Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 172


__ADS_3

Menjelang dini hari, Fang Yin baru selesai membebaskan para serigala yang telah kehilangan roh fisiknya dan menjadikannya serigala putih.


Tubuhnya terasa sangat lelah meskipun energi di dalam tubuhnya tidak banyak berkurang.


Mata Fang Yin tidak kuat lagi menahan rasa kantuknya hingga membuat tubuhnya berjalan sempoyongan dan jatuh di depan istana serigala yang baru saja dibangun oleh Nenek Lu.


"Gadis yang malang," ucap Nenek Lu berjalan menghampiri Fang Yin lalu dengan kekuatannya dia mengangkat tubuh Fang Yin tanpa menyentuhnya.


Fang Yin yang tertidur pulas tidak menyadari jika dia telah dipindahkan oleh Nenek Lu ke sebuah kamar yang lebih layak untuk beristirahat.


Desa Kabut Iblis telah terhapus. Tempat itu kini telah berubah menjadi sebuah kerajaan dalam semalam. Sebuah istana megah yang dikelilingi villa-villa yang indah membuat para penduduknya bisa hidup dengan layak.


Untuk pertama kalinya, Nenek Lu memimpin upacara di mana dia mengumumkan aturan baru. Sejak semalam dia tidak tidur sedikitpun karena menyusun beragam kebijaksanaan yang dia buat.


Para serigala juga berkumpul dan mendengarkan pengumuman ratu mereka.


Upacara itu berlangsung dengan khidmad. Tidak ada satu pun yang menentang ratu baru mereka. Setelah ini mungkin kejayaan kerajaan serigala akan dicapai mengingat Nenek Lu mengajak seluruh rakyatnya untuk hidup berdampingan dengan manusia.


Upacara sudah selesai, tetapi Fang Yin belum juga bangun dari tidurnya.


Nenek Lu berjalan menghampiri kamar Fang Yin untuk memeriksa keadaannya. Takut jika Fang Yin mengalami luka-luka yang tidak dia ketahui.


Sesampainya di kamar Fang Yin, Nenek Lu langsung berjalan mendekatinya lalu mengulurkan tangannya ke atas tubuh Fang Yin.


"Hmm ... kamu ini. Sebenarnya kamu tertidur atau pingsan, Anak manis?" Nenek Lu mengucapkan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban.


Saat Nenek Lu berbalik akan meninggalkan Fang Yin, tanpa sengaja ujung dari lengan bajunya mengenai tangan Fang Yin dan membuatnya terbangun.


Fang Yin yang terkejut langsung melompat dan memasang kuda-kuda. Dia bersikap waspada karena merasa sedang dalam keadaan bahaya. Dalam keadaan setengah sadar Fang Yin menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari musuh.


Berangsur-angsur kesadarannya mulai kembali dan mendapati dirinya sedang berada di tempat yang asing bersama Nenek Lu. Fang Yin kembali mengingat terakhir kali dia masuk ke istana ini dan tertidur di dekat pintu.


Merasa hal itu sangat memalukan, Fang Yin hanya meringis sambil bergerak salah tingkah di depan Nenek Lu.


"Maaf, Nek. Aku telah merepotkan mu." Fang Yin kembali duduk di tempat tidurnya disusul oleh Nenek Lu.

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku tahu kamu sangat lelah. Pagi telah berlalu. Kamu boleh beristirahat di sini hingga kamu siap untuk meninggalkan tempat ini."


"Apa?! Maaf, maksudku bagaimana bisa aku tertidur seperti kerbau. Sungguh memalukan." Fang Yin menutup wajahnya yang memang sudah tertutup dengan kedua telapak tangannya.


Nenek Lu tertawa pelan hingga bahunya terlihat terguncang melihat kekonyolan Fang Yin.


Dengan gerakan cepat, Fang Yin merapikan penampilannya dan bersiap untuk pergi meninggalkan hutan itu.


Nenek Lu tidak bisa menahan Fang Yin untuk tinggal lebih lama lagi di sana.


Kehadiran Fang Yin di sana membawa perubahan tatanan kehidupan Ras Serigala. Meskipun itu bukan sepenuhnya terjadi karena Fang Yin. Namun Nenek Lu menganggap jika Fang Yin dibawa oleh takdir dan memiliki andil yang besar dalam masalah ini.


Melihat Fang Yin telah selesai bersiap, Nenek Lu mengeluarkan sesuatu dari dalam ruang penyimpanannya.


