
Jian Heng melihat pria yang mengikat wanita itu telah pergi. Semua orang menatap ke mana Jian Heng melangkah. Mereka menduga-duga jika Jian Heng ingin pergi untuk menghampiri wanita yang terikat tersebut.
Beberapa langkah lagi Jian Heng akan mencapai wanita yang terikat itu. Namun seseorang datang tiba-tiba dan menarik tangannya dari arah samping. Jian Heng terkejut, tetapi dia bisa segera mengendalikan situasi dengan baik.
"Mau apa kamu?" tanya pria yang mengikat wanita itu. Rupanya dia sejak tadi sudah mengawasi gerak gerik Jian Heng yang merupakan orang baru di sana.
Tidak ada ketakutan di wajah Jian Heng. Dia terlihat tenang dan tetap menghadapi pria itu dengan wajah datarnya. Pria itu melepaskan tangannya ketika merasakan hawa panas dari tubuh Jian Heng.
"Aku mau menolong wanita ini. Kasihan sekali dia. Luka-luka ditubuhnya sangat banyak dan mengeluarkan darah. Dia bisa mati kalau terus dibiarkan seperti ini," ucap Jian Heng berbicara terus terang pada pria itu.
"Sebaiknya kamu tidak mencampuri urusanku. Di negara ini, tidak dibiarkan wanita pembangkang. Kamu tidak tahu masalah kami, jadi lebih baik kamu menyingkir dan melupakan masalah ini." Pria itu berbicara tanpa perasaan bersalah sama sekali.
Wushh!
Jian Heng melemparkan sebuah energi dan membuat wanita itu terlepas dari ikatannya. Namun tubuhnya yang terluka membuatnya tidak mampu untuk berdiri dengan benar.
Ketika Jian Heng bermaksud untuk membantunya, pria itu kembali menghalanginya. Kesabarannya menghilang. Dari tangannya muncul sebuah cambuk dan bersiap untuk melawan Jian Heng.
"Kamu yang memaksaku untuk bertarung melawanmu. Jangan salahkan aku jika kamu harus kehilangan nyawa karena membela wanita itu!" Pria itu terlihat sangat marah pada Jian Heng dan memukul-mukulkan cambuk itu ke udara.
Semua lampion yang ada di jalan itu telah menyala karena senja telah berlalu. Jian Heng tidak mengeluarkan senjata apapun dan bersiap untuk menghadapi pria itu dengan tangan kosong.
Warga yang melihat kejadian itu berkumpul, tetapi tidak berani berdiri terlalu dekat dengan Jian Heng dan pria itu. Saat berdiri tepat di depan wanita itu, Jian Heng melemparkan bekal minumnya untuknya.
Wanita itu pun segera meminumnya karena sangat kehausan. Bibirnya yang terluka membuatnya sulit sekali untuk berbicara meskipun sekedar mengucapkan terimakasih pada Jian Heng.
Pria itu semakin beringas saat melihat apa yang dilakukan oleh Jian Heng. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia mengayunkan cambuknya ke arah Jian Heng.
Tangan kanan Jian Heng mengibas ke depan dan membuat udara di sekitarnya menjadi padat. Tubuh pria itu terdorong ke belakang sebelum ujung cambuknya menyentuh tubuh Jian Heng.
Pria itu sedikit terperanjat, tetapi dia tidak ingin mundur. Dirinya masih merasa penasaran dengan kekuatan yang dimiliki oleh Jian Heng. Dia merasa belum mengeluarkan seluruh kemampuannya dan yakin bisa mengalahkan Jian Heng.
Wajah Jian Heng yang terlihat masih muda membuat pria itu berpikir jika lawannya itu masih berada di tingkat kultivasi ranah bumi. Sementaranya dirinya telah berada di ranah langit bintang menengah.
Apa yang dia lihat belum tentu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Dia tidak tahu jika Jian Heng telah berada jauh di atasnya. Di usianya yang masih sangat muda dia telah melampaui para kultivator yang berusia lebih tua darinya.
