
Phoenix Api dan Es yang bersama Fang Yin mengenalkan dirinya sebagai Ying Ruo, pemimpin ras itu. Sikapnya sedikit lembut meskipun masih syarat dengan ketegasan.
Mereka berhenti pada sebuah ruangan yang di jaga oleh dua orang ras phoenix. Penampilan keduanya terlihat berbeda dengan Ying Ruo dan dua phoenix kecil. Wajah kaku dengan sorot mata tajam, membuat mereka terlihat sangar. Keduanya menunduk hormat pada Ying Ruo dan membukakan pintu untuknya.
Ying Ruo membawa Fang Yin masuk ke sebuah kamar. Di sana terbaring seorang pria dengan penampilan yang mirip dengan Ying Ruo. Tubuhnya terlihat ringkih dan terbaring lemah di atas ranjang.
"Kakak! Siapa ini? Sepertinya dia seorang manusia." Pria itu bersuara lirih pada Ying Ruo.
"Ini adalah Nona Xiao. Dia akan mencoba untuk mengobatimu, Han Han." Yin Ruo duduk di samping phoenix jantan yang berwujud pria itu.
Han Han mengangguk. Dia percaya jika orang yang dibawa oleh kakaknya pasti sudah melewati bejana jiwa suci. Selama ini, manusia menjadi musuh yang paling berbahaya bagi mereka.
Keturunan mereka hampir punah karena perburuan para kultivator yang menginginkan energi mereka. Mereka tidak berbelas kasihan dengan membunuh binatang roh tanpa perhitungan. Seorang kultivator tidak puas mengambil sebuah inti roh saja.
Ying Ruo tidak hanya menjadi seorang pemimpin yang memerintah saja tetapi juga merupakan pelindung bagi rasnya. Hingga saat ini dia tidak menikah lagi setelah kematian suaminya. Dia menjadi kejam dan mengabdikan dirinya demi menyelamatkan kelesatarian mereka.
Semua yang ada di dalam ruangan itu diminta keluar oleh Ying Ruo. Hanya tinggal mereka bertiga saja. Semua itu dia lakukan agar Fang Yin bisa fokus mengobati Han Han tanpa ada gangguan.
Fang Yin memeriksa tubuh Han Han secara menyeluruh dan meminta Ying Ruo untuk membantu memegangi tubuhnya saat terduduk. Han Han tidak bisa duduk dengan tegak tanpa penopang.
Saat ini, Han Han mengalami penyumbatan di beberapa titik dengan racun energi yang telah mengendap. Fang Yin menancapkan beberapa jarum akupuntur di punggung, perut dan dada. Itulah mengapa dia meminta Ying Ruo membantunya.
__ADS_1
Awalnya Han Han merasa ngeri dengan jarum-jarum itu tetapi lama kelamaan dia terbiasa dengan tusukannya yang tidak menimbulkan sakit. Seluruh titik-titik penting yang mengalami masalah telah ditandai dengan jarum.
Fang Yin tetap meminta Ying Ruo untuk memegangi tubuh Han Han selama pengobatan berlangsung. Pengaliran Qi harus stabil dan tubuh pasien harus tetap tenang. Ada kalanya pasien akan mengalami sakit yang luar biasa hingga membuatnya bergerak tak menentu.
Ketiganya fokus pada tugasnya masing-masing. Mengingat ada banyak penyumbatan yang harus dia buka, maka pengobatan akan berlangsung cukup lama. Penyumbatan itu menyebabkan alat gerak Han Han mengalami kelumpuhan.
Dalam proses pengobatan, Fang Yin terlihat kelelahan karena mengeluarkan energi secara terus menerus tanpa jeda. Ying Ruo mengingat betapa besarnya usaha yang dilakukan olehnya untuk menyembuhkan adiknya.
'Wanita ini telah banyak berkorban untuk adikku. Pengobatan ini membutuhkan energi yang lebih besar daripada sebuah pertarungan. Ditilik dari kemampuannya, dia memiliki kesempatan untuk membunuhku jika dia mau. Sepertinya dia memang berbeda dari manusia lainnya yang suka mengambil paksa apa yang diinginkannya.
Teriakan-teriakan kecil beberapa kali terdengar selama proses pengobatan. Memecah endapan energi yang telah mendarah daging tidaklah mudah. Terkadang butuh mengulang beberapa kali dalam satu titik.
