Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 298. Ingin Bebas


__ADS_3

Wong Li merasa jika dirinya lebih kuat dari sebelumnya. Dia tidak ingin kembali menjadi manusia hijau lagi.


"Tetua Jung, aku ingin bergabung bersama manusia ini. Aku merasa tubuhku menjadi lebih kuat setelah terbebas dari racun yang menguasai tubuhku." Wong Li menegaskan jika dirinya telah baik-baik saja dan memutuskan untuk masuk ke dalam bahaya.


"Aku tahu ini melanggar larangan, tetapi aku telah mengambil keputusan. Kami pasti bisa menemukan jalan keluar dan hidup normal setelah ini," imbuh Wong Li yakin.


Tetua Jung merasa bimbang. Memang benar apa yang dikatakan oleh Wong Li, kebebasan akan membuat hidup mereka akan lebih bermakna. Selama ini mereka harus terkekang dengan aturan ketat yang menjerat mereka. Mereka tidak akan mendapatkan pil kabut embun jika tidak taat pada aturan.


Bayangan-bayangan buruk itu terus membuatnya tidak berdaya. Dia seperti berdiri di tengah persimpangan jalan dan sulit untuk menentukan arah.


"Mengambil langkah yang besar memang membutuhkan keberanian. Tanpa kesungguhan semuanya akan menyiksa, terlebih lagi jika memilih jalan karena terpaksa," ucap Fang Yin dengan sikapnya yang tenang.


"Kami tidak mempunyai tempat untuk pulang setelah melepaskan jati diri kami sebagai manusia hijau." Tetua Jung menunduk lesu. Dia benar-benar tidak memiliki semangat untuk merubah hidup meskipun keinginan itu ada.


Guan Xing datang mendekat. Sejak tadi dia telah menahan diri untuk berbicara. Kini dia ingin mengambil peran untuk meyakinkan Tetua Jung.


"Kamu tidak mengenal siapa mereka sehingga merasa jika dunia ini sempit," ucap Guan Xing.


Jian Heng maju untuk menghentikan ucapan Guan Xing, tetapi Guan Xing mengangkat tangannya sebagai tanda memintanya untuk diam.


"Dia adalah Pangeran Ketiga Kekaisaran Benua Tengah dan ini adalah Putri Gu Fang Yin dari Kekaisaran Benua Timur. Meskipun saat ini mereka bukan penguasa, apakah tidak cukup untuk membuatmu percaya jika keduanya adalah orang yang berpengaruh?"


Tetua Jung menatap Fang Yin dan Jian Heng secara bergantian. Dia tidak menyangka jika tempat ini akan dikunjungi oleh orang-orang besar.


'Pantas saja mereka begitu hebat. Rupanya mereka bukanlah orang sembarangan.' Tetua Jung masih tertegun. Setelah menguasai keadaan dia segera menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Fang Yin.


"Kami bersedia bergabung denganmu, Yang Mulia."


Aksi yang dilakukan oleh Tetua Jung segera diikuti oleh anggotanya yang lain. Mereka berlutut di hadapan Fang Yin, Jian Heng dan Guan Xing. Apapun resikonya, mereka berjanji untuk tidak akan berkhianat.


Manusia hijau yang telah mati menghilang secara misterius. Hal ini biasa terjadi ditengah-tengah mereka. Tidak ada yang tahu kemana jasad mereka menghilang karena pemimpin mereka tidak pernah menjelaskan secara pasti.


Fang Yin meminta Tetua Jung dan seluruh anggotanya berkumpul menjadi satu. Tidak mungkin baginya untuk mengobati mereka satu persatu. Serangan mendadak dari manusia hijau yang lain bisa saja terjadi sebelum mereka selesai disembuhkan.


Untuk menyingkat waktu, Fang Yin akan menghilangkan pengaruh racun sihir itu secara masal. Dalam proses ini memang membutuhkan energi yang cukup besar, sebelum melakukannya dia menelan sebuah pil penguat energi yang dia simpan terlebih dahulu.


Aura yang sangat kuat menyelimuti tubuh Fang Yin setelah menelan pil itu. Untuk membuat lingkaran api hitam yang besar pun, dia juga membutuhkan bantuan dari Yang Hui.


'Yang Hui aku ingin meminjam energimu, aku ingin membuat lingkaran api hitam di sekeliling mereka untuk membakar racun sihir. Tenagaku sudah sangat terkuras untuk membentuk segel pemusnah sihir. Belum lagi aku juga harus mengeluarkan Qi pengobatan yang besar untuk menekan racunnya.' Fang Yin berbicara kepada Yang Hui.


'Hmm. Baiklah!' jawab Yang Hui yang segera keluar dan berada di belakang punggung Fang Yin.