__ADS_1
Pria itu kembali mengayunkan cambuknya dengan energi yang lebih besar. Namun gerakan tangannya terasa sangat lambat.
Udara di sekelilingnya kembali memadat dan membuat pergerakannya seakan terkunci. Pria itu mundur perlahan meskipun kakinya sedikitpun tidak bergerak. Energi Jian Heng yang menekan tubuhnya dan membuat tubuhnya terdorong ke belakang.
Jian Heng merasa sangat malas untuk bertarung dan tidak ingin membuat kekacauan di sana. Tujuannya hanyalah menyelamatkan wanita yang tidak berdaya itu dan memperlakukannya layaknya seperti manusia.
Untuk mengakhiri perjuangan pria itu, Jian Heng mengangkat kakinya sedikit lalu menghentakkan ke tanah. Tubuh pria itu terdorong dengan kuat ke belakang lalu terjatuh dengan luka dalam yang tidak dia sadari.
Tanah di sekitar Jian Heng bergetar dan membuat sebagian orang merasa ketakutan. Mereka merasakan aura menakutkan keluar dari tubuh Jian Heng.
Pria itu memuntahkan darah segar dan memegangi dadanya yang terasa panas. Jian Heng telah menyerangnya dengan Jurus Penekan Nadi yang tak terlihat. Setidaknya butuh waktu selama tiga hari untuk membuat luka dalam itu pulih.
"Tuan. Tolong bawa aku pergi dari sini!" ucap wanita itu memohon pada Jian Heng dengan berlutut di hadapannya.
Jian Heng memutar tubuhnya dan memikirkan cara yang akan dia lakukan untuk mengatasi masalah ini. Tidak mungkin baginya untuk membawa wanita ini pergi bersamanya. Perjalanan yang akan dia lalui masih menjadi misteri dan tidak tahu bahaya apa yang ada didepannya nanti.
Tidak jauh dari tempat Jian Heng berada, berdiri seorang wanita paruh baya yang terlihat peduli pada wanita yang disiksa tadi. Wanita itu terlihat ketakutan saat Jian Heng berjalan mendekatinya.
Jian Heng membuka telapak tangannya lalu muncul beberapa keping koin emas. Sesampainya di hadapan wanita itu, Jian Heng memberikan uang emas itu padanya.
Wanita paruh baya itu menerima uang emas itu dengan ragu-ragu dan mengangguk mendengar apa yang diperintahkan oleh Jian Heng.
Wanita paruh baya itu, rupanya juga ingin pergi bermigrasi dari negara itu. Dengan berbekal segenggam uang emas dari Jian Heng, setidaknya mereka berdua bisa bertahan hidup untuk beberapa waktu di negara lain sebelum mendapatkan mata pencaharian.
Malam itu juga, kedua wanita itu pergi meninggalkan Benua Utara menuju ke Benua Timur yang berada paling dekat dan berbatasan langsung dengan tempat tinggal mereka saat ini.
Jian Heng memilih untuk tinggal di pinggir desa ketimbang menyewa penginapan untuk beristirahat malam itu. Dia lebih menyukai alam bebas dan ingin menikmati pemandangan alam luas di malam hari selagi dia berada di luar.
Makanan yang dia beli sudah dingin. Namun Jian Heng tetap memakannya seorang diri. Untuk menghangatkan tubuhnya, dia membuat perapian dari ranting-ranting kering yang ada di sekelilingnya.
Untuk memulihkan tenaganya yang sedikit berkurang, Jian Heng melakukan kultivasi di sana. Esensi energi di tempat itu tidak begitu besar karena kerusakan alam yang terjadi akibat pembukaan lahan untuk pemukiman warga.
Jian Heng membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk memulihkan energinya.
'Xiao Yin, sudah berapa kitab yang kamu dapatkan? Aku dengar Benua Utara menyimpan dua Kitab Sembilan Naga. Apakah kamu juga sedang berada di negeri ini?' Jian Heng menatap bintang di angkasa sambil membayangkan wajah Fang Yin.
