
Jian Heng terlihat sedang mengatur nafasnya sebelum mengatakan sesuatu. Sesuatu yang telah terjadi pada Ketua Lama. Sejak beberapa saat yang lalu dia terus memanggil nama, Fang Yin.
"Yin'er, ketua lama sedang mencarimu saat ini. Dia ... dia ...." Jian Heng tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.
Gelagat Jian Heng secara tidak langsung telah menunjukkan sesuatu hal yang buruk kemungkinan sedang terjadi. Pergi ke tempat Ketua Lama akan lebih baik ketimbang menunggu penjelasan Jian Heng.
"Di mana dia berada sekarang?" tanya Fang Yin bersiap untuk pergi.
Banyaknya pasukan dan orang yang terlibat di dalam peperangan membuatnya kesulitan untuk menemukan keberadaan ayah angkatnya itu.
"Ikut aku!" seru Jian Heng.
Fang Yin mengangguk.
Raja Iblis Api dan Acong pun mengikutinya di belakang. Mereka pergi berempat ke tempat Ketua Lama berada.
Langkan mereka yang tergesa menarik perhatian pasukan yang dilewatinya. Mungkin mereka berpikir sedang terjadi masalah yang buruk di tempat yang berbeda. Rasa lelah membuat mereka memendam rasa ingin tahunya dan tetap diam di tempat.
Keberadaan Ketua Lama cukup jauh. Rombongan Fang Yin baru mencapainya setelah beberapa saat. Ketua Lama sedang terbaring dengan kepala berada dipangkuan Ketua Sekte Feng.
Ketua Sekte merasa lega ketika melihat kedatangan Fang Yin. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
"Kak Feng, apa yang terjadi?" tanya Fang Yin segera menyusul Ketua Sekte untuk duduk.
Ketua Sekte hanya menggeleng sambil menunduk melihat Ketua Lama sedang tidak sadarkan diri saat ini. Sebagai seorang anak dia merasa sangat sedih melihat keadaan ayahnya seperti itu.
Tidak ingin menunggu jawaban yang tidak pasti, Fang Yin segera memeriksa keadaan Ketua Lama. Wajahnya terlihat panik ketika mendapati detak jantung Ketua Lama sangat lemah.
"Ada apa, Yin'er?" tanya Ketua Sekte saat melihat ekspresi wajah Fang Yin yang terlihat cemas.
Fang Yin tidak menjawab melainkan segera mengambil tindakan dengan cepat. Kedua tangannya bergerak dengan pola tertentu. Sesaat kemudian sebuah benda berbentuk kristal yang dikelilingi bias cahaya warna-warni muncul dari sana.
Seharusnya Fang Yin tidak melakukan ini karena sebelumnya dia telah memberikan kristal energinya untuk Acong. Selain kondisinya yang melemah, dia juga bisa kehilangan kultivasinya jika mengambil energinya hingga di luar batas. Namun, tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan Ketua Lama.
Kondisinya sangat parah. Jika terlambat sedikit saja maka dirinya akan mati. Hanya dengan memberikan kristal energi spiritualnya dia bisa menyelamatkan Ketua Lama.
"Uhukk!" Fang Yin terbatuk.
__ADS_1
"Yin'er!" pekik Ketua Sekte bersamaan dengan Jian Heng.
Fang Yin mengangkat tangannya memberikan isyarat pada keduanya untuk diam. Dalam keadaan yang genting seperti ini, dia tidak bisa menunda waktu dengan mengobrol.
Ketua Lama sudah tidak mungkin untuk bangun dan menelan kristal energi itu. Satu-satunya cara yang bisa dilakukannya adalah menekan kristal energi masuk ke dalam tubuhnya.
Fang Yin kembali mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya lalu mengarahkannya pada kristal energi yang melayang-layang di atas dada Ketua Lama. Energi spiritual yang terkandung di dalam kristal energi akan langsung terserap ke dalam tubuh Ketua Lama setelah kristal itu masuk ke dalam tubuhnya.
Kristal energi itu bergerak perlahan menerobos masuk ke dalam tubuh Ketua Lama. Tubuhnya bersinar dan beberapa saat kemudian detak jantungnya kembali normal.
Fang Yin tersenyum mendapati ayah angkatnya telah baik-baik saja meskipun saat ini dia belum sadarkan diri. Dirinya sadar jika saat ini tubuhnya sendiri sangat lemah tetapi dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya pada siapapun.
"Ayah angkat sudah baik-baik saja sekarang."
Senyum tulus mengembang di wajah Fang Yin. Namun, ini tidak berlangsung lama. Sesaat kemudian senyumnya pudar seiring kesadaran Fang Yin yang perlahan menghilang.
Tubuh Fang Yin ambruk ke belakang. Jian Heng bergerak dengan cepat menangkapnya sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Matanya nanar melihat kekasihnya terkulai lemah tak berdaya di hadapannya. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
Suaranya menggema di seluruh medan perang dan membuat semua orang menjadi tegang. Kebahagiaan atas kemenangan yang mereka raih mendadak menjadi duka yang mendalam.