Reaksi dari pengobatan Fang Yin langsung bisa dirasakan oleh Han Han. Tubuhnya menjadi lebih ringan dan alat geraknya mulai berfungsi. Kulit dan ujung jarinya bisa merespon dan merasakan sentuhan dari luar.
Tubuh Fang Yin terasa sangat lemah. Mengeluarkan racun yang sangat kuat dari tubuh Han Han membuatnya kehilangan banyak sekali energi. Tidak ingin kondisinya semakin parah, dia segera duduk dan berkultivasi untuk memenuhi pundi-pundi energinya kembali.
Beberapa kali Fang Yin terbatuk karena mengalami perbedaan energi yang signifikan di dalam kolam Qi-nya. Tidak jarang seorang kultivator akan mengalami defisit energi hingga kelumpuhan sesaat saat mengalami hal ini.
Fang Yin membuka aliran darahnya selaras dengan jaringan meridiannya. Secara tidak langsung, energi pendampingnya tidak akan memiliki pembatas dengan energi intinya. Dengan begitu dia akan menjadi lebih cepat selesai mengatasi defisit energi yang dialaminya.
Sementara Fang Yin sedang mengatasi masalahnya, Han Han bertanya pada Ying Ruo, "Apakah wanita ini akan baik-baik saja, Kak? Aku baru tahu jika ada manusia yang bersedia berkorban untuk binatang roh seperti kita."
__ADS_1
Ying Ruo mengangguk. Dia merasa terlalu kejam jika tidak memberikan apa yang diinginkan oleh Fang Yin. Kehilangan dua helai bulu tidak akan membuatnya mati, selama tidak bisa terbang dia akan menutup gerbang dimensi dan akses dari luar.
"Dia menginginkan bulu api dan es, tetapi dia tidak mengambil paksa dariku ketika aku menolak permintaannya. Setelah melihat ketulusannya, aku juga berpikir untuk membalas kebaikannya." Jawaban Ying Ruo menurut Han Han masih ambigu.
Han Han merasa jika kakaknya itu tidak serius mengatakannya. Membalas budi sama artinya merelakan dua helai buluhnya untuk Fang Yin. Hatinya tiba-tiba merasa sedih membayangkan nasib ras phoenix tanpa perlindungan kakaknya.
"Sebaiknya kakak tidak bertindak gegabah. Kami semua sangat membutuhkan perlindunganmu. Dua tiga tahun bukanlah waktu yang singkat," ucap Han Han dengan wajah khawatir.
Mereka kembali melihat ke arah Fang Yin yang masih berkutat dengan kultivasinya. Tidak kurang dari sepuluh langkah mereka berjarak. Aura mengerikan muncul di bagian punggungnya. Mereka baru menyadari keberadaan binatang roh yang menyatu dengan manusia
Setelah beberapa saat menunggu, Fang Yin pun selesai memulihkan tenaganya. Tubuhnya kembali bugar meskipun energinya belum sepenuhnya pulih. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Ying Ruo dan Han Han.
"Aku sudah menyelesaikan tugasku. Sekarang antarkan aku untuk keluar dari sini." Fang Yin tidak ingin mengungkit tentang bulu mereka lagi. Namun, tanpa diduga oleh Fang Yin dan Ying Ruo, Han Han melakukan sesuatu yang nekat.
Tubuhnya yang baru sembuh berdiri tegap di hadapan Fang Yin. Tangannya bergerak secepat kilat mencabut dua helai bulu di sayapnya secara bersamaan. Air matanya mengalir deras tanpa permisi seiring dengan usahanya untuk menahan rasa sakit.
"Han Han!" pekik Ying Ruo. Wajahnya terlihat khawatir melihat apa yang dilakukan oleh adiknya itu.
"Kamu sudah menyelamatkan nyawaku, Nona. Ambilah ini, barang yang tidak sebanding dengan pengorbananmu. Aku dengar kamu membutuhkannya."
Fang Yin menatap Han Han tidak percaya dan berkata dalam hati, 'Dia baru saja sembuh, apa dia tidak merasa ngeri mencabut bulunya sendiri. Ahh, pasti sakit sekali. Dia yang mencabut, mengapa aku yang merasa ngilu.'
__ADS_1
****
Bersambung ....