Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 37. Tidak Jera


__ADS_3

"Xiao Chen! Bisakah kamu memelankan suaramu? Lihatlah, sekarang semua orang melihat ke arag kita!" Jian Heng merasa jika semua orang yang ada di sana merasa penasaran dengan ucapan Xiao Chen.


Xiao Chen melihat ke sekeliling dan mendapati banyak pasang mata sedang memperhatikan mereka.


"Guru, benar. Maafkan aku Tetua Yu!" Xiao Chen meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pandangan matanya kini beralih pada Fang Yin yang berjalan di belakangnya. Dalam hati Xiao Chen bertanya-tanya tentang siapa gadis yang berpenampilan aneh itu. Pakaiannya yang berwarna gelap dengan penutup wajah warna senada membuatnya terlihat berbeda dengan gadis pada umumnya.


'Apakah dia kekasih Tetua Yu. Rasanya itu tidak mungkin. Selera Tetua buruk sekali kalau seandainya itu benar,' gumam Xiao Chen dalam hati dan memberi tatapan tidak suka pada Fang Yin.


"Aku pergi dulu!" pamit Fang Yin sambil melipat kedua tangannya memberi hormat.


"Tunggu! Kita berangkat bersama-sama, mari kita pulang bersama-sama pula," ucap Jian Heng.


Xiao Chen tidak terima jika kehilangan gurunya begitu saja dan membiarkannya pergi dengan wanita aneh itu.

__ADS_1


Tidak ingin kehilangan jejak gurunya, Xiao Chen mengikutinya di belakang tanpa banyak bicara lagi. Setuju atau tidak, dia akan tetap ikut ke mana gurunya akan pergi. Xiao Chen pura-pura menoleh ke arah lain ketika Jian Heng menoleh ke belakang untuk melihatnya.


Langkah Fang Yin yang cepat membuat Jian Heng harus berusaha keras mengikutinya.


"Hei, kaki pendekmu kenapa berjalan cepat sekali?!" Jian Heng protes karena sangat sulit baginya berjalan sejajar dengan Fang Yin.


"Aku tidak mau menjadi tontonan di sini!" seru Fang Yin yang merasa risih dengan tatapan penduduk desa.


Bukan masalah menjadi tontonan. Sebenarnya alasan Fang Yin bukan karena malu menjadi pusat perhatian. Desa ini belum begitu jauh dari Akademi Tujuh Bintang, dia takut masih ada mata-mata atau pembunuhan bayaran yang dikirim oleh Tetua Song untuknya.


Fang Yin tidak ingin menanggapi ocehan Jian Heng dan terus melangkah dengan cepat. Kini dia telah sampai di jalan besar dan membuatnya sedikit merasa lega. Sekarang yang menjadi masalahnya, dia tidak tahu ke mana arah menuju ke penginapan.


Berjalan bersama Jian Heng membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Fang Yin benar-benar tidak bisa mengingat jalan mana yang telah dia lalui. Dengan perasaan malu-malu, Fang Yin akhirnya harus rela menurunkan gengsinya dan menunggu Jian Heng menjadi penunjuk jalan.


"Kenapa berhenti?" tanya Jian Heng ketika dia telah berhasil menyusul Fang Yin.

__ADS_1


"Katanya kamu ingin pulang ke penginapan bersama-sama. Ya, sudah kalau tidak mau!" Fang Yin memutar tubuhnya pura-pura merajuk.


"E ... eh! Tunggu! Ayo!" Jian Heng mengajak Fang Yin berjalan.


'Untung saja pria aneh ini tidak curiga kalau sebenarnya aku tidak tahu ke mana arah jalan ke penginapan." Fang Yin tersenyum senang di balik cadarnya.


Jian Heng merasa canggung ketika dia berjalan beriringan bersama Fang Yin. Keduanya sama-sama malu saat berdekatan. Fang Yin teringat akan Zidane, cowok idaman yang tidak mungkin dia dapatkan, sedangkan Jian Heng terbayang wajah cantik Fang Yin ketika dia tidak memakai cadar.


Lamunan mereka membuat keduanya tidak menyadari jika ada beberapa orang yang menghadang jalan mereka. Mereka baru sadar ketika keduanya telah berada dalam jarak yang sangat dekat dengan empat orang yang berpakaian serba hitam dan memakai topeng besi.


Kekhawatiran Fang Yin terbukti.


'Sial! Tua bangka itu tidak juga menyerah meskipun berkali-kali gagal membunuhku! Oh, mungkin aku harus bersikap kejam pada pembunuh bayaran ini agar tidak ada lagi yang berani menerima perintah dari tua bangka itu!' Fang Yin tersenyum jahat di balik cadarnya.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2