
Di Sekte Sembilan Bintang,
Xi Jian Heng disibukkan dengan tugasnya sebagai seorang Ketua Sekte Muda. Sudah beberapa bulan Ketua Sekte Feng pergi meninggalkan Sekte Sembilan Bintang dan Ketua Lama tidak ingin ikut campur dalam urusan di dalam sekte.
Di halaman depan terdengar suara keributan murid-murid yang bersorak sorai. Jian Heng merasa penasaran dengan apa yang terjadi di luar dan meninggalkan ruangannya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Langkah kakinya begitu ringan melewati lorong-lorong yang menghubungkan beberapa ruangan yang ada di Sekte Sembilan Bintang. Hari itu masih pagi, belum saatnya murid-murid sekte untuk pergi beristirahat.
Murid-murid sekte tampak berkerumun mengelilingi seseorang yang baru datang. Jian Heng belum bisa melihatnya dengan jelas karena terhalang oleh murid-murid yang berdiri mengelilinginya.
"Ehemm!" Jian Heng berdehem dengan suara yang cukup keras.
"Ketua Sekte Yu datang!" teriak salah satu di antara mereka membuat guru dan murid yang berada di sana menoleh ke belakang.
Mereka mundur secara teratur dan membuka kerumunan sehingga membuat orang yang mereka kerubuti terlihat.
"Selamat siang Tetua Yu!" Ketua Sekte Feng memberi hormat pada Jian Heng.
Jiang Heng membalas hormat Ketua Sekte Feng.
"Selamat datang kembali Ketua Sekte. Mari kita masuk. Anda pasti sangat lelah." Jian Heng mengajak Ketua Sekte untuk masuk ke dalam villa utama.
Salah seorang murid pergi ke ruangan Ketua Lama untuk memberitahukan kabar kedatangan Ketua Sekte. Mereka terlihat sangat senang dengan kepulangan Ketua Sekte Feng. Begitu juga dengan Jian Heng.
Sudah berbulan-bulan lamanya Jian Heng merasa tidak memiliki kebebasan dengan terus tinggal di dalam sekte. Jiwa petualangnya membuatnya tersiksa karena tidak banyak yang bisa dia lakukan di dalam sekte.
Setelah Ketua Sekte kembali, dia bisa bebas untuk keluar dan pergi untuk mencari Fang Yin. Dengan tanda yang dia tanam di tubuh Fang Yin, Jian Heng bisa merasakan keberadaan Fang Yin di dalam jarak tertentu.
Namun untuk saat ini Jian Heng sedang berada di dalam misi untuk dirinya sendiri. Beberapa waktu yang lalu dia mendengar jika seorang kultivator dari Negeri Benua Utara berhasil menemukan sebuah kolam energi yang belum bisa ditakhlukan oleh siapapun.
Jian Heng merasa sangat penasaran dan ingin pergi ke sana. Di sekitar kolam itu pasti banyak sekali harta karun yang bisa dia temukan. Berhasil atau tidaknya, itu adalah urusan belakangan, sosok Jian Heng adalah pria yang pantang menyerah.
Hari ini, Jian Heng belum bisa mengganggu Ketua Sekte Feng karena dia terlihat sangat lelah. Nanti malam dia harus mengungkapkan keinginannya.
Semua dokumen yang disusun oleh Jian Heng selama menjabat menjadi ketua sekte dia kumpulkan di atas meja kerjanya. Laporan tentang kemampuan setiap murid pun dia susun dengan rapi. Sebagai seorang pangeran yang menjalani pendidikan ketat sejak usia dini, membuatnya terbiasa melakukan pekerjaan ini.
__ADS_1
Ruang kerja ketua sekte yang semula sangat berantakan pun kini tertata dengan sangat rapi. Jian Heng memiliki selera yang bagus dalam menata ruang dan mengisi perabot yang cocok untuk diletakkan di sana.
Pemilik ruangan itu sebelumnya pasti akan terkejut dengan perubahan menyeluruh yang dilakukan oleh Jian Heng. Tetapi dia pasti akan senang dengan perubahan ini.