__ADS_1
Matanya terasa semakin berat dan memaksanya untuk terlelap di malam itu. Rasa lelah mengantarkannya pada alam mimpi di mana dia tidak lagi mengingat semua yang terjadi di alam nyata.
Kewaspadaan Jian Heng tidak seperti Fang Yin yang selalu memasang mantra pelindung sebelum dia tertidur. Begitu juga dengan malam ini, Jian Heng tidak menggunakan pelindung apapun di sekitarnya.
Dia tidak menyadari dengan hal buruk yang mengintainya. Beberapa orang datang ke tempat peristirahatannya. Mereka melemparkan serbuk tidur ke perapian Jian Heng dan membiarkan dia menghirupnya untuk beberapa saat.
Setelah di rasa Jian Heng tidak akan terbangun dalam waktu dekat, mereka segera mengangkatnya dan membawanya pergi dari tempat itu. Orang-orang itu adalah suruhan dari pria yang bertarung bersama Jian Heng sore tadi.
Mereka menangkap Jian Heng untuk menggantikan hukuman wanita yang telah kabur dari desa itu. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Jian Heng diikat di tiang tempat wanita yang dia lepaskan diikat sebelumnya.
Saat matahari mulai meninggi Jian Heng baru tersadar dari tidurnya dan merasakan tubuhnya terlilit oleh rantai besi. Di sekelilingnya berdiri beberapa orang pria tegap yang langsung bersikap waspada ketika melihat Jian Heng terbangun.
Jian Heng mencoba untuk menggerakkan tubuhnya tetapi ikatan rantai besi itu terlalu kuat. Namun Jian Heng malah tersenyum ketika menyadari rantai besi yang melilitnya itu adalah besi langka yang telah berusia ribuan tahun.
Hawa dingin yang ditimbulkan oleh besi itu berasal dari meteor yang menjadi campurannya. Jian Heng merasa sangat beruntung karena menemukan besi langka itu di sini.
"Kamu sudah sadar rupanya." Pria itu menepuk-nepuk cambuk yang dia pegang di telapak tangan kirinya.
Dia merasa kali ini dialah yang akan menang. Dalam keadaan terikat, pria itu merasa sangat yakin jika dia bisa membalaskan dendamnya untuk mengalahkan Jian Heng. Tangannya sudah merasa gatal untuk mencambuk tubuh Jian Heng hingga seluruh kulitnya mengelupas.
"Ternyata selain lemah kamu juga seorang pengecut. Kamu senang menyiksa orang yang sedang berada dalam keadaan tidak berdaya." Jian Heng tetap berbicara dengan tenang.
Tidak ada kekhawatiran di wajahnya. Dengan sedikit aliran Qi rantai besi itu akan meleleh dan bisa dia gunakan sebagai tameng untuk melindungi tubuhnya. Jian Heng memiliki kekuatan yang mampu melelehkan besi dan logam jenis apapun.
"Apakah sekarang kamu merasa takut padaku? Sayang sekali kamu tidak bisa kabur dari ikatan besi itu." Pria itu tersenyum mengejek pada Jian Heng dan melangkah penuh percaya diri menghampirinya.
Cambuk yang sedari tadi dipegangnya, kini dia buka dan diangkat tinggi-tinggi. Meskipun mengalami luka dalam yang cukup serius, pria itu terlihat tidak sabaran. Dia tetap mengeluarkan Qi dari dalam dantiannya dan tidak memikirkan dampak buruk yang akan dia alami setelah ini.
"Bodoh! Kamu telah melakukan bunuh diri. Pembuluh darah di jantungmu telah rusak. Setidaknya kamu butuh waktu tiga hari untuk membuatnya pulih." Jian Heng tersenyum mengejek pada pria itu.
Belum kering bibir Jian Heng setelah berkata-kata. Pria itu terbatuk-batuk dan memegangi dadanya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya tetap memegang cambuk dan tidak menghentikan energi yang telah mengalir di sana.
****
Bersambung ....
__ADS_1