__ADS_1


Tetua Jung dan yang lainnya terkejut melihat kehadiran seekor naga di hadapannya. Aura energinya yang besar membuat mereka bergerak mundur. Mereka tidak sanggup untuk menahan tekanan energinya.


"Jangan takut! Dia adalah roh pendampingku. Tetaplah tenang, dia tidak akan membahayakan nyawa kalian," ucap Fang Yin menenangkan manusia-manusia hijau di hadapannya.


"Bukan ... Bukan itu, Nona. Kami tidak bisa menahan aura energinya," jelas Tetua Jung sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Hmm." Fang Yin mengangguk.


"Yang Hui, segera buat lingkaran api itu!" seru Fang Yin.


Yang Hui segera melompat ke udara dan menyemburkan api hitam di sekeliling manusia hijau yang telah berkumpul. Api itu mengurung mereka meskipun diberi jarak yang cukup jauh. Ketinggian api itu melebihi tinggi badan mereka dan membentuk menyerupai dinding.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Yang Hui kembali masuk ke dalam tubuh Fang Yin.


Fang Yin berkonsentrasi untuk membuat sebuah segel mantra yang besar di udara. Setelah segel terbentuk, dia menambahkan Qi pengobatan pada segel tersebut.


Kedua tangan Fang Yin mendorong segel itu ke udara dan berdiri di ketinggian. Dia bergerak mendekat hingga bisa melihat para manusia hijau itu dengan jelas.


"Bersiaplah, kalian! Aku akan melepaskan segel ini. Tahanlah sedikit rasa sakit yang mungkin kalian rasakan setelahnya," seru Fang Yin dengan lantang.


"Baik, Nona. Kami akan bersiap." Tetua Jung dan yang lainnya melepaskan jubah mereka lalu melemparkannya ke tanah.


Tetua Jung dan yang lainnya terlihat sudah lebih siap sehingga tidak berteriak seperti Wong Li. Mungkin juga kebersamaan mereka dalam menjalani pembebasan racun sihir ini membuat mereka merasa lebih kuat.


Api hitam yang mengurung mereka menyambar uap racun sihir yang keluar dari tubuh mereka. Udara panas dari api hitam membuat mereka berkeringat. Perlahan tapi pasti, kulit mereka yang semula berwarna hijau mulai memudar dan kembali normal.


Semua rasa sakit yang mereka rasakan sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. Tubuh mereka menjadi lebih sehat dan segar setelah seluruh racun sihir itu keluar.


Segel mantra yang menyelimuti tubuh mereka menghilang setelah berhasil membersihkan seluruh racun sihir. Melihat hal itu, Fang Yin segera memadamkan api hitam di sekeliling mereka. Mereka semua bersorak senang dan merasa menjadi manusia yang bebas.


"Nona, apakah kami masih bisa terkena racun hijau itu setelah ini?" tanya Tetua Jung serius.


"Tentu saja, kecuali ...." Fang Yin sengaja menggantung kalimatnya.


"Apa yang harus kami lakukan agar tidak terpengaruh oleh racun itu lagi, Nona?"


"Benar, Nona. Kami merasakan tubuh kami seperti terlahir kembali. Setelah ini kami tidak ingin menderita lagi."


"Iya, benar. Kami tidak ingin kembali menjadi manusia hijau lagi."


Para manusia hijau terlihat sangat bersemangat. Tubuh mereka terasa ringan dan lebih segar dari sebelumnya. Mereka tidak ingin kembali lagi menjadi manusia hijau lagi dan menjadi budak penguasa bukit Giok Hitam.

__ADS_1


Fang Yin menjelaskan kepada mereka semua tentang bagaimana cara untuk melindungi diri mereka dari pengaruh racun sihir. Selain menghindari kontak langsung dengan manusia hijau, mereka juga harus melindungi tubuhnya dengan lapisan energi yang mampu menghalangi racun itu agar tidak masuk ke dalam tubuh.


Mereka terlihat tidak mengerti, andai mereka memiliki energi itu, mungkin sudah sejak lama mereka gunakan. Namun, pada kenyataannya mereka tidak bisa melakukannya.


"Aku memiliki segel pengendali jiwa. Tetapi segel ini memiliki keterikatan yang kuat dengan diriku. Jika kalian bersedia berada dibawah naunganku maka aku akan membagi energi perlindungan ini ke dalam setiap segel yang aku berikan," jelas Fang Yin.


Tetua Jung maju ke depan dan memperhatikan wajah Fang Yin dengan teliti. Dia merasakan ada aura naga yang kuat dan kemampuan tak biasa di dalam tubuh Fang Yin. Hingga detik ini, dia belum menyadari jika wanita di hadapannya itu adalah seorang Dewi Naga.


