
Selir Ning begitu fokus berlatih sehingga dia tidak menyadari kedatangan Fang Yin yang muncul dari arah belakang. Tidak lama kemudian keluarga Fang Yin pun menyusul dibelakangnya. Semua orang itu tertegun melihat kemampuan Selir Ning yang tiba-tiba meningkat.
Fang Yin dan Selir Shi tahu benar jika jurus yang dimainkan oleh Selir Ning saat ini adalah jurus milik Kaisar Gu. Sebagai jurus warisan Klan Gu, hanya sedikit orang saja yang menguasainya. Tingkat kesulitan yang tinggi juga tidak memungkinkan sembarang orang untuk mempelajarinya.
Ibu dan anak itu saling berpandangan. Mereka berpikir jika kekuatan jiwa Kaisar Gu yang membuat Selir Ning memiliki kemampuan yang sama dengannya.
Melihat kemampuan Selir Ning yang begitu hebat membuat Shi Jun Hui dan Yu Ruo berpikir lain. Mereka menganggap ini sebagai sesuatu yang berbahaya. Menurut mereka ini akan menjadi ancaman jika Selir Ning berubah pikiran dan menyerang pasukan Fang Yin dari dalam.
"Yin'er, Selir Ning terlihat begitu hebat. Apakah tidak sebaiknya kita menyingkirkannya saja sebelum menjadi duri dalam daging ke depannya?" Shi Jun Hui akhirnya angkat bicara.
"Tidak!" Fang Yin dan Selir Shi menjawab secara bersamaan.
Yu Ruo dan Shi Jun Hui saling berpandangan. Sedangkan Shi Han Wu tampak diam berpikir. Meskipun matanya buta, tetapi dia bisa melihat dengan jelas kekuatan jiwa lain di tubuh Selir Ning.
"Ada kekuatan jiwa lain di tubuh Selir Ning. Mungkin itu yang membuatnya begitu hebat. Aku tidak merasakan hawa iblis atau aura negatif dari dirinya. Sangat sedikit kemungkinannya dia akan berkhianat," jelas Shi Han Wu.
Fang Yin membenarkan dengan anggukan begitu juga. Wajahnya terlihat begitu sedih mengenang jurus itu. Di masa lalu, Kaisar Gu mengajarkan jurus itu secara langsung padanya.
Kenangan manis bagi seorang Fang Yin di mana di dan ayahnya tidak memiliki banyak waktu untuk bersama. Sebagai seorang putri, dia memiliki waktu yang lebih sedikit untuk berlatih bersama ayahnya daripada kakak-kakaknya. Dia lebih banyak di latih untuk belajar etika dan kegiatan kewanitaan lainnya.
Keinginan yang kuat untuk berlatih membuat Fang Yin kecil mencuri waktu untuk berlatih sendiri. Di saat anak-anak lain belajar menyulam, dia mengambil pedang dan mencuri pinjam kitab bela diri milik ayahnya. Pada akhirnya dia mempelajari sedikit isi dari Kitab Sembilan Naga bintang satu yang membuat jiwanya terikat dengan jiwa Agata.
"Apa rencanamu, Yin'er?" tanya Jian Heng tidak sanggup menatap wajah sedih Fang Yin terlalu lama.
Mendengar pertanyaan Jian Heng, Fang Yin mengangkat wajahnya yang tertunduk. Wanita yang biasanya terlihat kuat dan tidak pernah menyerah itu menunjukkan sisi lemahnya di hadapan orang-orang yang disayanginya.
"Aku melihat jiwa ayah hidup di dalam tubuh Selir Ning," gumamnya dengan suara pelan. Meskipun begitu semua orang bisa mendengarnya dengan jelas.
Keluarganya membiarkan Fang Yin berjalan pelan meninggalkan mereka. Beberapa hari ini hanya dia yang masih mengacuhkan Selir Ning. Mungkin setelah peristiwa ini hubungan keduanya akan membaik.
Selir Ning menghentikan latihannya saat melihat Fang Yin berjalan mendekatinya. Api ditubuhnya perlahan menghilang seiring dengan tubuhnya yang bergerak turun ke bumi. Matanya yang lembut menatap Fang Yin penuh kasih sayang.
