Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 374. Harus Dewasa


__ADS_3

Jian Heng menggaruk rambutnya dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Selalu saja pikirannya terpengaruh oleh keadaan. Rasa cintanya yang besar pada Fang Yin terkadang membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.


Setelah pertempuran tubuh mereka terasa sangat lelah. Fang Yin dan Jian Heng memilih untuk kembali ke kamar mereka masing-masing dan beristirahat. Kondisi fisik mereka juga harus dijaga mengingat hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.


Persiapan mulai dilakukan. Setiap harinya para penghuni istana disibukkan dengan berbagai pekerjaan sesuai bidang mereka. Fang Yin yang biasanya selalu acuh juga ikut andil di dalamnya meskipun hanya urun pendapat saja.


Pelayan suruhan dari ibunya mengganggunya setiap waktu. Mereka datang membawakan beberapa contoh pakaian, makanan, dan segala sesuatu yang akan digunakan di acara pernikahannya.


Seringkali Fang Yin hanya mengangguk dan memilihnya secara asal. Menurutnya ini hal yang mudah tetapi ibunya membuatnya menjadi rumit. Segala sesuatu yang diinginkannya harus dibuat sesempurna mungkin.


"Selamat siang, Yang Mulia," sapa salah seorang pelayan yang datang membawa nampan berisi beberapa buah sulaman.


"Apa lagi? Aku mau tidur siang. Kamu tanyakan saja pada ibuku. Jangan tanya aku lagi, aku lelah." Fang Yin mengibaskan tangannya meminta pelayan itu pergi dari hadapannya.


"Tapi, Yang Mulia." Pelayan itu terlihat takut. Selir Shi pasti akan memarahinya jika dirinya tidak melakukan tugasnya dengan benar.


Fang Yin tidak bergeming lalu beranjak menuju ke peraduannya.


Pelayan itu terpaksa pergi dari hadapannya tanpa membawa hasil. Tidak mungkin baginya untuk memaksakan kehendaknya. Orang yang dihadapinya saat ini adalah pemimpin tertinggi Benua Timur saat ini.


"Pengawal!" panggil Fang Yin.


"Saya, Yang Mulia." Pengawal segera berlari ke hadapan Fang Yin.


"Jangan biarkan siapapun menggangguku! Aku ingin beristirahat."


Fang Yin benar-benar lelah dengan sikap ibunya. Segala hal dia meminta pendapat padanya. Kepalanya benar-benar sakit jika dia harus memikirkan semuanya.

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia." Pengawal memberi hormat lalu kembali berjaga di depan ruangan Fang Yin.


Tidak seperti yang dikatakannya, Fang Yin tidak beristirahat siang itu. Tubuhnya terasa begitu letih, dia memilih untuk berkultivasi dan mengolah tenaga dalam yang dimilikinya.


Keadaan aman yang terjadi saat ini belum tentu akan bertahan lama. Segala yang tidak mungkin bisa menjadi mungin begitu juga sebaliknya. Terus menerus bersantai akan membuatnya lengah dan kehilangan kepekaannya.


Saat Fang Yin sedang berkultivasi, Jian Heng datang tetapi harus kembali dengan kecewa karena pengawal memintanya untuk pergi. Selir Shi, Yu Ruo dan beberapa pembesar istana pun pergi dengan tangan hampa dari sana. Tidak ada yang berani menggangu Fang Yin sampai dia mengijinkan penjaga untuk memberi jalan pada siapa yang datang.


Kaisar Xi datang mengunjungi Jian Heng ke kediamannya. Meskipun tinggal di istana yang sama mereka sangat jarang bertemu. Jian Heng lebih banyak berdiam diri di kamar sedangkan Kaisar Xi sering berdiskusi bersama keluarga besar Fang Yin.


"Heng'er!" panggil Kaisar Xi saat dia telah sampai di depan pintu.


Tidak lama kemudian Jian Heng datang membukakan pintu untuknya dan mempersilakannya masuk.


"Ayah sepertinya wajahmu terlihat begitu serius. Jangan bilang ada masalah yang sedang terjadi." Jian Heng menerka-nerka.


"Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan jika kedua kakakmu sudah tiba di sini. Mereka sedang beristirahat. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang menemuimu."