Semua laporan dan dokumen penting yang harus dilanjutkan oleh Ketua Sekte diletakkan di tempat yang terpisah dan diberi tanda khusus. Jian Heng tersenyum melihat hasil kerjanya hari itu lalu kembali ke villanya.
'Rasanya aku sudah tidak sabar lagi untuk pergi dari sini. Badanku rasanya kaku sekali setelah sekian lama tidak melakukan perjalanan.' Jian Heng menjatuhkan tubuhnya di depan sebuah meja.
Ketika sedang sendirian, Jian Heng selalu teringat pada Fang Yin. Kerinduan membuatnya merasakan sakit yang tidak pernah menemukan obat.
Seringkali Jian Heng tidur di kamar yang dahulu ditempati oleh Fang Yin. Dia masih merasakan aroma wangi tubuh Fang Yin di sana meskipun itu hanya halusinasinya saja
Jian Heng sengaja tidak merubah apapun yang ada di sana dan membiarkan barang-barang yang ditinggalkan Fang Yin tetap pada tempatnya. Setiap kali dia merasa rindu, Jian Heng akan menghabiskan waktunya di kamar itu.
'Aku tidak peduli meskipun kamu bukan berasal dari kaum bangsawan. Aku tetap akan membawamu pulang ke istana suatu hari nanti, Xiao Yin.' Jian Heng duduk sambil melamun dan tidak menyadari kedatangan beberapa orang pelayan yang mengantarkan makan siang untuknya.
Jian Heng baru tersadar setelah pelayan itu memanggilnya beberapa kali.
Di belakang pelayan itu muncul ketua sekte Feng dan Jian Heng meminta pelayan untuk membawakan makanan untuk Ketua Sekte Feng juga. Siang itu, mereka duduk bersama untuk menikmati makan siang di villa milik Jian Heng.
"Tetua Yu, aku begitu terkesan dengan hasil kerjamu. Kamu layak menjadi seorang Ketua Sekte. Aku harap setelah ini kamu masih mau mengambil posisi sebagai Ketua Sekte meskipun aku telah kembali," ucap Ketua Sekte Feng sambil menerima secangkir teh yang diberikan oleh Jian Heng.
"Ketua Sekte terlalu berlebihan memuji saya. Seperti yang Ketua Sekte ketahui, jiwa saya adalah jiwa yang bebas. Ini sudah terlalu lama saya tinggal di sini tanpa melihat dunia luar."
Ketua Sekte Feng sangat tahu dengan sifat Jian Heng. Meskipun sudah lama Jian Heng tinggal dan mengajar di sana. Namun tidak ada sebuah aturan atau perjanjian yang mengikatnya di Sekte Sembilan Bintang.
"Maafkan aku, Tetua Yu. Aku tidak bermaksud untuk memaksamu. Semua keputusan ada di tanganmu dan tidak ada yang berhak untuk mencampurinya." Feng tersenyum pada Jian Heng.
"Terimakasih atas pengertiannya, Tetua Sekte. Maaf saya merubah ruang kerja selama saya menggunakannya." Jian Heng merasa tidak enak pada Ketua Sekte Feng.
"Untuk apa meminta maaf, justru aku sangat senang ruangan itu menjadi sangat rapi dan tertata dengan baik. Kamu pasti telah bekerja keras untuk itu. Sungguh kamu terlihat sangat terpelajar." Ketua Sekte Feng kembali memuji Jian Heng.
Mereka saling melemparkan pujian selama mengobrol bersama sambil menikmati makan siang. Ketua Sekte Feng terlihat lebih terbuka setelah kembali dari berpetualang. Sikapnya yang dahulu sangat dingin dan jarang berbicara, kini lebih ramah.
Dalam kesempatan itu, Jian Heng sekalian meminta ijin pada Ketua Sekte Feng untuk pergi keluar besok pagi-pagi sekali. Setelah merasakan bebasnya dunia luar, Ketua Sekte Feng pun sebenarnya sangat malas untuk mengambil tugas sebagai seorang Ketua Sekte. Namun, dia tidak ingin mengecewakan ayahnya yang telah susah payah mendirikan Sekte Sembilan Bintang bersama Gu Ming Hao, ayah Fang Yin.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Ketua Sekte Feng untuk menghalangi Kepergian Jian Heng.