"Nona, bolehkah kami tahu tentang siapa Anda sebenarnya?" tanya Tetua Jung setelah tidak menemukan jawaban atas semua rasa penasarannya.


Demi mendapatkan apa yang dia inginkan, Fang Yin tidak boleh berbohong. Dia harus mengatakan siapa dirinya dan tujuan kedatangannya ke Daratan Utara. Mungkin saja mereka tahu tentang batu giok yang berbentuk lonjong yang dia cari.


Tetua Jung dan yang lainnya begitu terkejut ketika mendengar bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah seorang Dewi Naga. Meskipun belum memiliki wujud sempurna, mereka telah merasakan kekuatannya yang luar biasa.


Tempat di mana mereka berada saat ini adalah sebuah ruang dimensi yang menjadi pagar pembatas antara bukit Giok Hitam dengan dunia luar. Tetua Jung menjelaskan jika ras manusia hijau tidak akan bisa keluar dengan selamat dari bukit Giok Hitam jika mencoba menerobos keluar dari dimensi ini. Formasi perlindungan yang sangat kuat berbentuk setengah bola ini sulit untuk ditembus.


Pernah suatu ketika rombongan manusia hijau ingin menerobos melalui udara. Mereka mati terbakar sia-sia karena formasi pelindung ini begitu kuat. Hanya orang-orang yang memiliki token khusus yang bisa pergi ke dunia luar.


Tetua Jung sendiri hanya bisa mencapai dimensi ini saja dan tidak mampu melewati formasi pelindung. Bahkan pemimpin mereka pun tidak bisa menghancurkan formasi sihir ini.


Jian Heng dan Guan Xing menatap Fang Yin dengan cemas. Mereka tidak tahu apakah bisa keluar dari sini dengan selamat atau tidak setelah ini.


Fang Yin menangkap kegelisahan di wajah mereka lalu berkata, "Aku telah menyerap pembuka formasi sembilan matahari. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Jika aku berhasil membuka Kitab Sembilan Naga bintang sembilan maka formasi sembilan matahari yang berada di istana kekaisaran Benua Timur akan terhubung dengan diriku. Kita lihat saja, seberapa kuat formasi ini." Fang Yin memberikan teka-teki meskipun sudah sangat jelas jawabannya.


Tetua Jung semakin mempercayai Fang Yin. Dia berharap setelah ini mereka bisa kembali hidup dengan normal. Namun, wajahnya masih menunjukkan sebuah kegelisahan. Setelah ini akan ada upacara tumbal darah di mana seluruh ras manusia hijau harus meneteskan darahnya pada sebuah batu.


Upacara ini telah diadakan sejak ratusan tahun yang lalu tanpa diketahui apa tujuannya. Menurut pemimpin mereka, ini adalah ritual penghormatan pada arwah leluhur. Bagi siapapun yang menolak maka tidak diberikan pil kabut embun untuk mereka.


"Kita akan menghadiri ritual itu. Aku yakin kita bisa mengatasi masalah yang akan kita hadapi." Fang Yin merasa penasaran dengan siapa dalang di balik kejadian buruk yang dialami oleh manusia-manusia hijau ini. Dia yakin jika orang itu adalah seorang penyihir yang sangat hebat


Jian Heng dan Guan Xing memiliki keberanian yang sama dengan Fang Yin. mereka tidak takut akan tantangan yang tidak bisa mereka bayangkan sebelumnya. Keduanya telah berjanji pada diri mereka sendiri untuk tetap menemani Fang Yin hingga berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.


Fang Yin meminta Tetua Jung dan seluruh anak buahnya untuk menerima segel pengendali jiwa. Segel itu dibuat pada pergelangan tangan kiri mereka. Setelah menerima segel itu, mereka mengenakan jubah dan tetap berpenampilan seolah-olah masih menjadi manusia hijau.


Fang Yin, Jian Heng dan Guan Xing berpura-pura menjadi tawanan mereka dalam posisi terikat. Ketiganya bersikap seperti layaknya orang bodoh yang tidak memiliki kemampuan untuk berkultivasi. Di belakang mereka Tetua Jung dan seluruh anggotanya menggiring ketiganya meninggalkan dimensi pembatas menuju ke bukit Giok Hitam.


Keadaan di malam itu sangat gelap, tetapi ada sebuah cahaya yang sangat terang memancar ke langit. Cahaya itu berasal dari tempat ritual tumbal darah itu berlangsung. Tetua Jung merasakan ada hal yang berbeda setelah menjadi manusia normal, aura negatif yang kental terasa di sekeliling mereka selama dalam perjalanan menuju ke bukit Giok Hitam.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2