Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 296. Tempat Asing


__ADS_3

Guan Xing berdiri di luar rumah Shi Jun Hui. Dari tempatnya berdiri terdengar pemilik rumah sedang bercengkrama. Suara tawa mereka menandakan betapa sangat harmonisnya keluarga ini.


"Masuklah, Kakek Lesung pipi!" seru Fang Yin.


Hawa tubuh Guan Xing mampu dia kenali meskipun berada di balik pintu dan tidak terlihat secara langsung. Insting Dewi Naga begitu kuat, dia bisa mengenali hawa murni seseorang dari jarak yang jauh sekalipun.


Guan Xing terkejut lalu berjalan mendekati pintu rumah yang tidak terkunci itu. Dari dalam rumah, muncul Yu Ruo yang membukakan pintu untuknya.


"Masuklah, Xing'er!"


"Terimakasih," jawab Xing'er sambil memberikan penghormatan untuk Yu Ruo lalu berjalan melewatinya.


Yu Ruo menutup pintu lalu kembali bergabung bersama keluarganya yang sedang bersiap untuk pergi ke ruang makan. Mereka meminta Guan Xing untuk pergi ke ruang makan bersama mereka.


"Xing'er, sepertinya kamu datang tidak hanya untuk sekedar berkunjung. Apa kamu ingin menyampaikan sesuatu?" tanya Shi Jun Hui.


"Aku yang mengundangnya untuk datang, Kek. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengannya. Masalah ini ada hubungannya dengan manusia hijau."


Semua orang menatap Fang Yin dengan reaksi yang berbeda-beda. Mereka menyelesaikan makan pagi dengan cepat lalu kembali ke ruang utama untuk berbincang-bincang.


Fang Yin menjelaskan semuanya kepada keluarganya tentang rencananya. Rencana yang cukup beresiko, tetapi hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan giok pembuka Kitab Sembilan Naga bintang sembilan.


"Daratan Utara memang terkenal dengan misterinya. Banyak makam kuno yang ada di sana. Sering sekali para kultivator yang berburu harta karun mendapatkan banyak barang dari sana. Namun, tidak sedikit pula yang mati sia-sia dan pulang tinggal nama saja," jelas Shi Han Wu.


Kakek tua itu juga mengatakan jika dirinya tidak pernah mendengar berita tentang manusia hijau. Saat mengunjungi tempat itu beberapa tahun silam, dia hanya mendapati sikap penduduknya yang terlihat misterius. Shi Han Wu singgah sebentar saja lalu pergi tanpa tertarik untuk berburu artefak di makam kuno.


Guan Xing ikut bercerita. Dia dan suku gletser tinggal di pinggir wilayah Daratan Utara yang tidak terlalu ramai. Mereka membaur dengan klan pendatang yang mendiami wilayah itu. Sebelum mereka tinggal di sana, sudah banyak penduduk yang menghuni Daratan Utara.


Orang-orang yang tinggal di sana tidak berani menyebut atau menceritakan manusia hijau secara terang-terangan. Semua orang sangat berhati-hati dalam berucap.


Guan Xing dikelilingi oleh wajah-wajah serius keluarga Shi. Mereka begitu tegang mendengarkan ceritanya. Banyak sekali hal baru yang mereka ketahui tentang Daratan Utara darinya.


"Sangat misterius. Jadi itu alasanmu untuk menyerang rumahmu sendiri? Dasar anak bodoh, seharusnya kamu bicara baik-baik pada kami. Patriak Shi memang sedikit keras tetapi bisa diajak berdiskusi. Jika sejak awal kedatanganmu kamu menemui kami, mungkin tidak akan ada pertumpahan darah di sini," ucap Shi Jun Hui menyesalkan apa yang telah terjadi.


"Aku memang bersalah. Mana mungkin kamu mengijinkan aku datang berkunjung waktu itu. Apakah kamu tidak ingat jika aku juga pernah mengejar Yu Ruo?" canda Guan Xing.


Shi Jun Hui melayangkan tinjunya ke dada Guan Xing dengan pelan sambil tertawa.


"Aku punya cucu yang bisa aku andalkan sekarang. Kamu tidak bisa berbuat seenaknya lagi, Xing'er!"


