
Kabar tentang kekejaman dari Kaisar Benua Utara sudah tersebar. Negaranya benar-benar menjunjung kekuatan. Siapa yang kuat maka dia yang akan dikunjungi tinggi dan dihormati.
Akan tetapi, bukan Fang Yin namanya jika dia gentar dan menyerah hanya karena sebuah rumor yang belum diketahui kebenarannya secara nyata.
Menurut informasi yang pernah dia dengar, ada dua buah Kitab Sembilan Naga yang ada di negara itu. Hanya saja Fang Yin tidak tahu kitab bintang berapa yang bisa dia temukan di sana.
Ketiga tetua itu menangkap kebimbangan di wajah Fang Yin. Mereka kini baru menyadari jika Fang Yin memang bukan orang yang jahat.
"Saya pernah mendengar rumor itu, tetapi saya harus tetap pergi ke sana untuk menyelesaikan misi."
Ketiga tetua Klan itu tidak bisa berbuat apa-apa, tidak membantu ataupun mencegah kepergian Fang Yin dalam misi yang tidak mereka ketahui.
Obrolan mereka terhenti ketika salah seorang penduduk desa memanggil para tetua. Sepasang pemilik rumah sudah siuman. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong keduanya.
Fang Yin mengikuti mereka di belakang dan melihat keadaan keduanya.
Mereka merintih ketika menyadari luka-luka yang tersebar di seluruh tubuh mereka. Rasa perih membuat keduanya bergegas bangun dan meminta seseorang untuk membawakannya serbuk obat.
Ketiga ketua klan memberi jalan pada Fang Yin agar bisa memeriksa pasangan itu.
"Mereka sudah baik-baik saja," ucap Fang Yin lalu kembali mundur ke belakang dan meminta seseorang untuk mengoleskan salep dan obat luka untuk keduanya.
Tetua Klan Yuan meminta Fang Yin untuk menginap di rumahnya saja. Tempat bocah serigala itu sangat sempit dan ada beberapa orang kerabatnya yang tinggal di sana untuk menjaga keduanya.
Fang Yin setuju dengan undangan Tetua Klan Yuan. Di antara ketiga tetua itu memang dia yang paling ramah.
Semua penduduk pergi meninggalkan rumah bocah serigala, kecuali kerabat yang harus tinggal.
Tidak ada percakapan di antara Fang Yin dan Tetua Klan Yuan setelah perpisahannya dengan kedua tetua yang lainnya.
Tetua Klan Yuan membawa Fang Yin masuk ke dala sebuah villa yang sangat indah.
Kedatangan mereka berdua segera disambut oleh nyonya rumah yang meminta mereka untuk duduk dan menikmati makan malam.
Kedua putri Tetua Klan Yuan terus memperhatikan Fang Yin. Mereka sangat gembira ketika ayah mereka meminta keduanya untuk menyiapkan sebuah kamar tamu.
__ADS_1
'Perasaanku, menjadi tidak enak. Semoga kejadian Ling Ling tidak akan terulang lagi.' Fang Yin meringis saat melihat kedua gadis di depannya itu.
Malam itu Fang Yin ingin melanjutkan untuk mempelajari Kitab Sembilan Naga bintang lima miliknya. Namun sepertinya itu tidak mungkin dia lakukan di rumah itu.
Suara dan segala sesuatu yang timbul dalam proses menyerap isi kitab pasti akan memancing perhatian sang pemilik rumah.
Saat rumah telah sepi, Fang Yin berjalan mengendap-endap untuk keluar dari sana. Dengan rapi dia menyembunyikan hawa kehadirannya hingga tidak mungkin ada yang bisa mendeteksi keberadaannya.
Fang Yin melangkah perlahan menuju ke pintu keluar. Hatinya merasa lega saat dia sudah berdiri di depan pintu. Tangannya mengulur ke depan untuk membuka pintu.
Keadaan menjadi kacau ketika Fang Yin merasakan ada sesuatu yang menempel di bahunya. Secara otomatis, Fang Yin memutar badannya lalu melihat siapa yg datang.
Jantungnya berdetak tak menentu dengan mata yang membulat sempurna ketika Fang Yin melihat siapa dia.
"Mau ke mana, Tuan?" tanya salah seorang putri Tetua Klan Yuan.