'Sorot mata Selir Ning tidak sama dengan sorot matanya di masa lalu. Kemarahan dan dendam membuatku buta dan tidak bisa melihat kebenaran. Maafkan aku ayah,' bisik Fang Yin dalam hati.
"Yin'er. Aku sudah baik-baik saja. Sudah lama aku tidak berlatih," jelas Selir Ning yang mengartikan tatapan Fang Yin sebagai larangan.
Fang Yin tidak menjawab dan terus berjalan mendekati Selir Ning.
Selir Ning terlihat bingung. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Fang Yin. Sikapnya yang begitu misterius membuatnya sulit untuk ditebak.
Mereka berdua kini berdiri sangat dekat. Selir Ning sedikit mengangkat wajahnya karena Fang Yin lebih tinggi darinya. Cukup lama mereka terdiam.
Keluarganya memberi waktu bagi Fang Yin untuk berdamai dengan masa lalunya. Mereka tahu akan jalan berliku dan penderitaan yang dialaminya. Siapapun tidak akan menyalahkannya jika dia begitu membenci Selir Ning.
"Sejak kapan kamu menguasai jurus yang baru saja kamu mainkan?" tanya Fang Yin dengan wajahnya yang datar.
Selir Ning berhenti menatapnya dan melihat ke arah lain. Semuanya terjadi begitu cepat dan tidak tahu dari mana dia harus memulai. Hatinya menimbang-nimbang dan merasa tidak mungkin lagi dirinya untuk berbohong.
"Aku mohon jangan menyalahkanku untuk ini, Putri Gu. Apa yang aku alami sangat sulit kuterima dengan akal sehatku. Aku berharap dengan kemampuan ini aku bisa sedikit membantumu dalam agenda penyerangan. Setidaknya aku tidak menjadi beban bagi orang lain dan bisa melindungi diriku sendiri." Selir Ning menghela nafas sambil menerawang jauh melihat ke kejauhan.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu sejak kapan kamu memiliki kemampuan ini?" Fang Yin mengulang pertanyaannya dan tidak menyukai sesuatu yang berbelit-belit.
"Baru saja," jujur Selir Ning.
Jawaban singkat itu menjadi kunci keyakinan Fang Yin di mana kekuatan jiwa ayahnya memang telah menyatu di tubuh Selir Ning. Tidak ada keraguan lagi baginya dan sepenuhnya dia akan mempercayai ibu sambungnya itu setelah ini.
Kejadian tak terduga membuat Selir Ning tersentak di mana Fang Yin tiba-tiba memeluknya dan terisak. Momen haru itu membuat Selir Ning pun ikut terbawa suasana. Mereka berdua menangis tanpa suara dan menumpahkan segala perasaan yang sekian lama tertahan.
Keluarga Fang Yin meninggalkan tempat itu dan membiarkan Selir Ning dan Fang Yin berbicara dari hati ke hati.
Butuh keberanian untuk mengakui kesalahan dan butuh ketulusan untuk memaafkan kesalahan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah hidup mereka di mana dendam dan rasa iri bisa menghancurkan segalanya.
Meskipun banyak mengalami cobaan dan rasa sakit, tetapi Fang Yin masih menempatkan keluarga di atas keegoisannya. Sebelum kekuatan jiwa Kaisar Gu menyatu di tubuh Selir Ning, dia sudah melihat ketulusannya untuk meminta maaf. Namun, rasa benci akibat pendeitaannya baru menghilang hari ini.
"Terimakasih telah memaafkanku, Putri Gu." Selir Ning memecah keheningan setelah sekian lama terdiam.
Keduanya melepaskan pelukannya lalu menyeka sisa-sisa air mata di pipi mereka masing-masing.
"Tidak perlu dibahas lagi. Antara seorang anak dan orang tua tidak baik menyimpan dendam." Fang Yin mengatakan orang tua untuk menyikapi dua jiwa di tubuh Selir Ning.
"Kamu pantas untuk disayangi oleh semua orang. Sejak kecil kamu sudah menjadi cahaya bagi Kekaisaran Benua Timur. Jangan pernah redup bintang kecilku." Selir Ning mengusap bahu Fang Yin pelan.