Shi Han Wu pun sepertinya telah rela melihat Yu Ruo bahagia bersama saudara kembarnya. Dia berpikir bahwa kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang dicintainya lebih penting dari sikap egoisnya. Perasaan tidak bisa dipaksakan dan cinta akan memilih takdirnya sendiri.


Setelah obrolan yang panjang, Fang Yin dan Guan Xing sepakat untuk pergi ke Daratan Utara dua hari lagi. Mereka pergi bertiga bersama Jian Heng, sedangkan Shi Han Wu menggantikan tugas Guan Xing untuk sementara, di mana dia harus tinggal di tengah-tengah suku es baru.


Meskipun matanya buta, tetapi kemampuannya bisa dikatakan melebihi manusia normal. Dengan keberadaan Shi Han Wu maka anak buah Guan Xing akan merasa tenang. Mereka tidak akan kehilangan sosok pemimpin yang pergi untuk menjemput keluarga mereka.


Bahan bangunan untuk menyelesaikan rumah mereka belum tercukupi. Patriak Shi sedang mengutus beberapa penduduk desa untuk mencarinya ke luar wilayah Gunung Perak.


Selama dua hari, Fang Yin dan Jian Heng sering menghabiskan waktu bersama Guan Xing untuk menggali banyak hal tentang Daratan Utara. Mereka mempelajari semua hal hingga yang paling kecil.


Kebersamaan mereka membuat ketiganya menjadi lebih akrab. Kedekatan emosional juga terbangun di antara mereka dan sepakat untuk saling bekerja sama selama berada di Daratan Utara.


Awalnya Guan Xing merasa takut untuk masuk ke dalam wilayah manusia hijau. Namun, setelah melihat semangat dan keberanian Fang Yin, dia berubah pikiran. Mereka bertiga sepakat untuk melanggar larangan manusia hijau dan berharap untuk ditangkap dan dibawa ke tempat mereka.


Sebagai seorang ibu, Selir Shi sangat mengkhawatirkan Fang Yin. Dia terpaksa merelakan kepergiannya karena tidak memiliki cara lain untuk mendapatkan giok pembuka Kitab Sembilan Naga bintang sembilan.


Banyak sekali barang-barang yang dipersiapkan untuk putrinya. Segala macam obat serta peralatan yang dibutuhkan selama di sana, disediakan oleh Selir Shi. Banyak sekali barang yang menurut Fang Yin tidak begitu penting, tetapi dia tidak ingin mengecewakan ibunya dan tetap membawanya.


Jian Heng mengeluarkan bahan makanan yang dia simpan dan meminta Shi Jun Hui untuk membaginya kepada penduduk sekitar. Belum tahu kapan dia akan kembali dari Daratan Utara. Perjalanan mereka mungkin tidak memerlukan waktu lama, tetapi tidak bisa diperkirakan berapa lama mereka akan berada di sana.


Waktu berlalu begitu cepat. Hari keberangkatan pun tiba. Sebelum matahari terlalu tinggi, mereka pergi meninggalkan wilayah Gunung Perak.


Seluruh warga Gunung Perak mengantarkan ketiganya hingga di perbatasan. Mereka tidak diberitahu tentang tujuan mereka sebenarnya. Penduduk Gunung Perak hanya tahu jika mereka pergi untuk menjemput suku gletser yang akan pulang ke sana.

__ADS_1


Ketiganya pergi dengan berjalan cepat. Sepintas mereka terlihat sedang berjalan santai, tetapi langkah mereka menjadi sangat cepat. Dengan cara ini, mereka akan sampai di Daratan Utara sebelum matahari terbenam.


Keinginan kuat mereka membuat keadaan menjadi mudah. Tidak ada hambatan yang berarti di dalam perjalanan mereka. Selama perjalanan, mereka hanya berhenti sekali untuk membuka perbekalan dan memakannya.


Mereka tidak beristirahat terlalu lama karena ingin segera sampai di Daratan Utara sebelum malam tiba. Cuaca panas di musim gugur tidak menyurutkan langkah mereka hingga tempat yang mereka tuju sudah terlihat di kejauhan.


