Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 333. Mustika Es


__ADS_3

Tangan Jian Heng memberi isyarat agar Fang Yin berhenti di titik yang diperkirakan aman. Mereka saling berpandangan lalu mengangguk.


Fang Yin mengeluarkan energi untuk melindungi tubuhnya begitu juga dengan Jian Heng. Qi yang menyelimuti tubuh mereka saat ini mampu melindungi diri dari serangan secara langsung dan mendadak.


Selanjutnya, Fang Yin memasang mantra pelindung agar apa yang terjadi di tempat itu tidak menimbulkan kekacauan pada alam di sekitarnya. Orang yang berada di luar mantra pelindung tidak bisa melihat, mendengar dan merasakan apa yang terjadi di dalamnya.


"Aku sudah memasang mantra pelindung terkuat agar tidak menarik perhatian," ucap Fang Yin.


"Hmm." Jian Heng mengangguk.


Keduanya mulai bersiap. Merasa tidak ada pergerakan dari aura kuat itu, mereka sepakat untuk lebih mendekat. Mereka menyatukan langkah dan berjalan perlahan.


Kewaspadaan mereka semakin bertambah ketika telah berdiri tepat di hadapan esensi kuat kurang dari tiga langkah.


"Kelihatannya esensi ini tidak memiliki pelindung, Yin'er." Jian Heng menduga-duga.


"Aku akan memeriksanya," ucap Fang Yin.


Jian Heng terlihat sangat khawatir dan meraih tangan Fang Yin lalu berkata, "Hati-hati, Yin'er."


Fang Yin mengangguk.


Pusat esensi energi itu berada di tanah yang datar dan terlihat biasa seperti tanah yang ada di sekelilingnya. Fang Yin berjongkok dan meletakkan telapak tangan kanannya di atas pusat esensi itu.


"Arrgh!" pekik Fang Yin ketika merasakan tangannya seperti tertusuk oleh benda tajam.


Jian Heng segera bergerak untuk menolongnya. Dia menarik tangan Fang Yin dan melihat telapak tangannya. Ada sebuah luka tusukan sebesar lubang jarum.


"Sepertinya luka ini tidak terlalu dalam." Jian Heng meniup luka itu.


"Aku rasa juga begitu, mungkin aku terkejut saja. Cukup mengherankan karena benda yang menusukku tidak terlihat dan bisa menembus Qi pelindung yang menyelimuti tubuhku," jelas Fang Yin.


Rasa penasaran mereka belum menghilang tetapi keduanya kembali dikejutkan dengan hal aneh yang kembali muncul. Mereka merasakan tanah di sekelilingnya bergetar seperti sedang terjadi gempa.


Jian Heng membawa Fang Yin bergerak mundur untuk menghindari pusat esensi yang perlahan timbul. Dilihat dari pergerakannya seperti ada sesuatu yang akan timbul dari dalam bumi.


Mereka berhenti pada batas di mana mantra pelindung Fang Yin terpasang.


"Apakah kamu tahu tentang sebuah rahasia di bukit ini, Yin'er?" tanya Jian Heng.


Fang Yin menggeleng kemudian berkata, "Sejak kecil aku tinggal di istana. Kakek dan nenek yang selalu mengunjungiku ketika mereka merindukan aku. Jadi ... Aku tidak terlalu mengenal wilayah ini."


Mereka tidak bisa lagi mengobrol dan bersantai. Tanah di hadapan mereka mulai merekah dan memunculkan sesuatu yang aneh. Sebuah sulur berwarna hijau dan berukuran besar muncul dan bergerak mendekati Fang Yin dan Jian Heng.


Sulur-sulur terus bermunculan dan memenuhi tanah di tempat itu. Namun, pusat esensi energi di tengahnya masih kosong.


Fang Yin dan Jian Heng melompat ke atas dan terus menghalau sulur-sulur itu dengan pedang energinya. Sulur yang terpotong tumbuh menjadi sulur baru sehingga membuat jumlahnya semakin banyak.


"Sulur yang terputus tetap hidup dan menjadi sulur baru yang hidup. Apa yang harus aku lakukan?" Fang Yin terlihat sangat panik dan terus melompat untuk menghindar.


"Aku akan mencoba menggunakan api." Jian Heng mengeluarkan api dari kedua telapak tangannya tetapi sebelum melemparkannya, kedua tangannya telah terlilit oleh sulur yang bergerak sangat cepat.


Hal yang sama juga dialami oleh Fang Yin. Saat dia tercengang melihat Jian Heng, sebuah sulur bergerak dengan sangat cepat dari arah belakang dan melilit tubuhnya dengan sangat kuat.