Shi Jun Hui dan yang lainnya bergerak cepat mencari dari mana datangnya suara menyedihkan itu berasal. Mereka terlihat seperti orang gila saat mendengar seseorang meneriakkan nama Fang Yin dengan nada keputusasaan.
Tangis Jian Heng tidak bisa dibendung lagi. Dia tidak mempedulikan pendapat orang tentang apa yang dilakukannya. Otaknya tidak bisa berpikir dengan normal ketika melihat Fang Yin dalam keadaan tidak berdaya.
Shi Han Wu dan Gu Tian Feng segera bertindak untuk melakukan upaya penyelamatan. Mereka melakukan segala cara untuk membuat Fang Yin segera tersadar.
Shi Han Wu menggeleng dan menyerah. Tubuh Fang Yin tidak bisa ditembus oleh kekuatan apapun. Mereka hanya bisa menunggu sebuah keajaiban.
"Tidak! Kamu tidak boleh mati, Yin'er! Ingatlah akan impian kita! Kamu harus hidup, Yin'er!" Jian Heng menarik tubuh Fang Yin dan memeluknya dengan erat.
Pemandangan ini begitu memilukan. Semua orang yang melihatnya menitikkan air mata. Mereka membayangkan diri mereka dalam posisi Jian Heng.
Cukup lama keadaan ini berlangsung tetapi keadaan Fang Yin masih sama. Pikiran buruk semakin menguasai dirinya. Jian Heng merasa kehilangan harapannya.
Seseorang menyentuh punggungnya yang berguncang karena menangis. Orang itu tidak lain adalah Selir Tang.
__ADS_1
Di belakang Selir Tang berdiri Kaisar Xi dan kedua kakaknya Xi Hao Xiang dan Xi Changyi. Mereka menjadi pasukan bayangan yang melawan musuh dari tempat yang tidak terlihat.
Pasukan dari Kekaisaran Benua Tengah memiliki kemampuan memanah yang lebih menonjol di banding kemampuan beladiri lainnya. Untuk itu, Kaisar Xi mengerahkan pasukan pemanah terbaiknya dalam peperangan ini.
Selir Tang bertindak mengendalikan hujan badai yang terbukti mampu mengacaukan konsentrasi lawan. Mereka bertarung dengan sangat rapi sehingga sangat sedikit korban dari pasukan yang mereka pimpin.
Hati Selir Tang seperti disayat-sayat saat mendengar tangis putranya. Meskipun kemampuan beladiri nya tidak begitu hebat tetapi Selir Tang memiliki kemampuan sihir yang kuat.
Dia memiliki hawa jiwa yang murni yang selaras dengan alam semesta. Di dalam kondisi tertentu kemampuannya ini bisa digunakan untuk membangkitkan jiwa yang lemah.
Segala yang akan dilakukannya membutuhkan berbagai pertimbangan. Jika dia memberikan sebagian besar hawa murninya, maka dirinya akan kehilangan kemampuannya dalam beberapa waktu. Berapa lama itu tergantung dari daya pulihnya.
"Jangan bersedih, Putraku. Ibu akan mencoba untuk menyelamatkannya." Selir Tang duduk di hadapan Jian Heng dan mulai berkonsentrasi.
Jian Heng tidak tahu seperti apa kemampuan ibunya dan hanya pasrah melihat apa yang akan dilakukannya. Hatinya sedang kalut, begitu sulit untuk berpikir tentang bagaimana mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.
Esensi jiwa murni berbentuk kristal bunga lotus berwarna biru terbentuk seiring dengan mantra yang dirapalkan oleh Selir Tang. Kristal esensi jiwa itu bersinar sangat terang hingga orang-orang yang berada di sekelilingnya tidak bisa melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Cahaya terang baru menghilang ketika kristal esensi jiwa murni telah masuk ke dalam tubuh Fang Yin.
Selir Tang masih berkonsentrasi dan kembali memberikan energinya untuk Fang Yin. Setelah melakukan upaya penyelamatan, dia mundur mengambil jarak untuk berkultivasi.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya karena Selir Tang tidak mungkin menjawab semua pertanyaan. Dirinya telah larut dalam lautan gelombang energi alam yang menyelimutinya. Tanpa itu dirinya juga akan tumbang seperti halnya yang terjadi pada Fang Yin sebelumnya.
"Ayah! Katakan sesuatu! Apakah ibu akan baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang telah dilakukannya dan bagaimana keadaan Yin'er setelah ini. Mengapa ibu tidak menjelaskan semuanya padaku?" Jian Heng tampak bingung. Dua wanita yang sangat disayanginya itu tidak membiarkannya bertanya.
Kaisar Xi diam membisu. Suasana beku belum juga mencair. Kedukaan yang mendalam memenuhi setiap relung-relung hati para pendukung Fang Yin.
Xi Hao Xiang dan Xi Changyi mendekat pada Jian Heng untuk memberinya dukungan. Sejujurnya hati mereka teriris saat menatap wajah ayu Fang Yin tampak memucat.
Air mata Jian Heng jatuh di pipi Fang Yin. Saat ini dia tengah menangis tanpa suara.
"Aku baik-baik saja, Kak Heng." Mulut Fang Yin bergerak sangat lemah dengan mata yang masih tertutup.
****
Bersambung ....
__ADS_1