Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 246


__ADS_3

Sepertinya Jian Heng lupa jika Selir Tang memiliki insting yang kuat. Dia sangat peka dengan perubahan di sekitarnya dan mampu merasakan hawa kehadiran dari makhluk lain sebelum dia melihatnya. Namun, untuk menyenangkan hati putranya, dia berpura-pura tidak tahu.


Tangan Jian Heng menutup kedua mata ibunya dari belakang. Dia tersenyum senang dan merasa menang karena telah berhasil untuk mengerjai ibunya.


"Aku memang tidak melihatmu, Sayang. Tetapi dari aroma minyak wangi yang kamu gunakan, ibu yakin jika kamu putra ibu."


Jian Heng merasa kesal lalu melepaskan tangannya. Dia kemudian duduk di samping ibunya dengan wajah yang menghadap ke samping. Sikap yang selalu sama ketika dia sedang merajuk. Di depan ibunya, dia tidak pernah malu bersikap kekanak-kanakan.


"Ibu tadi membicarakan aku, kan? Ibu pasti sudah menceritakan sesuatu yang tidak-tidak tentang diriku." Jian Heng memonyongkan bibirnya dan membuat wajahnya terlihat sangat imut.


Fang Yin menahan tawanya melihat tingkah konyol Jian Heng. Baru kali ini dia melihat sisi lain gurunya yang selalu terlihat hebat di depan semua orang itu. Sepenuhnya dia telah mengetahui sifat yang tidak dia tunjukkan pada orang lain.


Pagi itu, mereka bertiga berdiskusi ringan membicarakan segala sesuatu yang sederhana dan menceritakan apa yang dilakukan oleh keduanya selama mereka berada di Sekte Sembilan Bintang. Selir Tang bisa menarik kesimpulan dari kisah keduanya. Mereka adalah pasangan yang cocok.


Satu hal yang membuat Selir Tang merasa khawatir, perjodohan yang direncanakan oleh Kaisar Xi. Sifat putra dan suaminya sama-sama keras. Tidak akan ada titik temu jika keduanya sedang memperdebatkan sesuatu. Dia berharap, Kaisar Xi melupakan perjodohan itu dan membiarkan Jian Heng menikah dengan wanita pilihannya.


Dari cara pandang dan bertutur kata Fang Yin, Selir Tang bisa menilai jika dia adalah gadis yang berwawasan luas dan beretika. Penampilannya yang sederhana membuatnya semakin terlihat rendah hati dan tidak gila akan kemewahan. Jika suatu saat dia menjadi permaisuri, dia akan memiliki peran yang besar untuk negeri yang dipimpinnya.


Di kejauhan, Kaisar Xi berjalan menuju ke istana Jian Heng. Dia berhenti dan melihat ketiganya terlihat sangat akrab. Sebagai seorang ayah, dia mengerti jika putranya itu memiliki perasaan pada Fang Yin. Namun, egonya yang tinggi membuat hatinya begitu keras.


Untuk sementara ini Kaisar Xi tidak ingin memikirkan tentang urusan asmara mereka. Dia membutuhkan Fang Yin untuk menjadi guru bagi tabib muda istana. Setelah kejadian tempo hari, dia tidak ingin bersikap terlalu keras pada Jian Heng.


Kaisar Xi kembali melanjutkan langkahnya memasuki istana Jian Heng. Ada banyak hal yang harus dibicarakan bersama Fang Yin mengenai segala persiapan yang dibutuhkan untuk mempelajari teknik pengobatannya.


Ketiganya menjadi tegang melihat kedatangan sang kaisar. Tidak biasanya dia langsung turun tangan. Jika ingin menemui Fang Yin, Jian Heng atau siapapun, dia bisa meminta pelayan untuk memanggil mereka. Akan tetapi, kali ini dia datang secara langsung ke sana.

__ADS_1


Mereka bertiga serempak memberi hormat pada Kaisar Xi saat dia telah sampai di sana. Jian Heng mempersilakan ayahnya untuk masuk ke dalam istananya, tetapi dia menolak.


"Aku sudah lama tidak duduk di taman. Sepertinya ini tidak buruk." Kaisar Xi duduk di atas sebuah batu besar.


Selir Tang memang sengaja merancang taman itu dengan meletakkan bebatuan di tepi kolam untuk duduk bersantai. Kursi kayu akan mudah lapuk jika terpapar panas dan air hujan. Menurutnya, batu-batu itu lebih cocok diletakkan di sana.


Mereka berempat duduk mengelilingi kolam sambil menikmati keindahan taman. Sekilas terlihat sebagai sebuah keluarga kecil yang harmonis.