Fang Yin terlihat berkonsentrasi untuk mengeluarkan api hitamnya dan membakar sulur yang mengikatnya. Seluruh meridiannya seperti tertutup dan terhalang untuk menjalankan perintah yang dikirimkannya dari inti pikiran.


Tubuh Fang Yin sangat sulit untuk digerakkan tetapi dia tidak ingin pasrah. Dia terlihat meliuk-liukkan saat mencoba untuk melepaskan diri dari lilitan sulur-sulur itu.


"Yin'er, maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu dengan baik. Sepertinya aku tidak pantas untukmu." Jian Heng mulai kehilangan harapan karena dia sendiri juga sulit untuk melepaskan dirinya.


Ekspresi wajahnya menunjukkan keputusasaan yang memaksanya menyerah pada keadaan. Tidak seharusnya dirinya merasa menjadi orang paling kuat dan bisa mengalahkan siapapun.


"Jangan menyalahkan dirimu, Kak Heng. Akulah yang membawamu dalam bahaya. Apapun yang akan terjadi mari kita hadapi bersama." Fang Yin mencoba tenang meskipun wajahnya menunjukkan jika dirinya sangat cemas.


Sebuah kuncup bunga raksasa muncul dari tengah pusat esensi. Di sekitar bunga dikelilingi oleh kristal-kristal es yang membentuk lingkaran. Kuncup bunga itu mirip seperti bunga teratai berwarna putih dengan ukuran panjang dua kali tinggi manusia.


Sulur yang mengikat Fang Yin menariknya menuju ke arah kelopak itu.

__ADS_1


"Yin'er! Yin'er!" teriak Jian Heng yang tetap berada di tempatnya dan tidak bisa melakukan apa-apa.


Fang Yin tidak bisa mengendalikan tubuhnya dan hanya bisa menerima keadaan saat sulur itu terus menariknya mendekati kuncup.


Perlahan kuncup bunga itu membuka lalu menelan tubuh Fang Yin dengan cepat.


Meskipun merasa sangat panik, Fang Yin tidak ingin panik dan membuat Jian Heng semakin cemas. Dia hanya menatap kekasihnya yang terus berteriak dengan mata sayunya hingga kuncup bunga yang mengelilinginya perlahan kembali tertutup.


Jian Heng menunduk lemas karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa melihat Fang Yin yang telah tertelan oleh bunga teratai raksasa yang tiba-tiba muncul.


Kaki Fang Yin seperti telah terikat di dasar bunga teratai meskipun tidak ada sulur yang melilitnya. Sulur yang melilit tubuhnya perlahan lepas dan keluar dari dalam kelopak melalui celah di ujung kelopak yang hampir tertutup.


'Yang Hui! Yang Hui! Apakah kamu mendengarku?' Fang Yin memanggil roh naga berharap dia mau menjawabnya.


'Kamu tidak perlu khawatir bunga ini tidak akan memakanmu. Sudah, jangan menggangguku untuk hal yang tidak penting seperti ini,' jawab Yang Hui di dalam inti pikiran Fang Yin.


'Sial! Main pergi saja. Harusnya kamu menemani aku di sini.' Kata-kata Fang Yin tidak dipedulikan lagi oleh Yang Hui.


Fang Yin merasakan hawa yang sangat dingin ketika dirinya berada di dalam teratai raksasa itu. Bunga es mulai muncul di permukaan kulitnya. Semakin lama bunga-bunga itu berkembang menjadi kristal-kristal kecil.


'Aku tidak sedang menggunakan Qi Awan Salju. Tidak seharusnya muncul gejala alam ini. Bahkan aura energi ini terasa begitu dingin menusuk.' Fang Yin hanya bisa merasakan dan melihat perubahan tubuhnya tanpa bisa melakukan apapun.


Bukan hanya bagian luar tubuhnya saja yang membeku, darah dan organ dalamnya juga merasakan hal yang tidak jauh berbeda. Fang Yin berusaha keras untuk menahannya, tanpa kekuatannya dia masih merasakan hal yang sama seperti seorang manusia biasa.


Kristal es memenuhi ruang bagian dalam bunga teratai dan membungkus tubuh Fang Yin. Keadaan ini membuat Fang Yin kehilangan kesadarannya dan memasuki alam bawah sadarnya.


Dia seperti sedang berada di dalam sebuah dimensi yang berupa daratan bersalju tebal. Tidak ada orang lain di sana. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan salju luas tanpa batas.


