
Fang Yin menghentikan langkahnya bukan karena dia tidak ingin melanjutkan niatnya. Dirinya berhenti karena memang tubuhnya belum sanggup untuk berjalan. Sebagian besar kekuatan jiwanya telah menghilang dan membutuhkan waktu untuk memulihkannya. Pil pemulih saja tidak akan cukup karena hanya bisa memulihkan energinya, bukan kekuatan jiwanya.
Shiang Shiang akhirnya sampai di tempat kristal keturunan Fang Yin berada. Senyumnya mengembang di antara wajah letihnya. Senyum itu berkembang menjadi tawa kemenangan.
Di belakangnya, Fang Yin terlihat sedih dan tidak tahu harus berbuat apa. Terngiang kembali ucapan Jian Heng yang mengatakan jika anak mereka tidak akan mudah dikendalikan oleh iblis itu. Besar harapannya untuk melihat anaknya benar-benar menjadi seperti yang dikatakan oleh ayahnya.
"Kak Heng, aku takut jika apa yang terjadi setelah ini tidak sesuai yang kita harapkan."
Kecemasan tidak bisa disembunyikan lagi di wajahnya. Ibu mana yang akan tega melihat anaknya direbut oleh orang lain. Dia bersumpah untuk merebutnya kembali jika sampai hal itu terjadi meskipun harus berkorban nyawa.
"Berilah anak kita kesempatan. Kita harus mempercayainya." Jian Heng memegang tangan Fang Yin untuk saling menyemangati.
Dengan segenap kepercayaan yang mereka kumpulkan dengan susah payah, keduanya mencoba untuk percaya jika nasib baik akan menyertai kehadiran anak mereka. Kelahirannya yang berbeda dengan bayi-bayi pada umumnya membuatnya terasa sangat spesial. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka mekipun mereka harus kehilangan sebagian besar kekuatan jiwanya demi menghadirkannya.
Kembali ke Shiang Shiang,
Iblis wanita itu tidak sabar lagi untuk mendapatkan bayi Fang Yin. Kesabarannya yang tipis memaksanya untuk membuka paksa kristal yang menyimpan bayi Fang Yin. Setelah memakannya maka kekuatannya akan pulih, bahkan akan meningkat hingga berlipat-lipat jumlahnya.
Suasana menjadi tegang. Apa yang dilakukan oleh Shiang Shiang bisa dilihat jelas oleh Fang Yin dan Jian Heng. Keduanya pun bersikap waspada dan berniat untuk mengambil keuntungan di saat-saat genting.
"Anak pintar, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku." Shiang Shiang kembali tertawa sebelum menghimpun sisa-sisa kekuatannya.
Sama halnya seperti Fang Yin dan Jian Heng, dia juga hanya tinggal memiliki sedikit kekuatan jiwa. Dia sangat yakin akan berhasil untuk menyerap kekuatan bayi Dewi Naga setelah ini dan menukar seluruh kekuatan yang dimilikinya saat ini. Namun, dia tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya.
Kedua tangan Shiang Shiang melakukan gerakan pengumpulan energi. Sebuah padatan energi dengan ujung yang runcing berputar-putar di depan wajahnya. Perlahan energi itu turun ke bawah dan menembus kristal keturunan Dewi Naga.
Sebuah ledakan energi yang ditimbulkan dalam penerobosan ini membuat tubuh Shiang Shiang terpental dan jatuh ke belakang. Tidak memungkinkan dirinya untuk bangun lagi mengingat kekuatannya telah habis terkuras. Darah segar mengalir keluar saat dia terbatuk-batuk.
Proses penerobosan oleh kekuatan Shiang Shiang sebenarnya telah berhasil dan membuat cangkang kristal yang menyimpan bayi Dewi Naga terbuka. Namun, dia tidak bisa menikmati keberhasilannya karena bayi yang ada di hadapannya justru malah menghisap hawa kehidupan dari dalam tubuhnya.
Shiang Shiang tidak bisa menghindarkan dirinya dari maut. Dalam waktu yang sangat singkat tubuhnya pun musnah oleh kekuatan bayi Dewi Naga. Semua ini terjadi karena ketidakhati-hatiannya yang meneteskan darahnya dalam prosesi yang dilakukannya, jika tidak mungkin saat ini dia telah berhasil untuk mendapatkan bayi Dewi Naga.