Pagi hari di Sekte Sembilan Bintang,
Matahari masih terlihat malu-malu saat Jian Heng pergi berpamitan pada Ketua Sekte dan yang lainnya. Mereka terlihat bingung dengan kepergian Jian Heng yang mendadak. Sebagian di antara mereka berpikir jika Jian Heng sedang menjalankan sebuah misi, padahal Ketua Sekte sendiri tidak tahu ke mana tujuan Jian Heng.
'Hahh! Akhirnya aku bisa melihat indahnya dunia setelah berdiam diri untuk sekian lama.' Jian Heng berjalan dengan langkah kaki yang panjang menuruni Gunung Telaga Emas.
Sejuknya udara pagi menambah semangatnya untuk menikmati perjalanannya kali ini. Tidak banyak penduduk yang tinggal di kaki gunung yang berpapasan dengannya. Mungkin karena hari masih terlalu pagi.
Jian Heng berhenti di sebuah pipa air yang mengalirkan mata air pegunungan. Dia mengisi semua tempat minumnya. Menurutnya kualitas air di pegunungan ini masih yang terbaik di bandingkan dengan seluruh mata air yang pernah dia jumpai.
Butuh waktu seharian penuh untuk sampai di Benua Utara dengan jalur udara. Jian Heng tidak ingin melalui jalur darat yang tentunya akan memakan waktu yang lebih lama. Dia lebih baik kehilangan sedikit kekuatannya daripada harus berlama-lama dalam perjalanan.
Tingkat kultivasi Jian Heng kini sudah mencapai ranah surgawi bintang awal. Sebenarnya dia bisa menggunakan teleportasi untuk sampai di tempat yang dia ingin capai, tetapi dia tidak ingin kehadirannya mengejutkan orang yang kebetulan berada di tempat dia mendarat.
Sebelum matahari terlalu terik, Jian Heng segera terbang menuju ke Benua Utara. Dia tidak tahu jika Fang Yin juga sedang berada di sana. Dalam jarak yang jauh, Jian Heng tidak bisa merasakan keberadaannya tanpa mantra pengendali jiwa.
Kolam energi belum terjamah yang akan dikunjungi oleh Jian Heng berada di sebuah gunung. Gunung Serigala Merah, gunung yang terkenal sebagai sarang bandit yang sangat kejam.
Setelah terbang hampir seharian dan melewati berbagai tempat, Jian Heng akhirnya sampai di sebuah desa yang telah berada di wilayah Benua Utara.
Matahari belum sepenuhnya tenggelam dan masih memiliki cahaya yang cukup terang di sore itu. Keindahan senja di Benua Utara menyuguhkan kesan yang berbeda untuk Jian Heng. Di sepanjang jalan desa berjajar pedagang berbagai makanan dan macam-macam produk lainnya.
Ratusan rumah berjajar dengan rapi di desa itu. Kehidupan masyarakat di Benua Utara memang dikenal sangat maju, kecuali bagi mereka yang tinggal di pedalaman.
Jian Heng berjalan menghampiri seorang pedagang makanan yang terlihat sangat lezat. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia sudah melihat kenyataan lain yang merupakan sisi buruk dari Kekaisaran Benua Utara.
Seorang pria sedang menyeret wanita muda yang telah terluka di sekujur tubuhnya. Pria itu mengikat tangan wanita itu dan menariknya dengan kasar menuju ke sebuah tempat.
Di tempat itu terdapat beberapa buah tiang dan pria itu mengikat wanita itu di sana. Tidak ada satu orang pun yang mau menolong wanita itu.
"Ini pesanannya, Tuan." Suara pedagang itu mengejutkan Jian Heng.
Tanpa banyak bicara, Jian Heng segera membayar sejumlah uang yang diminta oleh pedagang itu tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita yang terikat di tiang. Dia menolak ketika pedagang itu ingin mengembalikan kelebihan uang yang dia bayarkan.
__ADS_1
****
Bersambung ....