"Daratan Utara berada tepat di bawah pagoda itu," tunjuk Guan Xing.


Jarak antara tempat mereka berdiri sekarang dengan pagoda yang ditunjukkan oleh Guan Xing sekitar lima kilometer. Matahari masih berada di ketinggian dan butuh sekitar dua hingga tiga jam lagi untuk tenggelam.


Mereka bisa sedikit bersantai dan memperlambat langkah mereka.


"Kakek Lesung pipi, apakah di Daratan Utara ada penjual makanan enak?" tanya Fang Yin konyol.


"Tentu saja. Tetapi jangan harap penjualnya akan bersikap ramah padamu. Mereka sangat kaku dan memiliki sikap yang dingin terhadap siapapun."


"Kau ini ada-ada saja, Yin'er. Apa pentingnya makanan enak atau tidak? Selagi kita lapar kita bisa memakan apapun dengan lahap." Jian Heng menghela napas panjang.


"Aku pikir di tempat seram tidak ada makanan."


Ucapan Fang Yin membuat Guan Xing dan Jian Heng tertawa.


"Meskipun terlihat seram, mereka tetaplah manusia yang memiliki rasa lapar, Gadis Konyol," ucap Guan Xing.


Mereka bertiga kembali tertawa bersama. Namun, sesuatu keadaan yang aneh membuat ketiganya harus berhenti.


Saat ini mereka berada sekitar satu kilometer dari wilayah Daratan Utara. Langit yang semula cerah tiba-tiba menjadi gelap. Awan hitam disertai dengan kilat menyelimuti langit.


Sebenarnya malam belum datang tetapi sore itu terlihat seperti malam hari. Perbedaan tekanan udara di sekeliling mereka mengakibatkan pusaran angin muncul di beberapa tempat. Pusaran angin sebagian menjadi besar dan sebagian lagi menghilang terlibas oleh gelombang pusaran yang lebih besar.


'Kejadian ini mirip dengan keadaan yang aku lihat di dalam mimpi. Apakah ada kekuatan besar yang benar-benar akan bangkit dibalik peristiwa ini?' Fang Yin memejamkan matanya mencoba merasakan aura energi yang menyebabkan kekacauan ini.


Guan Xing dan Jian Heng saling berpandangan lalu kembali menatap Fang Yin dengan serius. Keduanya tidak merasakan apapun dan berpikir jika kejadian ini adalah murni sebagai kejadian alam.


Fang Yin terdiam hingga beberapa saat. Setelah merasakan sesuatu yang besar muncul dari sebuah pusat energi, dia melompat ke udara. Jian Heng dan Guan Xing mengikutinya tanpa banyak bertanya. Tidak ada waktu untuk mengobrol santai lagi. Wajah serius Fang Yin membuat keduanya merasa segan untuk mengusiknya.


Fang Yin mendarat pada sebuah tempat yang berada di ketinggian. Tempat itu terlihat seperti sebuah reruntuhan bangunan kuno. Dia berdiri di atas bongkahan batu yang besar seperti bagian atas sebuah pilar.


Jian Heng dan Guan Xing berdiri di sampingnya. Mereka berdua mengikuti arah pandang Fang Yin yang melihat ke sebuah gerbang tua.


Gerbang yang memiliki dua pilar yang menyambung menjadi satu itu tidak menampakkan hal yang aneh. Di sekelilingnya tidak ada bangunan, hanya ada beberapa pohon kerdil dan tanaman perdu yang tumbuh disekelilingnya. Sedangkan di bawah pilar gerbang terdapat tangga batu yang mulai rusak. Tangga itu cukup panjang, mulai dari bagian bawah mereka berdiri hingga ke belakang pilar yang tertutup debu tebal yang bertebaran di udara.


Angin kencang masih terus berhembus seperti akan terjadi badai. Debu dan dedaunan kering yang terangkat olehnya sangat menggangu dan menghalangi jarak pandang.


"Yin'er, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jian Heng sambil menutup hidungnya dengan ujung bajunya.


"Aku tidak tahu. Ada sebuah upacara yang berlangsung di dimensi lain. Pilar itu adalah gerbang menuju ke sana, tetapi tidak sembarang orang bisa melewatinya." Fang Yin menunjuk pilar yang sejak tadi dia lihat.


