
Acong melompat turun dari gendongan Jian Heng setelah benar-benar yakin jika wanita di hadapannya itu adalah Fang Yin.
"Kakak Cantik, kamu mengejutkanku saja. Mengapa kamu tiba-tiba muncul di hadapanku?" Acong berbicara dengan nada merajuk.
Fang Yin tertawa.
"Kamu pikir kamu saja yang terkejut. Aku juga. Kalian berdua ada di kamarku, padahal sebelumnya aku telah mengunci pintunya dengan benar." Fang Yin tidak ingin disalahkan.
Acong menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya, juga, ya. Aku tadi yang membuka pintu kamar kakak saat kakak tidak ada."
"Hmm." Fang Yin melipat tangannya di dada.
"Sudah-sudah! Sebaiknya kita segera ke ruang perjamuan. Kita sudah terlambat." Jian Heng tidak ingin membuang waktunya, dia pikir setelah ini Fang Yin masih harus berlatih.
Acong dan Fang Yin tersenyum melihat wajah galak Jian Heng. Sepertinya Jian Heng tidak suka jika Fang Yin terlalu dekat dengan Acong. Entah dia cemburu pada Acong atau takut Acong menginginkannya menjadi ibunya.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ke ruang perjamuan. Di sana sudah menunggu Qin Yushang dan kelima iblis api. Sementara itu Nyonya Qin dan Qin Yu Zhu masih menyiapkan makanan bersama para pelayan.
Wong Li datang untuk melapor pada Qin Yushang. Kedatangannya yang bertepatan dengan makan malam membuat nyonya Qin memintanya untuk tinggal dan makan malam bersama mereka.
Sikap Qin Yu Zhu menjadi aneh ketika melihat Wong Li. Kejadian di samping villa tadi sore masih menyisakan kegelisahan di hatinya. Setiap kali dia menatap Wong Li, tubuhnya terasa gemetar.
'Sial! Kenapa Wong Li ada di sini? Dia terlihat sedang mengawasiku.' Qin Yu Zhu berpikir ulang sebelum melakukan aksinya.
Sebenarnya Wong Li tidak mencurigainya, perasaan cemas itu muncul dari dirinya sendiri sehingga membuat Qin Yu Zhu merasa seperti sedang diawasi.
Kecemasan yang dirasakan oleh Qin Yu Zhu membuatnya tidak bisa fokus. Dia hampir saja menjatuhkan mangkuk berisi makanan yang dibawanya. Beruntung pelayannya melihat saat dia meletakkan mangkuk itu di atas meja dalam posisi yang terlalu di pinggir.
Wong Li yang semula tidak merasa curiga kini malah merasa penasaran dengan Qin Yu Zhu. Dia berjalan mendekatinya dan melihat dari dekat apa yang dilakukannya. Terlebih lagi dia memergoki Qin Yu Zhu yang melirik ke arah Jian Heng dengan tatapan yang tak biasa.
"Ehem! Nona Qin. Apakah Anda butuh bantuan?" tanya Wong Li.
Dia bersikap seolah ingin membantunya agar Qin Yu Zhu tidak merasa curiga.
"Ah, sudah ... Sudah selesai. Kamu bisa mengambil makananmu." Qin Yu Zhu terlihat gugup saat berhadapan dengan Wong Li.
Wong Li mengangguk lalu mengambil mangkuk kosong untuk mengambil makanan untuknya. Dia tidak beranjak dari tempatnya dan tetap berdiri di dekat Qin Yu Zhu.
Seluruh orang yang berada di sana sibuk untuk mengambil makanannya sendiri-sendiri. Qin Yu Zhu terlihat sedang menunggu Jian Heng dan Fang Yin datang ke arahnya untuk mengambil makanan yang ada di dekatnya.
Dengan perasaan ragu Qin Yu Zhu mengusap lengan bajunya. Dia menatap ke arah Wong Li dan pandangan mata mereka bertemu.
'Wong Li terus menatapku. Sepertinya aku harus menunda untuk menaruh ramuan ini.' Qin Yu Zhu terlihat sedang menelan ludah dengan susah payah. Dia merasa getir dengan kegagalannya malam ini.
