
Jian Heng menatap kedua kakaknya bergantian. Mereka tidak mungkin datang ke sana tanpa tujuan. Melihat senyum jahil Xi Changyi, Jian Heng merasa ada yang tidak beres dengan keduanya.
"Kakak, kalian terlihat sangat gembira. Terimakasih sudah mau datang ke pernikahanku." Jian Heng mencoba bersikap manis. Saat ini dia adalah tuan rumah meskipun dirinya belum resmi menikah dengan Fang Yin.
"Tidak perlu sungkan, Heng'er. Kamu masih bisa memberikan kami hadiah yang memadai untuk kedatangan ini. Sebagai seorang adik yang berbakti, kamu tidak boleh terlalu pelit pada kami." Xi Changyi berbicara dengan nada bercanda tetapi sebenarnya dia serius.
"Hmm." Jian Heng menggeleng.
Tidak kuasa menolak permintaan kakaknya tersebut, Jian Heng segera mengeluarkan beberapa barang berharga miliknya yang tentunya bukan koin emas. Ada beberapa giok dan kristal roh yang berhasil dia kumpulkan. Ada juga senjata berupa pedang, tombak dan juga pisau terbang.
"Waow! Luar biasa! Aku tidak menyangka kamu memiliki barang-barang bagus sebanyak ini." Xi Hao Xiang merasa takjub saat melihat barang-barang milik Jian Heng.
"Apakah kami boleh memilikinya?" tanya Xi Changyi dengan mata yang berbinar.
Semua hadiah itu membuat mereka sangat tertarik dan mulai melirik beberapa. Tidak heran jika Xi Changyi meminta barang, sedikit banyak dia tahu jika selama berpetualang Jian Heng tentu mendapatkan banyak benda yang berharga.
"Ambilah apa yang kalian sukai tapi ingat, jangan berebut atau aku akan membatalkan semua pemberian ini," jelas Jian Heng.
"Tentu saja," ucap Xi Changyi dan Xi Hao Xiang hampir bersamaan.
Mereka kemudian menyerbu barang-barang yang mereka incar sejak awal. Tadinya mereka memperebutkan sebuah pedang tetapi setelah melihat ke arah Jian Heng yang menatap tajam, keduanya sama-sama melepaskannya.
"Kakak, sebaiknya kita suit saja. Siapa yang menang maka dia yang akan mendapatkan pedang ini," usul Xi Changyi.
"Ide bagus!" Xi Hao Xian setuju. Mereka segera melakukan suit untuk menentukan siapa orang yang bisa memiliki pedang dari Jian Heng.
Sebenarnya benda berharga milik Jian Heng masih banyak tetapi tidak semuanya dia tunjukkan. Selagi dia masih menyukainya maka dia tidak akan memperlihatkannya pada kedua kakaknya.
__ADS_1
Setelah melakukan suit dan puas dengan hasilnya, Xi Hao Xiang akhirnya harus rela pedang itu menjadi milik Xi Changyi. Namun, kekecewaannya tidak terlalu besar mengingat dirinya masih mendapatkan tombak dan benda-benda lain selain pedang.
"Apakah kami boleh memiliki semuanya, Heng'er?" tanya Xi Hao Xiang sopan.
"Sudahlah, Kak. Jangan tanyakan lagi. Barang yang sudah dikeluarkan tidak bisa diambil kembali. Mari kita bagi rata." Xi Changyi mengambil semua barang yang diinginkannya.
Tidak ingin ketinggalan darinya, Xi Hao Xiang pun melakukan hal yang sama. Dia mengambil barang-barang yang dia inginkan.
Mereka baru kembali tenang setelah barang-barang itu habis. Tidak ada lagi barang yang tersisa di atas meja dan membuat mereka sangat senang.
"Bagaimana keadaan Kekaisaran Benua Tengah selama ayah berada di sini?" tanya Jian Heng.
Tangannya menuang minuman hangat ke dalam gelasnya. Dia juga menuang minuman herbal itu untuk kedua kakaknya. Aroma minuman yang tidak biasa membuat Xi Hao Xiang dan Xi Changyi bertanya-tanya.