Untuk membuat kedua putri itu terkecoh, Fang Yin bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan tetap tenang.
"Saya ingin mencari udara segar saja, Nona." Fang Yin berbohong. Dia bergerak-gerak seolah sedang melakukan perenggangan tubuh.
Tidak mungkin bagi Fang Yin untuk melanjutkan tujuannya mempelajari Kitab Sembilan Naga bintang lima.
"Namaku Shixuan," ucap salah satu putri Tetua Klan Yuan.
"Aku Linhua." putri yang lain menyusul untuk memperkenalkan diri.
"Sebut saja namaku Xu Chen." Fang Yin menggunakan nama prianya.
Kedua putri itu terlihat malu-malu dan sesekali tersipu saat Fang Yin melihat mereka. Sepertinya mereka memiliki ketertarikan pada Fang Yin.
'Huuhh! Lagi-lagi aku harus dihadapkan dengan wanita.' Fang Yin menghembuskan napas kasar sambil menerawang jauh.
Mereka tidak banyak mengobrol dan hanya menikmati keindahan malam saja. Untuk malam ini, Fang Yin benar-benar kehilangan kesempatannya untuk mempelajari Kitab Sembilan Naga yang dia bawa. Dia akan menundanya hingga dia benar-benar menemukan tempat yang aman dan bebas dari gangguan.
Saat malam benar-benar telah larut, mereka bertiga kembali ke kamar mereka masing-masing. Merasa tidak ada kesempatan untuk keluar lagi, Fang Yin memilih untuk berkultivasi di dalam kamarnya sebelum dia beristirahat.
__ADS_1
Esensi energi di sekitar tempatnya berada saat ini sangat besar. Fang Yin merasa penasaran. Dia harus mencari tahu tentang hal ini esok pagi.
Keesokan harinya, Fang Yin bangun pagi-pagi sekali saat mendengar suara ribut-ribut di luar. Shixuan dan Linhua terdengar sedang bercakap-cakap keras sekali, sekeras suara pekikan ayam yang sedang mereka sembelih. Mereka sedang bersiap untuk memasak ayam.
Dengan malas, Fang Yin terbangun lalu pergi keluar kamar untuk menghirup udara pagi.
Rupanya Tetua Klan Yuan juga sudah terbangun.
Hari belum begitu terang tetapi Fang Yin bisa melihat dengan jelas rumah-rumah anggota Klan Yuan yang berada di sekeliling rumah Tetua Klan Yuan.
Tetua Klan Yuan mengajak Fang Yin untuk berkeliling. Dia menunjukkan tempat apa saja yang ada di sana dan fungsi dari tempat-tempat itu.
Fang Yin merasakan esensi energi yang sangat besar ketika sedang melewati sebuah tempat.
"Kalau boleh tahu, ini tempat apa, Tetua?" tanya Fang Yin sambil menunjuk tempat yang memiliki esensi energi yang sangat kuat.
"Itu adalah tempat untuk menampung tumbuhan spiritual yang akan kami jual pada pedagang atau alkemis yang datang kemari. Mereka biasa datang sebulan sekali atau paling cepat sebulan dua kali. Apakah kamu ingin melihatnya?"
Tanpa ditanya pun Fang Yin sudah ancang-ancang untuk meminta ijin melihat tempat itu. Kebetulan sekali dia tidak harus meminta ijin. Namun Fang Yin tidak ingin menunjukkan sikapnya yang terlalu senang.
"Saya akan merasa sangat terhormat jika Tetua berkenan untuk memperlihatkan tempat itu." Fang Yin menyatukan kedua tangannya sebagai tanda penghormatan.
"Mari ikut saya!"
Tetua Klan Yuan membawa Fang Yin masuk ke gudang itu. Di dalam ruangan yang cukup besar itu, ada banyak sekali rak-rak kayu yang tersusun rapi.
Fang Yin mencium aroma harum tanaman obat yang di simpan di tempat itu. Dia berjalan untuk mencari asal aroma tanaman yang membuatnya penasaran tersebut.
****
Bersambung ....
Numpang promo novel tamat karya temanku ya ... Semoga berkenan untuk mampir sambil menunggu aku update ... terimakasih ...
__ADS_1