Pemandangan ini membuat Fang Yin dan Jian Heng terhenyak. Semuanya terjadi begitu cepat dan berada di luar perkiraan mereka. Dalam sekejap Shiang Shiang bisa menghilang tanpa jejak.
"Kak Heng! Apakah bayi kita bisa mengenali kita sebagai orang tuanya?" Fang Yin merasa ngeri dan tidak berani mendekat dengan keadaannya yang sekarang.
"Pasti dia akan mengenali. Mari kita coba untuk mendekatinya!"
Fang Yin tidak segera mengiyakan ajakan Jian Heng. Besar keinginannya untuk melihat anaknya tetapi terselip rasa takut ketika berpikir jika anaknya tidak mengenalinya dan mungkin menyerangnya. Hatinya terus menimbang-nimbang hingga dirinya benar-benar yakin.
Cahaya menyilaukan masih menyelimuti kristal pelindung bayi yang telah terbuka. Fang Yin dan Jian Heng tidak bisa melihat dengan jelas dari tempatnya berada saat ini.
"Seharusnya kita berbahagia menyambut kehadirannya, Yin'er. Jangan pernah ragu lagi untuk mendekat! Mari kita temui anak kita. Aku ingin sekali memeluknya." Jian Heng kembali meyakinkan Fang Yin untuk menyongsong bayi mereka.
"Semuanya terjadi begitu cepat, Kak Heng. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kita alami hari ini. Bayi kita terlahir lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Semoga dia bertumbuh dengan baik."
Jian Heng meraih tubuh Fang Yin dan mengecup pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Mari kita pergi untuk menyambutnya!"
Fang Yin mengangguk.
Keduanya berjalan tertatih menuju ke tempat bayi mereka berada. Kristal yang terbuka itu masih melayang-layang di udara meskipun segel mantra yang dibuat oleh Shiang Shiang telah hilang. Semakin dekat mereka merasakan aura energi yang semakin besar pula. Namun, keduanya tidak terpengaruh dengan tekanan energi yang terpancar dari bayi mereka karena memiliki frekuensi yang sama.
__ADS_1
Langkah demi langkah yang mereka lalui memberi arti tersendiri karena akan bertemu dengan buah hati yang didambakannya. Tidak bisa dibayangkan kebahagiaan mereka ketika mata mereka melihat sepasang bayi mungil sedang terlelap di dalam pecahan kristal energi. Mereka tidak menyangka jika bayi mereka kembar.
"Yin'er! Kita memiliki sepasang putri yang cantik!" seru Jian Heng memekik penuh suka cita.
Fang Yin tidak bisa berkata-kata dan langsung menghambur untuk memeluk mereka. Tidak ada lagi kekhawatiran di wajahnya dan dia sepertinya tidak peduli lagi akan terluka. Nyatanya bayi-bayi mereka memang tidak menyerang keduanya.
"Mereka sangat lucu sekali," bisik Fang Yin.
Tangannya menyentuh kedua bayinya secara bergantian. Setelah puas memandanginya, dia lalu mengeluarkan pakaian bayi yang disimpannya di cincin penyimpanannya. Selir Shi dan Selir Ning membuatkan baju-baju kecil yang begitu indah untuk mereka.
Jian Heng membantu menggendong salah satu dari putrinya lalu membawanya pergi ke tempat yang lebih aman. Bukan tidak mungkin seseorang yang berniat jahat akan datang ke tempat ini setelah mengetahui kelahirannya. Sementara saat ini keduanya belum bisa bertarung menghadapi musuh.
"Kak Heng, kita belum bisa membawa putri-putri kita kembali ke istana. Mungkin kita harus memulihkan diri setidaknya sepuluh hari ke depan." Fang Yin berbicara kepada Jian Heng di tengah perjalanan mereka.
"Kamu benar. Kita akan mencari tempat berlindung yang ada di sekitar sini."
Fang Yin mengangguk.
Setelah cukup lama berjalan, Fang Yin dan Jian Heng akhirnya menemukan sebuah tempat yang cukup tersembunyi. Ada sebuah goa yang bisa mereka gunakan untuk berteduh. Sayangnya, mereka merasakan banyak sekali binatang liar yang hidup disekitarnya.
Seperti tahu akan kegelisahan Fang Yin, Yang Hui tiba-tiba muncul tanpa permisi. Kekuatan jiwa Fang Yin yang lemah membuatnya bisa menerobos simbol Dewi Naga dengan mudah. Beruntung sifat iblisnya telah menghilang sehingga dia tidak mungkin menyerang Fang Yin.