Ucapan Selir Ning sama seperti kata-kata yang selalu diucapkan oleh Kaisar Gu ketika mereka bersama. Dirinya seperti telah melintasi waktu dan kembali hidup di masa lalu bersama keluarganya yang utuh.
Mereka berjalan menuruni bukit untuk pulang ke kediaman keluarga Fang Yin. Walaupun telah berdamai, mereka tidak banyak berbicara. Keduanya memilih diam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Jian Heng terlihat sedang duduk di teras dan mengobrol bersama seorang wanita. Wanita itu bukan nenek atau ibunya. Posisinya yang memunggunginya membuatnya tidak bisa melihat siapa orang itu.
Selir Ning baru menyadari jika Fang Yin tertinggal di belakang karena kecepatan langkah mereka yang berbeda. Merasa ada yang aneh dengan sikap putri sambungnya, dia pun mengikuti arah pandangannya dan mendapati Jian Heng sedang duduk bersama seorang wanita.
"Apa yang kita lihat terkadang tidak seperti kenyataannya." Selir Ning menyamakan langkahnya dengan Fang Yin.
Fang Yin menatap wajah Selir Ning sesaat dan merasakan tatapan lembutnya. Semua yang dikatakannya memang benar, tidak seharusnya dia berpikir yang tidak-tidak tentang Jian Heng. Seharusnya apa yang telah dia korbankan untuknya cukup membuatnya percaya jika hanya dirinya wanita satu-satunya yang ada dihatinya.
Ucapan Selir Ning mengalirkan energi positif di hati Fang Yin dan membuatnya tersenyum penuh arti. Suasana hatinya berubah dengan begitu cepat dan membuatnya kembali bersemangat. Langkah kakinya terasa ringan dengan wajahnya yang berseri.
"Yin'er!" panggil Jian Heng dengan wajah piasnya. Dia takut jika Fang Yin salah paham dan menghajar An Hui.
"An Hui memberi hormat untuk Nona Yin dan Nyonya Ning." An Hui berdiri dan memberi hormat pada Fang Yin dan Selir Ning.
Fang Yin hanya tersenyum dan melirik sebuah kotak makanan yang dibawa oleh An Hui. Kotak itu bersusun yang menandakan jika makanan di dalamnya tidak hanya satu macam saja.
"Kamu jangan salah paham, Yin'er. Kami hanya mengobrol sebentar sesaat sebelum kamu pulang," jelas Jian Heng.
"Hmm." Fang Yin tidak mengatakan kata-kata lain dan segera mengambil kotak makanan lalu masuk ke dalam rumah.
Jian Heng mengikutinya tetapi tidak dengan An Hui dan Selir Ning. Mereka memilih untuk tetap berada di luar. Kelihatannya rumah itu sangat sepi dan tidak ada orang lain di sana selain mereka.
Selir Ning mengajak An Hui duduk bersama dan mengobrol bersamanya. Meskipun sebelumnya mereka belum saling mengenal, sikap ramah Selir Ning membuatnya merasa nyaman.
__ADS_1
Mengingat kecemburuan Fang Yin, Selir Ning juga menyinggung masalah ini kepada An Hui. Jian Heng memang sosok sempurna yang pantas untuk dikagumi, dia tidak menyalahkan An Hui mengaguminya. Namun, Selir Ning memperingatkan An Hui untuk tidak memaksakan kehendak jika Jian Heng tidak ingin memiliki selir.
An Hui mengangguk. Dia menceritakan pada Selir Ning bahwa dia berhutang nyawa pada Fang Yin. Secara sekilas dia mengulas kembali tentang ketegangan yang terjadi sebelum kedatangan Fang Yin.
Tanpa campur tangan dari Fang Yin, mungkin hingga saat ini suku es dan suku gletser masih bersitegang hingga saat ini. Kabar yang menggembirakan bagi Selir Ning yang semakin yakin jika putri sambungnya itu akan membawa perubahan yang besar bagi Kekaisaran Benua Timur.
***
Hari keberangkatan Fang Yin dan Jian Heng telah tiba. Tidak ada yang diberi tahu mengenai kepergiannya selain keluarganya. Mereka berniat untuk pergi sebentar saja karena tanggung jawab yang diembannya masih banyak.
