
Fang Yin membaca lembar demi lembar Kitab Sembilan Naga bintang lima. Semuanya terasa begitu ringan karena isi dari kitab ini adalah penyempurnaan dari kitab sebelumnya.
'Pantas saja aku harus mengumpulkan seluruh kitab, rupanya antara kitab yang satu dengan kitab yang lainnya saling berhubungan. Sejauh yang aku tahu ke-lima kitab yang aku pelajari saling berhubungan satu sama lain.'
Fang Yin merasa penasaran dengan halaman selanjutnya. Dia kembali berkonsentrasi untuk melanjutkan mempelajari kitab itu.
Inti dari kitab ini adalah Jurus Nafas Naga yang telah mencapai penyempurnaan. Ada teknik yang bisa dilakukan oleh pemilik jurus ini hingga memungkinkannya menyerap kultivasi lawan.
Baru membaca awalannya saja Fang Yin sudah terlihat begitu bersemangat. Dia merasa ini adalah kitab yang akan membuatnya mampu menerobos ke tingkat selanjutnya.
Akhir-akhir ini kultivasi yang dia lakukan hanya membuat kekuatannya bertambah saja. Hampir satu tahun berlalu, Fang Yin masih berada di ranah suci bintang menengah. Fang Yin berharap setelah mempelajari kitab ini dia mampu menembus setidaknya di ranah suci bintang atas.
Waktu terus berjalan. Baru beberapa lembar saja Fang Yin membaca dan memahami Kitab Sembilan Naga bintang lima, hari sudah sore. Konsentrasinya mulai terganggu dengan rasa was-was di mana Yonjie bisa datang kapan saja untuk mencarinya.
Fang Yin memilih mengakhiri kegiatannya dan melanjutkannya di malam hari. Malam adalah waktu yang efektif di mana semua orang sedang beristirahat dan tidak mungkin datang untuk menganggu.
'Yang terpenting aku sudah tahu bagaimana cara membuka segel kitab ini.' Fang Yin menarik kitab itu dengan energinya lalu menyimpannya.
Tangan kanannya kembali terulur ke depan lalu menggerakkan pergelangan tangannya memutar untuk membuka mantra perlindungan yang dia tanam.
Selama tinggal di kamp, Fang Yin belum pernah menikmati pemandangan di sekitarnya. Setelah pemberontakan berakhir sepertinya dia cukup punya banyak waktu untuk melakukannya sekarang. Entah kapan Panglima Jing akan kembali ke sana dan Fang Yin ingin memanfaatkan waktu yang dia punya untuk berlatih dan menikmati keindahan alam disekitarnya.
Para prajurit menunduk hormat dan memberi salam ketika berpapasan dengan Fang Yin. Sebenarnya Fang Yin tidak mengharapkan semua itu. Namun mereka menganggap Fang Yin sebagai seorang pahlawan dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari mereka.
Fang Yin keluar dari kamp dan berjalan menuju ke arah sungai di belakang kamp. Esensi energi di sana terasa lebih kuat dibandingkan dengan di dalam kamp. Meskipun demikian, saat ini Fang Yin tidak ingin berkultivasi.
Ditepi sungai yang berada di seberang tempatnya berdiri sekarang, Fang Yin melihat ada sesuatu yang menarik. Dengan teknik meringankan tubuh dia berjalan di atas air untuk pergi ke sana.
__ADS_1
Di balik batu besar yang berdiri kokoh di hadapannya itu ada sebuah lempengan batu yang sangat nyaman untuk duduk.
'Sepertinya aku akan lebih nyaman jika mempelajari kitab itu di sini. Tempat itu cukup jauh dari sungai dan kamp. Batu besar itu juga bisa melindungiku dari pandangan. Aku yakin aku bisa lebih fokus jika berada di sini.'
Tidak ingin mengundang kecurigaan para prajurit yang masih tersisa di kamp, Fang Yin memilih untuk kembali ke kamp untuk bergabung bersama mereka.
Saat berjalan di atas sungai yang jernih dia melihat banyak sekali ikan yang berenang di sana. Ikan-ikan itu cukup besar dan membuatnya tergoda untuk memburunya. Jiwa berburunya mendorong Fang Yin untuk menjadikan ikan-ikan itu santapan malamnya. Tanpa pikir panjang, dia segera menangkap ikan-ikan itu dengan cepat.
"Para prajurit pasti akan senang saat melihat ikan-ikan ini. Setidaknya ini akan menjadi asupan gizi yang baik untuk mereka." Fang Yin membawa ikan-ikan itu dengan menusuk bagian insangnya dengan ilalang.
Ikan-ikan itu sudah dibersihkan oleh Fang Yin jadi tinggal membakarnya saja.
