
Fang Yin merasakan aura energi yang begitu kuat dari orang yang menyelamatkannya. Orang itu mengangkat tubuh Fang Yin hanya dengan tiga buah jarinya saja. Setelah merasa Fang Yin sudah bisa berdiri dengan benar, orang misterius itu melepaskan baju bagian belakang Fang Yin yang sebelumnya dia pegang.
Kini Fang Yin bisa melihat orang itu dengan jelas. Wajahnya terlihat bersinar dengan kulit berwarna putih cerah. Rambutnya telah memutih tetapi wajah dan kulitnya masih sangat halus seperti milik seseorang yang masih berusia muda.
Saat Fang Yin masih terpana melihat orang yang menyelamatkannya, kesempatan itu di ambil oleh kultivator yang mengejarnya tadi untuk kembali membuat serangan.
Melihat serangan dari kultivator itu, Fang Yin bergerak mundur untuk menghindar. Namun tidak dengan orang yang menyelamatkannya tadi. Dia terlihat begitu tenang melihat serangan itu mendekat ke arahnya.
Pria berambut putih itu mendorong tangan kirinya ke depan. Terlihat dari telapak tangan kirinya itu muncul sebuah lubang aneh yang membentuk seperti sebuah corong. Semakin jauh corong itu semakin lebar pula permukaannya.
Energi yang dilemparkan oleh kultivator itu tertangkap dan tersedot ke dalam corong dan masuk ke dalam telapak tangan pria misterius itu.
Mencengangkan.
Suasana terasa sangat mencekam ketika pria misterius itu berjalan di udara mendekati kultivator yang terlihat ketakutan.
"Ka ... kamu ... tidak ... tidak ... aku tidak percaya jika ketua lama masih hidup," ucap kultivator itu ketakutan saat melihat sorot mata dingin dari pria misterius itu.
"Hmm ... kamu sudah membangunkan seekor harimau yang lapar. Klan Yuan tidak bosan-bosan mengusik sekte ini. Aku sudah memperingatkan kalian berkali-kali tetapi kalian semua tidak pernah menggubrisnya!" Pria misterius itu berteriak dengan keras.
Suaranya seperti mengandung energi yang membuat telinga seperti tersambar oleh gelombang suara yang sangat dasyat.
Bukan hanya kultivator itu saja yang merasakan efek dari suara menggelegar itu. Namun semua orang yang berada di sana termasuk para tetua.
Fang Yin semakin merasa penasaran dan bertanya-tanya dalam hati tentang siapa pria aneh yang sudah menyelamatkannya itu.
Para tetua, kultivator penyerang, dan juga seluruh murid-murid yang berada di sana bergerak menuju ke villa belakang untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Ketua Lama!" pekik para tetua.
Mereka berlutut untuk memberi hormat pada pria misterius itu. Seluruh murid-murid yang ada di sana mengikuti apa yang dilakukan oleh para tetua mereka.
Kultivator yang tadi mengejar Fang Yin bergabung bersama teman-temannya.
"Bangunlah!" Pria misterius itu kembali bersuara.
Pandangan mata pria misterius yang ternyata adalah ketua lama pendiri sekte itu mengedar ke sekeliling melihat sekte yang dia dirikan dengan susah payah mengalami kerusakan yang cukup parah.
Ini kedua kalinya Klan Yuan menyerang Sekte Sembilan Bintang dan mengakibatkan kerusakan parah.
Tiga tahun yang lalu mereka juga melakukan hal yang sama dan mengakibatkan dua orang tetua mati dan beberapa lainnya mengalami luka parah. Beruntung Jian Heng datang membantu dan menyelamatkan keadaan waktu itu.
Ketua Lama telah mundur dari dunia kultivasi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Ketua Lama melihat Pedang Sembilan Bintang bersinar malam ini ketika Fang Yin berada di dekat ruangannya.
Hal ini bukan sebuah kebetulan. Ketua Lama sangat tahu jika pedang pusaka warisan sahabatnya itu tidak akan menyala tanpa adanya penyebab yang pasti. Ada darah perjanjian yang ditumpahkan oleh Gu Ming Hao dalam pedang ini sehingga pedang ini bisa mengenali pemilik darah yang sama dengan pembuat perjanjian itu.
Ketua Lama tahu jika Gu Ming Hao telah mati dalam pemberontakan yang terjadi di istananya, tetapi dia sangat yakin jika orang berhanfu putih ini adalah keturunan sahabatnya itu.
Jian Heng yang telah tinggal beberapa lama di tempat itu saja baru kali ini bisa melihat Ketua Lama untuk pertama kalinya.
Setelah suasana terasa hening selama beberapa saat, Ketua Lama kini beralih menatap ke sembilan kultivator yang masih tertegun melihat kehadirannya.
Ketua Lama terbang mendekat ke arah mereka dengan gerakan yang tidak bisa dilihat oleh mata.
__ADS_1
Tubuhnya tiba-tiba sudah ada di hadapan para kultivator itu.
Para kultivator itu tidak ingin menyerah dan bersikeras untuk merebut pusaka keramat Pedang Sembilan Bintang dari sekte itu.
Kesembilan kultivator itu membentuk sebuah formasi serangan dan berniat mengepung Ketua Lama lalu menyerangnya bersama-sama.
Melihat hal itu, Jian Heng berniat untuk membantu Ketua Lama, tetapi tetua Ming memegang lengannya dan memberinya isyarat untuk tetap tenang.
Jian Heng patuh dan kembali mundur.
Di tempat yang tidak jauh dari lokasi itu, Fang Yin masih berdiri melayang di udara dan melihat pemandangan di hadapannya dengan banyak sekali pertanyaan.
"Bagus tua bangka! Akhirnya kamu muncul juga. Sekaranglah saatnya bagimu untuk menerima kematianmu!" seru salah satu kultivator yang memiliki aura paling kuat.
"Hmm .... Lakukan saja!" Ketua Lama terlihat begitu tenang meskipun dia tengah dikelilingi oleh sembilan orang kultivator ranah suci yang bersiap untuk menyerangnya secara bersama-sama.
Kesembilan kultivator itu mengalirkan Qi ditangannya dan mengumpulkannya hingga membentuk bulatan energi yang terus membesar.
Setiap kultivator memiliki jenis Qi inti yang berbeda-beda sehingga menghasilkan warna energi yang berbeda pula.
"Tua bangka! Rasakan ini! Haaaa!" salah satu kultivator berteriak sambil mengangkat tangaannya bersiap untuk melepaskan serangannya.
Kultivator yang lain mengikutinya dan secara serempak bersiap melepaskan serangan mereka.
****
Bersambung ...
__ADS_1