Persiapan untuk penyerangan pada waktu yang telah disepakati belum rampung sepenuhnya. Semuanya harus direncanakan dengan matang agar penyerangan berjalan mulus.
Shi Jun Hui dan Shi Han Wu mengantarkan Fang Yin dan Jian Heng ke perbatasan hingga mereka pergi dengan teknik lintas dimensi.
Fang Yin membagi energinya kepada Jian Heng. Keduanya berdiri menghadap ke arah Shi Han Wu dan Shi Jun Hui lalu melambaikan tangannya. Tidak lama kemudian mereka menghilang dari pandangan.
Setelah menguasai seluruh Kitab Sembilan Naga, kemampuan Fang Yin meningkat drastis. Teknik ini telah disempurnakan dan membuat keduanya tiba dengan cepat di istana Kekaisaran Benua Tengah.
Kemunculan mereka mengejutkan prajurit yang berjaga di pintu gerbang dan halaman istana. Mereka berpikir jika keduanya adalah penyusup yang hendak mengacau di sana. Para pengawal mengarahkan tombak dan pedang ke arah Fang Yin dan Jian Heng.
"Apa mata kalian sudah buta?" ucap Jian Heng.
Salah seorang pengawal senior mengenali wajah Jian Heng dan langsung berlutut untuk memberi hormat. Seluruh pengawal yang mengepung mereka menjatuhkan dirinya mengikuti apa yang dilakukan oleh senior mereka.
Jian Heng membalas penghormatan mereka dengan mengangkat tangannya.
"Apakah kamu sudah siap untuk pergi menemui ayah, Yin'er?" tanya Jian Heng.
"Hmm." Fang Yin mengangguk.
Jian Heng membawa Fang Yin pergi menuju ke istana kekaisaran. Dia tidak membawa ke istananya terlebih dahulu karena tujuan mereka adalah untuk bertemu ayahnya dan kembali dengan cepat ke Gunung Perak sebelum semua orang menyadari kepergian mereka.
Para dayang dan pelayan yang berpapasan dengan mereka hampir tidak mengenali Pangeran Ketiga Jian Heng karena pakaiannya yang sederhana. Selain itu, wajah Jian Heng juga terlihat semakin tampan dengan mata birunya. Jika bukan karena Fang Yin yang masih berpenampilan aneh dengan cadarnya, mungkin mereka tetap akan berpikir itu adalah orang lain.
Pengawal yang berjaga di depan gerbang istana Kaisar Xi menghalangi keduanya untuk masuk. Jian Heng melirik jengah padanya dan berniat untuk menghajarnya. Namun, dia berhenti karena Fang Yin menarik ujung bajunya.
Meskipun dia anggota keluarga istana, tetapi saat ini mereka datang sebagai tamu. Jian Heng tidak bisa datang dan pergi sesuka hatinya meskipun tidak ada larangan tertulis untuk itu.
Jian Heng menghela nafas dan mencoba untuk bersabar. Setelah keadaannya benar-benar baik dia baru mulai berbicara.
"Pangeran Ketiga Xi Jian Heng dan Nona Xiao Yin datang untuk menemui Yang Mulia Kaisar. Sudilah kiranya Tuan-tuan sekalian memberi kami jalan untuk melintas," ucap Jian Heng berbicara dengan sopan yang dibuat-buat.
Pengawal itu terkesiap dan langsung memberi hormat kepada keduanya dengan perasaan canggung.
Jian Heng melenggang memasuki halaman istana kediaman ayahnya bersama Fang Yin. Mereka berdua kembali menjadi pusat perhatian.
Wajah Jian Heng tidak sama dengan wajahnya saat pergi meninggalkan istana. Tidak heran jika ibunya sendiri pun tidak mengenalinya ketika dia telah memasuki istana dan berdiri di hadapan keluarganya. Dia membawa Fang Yin melangkah maju lalu bersama-sama memberi hormat kepada ayah dan Permaisuri Xi.
Selir Tang berdiri dengan keterkejutannya. Dia tidak menyangka jika pemuda gagah dan tampan itu adalah putranya. Sampai Jian Heng dan Fang Yin berdiri di hadapannya pun dia masih tertegun.
__ADS_1
****
Bersambung ....