"Jangan khawatir, Yang Mulia. Aku akan membereskannya. Keturunan Dewi Naga adalah bagian dari diriku juga." Yang Hui berkelebat dengan cepat untuk memusnahkan binatang-binatang yang tinggal di sekeliling goa.
Fang Yin dan Jian Heng tersenyum senang. Mereka saling berpandangan lalu menatap putri-putri mereka. Sebagian tubuh bayi-bayi itu tertutupi oleh sisik naga berwarna emas. Mereka yakin jika sisik itu akan menghilang seiring berjalannya waktu dan hanya akan muncul jika keduanya menginginkannya.
Tidak lama kemudian Yang Hui telah kembali.
"Tapi kita tetap harus memasang mantra pelindung untuk berjaga-jaga," ucap Fang Yin.
Sejujurnya Fang Yin merasa sangat sedih ketika putri-putrinya harus dibawa tinggal di dalam goa. Sebagai seorang putri kaisar seharusnya mereka mendapatkan tempat tinggal yang layak. Mereka pantas untuk mendapatkan kemewahan dan segala fasilitas yang sesuai dengan status sosial mereka.
Perubahan ekspresi yang terjadi pada Fang Yin begitu terlihat. Jian Heng merasa dirinyalah yang seharusnya bertanggung jawab untuk hal ini. Sebagai seorang kepala rumah tangga, dia merasa gagal karena belum bisa membahagiakan anak dan istrinya.
"Yin'er. Maafkan aku. Sebagai seorang suami aku belum bisa membahagiakanmu." Tergambar sesal yang mendalam di wajah Jian Heng.
Fang Yin menatap Jian Heng dengan perasaan yang campur aduk. Segala yang terjadi bukanlah keinginan mereka. Semuanya begitu mendadak dan sulit untuk ditolak.
"Kamu sudah berusaha. Apa yang kita jalani saat ini adalah kehendak takdir. Aku yakin, di manapun kita berada, kita akan tetap bahagia asalkan selalu bersama."
Jawaban Fang Yin membuat hati Jian Heng menghangat. Gadis tengil yang ditemuinya beberapa tahun lalu itu kini telah dewasa. Walaupun tidak melahirkan putri-putrinya secara langsung tetapi aura keibuan sangat terlihat jelas di wajahnya.
"Kita akan selalu bersama untuk selamanya Yin'er."
****
Jauh di luar perkiraan Fang Yin dan Jian Heng, pemulihan kekuatan jiwa yang mereka jalani ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama. Mereka harus bersabar untuk bisa kembali ke istana dan membawa anak-anak mereka kepada keluarganya. Tidak ada yang bisa menemukan mereka saat ini karena mereka tinggal di kedalaman hutan yang jauh di lembah Zhud. Lembah yang terletak di antara Pegunungan Merah dan Pegunungan Batu Atas.
Tanpa terasa kini mereka telah tinggal di sana selama satu setengah tahun. Kedua putri kembar mereka, Xi Yuen dan Xi Yufei telah tumbuh menjadi balita lucu yang sangat menggemaskan. Mereka terlihat hidup berbahagia meskipun tinggal di alam liar yang syarat dengan keterbatasan.
Yuen Yuen dan Fei Fei memiliki kemampuan kedua orang tuanya. Mereka juga memiliki kekuatan Shiang Shiang dan terpapar hawa jahat dari kekuatan itu. Jika tidak dididik secara benar maka mereka bisa berkembang menjadi sosok yang jahat.
__ADS_1
Terlepas dari itu semua, mereka tetaplah sama seperti balita pada umumnya yang memiliki kelucuan dan kepolosan yang tidak dibuat-buat. Fang Yin dan Jian Heng merasa sangat bahagia bisa memiliki sepasang putri yang begitu menggemaskan. Rasanya mereka enggan kembali ke istana dan rela hidup di alam bebas. Sayangnya, tanggung jawab mereka kepada rakyat begitu besar dan cepat atau lambat mereka harus kembali.
Yuen Yuen dan Fei Fei juga harus belajar bagaimana bersosialisasi dengan banyak orang. Saat ini mereka hanya mengenali orang tuanya saja. Kakek nenek serta indahnya istana hanya mereka dengar dari orang tuanya tanpa bisa membayangkannya.