Kaisar Xi tipikal orang yang tidak suka berbasa-basi, dia langsung menyampaikan tujuannya datang ke sana. Dia berdiskusi dengan Fang Yin mengenai banyak hal tentang keperluan pengobatan dan peralatan yang dibutuhkan. Dengan gamblang Fang Yin menjelaskan semuanya dan memperlihatkan contoh dan gambaran semua yang harus disediakan untuknya.


Selir Tang dan Jian Heng menjadi pendengar setia yang menyimak dan memperhatikan obrolan keduanya. Dalam hati mereka merasa kagum pada Fang Yin, di usianya yang masih muda dia sudah memiliki wawasan yang sangat luas.


Agar pelatihan bisa segera di mulai, Kaisar Xi segera undur diri dari sana dan meminta Dewan Pengobatan untuk mengatur tempat dan menyiapkan perlengkapannya. Jian Heng menemani ayahnya dalam kesibukannya. Dia tidak ingin ayahnya yang baru sembuh menderita lagi.


Fang Yin tidak melakukan apapun setelah kepergian Kaisar Xi dan Jian Heng. Dia juga menolak ketika Selir Tang mengajaknya untuk pergi keluar istana untuk berbelanja. Hari ini, dia ingin membuka Kitab Sembilan Naga bintang tujuh miliknya.


Di akhir bab pada Kitab Sembilan Naga bintang empat, tertulis mantra untuk membuka segel pelindung kitab berikutnya. Fang Yin mulai merapalkannya dan Kitab Sembilan Naga bintang tujuh yang melayang di hadapannya perlahan terbuka.


"Tidak ada tulisannya. Huh! Lagi-lagi kitab ini mengerjaiku lagi. Apa yang harus aku dapatkan untuk membukamu kitab tengil?!" Fang Yin mengambil kitab itu dengan kasar.


'Phoenix api dan es.' Suara di dalam pikirannya terdengar sangat jelas. Fang Yin yakin jika itu adalah suara roh naga.


'Kamu tidak sedang mengerjaiku, kan, Naga Jelek? Mendengarnya saja aku belum pernah, bagaimana caranya aku bisa menemukannya?' Fang Yin setengah tidak percaya pada roh naga.


'Itu urusanmu, bukan urusanku. Masih mending aku memberitahumu. Sudahlah, aku malas berdebat denganmu.'

__ADS_1


'Eeeh, tunggu ...! Main kabur aja. di mana aku bisa menemukannya. dan ... dan harus aku apakan nanti?' tanya Fang Yin penasaran.


Roh naga sengaja membuat Fang Yin kesal dengan sikap diamnya. Toh untuk beberapa waktu ini dia belum bisa keluar dari istana, Percuma jika memberitahunya sekarang.


"Bisanya mengacau saja!" Fang Yin memukul kepalanya pelan.


Tidak ingin pusing memikirkannya, Fang Yin memilih untuk menyimpan kitab itu lagi. Kemudian dia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan tangan terlentang.


"Mungkin seharian ini aku bersantai saja." Fang Yin melihat ke langit-langit kamar itu.


Matanya terpejam dan mulai masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Dalam alam mimpinya, dia melihat tawa renyah Selir Ning beserta keluarga Kekaisaran Ning yang sedang berpesta. Mereka menikmati kemewahan di atas penderitaan rakyatnya.


Fang Yin merasa berada di tempat itu dan melihatnya secara langsung. Dengan kemarahannya, dia menyerang Kaisar Ning tanpa banyak berpikir. Pertarungan di antara keduanya pun berlangsung sengit hingga membuat ruangan pesta berantakan.


Ternyata Kaisar Ning memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam bertarung. Fang Ying terdesak oleh serangannya hingga tubuhnya terlempar ke belakang sejauh beberapa kaki. Punggungnya menghantam dinding dengan sangat keras dan tiba-tiba dia tersadar.


Fang Yin terbangun dari tidurnya dan terduduk dengan napas yang memburu. Keringatnya mengalir membasahi tubuhnya seperti benar-benar telah melakukan pertarungan.


"Hufth! Mimpi ini terasa seperti nyata. Aku tidak boleh lemah. Aku tidak ingin kalah." Fang Yin mencengkeram tangannya kuat-kuat dan menggigit giginya hingga memperlihatkan otot wajahnya.


Aura energi di tubuhnya melonjak dan menerobos keluar. Fang Yin berdiri dan bersiap untuk melakukan latihan.


"Api hitam keluar dengan sendirinya di luar kendaliku. Bisa-bisa seluruh istana ini terbakar. Bagaimana ini?" Kemarahan membuatnya menjadi bodoh. Mungkin setelah ini dia harus berlatih mengendalikan emosi.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2