"Tuan Xu! Apakah Anda sendiri yang menangkap ikan-ikan itu?" tanya salah seorang prajurit yang melihat kedatangan Fang Yin. Tubuh Fang Yin sedikitpun tidak basah terkena air. Prajurit itu semakin mengagumi kehebatan Fang Yin setelah menyadarinya.
"Benar sekali. Semoga kalian menyukainya. Memakan ikan akan membuat luka-luka di tubuh kalian cepat sembuh." Fang Yin memberikan ikan-ikan itu pada prajurit yang menyambutnya itu.
Mereka membuat perapian dan membakarnya bersama-sama. Fang Yin pun bergabung bersama di tengah-tengah prajurit yang tinggal segelintir saja. Mereka adalah prajurit yang terluka dalam pertarungan.
"Tuan, Anda dari mana saja? Sejak tadi aku mencarimu." tanya Yonjie yang datang menghampiri Fang Yin dan duduk di sebelahnya.
"Aku pergi keluar sebentar," ucap Fang Yin melirik ke arah Yonjie sebentar lalu menggeser tubuhnya agar Yonjie bisa duduk di dekatnya.
"Yonjie! Semua ikan ini Tuan Xu yang menangkapnya," ucap salah seorang prajurit.
"Benarkah?" Yonjie menatap Fang Yin dengan tatapan tak percaya. Dia tidak menyangka jika Fang Yin mau bersusah payah untuk menangkap ikan untuk mereka semua.
Fang Yin tersenyum senang melihat wajah gembira para prajurit itu meskipun tidak ada yang bisa melihat senyumnya itu.
__ADS_1
Malam itu mereka berpesta. Ada yang membeli arak dan makanan dari desa yang tidak jauh dari kamp mereka. Semua orang mengkonsumsi minuman beralkohol itu kecuali Fang Yin. Selain demi kesehatannya, akan sangat membahayakan jika dia sampai mabuk dan membongkar rahasianya.
Susah payah yang dia lakukan dalam penyamarannya akan menjadi sia-sia jika sampai identitasnya terbongkar.
Yonjie dan para prajurit yang lain tidur di luar tenda karena mereka sedang mabuk berat. Mereka memilih untuk tidur di sana daripada harus berjalan tidak tentu arah karena hilang kesadaran mereka.
Saat semua orang telah tertidur, Fang Yin pergi ke tempat yang dia temukan sore tadi. Dia harus segera menyerap seluruh isi Kitab Sembilan Naga bintang lima. Masih banyak yang harus dia lakukan setelah ini. Dia harus mencari tahu di mana kitab selanjutnya.
Malam itu sangat sepi, hanya terdengar suara gemericik air sungai di kejauhan dan binatang malam yang sesekali bersuara. Esensi energi di sekitarnya membuat Fang Yin merasa senang. Dia bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus malam itu.
Untuk membuka segel mantra dalam Kitab Sembilan Naga bintang lima, Fang Yin mengeluarkan Jurus Napas Naga lalu menusuk ujung jarinya dengan jarum. Setetes darah itu membuat ribuan huruf melayang dari halaman yang terbuka.
'Aku harus menyerap setidaknya setengah dari kitab ini malam ini juga. Aku tidak peduli meskipun aku tidak punya waktu untuk tidur malam ini.' Fang Yin mulai berkonsentrasi dan menyerap apa yang dia baca ke dalam inti pikirannya.
Berbeda dengan siang tadi, kali ini penyerapan berlangsung dengan sangat cepat. Hal itu juga didukung dengan pil rahasia yang Fang Yin telan sebelum mempelajari kitab itu. Bersamaan dengan itu, Fang Yin juga melakukan kultivasi dan menyerap energi alam disekitarnya.
Pada ranah suci, seorang kultivator mampu berkultivasi dalam keadaan sadar. Tidak butuh keadaan khusus bagi mereka seperti yang dilakukan oleh Fang Yin sebelum ini.
Cahaya langit mulai berubah warna menandakan malam akan segera berlalu. Tubuh Fang Yin terasa penuh dengan energi. Dengan langkah yang ringan dia kembali ke dalam kamp. Dia melihat para prajurit masih tertidur lalu meninggalkannya.
'Aku ingin beristirahat sebentar. Satu atau dua jam, lumayanlah buat tidur.' Fang Yin menanam segel pelindung di sekitarnya karena tidak ingin ada seseorang yang masuk ke sana saat dia tertidur.
Entah karena terlalu banyak menyerap isi Kitab Sembilan Naga atau apa, tiba-tiba Fang Yin seperti tertarik ke dalam alam bawah sadarnya. Dirinya merasa berada di tengah-tengah antara mimpi dan nyata.
Cahaya putih yang bersinar terang membawanya ke dalam ruang yang sangat terang. Ruangan aneh di mana dia tidak bisa melihat lantai, atap maupun dinding yang membatasinya.
****
__ADS_1
Bersambung ....