Jian Heng dan Fang Yin berlatih keras untuk memulihkan kekuatan jiwa mereka. Secara tidak langsung, kedua putrinya juga ikut mempelajari banyak hal. Di usianya yang sangat kecil mereka sudah bisa menirukan teknik beladiri dan olah tenaga dalam yang dilakukan oleh orang tuanya.
Hari ini, mereka berlatih di bawah air terjun. Saat kedua orang tuanya sibuk berlatih, Yuen Yuen dan Fei Fei telah menangkap begitu banyak ikan sambil bermain-main di tepi sungai. Mereka membawa ikan-ikan yang mereka dapatkan ke tempat yang berada tidak jauh dari tempat orang tuanya berlatih.
"Yuen Yuen, Fei Fei!" panggil Fang Yin ketika dia telah selesai.
Setelah melihat keduanya begitu asyik bermain, Fang Yin merasa lega. Seulas senyuman menghiasi wajahnya yang berkeringat. Tidak berapa lama, senyuman itu berubah menjadi rasa heran. Dia melihat begitu banyak ikan di samping Yuen Yuen dan Fei Fei.
"Ibu!"
"Ayah!"
Yuen Yuen dan Fei Fei berlari menghampiri Fang Yin dan Jian Heng. Mereka terlihat tidak sabar untuk menunjukkan hasil kerja mereka.
"Anak-anakku yang manis." Jian Heng menggendong kedua putrinya dengan kedua tangannya.
"Ayah, ibu! Kami menangkap ikan. Lihat itu!" tunjuk Fei Fei.
Berbeda dengan Fang Yin yang telah melihatnya terlebih dahulu, Jian Heng tampak terkejut melihatnya.
"Wah, hebat sekali anak ayah. Mari kita bakar ikan-ikan itu untuk makan siang." Jian Heng membawa kedua putrinya ke tempat yang teduh lalu menurunkannya dan mendudukkannya di atas batu.
"Aku akan membuat perapiannya. Kamu yang menyiapkan ikannya," ucap Fang Yin.
Keduanya mengumpulkan ranting dan menusuk ikan. Perkejaan selesai dalam waktu yang singkat. Aroma ikan bakar yang nikmat membuat Yuen Yuen dan Fei Fei tidak sabar untuk menunggunya matang.
"Yin'er! Kekuatan jiwa kita telah pulih. Apa rencana kita setelah ini?" tanya Jian Heng di sela-sela membakar ikan.
"Kita akan mempersiapkan diri untuk kembali ke istana. Meskipun kita bisa pergi menggunakan artefak daun tetapi kita tidak tahu bahaya apa yang akan mengancam. Sebaiknya kita melewati jalur darat di siang hari dan jalur udara di malam hari."
Jian Heng mengernyitkan keningnya setelah mendengar penjelasan Fang Yin. Dia masih belum mengerti tentang rute yang akan mereka ambil.
"Apakah kita akan menukar waktu istirahat kita di siang hari dan bepergian di malam hari?" tanya Jian Heng.
"Hmm." Fang Yin mengangguk.
Saat anak-anak terlelap, mereka bisa melakukan perjalanan dengan leluasa. Di siang hari mereka bisa bersantai dengan melakukan perjalanan darat.
"Ibu! Ayah! Apakah kalian akan membawa kami pulang ke istana?" tanya Yuen Yuen dengan celoteh lucunya.
Fang Yin mengangguk dengan cepat seraya tersenyum.
Yuen Yuen dan Fei Fei saling berpandangan. Mereka terlihat begitu gembira dan saling meraih tangan mereka satu sama lain. Keduanya lalu melompat turun dan berloncatan dengan riang sambil meneriakkan yel-yel "Kita pulang! Kita pulang!".
Fang Yin dan Jian Heng pun ikut tersenyum. Seperti apa jalan yang akan mereka lalui setelah ini, mereka berharap untuk bisa selalu bersama dan melihat putri-putrinya tumbuh dan berkembang.
'Penderitaan yang aku alami di kehidupan ini dan kehidupanku sebelumnya telah terbayar sudah. Aku telah diberi kesempatan untuk mencintai seorang pria dan memiliki keluarga yang utuh. Kak Heng bukanlah Zidane dan aku bukanlah Agata Moen, tetapi aku benar-benar bersyukur telah menemukan cinta sejatiku. Aku tidak menyesal selamanya terjebak di jaman ini dan menjadi Gu Fang Yin selamanya.'
****
__ADS_1