Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 124


__ADS_3

Seorang bandit yang tersisa mencoba untuk lari ketika melihat pemimpin mereka jatuh dalam keadaan berdiri setelah kedua kakinya membeku.


Fang Yin tidak bisa melepaskannya dan melemparkan kristal es tepat di kedua kakinya.


Tubuh bandit itu pun terjatuh ke tanah yang tertutupi oleh kristal es yang mirip seperti salju.


"Sekarang kita buktikan siapa yang akan mati?!" teriak Fang Yin sambil melompat ke arah lima orang bandit itu secara bergantian.


Teriakan demi teriakan para bandit itu terdengar sangat memilukan ketika Fang Yin mencabik-cabik tubuhnya dengan sangat kejam.


Setelah selesai menghabisi bandit-bandit itu, Fang Yin membersihkan darahnya dengan menuliskan 'Pendekar Cadar Perak' di pohon dengan darah itu.


Para pedagang itu terlihat ketakutan ketika Fang Yin datang mendekat ke arah mereka.


Melihat beberapa orang di antara pedagang itu terkena racun energi, Fang Yin berniat untuk membantu mereka.


"Am ... ampuni kami, Nona Pendekar. Silakan ambil harta kami tapi biarkan kami hidup." Salah seorang pedagang memberanikan diri untuk berbicara pada Fang Yin.


Mereka berlutut di hadapan Fang Yin sambil menundukkan wajahnya.


Fang Yin tidak menjawab pertanyaan pedagang itu dan langsung duduk di hadapan mereka.


"Bangunlah! Aku tidak butuh harta kalian," jawab Fang Yin lembut.

__ADS_1


Di hadapan Fang Yin terbaring beberapa orang yang pedagang yang sedang terluka parah.


"Te ... terimakasih, Nona!" Mereka terlihat lega setelah mendengar jawaban dari Fang Yin.


"Mereka terkena racun energi," ucap Fang Yin sambil menyentuh tangan seorang pedagang.


Wajahnya sudah terlihat menghitam karena racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya.


Para pedagang itu tidak mencegah apa yang dilakukan oleh Fang Yin meskipun masih tersisa rasa ngeri di hati mereka mengingat kekejaman Fang Yin saat menghabisi para bandit itu.


Fang Yin mengobati para pedagang yang terkena racun energi itu secara bersama-sama mengingat kondisi mereka yang sudah parah.


Ini pertama kali bagi mereka melihat teknik pengobatan akupuntur yang dilakukan oleh Fang Yin.


Ketiga pedagang merasa ngeri ketika melihat Fang Yin menancapkan jarum-jarum akupuntur di tubuh para pedagang yang mengalami terluka.


"Tahan sebentar! Ini tidak akan lama." Fang Yin mencoba menenangkan orang yang sedang dia obati.


Mereka akhirnya diam dan menerima pengobatan itu tanpa banyak bicara. Lama pengobatan antara satu orang dengan orang yang lainnya berbeda-beda tergantung separah apa luka dalam yang mereka terima.


Setelah berlangsung beberapa saat lamanya, akhirnya pengobatan itu selesai dengan tuntas. Hanya tinggal luka-luka ringan di tubuh bagian luar saja.


"Terimakasih, Nona!" Secara serempak mereka memberi hormat pada Fang Yin.

__ADS_1


"Jangan merasa berhutang budi! Aku harus pergi, berhati-hatilah!," ucap Fang Yin beranjak dari tempatnya.


"Kalau boleh tahu, siapakah namamu, Nona? Dan hendak pergi ke mana?" tanya salah seorang dari mereka.


Fang Yin menghentikan langkahnya, tetapi tidak menoleh ke arah mereka lagi.


"Aku akan pergi ke Benua Selatan. Sebut saja aku Pendekar Cadar Perak."


Setelah mengatakan itu, Fang Yin berjalan perlahan dan mengembalikan tempat itu seperti sedia kala.


Kristal es yang memenuhi tempat itu menghilang seiring dengan kepergian Fang Yin.


Gerakannya saat menggunakan teknik meringankan tubuhnya yang sangat cepat membuatnya menghilang dari pandangan dalam sekejap dari hadapan rombongan pedagang itu.


Mereka terlihat berbenah dan memperbaiki beberapa kerusakan yang ditimbulkan oleh para bandit.


Fang Yin berhenti di puncak pohon yang paling tinggi untuk melihat pemandangan yang berada jauh di depannya.


'Belum terlihat adanya sebuah desa di depan sana. Huh!' Fang Yin bermonolog dalam hati lalu kembali melompat dengan cepat.


Dia berharap untuk bisa menemukan tempat menginap sebelum malam tiba.


Fang Yin memilih untuk melewati pedesaan bukan tanpa tujuan. Dia ingin mencari informasi tentang keberadaan Pendekar Iblis Buta yang memiliki Kitab Sembilan Naga bintang empat.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2