Fang Yin membantu membawakan makanan milik Jian Heng karena Jian Heng membawakan punya Acong juga. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga dengan satu anak.
Qin Yu Zhu mengepalkan tangannya saat melihat kebahagiaan mereka. Hatinya merasa sangat iri. Dia berjalan dengan cepat meninggalkan ruang perjamuan.
Apa yang dilakukan oleh Qin Yu Zhu tidak luput dari pengamatan Wong Li. Dia meletakkan mangkuknya dan berjalan mengikuti Qin Yu Zhu.
Di luar villa sangat sepi. Semua orang sedang makan di ruang perjamuan. Qin Yu Zhu berdiri mematung di halaman samping. Dia terlihat sedang mendongak ke atas memandang langit.
"Segala yang berada di atas langit memang lebih indah. Tetapi jangan lupa jika kaki kita berpijak di bumi," ucap Wong Li.
Qin Yu Zhu menoleh ke arah Wong Li. Dia terkejut dengan kemunculan Wong Li.
"Mengapa kamu terus mengikutiku? Seperti bayangan saja." Qin Yu Zhu memperlihatkan wajah kesalnya.
Wong Li tidak terpancing dengan ucapan Qin Yu Zhu. Dia berjalan maju mendekatinya dengan wajah yang tenang.
"Karena kamu sedang dalam kegelapan tanpa bayangan."
Qin Yu Zhu menatap Wong Li tajam. Paru-parunya memompa udara dengan cepat. Dia tidak suka dengan jawaban Wong Li yang menurutnya terlalu ikut campur dalam urusannya.
"Tidak usah pedulikan aku. Urus saja hidupmu sendiri." Qin Yu Zhu memalingkan wajahnya dari Wong Li.
"Aku hanya memperingatkanmu saja, Nona. Jangan dipikir Nona Yin tidak tahu dengan apa yang kamu lakukan." Setelah mengatakan hal itu dia berbalik.
Qin Yu Zhu menatap punggung Wong Li dengan mata yang melebar. Dia tidak percaya jika Wong Li akan berbicara seperti itu.
'Tidak! Tidak mungkin. Wong Li pasti hanya menggertakku saja. Nona Yin tidak mungkin tahu jika aku menyukai Tuan Heng. Arrgh!' Qin Yu Zhu membanting tangannya.
Wong Li pergi dari kediaman Qin Yushang. Dia tidak kembali ke ruang perjamuan dan meninggalkan makanan yang baru dimakannya beberapa suap saja.
Tidak ingin semakin banyak yang mencurigainya, Qin Yu Zhu kembali ke ruang perjamuan dan mengambil makanannya. Beruntung tidak ada yang bertanya kemana dia sebelumnya.
Fang Yin, Jian Heng dan Acong berpamitan untuk pergi lebih dahulu. Mereka akan berlatih di bukit batu tempat Fang Yin dan Jian Heng berlatih sebelumnya. Mengingat hari telah larut malam, mereka hanya akan pergi berlatih sebentar saja.
Fang Yin duduk menyendiri sedangkan Acong berlatih bersama Jian Heng. Dalam hal mengajar dan memberikan arahan, Jian Heng lebih jago ketimbang Fang Yin. Selama ini dia sudah terbiasa menjadi seorang guru di Sekte Sembilan Bintang.
Mereka berlatih hingga hari menjelang tengah malam. Saat mereka kembali ke villa Qin Yushang, tempat itu sudah sangat sepi. Kemungkinan besar mereka telah tertidur.
Jian Heng dan Fang Yin tidak bertukar kamar karena ada Acong yang tinggal bersamanya.
__ADS_1
Keesokan harinya,
Mereka berkumpul di aula dan melakukan pelatihan seperti biasa. Hari ini Fang Yin juga melakukan tugasnya untuk memberikan pelatihan pengobatan pada keluarga Yu.
Acong berkumpul bersama keluarganya untuk melepas rindu sembari mendengarkan pengajaran dari Jian Heng. Lin He terlihat sangat antusias melihat kedatangan cucunya. Pertumbuhan cucunya lebih cepat dari anak-anak seusianya.