Selama tinggal di Daratan Utara, Guan Xing sering melewati pilar itu. Tidak ada yang aneh dengannya dan tempat ini juga tergolong ramai. Letaknya yang berada di tengah-tengah pemukiman warga membuatnya sering dilewati.


"Tidak ada yang aneh dengan tempat ini. Aku biasa melewatinya," ujar Guan Xing.


Fang Yin terlihat sedang berpikir. Dia ingin membuktikan jika energi yang besar itu benar-benar berasal dari tempat ini. Mantra pelindung yang menghalangi seseorang untuk masuk ke sana sangatlah kuat, tidak heran jika orang-orang hanya menganggapnya sebagai tempat biasa.


Sebuah cahaya berbentuk lingkaran pipih muncul dari telapak tangan Fang Yin. Di dalam lingkaran itu terdapat beberapa simbol yang hanya diketahui oleh pembuatnya. Itu adalah sebuah segel mantra yang dibuat oleh Fang Yin untuk mencoba menerobos segel pelindung yang terpasang di antara dua pilar.


Setelah mencapai ukuran tertentu, Fang Yin melemparkan segel itu ke arah gerbang tua. Jian Heng dan Guan Xing tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Fang Yin. Mereka ingin melihat apakah pelindung tak terlihat itu benar-benar ada di sana.


Lingkaran mantra pipih itu terus bergerak seperti cakra yang berputar. Ketiganya ingin melihat apa yang terjadi ketika cakra energi menyentuh pelindung gerbang tua.


Duarrr!


Ledakan keras disertai percikan cahaya api terdengar sangat nyaring. Beberapa kali Fang Yin mendorongnya kembali ke tengah dua pilar. Namun, lagi-lagi ledakan itu kembali terdengar. Pada dorongan terakhir, sebuah energi dari tengah pilar menekan kuat sehingga segel mantra itu berbalik arah menuju kepada mereka.

__ADS_1


Fang Yin, Guan Xing dan Jian Heng melompat ke atas untuk menghindarinya. Segel mantra itu meledak pada batu tempat mereka berpijak sebelumnya dan membuatnya menjadi hancur.


"Benar-benar pelindung yang kuat," ucap Guan Xing merasa takjub.


Sebelumnya dia tidak pernah berpikir ada dimensi lain di sana meskipun sebuah gerbang seperti ini identik dengan gerbang menuju ke dimensi lain.


"Kita harus waspada. Seseorang yang menghuni dimensi merasa terganggu dengan apa yang baru saja aku lakukan. Mereka berpikir jika aku bermaksud untuk mengganggu mereka." Fang Yin terlihat waspada.


"Apa?!" pekik Jian Heng dan Guan Xing bersamaan.


Mereka bertiga menanti kemunculan penghuni dimensi yang menurut Fang Yin sedang mengintai mereka. Maksud hati hanya ingin membuktikan adanya sebuah segel perlindungan, tidak disangka semua itu menimbulkan permusuhan.


"Maaf. Aku terlalu gegabah," sesal Fang Yin.


Sudah tidak ada waktu lagi untuk menyesal, sebuah lubang hisap berwarna hijau muncul dari tengah pilar itu. Lubang itu memiliki tenaga yang besar untuk menarik ketiganya untuk masuk ke dalamnya.


Meraka berusaha untuk bertahan dengan mengeluarkan energinya agar tetap berada di tempat mereka.


"Jin'er, apa yang harus kita lakukan?" tanya Guan Xing. Wajahnya terlihat tegang.


"Kita ikuti saja ke mana lubang hijau itu membawa kita. Sepertinya dimensi ini adalah tempat di mana manusia hijau itu hidup."


Fang Yin mengulurkan kedua tangannya dan meminta Jian Heng dan Guan Xing memegangnya satu-satunya. Menurut pengalamannya, sebuah dimensi memiliki elemen yang berbeda-beda. Mereka bisa saja terpisah karena setiap tubuh memiliki kecenderungan yang berbeda.


Sebelum benar-benar masuk ke dalam lubang hisap itu, Fang Yin membagi energinya kepada Jian Heng dan Guan Xing melalui kedua tangannya. Di antara mereka bertiga, hanya dirinya yang bisa membuat segel mantra pengikat jiwa.


