
Sikap diam Jian Heng membuat Fang Yin bertanya-tanya. Perasaan bersalah kini memenuhi hatinya mengingat sikapnya yang terlalu kekanak-kanakan.
"Kak Heng, maafkan aku. Aku memang terlalu manja padamu," sesal Fang Yin.
Jian Heng meletakkan cawan yang telah kosong lalu mengelus rambut Fang Yin dengan lembut. Matanya tidak bisa berhenti menatap wajah ayu di depannya.
"Untuk apa meminta maaf. Aku menyukai semua hal yang ada padamu, termasuk sikapmu yang menjengkelkan sekalipun," sindir Jian Heng.
"Nah, benar, bukan? Aku memang sering membuatmu jengkel."
Fang Yin menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Wajahnya yang sedang merajuk terlihat sangat menggemaskan.
"Jangan suka begitu! Mulai hari ini aku tidak takut lagi untuk menyentuhmu," ancam Jian Heng.
Mata Fang Yin melebar hingga batas maksimal. Kalimat yang baru saja dia dengar seperti mengandung unsur dewasa. Tidak biasanya Jian Heng mengatakan hal-hal seperti ini padanya.
Posisi duduknya yang semula menunduk kini berubah menjadi tegak. Pandangannya masih tidak beralih dari wajah Jian Heng.
Mereka berdua saling berpandangan hingga beberapa saat. Perasaan yang mendalam menyelimuti keduanya. Perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama kini hampir menemui muaranya.
Selir Shi datang bersama dua orang wanita yang membantunya membawa makanan untuk Fang Yin dan Jian Heng. Melihat keduanya sedang larut dalam suasana hati yang sedang berbahagia, dia mengurungkan niatnya untuk masuk.
Tangan Selir Shi memberi isyarat kepada dua wanita yang mengikutinya untuk pergi dari sana bersamanya. Selir Shi memutar badannya untuk kembali ke ruang perjamuan tetapi langkahnya terhenti ketika Fang Yin menyadari keberadaannya.
"Ibu!" panggil Fang Yin.
Selir Shi tersenyum lalu masuk ke dalam ruangannya. Dua wanita yang membantunya pun mengikutinya.
"Bagaimana keadaanmu, Yin'er?" tanya Selir Shi sambil meletakkan mangkuk kosong yang dibawanya di atas meja.
"Sudah sangat baik. Hanya saja aku belum bisa menggunakan Qi selama beberapa waktu."
"Beristirahatlah! Ada begitu banyak orang yang siap mati untukmu. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan."
Fang Yin mengangguk.
Jian Heng merasa tidak enak dan sedikit canggung di hadapan Selir Shi. 'Untung saja aku belum mencium Yin'er. Aku pasti akan lebih malu lagi.'
__ADS_1
Selir Shi mengambilkan makanan untuk Fang Yin dan Jian Heng. Sebelum datang ke sana dia sudah makan terlebih dahulu bersama keluarga yang lainnya.
Meskipun Fang Yin bisa makan sendiri tetapi nalurinya sebagai seorang ibu tidak ingin membiarkan putrinya bersusah payah. Mereka makan tanpa banyak bersuara.
"Jangan terlalu banyak, Ibu. Aku sudah kenyang." Fang Yin berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Kamu terlalu kurus, ingat sebentar lagi kamu akan menikah."
Ucapan Selir Shi membuat Jian Heng tersendak ringan. Selir Shi membantunya mengambil minuman untuknya.
"Apa hubungannya badan kurus dan menikah. Ibu ada-ada saja."
Tangan Fang Yin mendorong ke depan ketika ibunya hendak menyuapkan makanan ke mulutnya. Dia tidak menyukai makan terlalu kenyang di waktu malam.
Jian Heng juga telah selesai dengan makanannya. Kedua wanita itu membawa sisa makanan dan peralatan makan yang kotor ke dapur. Kini tinggal mereka bertiga saja yang tinggal di ruangan itu.
"Ibu, tolong temani Yin'er di sini. Aku akan beristirahat di kamar lain." Jian Heng tidak ingin tinggal sekamar dengan Fang Yin sebelum keduanya menikah.
