat adalah di malam hari.
"Selamat siang, Tuan Xu Chen! Apakah Anda ada di dalam?" terdengar suara Yonjie di luar tenda Fang Yin.
"Masuklah!" jawab Fang Yin tidak ingin membuat Yonjie menunggu.
__ADS_1
'Untung saja aku sudah selesai berganti baju. Jika tidak .... Ah, sulit aku bayangkan,' gumam Fang Yin dalam hati.
Yonjie melihat Fang Yin dari atas hingga ke ujung kaki. Sebelumnya dia melihat ada beberapa luka ditubuhnya. Dia buru-buru datang ke sana untuk membantunya mengobati luka-luka itu.
"Kenapa Yonjie? Apakah aku terlihat aneh?" tanya Fang Yin merasa heran dengan sikap Yonjie.
"Tidak ... tidak! Bukan begitu, Tuan. Aku tadi melihat ada beberapa luka di tubuh Anda, dan ... saya datang ke sini untuk membantu Anda mengobatinya," jujur Yonjie.
'Astaga! Apa yang akan terjadi jika Yonjie sampai membantuku mengobati lukaku? Aku akan langsung ketahuan jika sebenarnya aku adalah seorang wanita.'
"Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa melakukannya sendiri. Lagipula aku tidak mengalami banyak luka. Bagaimana denganmu?" Fang Yin balik bertanya pada Yonjie.
"Oh, aku sudah mengobatinya bergantian dengan prajurit yang lain." Yonjie memperlihatkan lukanya yang telah dia balut.
Merasa tidak ada yang perlu dia lakukan untuk Fang Yin, Yonjie memilih untuk meninggalkan tenda Fang Yin dan bergabung bersama yang lainnya untuk beristirahat.
Panglima Jing menyiapkan regu khusus yang bertugas untuk mengobati para prajurit yang terluka.
Tidak ada yang perlu dilakukan oleh para prajurit setelah selesai peperangan.
Setelah kepergian Yonjie, Fang Yin kembali memikirkan arti dari syair yang tertulis di dalam Kitab Sembilan Naga bintang lima. Jika tidak bisa memecahkan misteri dari syair itu maka Fang Yin tidak akan bisa untuk mempelajari isinya.
Entah sudah berapa kali kitab itu berpindah tangan, tetapi sepertinya halaman-halaman di dalam kitab itu terlihat seperti jarang disentuh oleh pemiliknya. Fang Yin merasa jika belum ada yang mampu menguasai kitab itu dalam kurun waktu yang lama.
Lelah berpikir sambil berbaring, Fang Yin berdiri lalu berjalan mondar mandir dengan berbagai gaya sambil terus mengulang-ulang syair itu. Kepalanya terasa berdenyut karena terus memikirkan jawaban yang tidak juga dia temukan.
Merasa sangat pusing, akhirnya Fang Yin tertidur di siang itu.
Di dalam tidurnya, Fang Yin masuk ke dalam alam mimpi. Di sana dia merasa seolah-olah menjadi kecil dan sedang bersama ayahnya di istana kekaisaran. Kaisar Gu mengajaknya bermain tebak-tebakan kata dan syair.
"Sekarang coba tebak syair ini, Yin'er! Sepoi angin berhembus dari kedalaman jiwa, menghapus jejak melegakan dahaga," ucap Kaisar Gu mengucapkan syair yang sama dengan syair yang ada di dalam Kitab Sembilan Naga bintang lima.
__ADS_1
****
Bersambung ....