Ketiganya tetap berdiri kokoh di udara dan menunggu aba-aba dari Fang Yin untuk mengikuti lubang hisap itu. Sebuah lingkaran cahaya pipih dengan simbol tertentu muncul di bawah kaki mereka.


"Dengan segel ini kita tidak akan terpisah saat berada di dalam dimensi asing yang akan kita lintasi. Apakah kalian telah siap untuk menerobos gerbang dimensi itu?" tanya Fang Yin kepada keduanya.


"Hmm."


Keduanya mengangguk. Apapun yang akan terjadi selanjutnya, mereka akan menghadapinya bersama-sama. Sesuatu yang lebih buruk dari ini mungkin saja bisa terjadi. Meskipun selama ini belum ada yang kembali saat seseorang menghilang secara misterius, tetapi mereka percaya bisa mengatasi semua ini.


Angin kencang yang bertiup di sekeliling tempat itu masih terus berhembus membawa benda-benda kecil terbang memenuhi udara. Keadaan ini terus berlangsung meskipun ketiganya mulai tertarik mendekati lubang hisap. Tidak ada seorangpun yang melihat kejadian ini karena seluruh penduduk yang tinggal di sekitar tempat itu bersembunyi di dalam rumah.


Tubuh Guan Xing, Jian Heng dan Fang Yin menghilang dari pandangan. Setelah mereka masuk, lubang hisap itu kembali menghilang. Hanya ada sebuah tempat kosong yang terlihat seperti layaknya dunia manusia.


Fang Yin dan yang lainnya melintasi sebuah ruang gelap yang tidak menampakan batas, tidak berdinding, tidak beratap, dan juga tidak berdasar. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya kegelapan.


Tubuh ketiganya terus bergerak menuju ke arah yang tidak mereka ketahui. Fang Yin merasakan kedua tangan pria-pria itu menjadi dingin. Meskipun tidak mengatakan apa-apa, dia tahu jika mereka mengalami ketakutan.


"Jangan takut, kegelapan ini pasti akan segera berlalu." Fang Yin berusaha menenangkan keduanya meskipun dia sendiri juga merasakan ketidakpastian dari ucapannya.


"Semoga saja," jawab Jian Heng pelan.


Fang Yin mengangkat kaki kanannya lalu menghentakkan dengan cepat. Segel mantra yang mereka pijak mengeluarkan cahaya kuning keemasan yang membuat mereka sedikit tenang.


Di kejauhan terlihat sebuah bulatan berwarna putih terang. Tubuh mereka bergerak menuju ke sana. Semakin dekat, bulatan itu semakin terlihat jelas.


"Apakah itu pintu keluar dari kegelapan ini?" tanya Guan Xing dengan nada gembira.


"Bisa jadi." Lagi-lagi Fang Yin mengatakan sesuatu hal yang tidak pasti.


Mereka melesat dengan cepat melintasi bulatan yang ternyata adalah sebuah gerbang. Di tempat yang terang itu mereka melihat langit malam. Setelah mengeluarkan tubuh mereka dari tempat gelap, gerbang bersinar putih itu menghilang. Tubuh mereka meluncur ke bawah dan mendarat di tempat yang asing.


Kedatangan mereka disambut oleh beberapa orang yang tidak memperlihatkan wajahnya. Mereka menggunakan mantel yang menutupi tubuh dan kepalanya hingga tak terlihat.


Fang Yin menyimpan kembali segel yang telah dibuatnya lalu berjalan bersama Jian Heng dan Guan Xing maju ke hadapan orang-orang misterius tersebut.


Mereka berjumlah sekitar lima belas orang. Suasana yang gelap membuat keadaan terasa mencekam. Belum lagi keadaan di sekeliling yang memperlihatkan seperti sebuah hutan gersang di atas bebatuan, semakin menambah kesan seram.


"Selamat datang di alam keputusasaan. Bersiaplah untuk menghadapi siksaan dan penderitaan tak berujung di tempat ini," ucap salah seorang dari mereka yang berdiri di barisan yang paling depan.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2