Fang Yin berjalan ke sembarang arah dan berharap bisa menemuka sebuah petunjuk. Setiap ruang dimensi memiliki misteri yang berbeda-beda. Dalam keadaan sadar pun dirinya tidak bisa menebaknya apalagi ketika jiwanya saja yang tinggal di dalamnya.


'Dimensi salju ini berbeda dengan dimensi salju yang kumiliki. Dimensiku bisa aku datangi dengan sadar bersama tubuh fisikku. Berbeda dengan dimensi ini yang hanya ada di alam bawah sadarku.' Fang Yin mencoba menganalisa.


Hingga beberapa saat dirinya berjalan tetapi tidak menemukan apapun. Dimensi ini seperti sebuah tempat yang kosong.


Hembusan nafas Fang Yin mirip seperti kepulan asap yang menyebar ke udara lalu berubah menjadi titik-titik air yang lembut.


Suasana di alam dunia berbeda dengan yang ada di alam dimensi tempat Fang Yin berada. saat ini dunia sedang gelap gulita karena malam telah datang. Namun, di dimensi ini terlihat terang dengan cahaya yang temaram.


Langit yang semula tenang mulai terlihat aneh. Sebuah pusaran awan bergerak turun secara perlahan.


Awan itu turun kira-kira dua puluh langkah dari tempat Fang Yin berada.


"Apa ini?" Fang Yin bangkit dan melihat apa yang ada dibalik gumpalan awan dan salju yang menutupi udara di sekelilingnya.


Setelah benar-benar terhenti, muncul seseorang dari dalam pusat awan yang telah menghilang itu. Seorang wanita berambut putih panjang dengan mahkota yang berkilauan di atas kepalanya. Tangan kanannya membawa sebuah benda bersinar yang belum jelas wujudnya.


Wanita itu berjalan mendekati Fang Yin yang terbengong. Hingga dia berhenti beberapa saat, Fang Yin masih sulit untuk menguasai dirinya.


"Selamat datang keturunan suku es yang pemberani," sapa wanita itu.


"Selamat datang, eh, maaf aku teringat Kak Da Xia saat melihatmu." Fang Yin tidak mengenal siapa wanita di hadapannya tetapi wajahnya yang teduh membuatnya yakin jika dia datang bukan untuk membawa permusuhan.


"Da Xia? Maaf aku tidak mengenalnya. Aku hanya mengenalimu dan merasakan jika kamu cukup kuat untuk menerima pusaka ini dan menggunakannya untuk kebaikan." Wanita itu menunjukkan sebuah batu mustika yang berkilauan.


Fang Yin mundur satu langkah. Aura energi dari mustika es itu begitu kuat menekan tubuhnya. Dia memegangi dadanya yang bergetar.


"Jangan takut! Kamu hanya akan merasakan sedikit sakit. Waktu kita tidak banyak, tubuh fisikmu akan mati jika kamu terlalu lama berada di sini," ucap wanita asing itu.


"Siapa kamu? Bagaimana bisa kamu memblokir seluruh kemampuanku?" tanya Fang Yin.


"Itu tidak sulit karena aku sudah mengambil darahmu sebelumnya. Aku adalah roh pelindung mustika es yang sudah aku jaga selama ribuan tahun. Mulai hari ini aku akan menitipkannya padamu."


Fang Yin tampak diam berpikir. Setelah ini dia tidak akan tinggal di Gunung Perak. Bagaimana mungkin dia akan membawa pusaka ini ke luar wilayah.


Jika mustika ini yang diperebutkan oleh suku es dan suku gletser, maka akan kembali terjadi perang saudara jika tidak ada keadilan untuk meletakkan pusaka ini di tempat yang tepat.


"Maaf, aku tidak akan menyerap energi dari mustika ini sendirian. Aku tahu kamu mempercayaiku untuk menjaganya, tetapi aku tidak bisa menerimanya. Jika kamu setuju, aku akan membuatkan prasasti untuk mustika ini dan mengikatnya dengan mantra terkuat. Kamu bisa menjaganya tanpa mengganggu fungsi dari mustika ini memancarkan kekuatannya kepada seluruh penduduk Gunung Perak." Fang Yin tidak bersedia memiliki seluruh kekuatan mustika es demi ambisinya.

__ADS_1


"Bukankah semua orang menginginkan kekuatan yang besar untuk menakhlukkan dunia? Dengan mustika ini kamu bisa membekukan satu benua dalam satu jentikan jari."


"Apakah kamu sedang mempengaruhiku atau sedang mengujiku? Aku tidak takut padamu meskipun kamu telah memblokir kekuatanku." Fang Yin mulai menunjukkan sifatnya yang sebenarnya.


