Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 252. Siapakah Dia?


__ADS_3

"Aku ingin mandi, Ibu. Pagi-pagi sekali ibu sudah membuat keributan di sini." Jian Heng memberi hormat pada ibunya lalu berjalan meninggalkannya. Namun, baru beberapa langkah ibunya memegang tangannya dan membuatnya berhenti.


Jian Heng kembali menghadap ke arah ibunya dan melihat wanita itu seperti sedang berpikir. Dia berharap ibunya tidak akan mempersulit dirinya dengan banyak sekali pertanyaan.


"Apakah kakakmu menyukai Jing Jihua?"


Pertanyaan itu begitu mengejutkan untuk Jian Heng. Jika dia mau curang dan mengatakan "ya" maka dia akan terbebas dari perjodohan, tetapi dia merasa kasihan pada Changyi jika harus menggantikannya dengan gadis aneh itu.


"Tidak, Ibu. Bukan seperti itu masalahnya. Kami ... kami hanya bercanda saja. Kami berdua sama-sama tidak menyukai wanita aneh itu. Aku dan kakak bisa gila kalau dipaksa untuk menikah dengannya."


Jian Heng memberanikan diri untuk menolak secara terang-terangan di depan ibunya. Sebagai seorang ibu, Selir Tang sangat paham akan sikap putranya. Meskipun dia seorang pangeran, dia tidak menyukai seorang putri yang selalu tergantung pada orang lain untuk melakukan sesuatu.


Merasa jawaban Jian Heng cukup masuk akal, Selir Tang pun akhirnya membiarkan dia pergi. Kini tinggal ada dia dan Fang Yin.


"Yang Mulia, saya juga ingin pamit undur diri." Fang Yin memberi hormat pada Selir Tang.


Selir Tang membalas hormatnya dengan doa yang baik.


Di belakang Selir Tang ada seekor ular hijau berjalan sangat cepat ke arahnya. Dia tidak menyadarinya, beruntung Fang Yin masih sempat melihatnya saat akan berbalik.


Wush!


Dalam keadaan panik, Fang Yin mengeluarkan api hitam untuk menyerang ular beracun itu karena hampir mencapai Selir Tang.


Selir Tang menjerit karena terkejut saat Fang Yin tiba-tiba melemparkan energinya. Terlebih lagi saat melihat energi yang dilemparkan oleh Fang Yin adalah api hitam.


"Ampun, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud untuk mengejutkanmu."


Fang Yin menunduk dengan perasaan bersalah. Setelah melihat ular itu menjadi abu, dia memadamkan api hitam itu.


Raut wajah Selir Tang terlihat ketakutan. Dia mengangguk dengan cepat lalu segera pergi dari sana. Ini kedua kalinya dia melihat api abadi itu. Dia tidak menyangka jika Fang Yin memilikinya.


'Siapa sebenarnya anak ini? Aku tidak bisa merasakan aura energinya, lalu bagaimana bisa dia bisa menyembunyikan energi sebesar itu?' Selir Tang berjalan sambil terus berpikir.


Sebenarnya Selir Tang juga seorang kultivator ranah surgawi. Setiap hari dia meminum pil penekan energi untuk menyembunyikan energinya.


Sesampainya di kamar, Selir Tang masih larut dalam pikirannya. Dia mencoba untuk menguasai dirinya.


"Api hitam sangat langka dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Api ini dimiliki oleh binatang legenda yang memiliki roh naga terkuat. Kalau tidak salah, teknik pengendaliannya berada dalam Kitab Sembilan Naga."


Mata Selir Tang terbelalak saat mengingat sesuatu. Dia sangat yakin jika Fang Yin adalah seorang Dewi Naga.




Kaisar Xi menyiapkan ruangan khusus untuk Fang Yin mengajarkan teknik pengobatan kepada para tabib muda yang di panggil dari beberapa daerah. Mereka merupakan perwakilan dari akademi pengobatan yang tersebar di seluruh wilayah Kekaisaran Benua Tengah.


__ADS_1


Wilayah ini merupakan transit dan pusat perdagangan dari seluruh benua di sekitarnya. Mereka singgah untuk beristirahat dan juga mengisi perbekalan.



Seiring berjalannya waktu, negara ini terus berkembang dan menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh penduduk negara lain. Kaisar Xi benar-benar memperhatikan keamanan dan kenyamanan para pendatang. Tidak jarang di antara mereka memilih untuk menetap dan menikah dengan penduduk lokal.



