Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 52. Dalam Perjalanan


__ADS_3

"Kelihatannya ayah angkatmu sudah pergi lebih dulu," ucap Jian Heng seakan mengerti apa yang ada dipikiran Fang Yin.


Fang Yin melihat ke arah Jian Heng lalu kembali melihat jalanan.


"Benar. Dia memang selalu seperti itu. Saat aku masih tinggal bersamanya, dia jarang di rumah dan suka pergi." Xiao Yin menceritakan kenangannya.


"Apa pekerjaannya?" tanya Jian Heng penasaran.


"Dia bekerja pada pemerintahan dan menjalankan berbagai misi untuk mengatasi pemberontakan di negeri Benua Timur." Fang Yin menceritakan sesuai apa yang diketahuinya.


'Syukurlah, dia bukan kultivator dari Benua Tengah. Bisa gawat kalau dari sana. Bisa-bisa penyamaranku akan terbongkar,' gumam Jian Heng dalam hati.


Mereka berdua berjalan ke arah timur karena lokasi Sekte Sembilan Bintang berada di perbatasan antara Benua Timur dan Benua Tengah.


Untuk mempercepat langkahnya, setelah keluar dari desa Jian Heng dan Fang Yin menggunakan ilmu meringankan tubuh dan melompat ke atas pohon.


Jian Heng memilih memotong jalur dengan melalui hutan ketimbang melalui jalur yang biasa dilewati oleh orang-orang saat bepergian ke Gunung Telaga Emas. Gunung di mana villa Sekte Sembilan Bintang berdiri.


Villa itu berada di puncak gunung yang tinggi dengan dikelilingi perkampungan di kaki gunung. Perkampungan-perkampungan itu dihuni oleh penduduk pendatang yang memiliki latar belakang dari berbagai suku yang berbeda. Meskipun demikian, mereka sangat rukun dan tidak pernah saling bermusuhan satu sama lain.


Matahari sudah semakin meninggi dan berada tepat di atas kepala mereka. Hal itu menandakan jika hari sudah siang. Mereka belum memakan apapun dari pagi sehingga mereka merasa sangat lapar.

__ADS_1


Jian Heng melihat seekor ayam hutan yang melintas di depannya. Sejak tadi dia memang bergerak sambil memperhatikan sesuatu yang bisa di makan. Tidak ingin membuang kesempatan, Jian Heng segera melemparkan Qi untuk menangkap ayam itu.


Tepat sasaran. Ayam itu tidak bisa bergerak lagi.


Jian Heng melompat turun dari atas pohon dan menghampiri buruannya yang tertangkap. Fang Yin mengikutinya turun dan menyusulnya. Mereka lalu membawa ayam itu ke dekat sungai yang berada tidak jauh dari tempat mereka berhenti.


Jian Heng menyembelih ayam itu lalu membersihkannya. Semula dia ingin membuang seluruh isi dari perut ayam itu. Namun Fang Yin mencegahnya.


Fang Yin mengambil pisau belati miliknya lalu membersihkan hati ayam, usus dan ampelanya. Setelah bersih dia meletakkannya di atas batu lalu memanggangnya dengan Qi Api miliknya.


Awalnya Jian Heng ingin memanggangnya dengan kayu bakar tetapi sepertinya itu akan memakan waktu lama dan menghambat perjalanan mereka. Jian Heng pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Fang Yin. Ayam dan jerohan itu pun matang dengan cepat.


"Terimakasih!" Fang Yin memotong salah satu pahanya.


"Apakah itu enak?" tanya Jian Heng melirik jerohan ayam yang diolahnya.


"Coba saja!" Fang Yin menyodorkannya.


Meskipun Jian Heng adalah seorang pangeran, tetapi dia terbiasa dengan makanan yang sederhana. Berbeda dengan kedua kakaknya yang terbiasa dengan makanan mewah istana. Sudah hampir dua tahun dia belum pulang ke istana dan memilih untuk berpetualang di alam bebas.


Meskipun dia seorang Tetua Sekte, Jian Heng tetap saja mencuri waktu untuk pergi ke alam bebas untuk mencari sesuatu atau sekedar untuk berkultivasi.

__ADS_1


'Daging ayam hutan ini terasa sangat lezat. Apakah itu karena di masak oleh cowok setampan Zidane ini? Ah, sepertinya otakku sudah tidak waras. Tentu saja terasa lezat karena perutku yang lapar.' Hampir saja Fang Yin salah memasukkan makanan ke mulutnya karena tidak berkedip melihat ke arah Jian Heng.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Jian Heng heran.


Terlanjur terpergok memandanginya, Fang Yin pun tidak dapat mengelak lagi.


"Ada noda di wajahmu. Nanti aku bantu membersihkannya." Fang Yin kembali memasukkan makanan dari balik cadarnya.


"Tidak perlu. Biar aku mencuci mukaku di sungai ini." Jian Heng tidak ingin Fang Yin menyentuh wajahnya dan menatapnya dalam jarak yang sangat dekat. Itu akan membuatnya sangat malu dan merasa canggung.


Mereka berdua kembali menyelesaikan makannya dan melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda.


Sebelum pergi, Jian Heng mengisi tempat minumnya hingga penuh.


Saat akan beranjak dari tepi sungai tiba-tiba permukaan air beriak, semakin lama gelombangnya semakin besar.


Fang Yin yang berdiri di tepi sungai bersikap waspada karena merasakan Qi yang begitu besar datang mendekat ke arah mereka.


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2