"Aku merasa ada aroma aneh di dalam minuman ini." Xi Changyi menghirup aroma dari minuman yang tersaji di hadapannya.
"Ini adalah minuman herbal yang diracik khusus oleh Yin'er. Ada beberapa tanaman berkhasiat yang ditambahkan di dalamnya. Jika kalian tidak suka jangan diminum. Biar aku saja yang minum," ucap Jian Heng.
"Tidak buruk. Rasanya sangat unik dan menghasilkan hawa yang hangat di tubuh," puji Xi Hao Xiang.
"Benar. Bolehkah kami membawa beberapa ke Benua Tengah?" tanya Xi Changyi.
Xi Hao Xiang mendelik kesal melihat tingkah adiknya. Kedatangan mereka terkesan merampok padahal tujuan mereka ke sana bukan itu.
"Jangan keterlaluan Changyi! Kita datang untuk berpesta bukan untuk meminta-minta." Xi Hao Xiang mendengus kesal sambil menatap Xi Changyi dengan gusar.
"Yee .... Ini cuma barang sepele. Minuman herbal. Bagi Yin'er dan Heng'er ini bukan sesuatu yang mahal. Mereka tentu bisa membuatnya lebih banyak lagi." Xi Changyi tidak terima.
__ADS_1
"Sudah-sudah ... kalian jangan ribut. Aku akan memberikan minuman herbal ini untuk kalian. Bahkan jika perlu aku akan mengirimkannya setiap bulan."
Xi Changyi segera menyenggol tubuh Xi Hao Xiang dan merasa menang. Minuman herbal ini bukanlah barang yang mahal dan bahan-bahannya sangat mudah didapat. Namun, tidak semua orang bisa meraciknya dengan komposisi yang tepat.
Setelah selesai dengan permintaan mereka, Jian Heng segera mengganti bajunya dan bersiap untuk menghadiri perjamuan makan. Dia mengenakan pakaian terbaiknya dan membuatnya terlihat sangat tampan.
"Kamu selalu saja membuatku iri, Heng'er. Selain tampan, kamu memiliki selera yang bagus dalam memilih pakaian. Sungguh, aku tidak habis pikir mengapa kita tidak memiliki ketampanan yang sama?" Xi Changyi mendelik iri.
Xi Hao Xiang menggeleng dengan perasaan gemas pada adiknya yang bandel itu. Apa pun yang lebih menarik baginya selalu membuatnya merasa iri dan ingin memiliki hal yang sama.
Tidak ingin membuat banyak keributan, Xi Hao Xiang memilih untuk diam. Waktu makan malam akan tertunda lebih lama jika mereka terus berbincang.
Saat keluar dari ruangan Jian Heng, mereka bertiga berpapasan dengan Fang Yin yang juga keluar bersama kedua pelayannya. Ketiganya terpukau dengan penampilan Fang Yin yang sekarang. Dari hari ke hari dis terlihat semakin cantik.
Selama ini Fang Yin hidup di alam bebas dan berpenampilan seperti yang dia mau sedangkan kini dia adalah pemimpin Benua Timur yang selalu disorot dan menjadi pusat perhatian.
Mereka pergi bersama-sama ke ruang perjamuan. Sesekali mereka berbincang-bincang mengenai pengalaman yang mereka lalui.
Dari perbincangan itu Fang Yin bisa mendapatkan banyak pengalaman. Kondisi Benua Timur yang masih dalam tahap berbenah membutuhkan banyak masukkan dari orang-orang yang lebih berpengalaman.
Banyak hal yang sudah dilalui oleh Xi Hao Xiang dan Xi Changyi sehingga membuat mereka memiliki pengalaman yang lebih dalam pemerintahan dan penanganan masalah di masyarakat.
Keluarga besar telah menunggu di ruang perjamuan. Mereka datang terlambat tetapi acara makan malam baru akan dimulai setelah mereka datang.
Mata Fang Yin menatap bayangan yang menyelinap di sela-sela pilar. Wujudnya tidak terlihat jelas dan tidak muncul secara terang-terangan di tengah mereka.
'Siapa dia dan apa tujuannya menyelinap di ruang perjamuan? Aku harus waspada.' Fang Yin bermonolog dalam hati.
__ADS_1
****
Bersambung ....