Sebuah benda muncul di telapak tangannya.


"Bawa ini! Ini adalah token giok yang hanya dimiliki oleh ras serigala. Jika kamu menunjukkan ini pada ras serigala, mereka pasti akan membantu kesulitanmu."


Fang Yin menerima token giok berbentuk persegi panjang berwarna kehijauan dengan motif alam berbentuk serigala bermata emas yang merupakan nenek moyang dari Nenek Lu.


Nenek Lu mengantar Fang Yin hingga ke pinggiran hutan berkabut itu karena sihir kabut yang ditanam oleh bangsa serigala bisa saja membuatnya tersesat.


Fang Yin meninggalkan tempat itu dengan menggunakan artefak kristal daun miliknya.


Butuh waktu sekitar dua hari untuk pergi ke Kekaisaran Benua Barat. Untuk memperpendek rute perjalanannya, maka Fang Yin harus melalui Ibukota Kekaisaran Benua Tengah yang dipimpin oleh Kaisar Xi.


Sampai saat ini, Fang Yin tidak mengetahui jika Jian Heng adalah pangeran ketiga dari Kekaisaran Benua Tengah. Itu karena mereka berdua sama-sama menyembunyikan identitas mereka dengan tujuan yang berbeda.


Matahari hampir tenggelam ketika Fang Yin telah sampai di pinggir Ibukota Benua Tengah.


Dia melakukan pendaratan darurat di tempat yang sepi karena takut ada orang yang melihatnya menggunakan artefak kristal daun untuk terbang ke sana.


Benar saja, tidak jauh dari tempatnya berada ada beberapa orang pedagang yang sedang berjalan dan melihatnya. Beruntung dia telah menyimpan artefaknya dengan rapi sebelum mereka menoleh kepadanya.


Karena terburu-buru berangkat, Fang Yin lupa tidak merubah suaranya menjadi suara pria, alhasil Fang Yin harus memakai identitas sebagai seorang wanita.

__ADS_1


Para pedagang itu berhenti dan menatap aneh ke arah Fang Yin yang memakai penutup wajah.


"Maaf, tuan-tuan. Saya sedang tersesat. Bolehkah saya bertanya ke mana arah jalan menuju ke Ibukota Kekaisaran Benua Tengah?" Fang Yin berpura-pura tidak tahu arah demi mendapatkan simpati mereka.


Fang Yin menggerakkan tangannya seolah sedang mengelap keringat yang sebenarnya tidak pernah menetes.


"Ikutlah bersama kami. Kami sedang menuju ke sana. Ibukota tidak jauh lagi dari sini," jawab salah satu dari mereka membuat Fang Yin merasa lega.


Meskipun mereka mengijinkan Fang Yin untuk mengikuti rombongan mereka, tetapi mereka masih tetap melihatnya dengan tatapan aneh.


"Namaku, Xiao Yin. Aku datang ke kota ini untuk menjual sejumlah tanaman obat dan membeli beberapa lembar kain," ucap Fang Yin mencoba bersikap normal seperti seorang gadis pemalu.


"Oh, aku pikir kamu seorang pendekar, Nona. Penampilanmu membuatku merasa takut."


"Iya, kami takut jika kamu adalah kawanan bandit yang menyamar," ucap pedagang yang lain.


Para pedagang itu sahut menyahut dan membuat suasana yang semula tegang menjadi lebih akrab.


"Mana berani bandit berkeliaran di sekitar Ibukota. Bukankah Kaisar Xi adalah kaisar yang sangat berwibawa. Tidak mungkin ada yang berani membuat kerusuhan di dekat istananya sementara di kejauhan pun merasa segan padanya."


Ucapan Fang Yin membuat mereka semakin terpikat dan percaya jika dirinya memang benar-benar seorang gadis biasa yang merupakan seorang pencari tanaman obat.


Akhirnya para pria itu bersikap ramah pada Fang Yin dan bercerita banyak hal padanya tentang perdagangan dan kehidupan sosial di negara mereka masing-masing.


Para pedagang itu memberitahukan tempat asal mereka pada Fang Yin dan balik bertanya dari mana Fang Yin berasal.


"Saya ... saya ... saya berasal dari sebuah desa kecil yang ada di perbatasan Hutan Bintang Selatan." Fang Yin asal menjawab.


"Masuk akal. Banyak sekali tabib dan pencari obat yang tinggal di sekitar hutan itu."


Fang Yin merasa lega dan kembali berjalan mengikuti para pedagang itu memasuki ibukota.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2