"Aku sangat merindukan mereka. Semoga saja kedua kakakku tidak membuat ulah di pesta pernikahanku. Sangat disayangkan, mereka tidak datang membawa wanita yang mereka sukai lebih dulu." Jian Heng tersenyum geli membayangkan ekspresi kedua kakaknya ketika melihatnya menikah lebih dulu daripada mereka.


"Dasar, Anak Nakal!" Kaisar Xi menggelengkan kepalanya.


"Semoga saja mereka tidak merasa iri. Selama ini mereka selalu mencoba menggoda Yin'er dan ingin mengambilnya dariku." Jian Heng membuang nafas kasar.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Setelah sejauh ini mereka tidak akan berani. Yin'er adalah wanita yang sangat berbahaya. Mana berani mereka bermain-main dengannya."


Ucapan Kaisar Xi membuat Jian Heng merasa lega. Terkadang pikirannya begitu sempit oleh rasa takut kehilangan yang berlebihan. Entah sampai kapan sikap posesifnya ini akan terus bertahan.

__ADS_1


"Benar juga. Yin'er lebih bisa melindungi dirinya dari perlindungan yang kuberikan. Tidak seharusnya aku meragukannya." Jian Heng mencoba mengerti.


"Di masa mendatang kamu harus memiliki kedewasaan. Segala sesuatu harus kamu pikirkan dengan baik. Sebelum kamu mengambil sebuah keputusan sebaiknya kamu mempertimbangkan banyak hal. Setelah menikah yang kamu pikirkan bukan lagi dirimu saja melainkan istri dan anakmu juga. Jangan sampai kamu membuat kesalahan dan jadilah contoh yang baik di masa yang akan datang." Kaisar Xi memberikan nasehatnya.


"Aku akan selalu mengingatnya, Ayah. Ketegasan dan kewibawaanmu menjadi tauladan bagiku. Di masa mendatang aku akan banyak bertanya padamu tentang segala hal yang mungkin belum terpikirkan olehku saat ini," ucap Jian Heng merasa jika dirinya sangat minim pengalaman.


"Datanglah kapanpun kamu mau. Ayah akan menjadi rumah keduamu setelah keluargamu. Meskipun kamu telah menikah dan memiliki kehidupan baru, kamu tetaplah putraku. Tidak ada yang bisa memutuskan ikatan darah meskipun kita terhalang sejauh tujuh benua sekalipun." Kaisar Xi merasa haru.


Putra ketiganya yang masih sangat muda itu akan menikah mendahului kedua kakaknya. Mungkin saja ada beban mental yang harus ditanggung olehnya tetapi semua sudah menjadi takdir yang harus tetap mereka jalani. Dalam sebuah ikatan persaudaraan tidak menjamin jalan hidup akan sama. Di bawah naungan takdir masing-masing orang memiliki ketetapannya sendiri-sendiri.


Ayah dan anak itu terus berbincang dan bertukar pikiran tentang banyak hal hingga lupa waktu. Matahari telah turun ke peraduannya dan menarik tirai malam. Suasana gelap mulai menyelimuti dunia dan membuat sekeliling mereka menjadi samar.


"Heng'er! Heng'er!" teriak Xi Changyi sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.


"Tenanglah. Mungkin dia sedang bersiap-siap untuk menemui kita." Xi Hao Xiang mencoba menenangkan Changyi.


"Mana ada. Heng'er selalu melakukan sesuatu dengan lamban." Changyi kembali mengetuk pintu tetapi tangannya menyentuh udara kosong karena Jian Heng telah membukanya.


"Siapa yang kamu bilang lamban?" tanyanya sambil menatap kakaknya kesal.


"Ya, kamu lah. Siapa lagi?" Changyi melipat tangannya di dada dan menunjukkan wajah pongahnya.


"Astaga! Kakak macam apa kau ini. Masuklah!" Jian Heng kembali berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Rambutnya masih berantakan setelah mandi. Saat ini dia juga belum mengenakan pakaiannya dengan benar. Semuanya dia abaikan dan membiarkannya begitu saja demi menyambut kedua kakaknya.


Mereka bertiga duduk di depan sebuah meja. Kedua kakaknya ingin meminta sesuatu kepada Jian Heng mengingat dia akan mendahului mereka untuk menikah.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2