Sangat sedikit kesabarannya. Dia selalu bersikap tegas tanpa rasa takut. Selama dia berada di jalan yang benar, dia sangat yakin restu alam semesta akan membantunya untuk menang.


"Bagus! Ini jawaban yang aku inginkan! Ingat janjimu, aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum prasasti itu ada." Setelah mengatakan itu wanita itu tiba-tiba menghilang.


Pandangan mata Fang Yin seketika berubah menjadi gelap dan tubuhnya merasakan dingin membeku. Perlahan es yang mengelilinginya menghilang kemudian kelopak teratai membuka secara perlahan.


Seiring dengan terbukanya kelopak itu, tubuh Fang Yin pun ikut mengalami perubahan. Warna rambutnya berubah menjadi putih dengan mahkota berlian muncul di kepalanya.


Aura energi bersinar terang menerangi kegelapan malam. Hingga kelopak itu terbuka sepenuhnya mata Fang Yin masih terpejam.


Jian Heng yang semula tertunduk dalam kesedihan perlahan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah cahaya terang yang muncul dihadapannya. Tersungging sebuah senyuman di wajahnya meskipun masih terlihat sisa-sisa air mata di pipinya.


Sebelumnya dia merasa benar-benar telah kehilangan Fang Yin.


"Yin'er," bisiknya lembut.


Sulur yang melilit tubuh Jian Heng perlahan terlepas. Ikatan yang terlalu kuan membuat tubuhnya sulit digerakkan karena mati rasa. Sulur-sulur itu bergerak menuju ke pusat esensi energi dan masuk ke dalam bumi bersama teratai raksasa yang membungkus tubuh Fang Yin.


Fang Yin membuka matanya dan melihat Jian Heng berjalan perlahan menghampirinya. Tangannya mengulur ke depan dan menarik tubuh Jian Heng mendekat.


"Pupil matamu juga berubah menjadi biru, Yin'er," ucap Jian Heng ketika mereka telah berdiri berhadapan.


Fang Yin yang masih setengah dikendalikan oleh roh pelindung mustika es hanya bisa mengangguk. Dia lalu menggerakkan tangannya untuk membuka mantra pelindung yang dibuat olehnya.


"Kak Heng, tolong bantu aku untuk mengambil batu yang menjulang di atas bukit itu," tunjuk Fang Yin.


Jian Heng tidak tahu apa yang diinginkan Fang Yin, dia menatapnya tak mengerti.


"Aku ingin membuat prasasti pada pusat energi ini," jelas Fang Yin kemudian.


"Baiklah, mari kita lakukan."


Fang Yin dan Jian Heng menarik batu yang masih tertancap kuat di dalam tanah. Butuh energi yang besar untuk mengangkatnya ke permukaan dan membawanya ke pusat esensi energi.


Batu setinggi sekitar lima meter dengan dia meter kurang dari satu meter itu bergerak perlahan lalu jatuh tepat di tempat yang ditandai.


"Uhuk! Uhukk!" Fang Yin dan Jian Heng terbatuk dan terengah-engah.


Mereka mengeluarkan darah segar akibat mengalami luka dalam. Sepertinya sulur teratai pelindung itu memiliki racun energi yang mengendap di tubuh keduanya.


"Batu ini masih condong. Aku akan menekannya lagi agar tertancap lebih dalam." Fang Yin melompat ke udara setelah menyeka darah di sudut bibirnya.


"Tunggu! Aku akan membantumu," ucap Jian Heng melompat menyusul Fang Yin.


Mereka menekan batu itu bersama-sama dengan energi yang terbatas. Mengeluarkan energi yang berlebih akan membuat keadaan mereka semakin memburuk.


Setelah batu prasasti itu tertanam lebih dari separuh ukurannya, mereka lalu turun.


"Aku sudah memenuhi janjiku. Sekarang biarkan aku pergi dari sini." Fang Yin menyimpan kembali aura energinya dan mengubah penampilannya seperti sebelumnya.


Wujudnya berubah seperti dirinya yang sebelumnya tetapi tidak dengan pupil matanya yang tetap berwarna biru.


"Yin'er, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jian Heng penasaran.


"Aku akan menceritakannya dalam perjalanan pulang. Ibu pasti sangat mengkhawatirkan kita jika tidak segera kembali." Fang Yin mengeluarkan artefak daun dari dalam cincin penyimpanannya.


Jian Heng mengangguk lalu mengikuti Fang Yin naik ke atas artefak daun. Mereka melesat melintasi kegelapan malam menuju ke kediaman Shi Jun Hui.


Selepas kepergian mereka, batu prasasti itu bergerak meninggi secara perlahan.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2