Keadaan mereka saat ini berbeda dengan keadaan di awal-awal mereka bertemu. Dahulu mereka belum memiliki perasaan mendalam dan juga belum cukup dewasa untuk mengartikan sebuah hubungan.
"Tentu saja. Tetapi kamu tidak perlu terburu-buru. Bukankah sekarang hari masih terlalu sore untuk tidur?" Selir Shi menghalangi Jian Heng pergi.
"Ah, iya. Hari masih sore tetapi aku tidak bisa terjaga lebih lama lagi, Ibu." Jian Heng memasang wajah mengantuknya. Tangannya menutup mulutnya yang sengaja terbuka lebar.
"Sepertinya kamu benar-benar lelah setelah peperangan ini. Pergilah untuk beristirahat."
Selir Shi akhirnya mengalah dan membiarkan Jian Heng beristirahat.
'Sungguh calon mantu yang sempurna,' puji Selir Shi dalam hati.
Jian Heng pergi dari ruangan Fang Yin dengan perasaan tenang. Sebagai seorang ibu tentu Selir Shi akan lebih protektif ketimbang dirinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkannya selama Fang Yin ada yang menemani.
Selir Shi tidak langsung pergi beristirahat. Dia berjalan berkeliling untuk melihat detail kamar yang ditempati oleh Fang Yin. Menurutnya kamar itu sangat indah dan rapi.
Berbeda dengan Selir Shi, Fang Yin tampak malas untuk sekedar mengagumi keindahan ruangannya. Sebenarnya dirinya juga menyukai keindahan tetapi tidak memiliki selera yang bagus untuk menilai sebuah keindahan.
"Apakah ibu menyukai kamar ini?" tanya Fang Yin.
__ADS_1
Selir Shi mengangguk. Dia tidak menyadari ada sebuah maksud yang terselip dibalik pertanyaan Fang Yin.
"Ibu bisa menempati kamar ini selanjutnya. Aku akan meminta seseorang untuk memberiku kamar yang lebih sederhana. Aku tidak suka ada banyak perabot di dalam kamar seperti ini."
Sebenarnya ini hanya alasan Fang Yin agar ibunya mau menempatinya. Dia tahu jika Selir Shi sangat menyukainya. Jika hanya masalah perabot tentu bisa dipindahkan kapan saja dia mau.
"Bukankah kamar ini cocok untukmu, Yin'er?" Selir Shi mengerutkan keningnya.
Fang Yin menggeleng.
"Aku suka kamar yang sederhana dengan sedikit sentuhan ornamen tradisional di dalamnya." Fang Yin membayangkan kamar impiannya.
"Kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Besok ibu akan meminta kakekmu untuk mencarikan ahli pembangunan untuk mengerjakannya."
"Terimakasih, Ibu. Sekarang bolehkah aku pergi untuk beristirahat?" tanya Fang Yin. Wajahnya benar-benar terlihat sangat lelah dan mengantuk.
"Tidurlah!"
Selir Shi segera menyusul Fang Yin berbaring. Sebenarnya dirinya juga merasa sangat lelah.
Para pendukung menempati asrama dan beberapa tempat khusus yang diperuntukkan bagi mereka. Istana Kekaisaran Benua Timur sangatlah luas. Tidak akan kepayahan menampung lebih banyak lagi orang di dalamnya.
Kaisar Xi tinggal di sebuah kamar yang sama dengan Selir Tang. Selain merupakan pasangan menikah, ada hal yang lebih dari itu dibalik sikap manis Kaisar Xi.
Kemenangan yang diraih oleh Fang Yin bukanlah akhir segalanya melainkan awal sebuah kisah baru dimulai. Sebagai orang tua Jian Heng, mereka memiliki segudang rencana untuk menyatukan putranya dengan penguasa Benua Timur yang tidak lain adalah Fang Yin.
"Yang Mulia. Besok Anda harus menemui Heng'er untuk menanyakan mengenai kelanjutan hubungannya dengan Nona Yin." Selir Tang mengingatkan suaminya.
Luka dalam yang dirasakannya membuatnya harus duduk bersandar di pinggir ranjang. Kebahagiaan membuatnya tidak ingin terburu-buru terlelap.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku ya. Semoga berkenan mampir, terimakasih.
__ADS_1