Selain dampak positif, kedatangan para pendatang juga menimbulkan dampak yang negatif. Mereka seringkali datang membawa penyakit jenis baru dari negaranya. Keterbatasan kemampuan dan jumlah tabib yang handal membuat angka kematian masih terbilang tinggi.



Selain peperangan, angka kematian akibat penyakit menjadi yang kedua. Dengan ilmu yang diberikan oleh Fang Yin, Kaisar Xi berharap akan ada kemajuan bidang pengobatan di negaranya.



Penampilan Fang Yin kini berbeda dengan sebelumnya. Hari ini dia mengenakan penutup kepala yang membuat rambut dan wajahnya tersembunyi. Dia tidak ingin siapapun mengenalinya.



Alat yang dia minta belum seluruhnya tersedia. Namun, Fang Yin tidak ingin menunda waktu lebih lama. Dia harus menemukan Phoenix Api dan Es sesegera mungkin, tentunya setelah menyelesaikan tugasnya.



Sebagai Agata Moen yang merupakan seorang dokter umum sekaligus ahli pengobatan alternatif dan akupuntur, Fang Yin mampu menjelaskan secara detail ketika memberikan teori.




Tidak diragukan lagi kemampuannya sebagai seorang dokter, tetapi sebagai seorang guru, Fang Yin masih jauh dari kata sempurna. Dia tidak memiliki kesabaran dan ketelatenan. Semua tabib muda wajib untuk mendengarkannya dan mencatat semua yang dia terangkan.



Setiap kali ada yang bertanya tentang sesuatu yang sudah dijelaskan secara rinci, maka dia akan mengabaikannya. Dengan begini, di hari berikutnya mereka akan lebih serius mendengarkannya.



Sebagai pengenalan awal, pelajaran di hari ini tidak terlalu lama. Para tabib muda yang semula melirik Fang Yin, kini merasa segan. Harapannya seperti angin lalu yang diterbangkan oleh badai.



Hingga pelajaran selesai, Jian Heng masih setia menunggu Fang Yin di tempat duduk paling belakang.



Semua tabib muda semakin tersisih ketika melihat Pangeran Ketiga secara khusus menjemput Fang Yin dan melangkah bersama. Meskipun tidak ada rumor tentang keduanya, tetapi mereka sangat yakin jika guru barunya itu memiliki relasi yang tidak biasa dengan Pangeran Ketiga.


__ADS_1


Saat dalam perjalanannya menuju ke istana Jian Heng, mereka berdua berpapasan dengan Changyi. Jian Heng berpikir untuk menarik kakaknya itu dan memintanya untuk mengembalikan lukisannya. Sayangnya, di tempat itu banyak orang sehingga dia mengurungkan niatnya.



Changyi dan Jian Heng saling bertatapan dengan tatapan yang menunjukkan jika mereka yang paling hebat.



Tidak ingin terseret dalam masalah intern keduanya, memaksa Fang Yin pergi menjauh. Awalnya mereka tidak mengetahui jika Fang Yin pergi. Namun, mereka mendengar suara ribut di kejauhan.



Jing Jihua kembali membuat masalah dan mendorong tubuh Fang Yin. Bukannya Fang Yin yang jatuh, malah tubuhnya sendiri yang terpental dan jatuh sebelum menyentuh baju Fang Yin.



Untuk menutupi rasa malunya, Jing Jihua marah kepada Fang Yin lalu pergi dari sana dengan cepat. Namun, kepergiannya bukan karena takut padanya melainkan sosok yang berdiri di belakang Fang Yin.



Kaisar Xi kebetulan lewat di sana dan melihat awal mula keributan dari tempat yang tersembunyi.



'Pantas saja putraku tidak menyukai Jing Jihua, rupanya sikapnya seperti ini. Hampir saja aku menjerumuskan putraku ke dalam lubang penderitaan.'



Fang Yin memberi hormat pada Kaisar Xi saat menyadari keberadaannya.



"Salam hormat, Yang Mulia."



"Jangan terlalu sopan, Nona."



Di kejauhan, Changyi dan Jian Heng mengintip apa yang dilakukan oleh Fang Yin dan ayah mereka.



"Jangan-jangan ayah naksir nona Xiao," celetuk Changyi yang merasa tidak terima.



\*\*\*\*

__ADS_1



Bersambung ...


__ADS_2