
Seluruh murid Sekte Sembilan Bintang menyambut Ketua Sekte yang baru dengan bersuka cita.
Mereka sangat senang Jian Heng yang menjadi ketua dan berharap akan membawa kemajuan dan gebrakan baru di sekte itu.
Semangat dan jiwa muda Jian Heng tentu akan melahirkan ide-ide segar yang mampu membuat perubahan yang besar.
Berbeda dengan murid-murid sekte, para tetua sekte merasa sedikit tidak senang dengan pengangkatan Jian Heng sebagai ketua sekte.
Usianya yang masih muda membuat mereka merasa ragu. Mereka juga menganggap Jian Heng kurang berpengalaman dalam kepemimpinan.
Ketua Lama tidak pernah asal dalam membuat keputusan. Diam-diam dia sudah tahu siapa Jian Heng sebenarnya. Secara tidak langsung saat Fang Yin mengatakan jika dirinya sedang mempelajari Kitab Sembilan Naga bintang dua dari seseorang, sementara Ketua Lama tahu hanya Jian Heng orang yang dekat dengan Fang Yin.
Bukan rahasia lagi jika pemegang Kitab Sembilan Naga bintang dua adalah Kaisar Xi, Kaisar Benua Tengah.
Seorang generasi lama seperti Ketua Lama tahu betul tentang siapa pemegang sebagian Kitab Sembilan Naga.
Sebagai seorang pangeran dari Kekaisaran Benua Tengah, tentu Jian Heng memiliki strategi yang bagus dalam pendidikan dan keahlian dalam bertarung.
__ADS_1
Dari situlah Ketua Lama berharap jika Jian Heng akan membawa kemajuan untuk sekte yang telah dia dirikan bersama Gu Ming Hao, ayah Fang Yin.
Setelah pengumuman itu selesai, kegiatan di sekte itu kembali berlangsung seperti biasanya.
Jian Heng akan tetap mengajar seperti sebelum-sebelumnya, tetapi untuk hari ini dia ingin menyelesaikan tugas pertamanya terlebih dahulu sebagai ketua sekte.
Ruang kerja Jian Heng berada di sebelah perpustakaan. Senyumnya mengembang ketika melihat banyak sekali gulungan dan kitab-kitab kuno berjajar di sana.
Merasa lapar mata ketika melihat semua lembaran-lembaran penuh ilmu pengetahuan itu, Jian Heng mempercepat pekerjaannya dan segera ke sana.
Pandangan mata Jian Heng mengedar ke sekeliling untuk mencari kitab yang dia cari. Merasa tidak ada judul yang jelas dalam kitab itu, Jian Heng membukanya satu demi satu dan berharap bisa menemukan kitab yang dia inginkan.
'Aku sudah membuka lebih dari setengah isi perpustakaan ini tetapi belum juga menemukan kitab yang menjelaskan tentang giok mata dewa. Apakah kitab itu tidak ada di sini?' Jian Heng hampir putus asa ketika belum menemukan kitab itu.
Dia berharap kitab itu ada di antara kitab yang tersisa. Dengan langkah gontai Jian Heng pun kembali mencari kitab yang dia inginkan.
Tatapan mata Jian Heng terhenti pada sebuah kitab yang ada ditumpukkan paling atas pada sebuah rak.
__ADS_1
Sampulnya yang terlihat bersih membuatnya berpikir jika sebelumnya ada seseorang yang telah membuka buku ini sebelum dirinya.
Jian Heng mengambil buku itu dan membukanya dengan hati-hati.
'Akhirnya aku menemukannya!'
Sebuah lengkungan manis terukir di wajah tampannya, matanya yang sipit dia buka lebar-lebar menampilkan wajah yang kembali bersemangat.
Jian Heng tidak membaca kitab itu di perpustakaan mengingat matahari telah bergulir ke arah barat dan malam sebentar lagi turun.
Dia akan membacanya di dalam ruangan rahasianya setelah makan malam dan beristirahat sejenak.
Sepanjang perjalanan menuju ke villanya, Jian Heng sesekali masih mendapatkan ucapan selamat dari murid-muridnya.
'Aku sudah tidak sabar untuk mempelajari kitab ini, tapi aku harus mandi dan makan terlebih dahulu. Cacing-cacing di perutku sudah berperang karena sejak siang aku belum makan.' Jian Heng terlihat bersemangat.
****
__ADS_1
Bersambung ...