Tubuh Acong saat ini sudah lebih tinggi dari terakhir kali mereka bertemu. Dengan perasaan haru Gong Yu memeluk putranya dengan erat. Dia tidak bisa menikmati masa kanak-kanaknya lebih lama dan menjalani kehidupan yang berbeda dengan teman-teman seusianya.
Acong memiliki ambisi yang besar dalam hidupnya. Terkadang dia juga ingin bermain bersama anak-anak lain seusianya. Namun, keinginan untuk menjadi kuat lebih besar dari itu sehingga dia mengabaikan masa bermainnya.
Gong Yu kembali fokus mendengarkan pelatihan yang dilakukan oleh Jian Heng. Mungkin ini adalah hari terakhir untuk pelatihan yang diberikan oleh Jian Heng. Selanjutnya mereka harus berbenah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan di dunia luar.
Di tempat lain,
Fang Yin bersama keluarga Yu membahas tentang cara meramu obat yang baik. Dia juga mengajarkan beberapa buah resep obat-obatan yang sangat vital bagi kelangsungan hidup mereka.
Selain itu, Fang Yin juga mengajarkan tindakan penyelamatan pada para pasien dengan keluhan tertentu. Setiap penderita penyakit yang berbeda akan memerlukan penanganan yang berbeda pula. Sebagai seorang dokter di dunia modern, Agata Moen yang berada di tubuh Fang Yin saat ini memiliki pengetahuan yang sangat luas.
Fang Yin mengajarkan ilmu pengobatan dengan teori dan praktek. Dia memberikan contoh secara langsung bagaimana memberikan pertolongan pertama pada kasus-kasus darurat.
Di luar aula,
Guan Xin melakukan latihan fisik secara langsung. Mereka mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukan olehnya. Beberapa teknik serangan, teknik menghindar dan teknik pengaturan Qi diajarkannya dengan penuh perhitungan.
Beberapa orang yang mengikuti pelatihan ini masih pemula dan sebagian lain adalah pasukan terlatih. Guan Xing memberikan perlakuan yang berbeda untuk mereka. Bagi yang sudah menguasainya, dia cukup memberikan koreksi pada mereka.
Seperti hari-hari sebelumnya, pelatihan yang dilakukan berakhir sebelum tengah hari. Mereka harus melakukan aktifitas lain selain berlatih bersama mereka.
Di sudut lain, kelima iblis duduk dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh para manusia di hadapannya. Mereka tertarik dan diam-diam ikut mendengarkan dan mempelajari apa yang disampaikan oleh Guan Xing.
Seminggu kemudian,
Banyak hal telah diajarkan untuk penduduk Giok Hitam. Fang Yin pun telah menguasai Kitab Sembilan Naga bintang sembilan. Kelima iblis yang semula ingin menangkap Acong dan membawanya pada Raja A Hui berubah pikiran. Kini mereka memihak kepada Fang Yin dan berjanji akan menjadi pengikut setianya. Setelah ini mereka tetap akan kembali ke kerajaan api di Gunung Shui Yang dan mengabarkan semuanya.
Qin Yushang mengumpulkan seluruh penduduk Giok Hitam di dalam aula. Dia memerintahkan rakyatnya untuk mempersiapkan diri. Beberapa hari lagi formasi pelindung yang menyelimuti wilayah itu akan dibuka. Setelah hari itu tidak akan ada lagi pembatas antara bukit Giok Hitam dengan dunia luar.
Penduduk yang tinggal di tempat ini bisa pergi keluar dengan bebas untuk melihat dunia luar. Daratan Utara memang bukan daerah maju dan bisa dikategorikan sebagai perkotaan. Namun, mereka memiliki kehidupan yang seimbang.
Adanya makam-makam kuno dengan berbagai macam artefak dan harta karun tersembunyi lainnya menjadi daya tarik bagi para pendatang. Penduduk di sekitarnya bisa memanfaatkan keadaan ini untuk berdagang dan menyewakan tempat tinggal.
__ADS_1
Jian Heng sangat yakin, keindahan villa-villa yang ada di bukit Giok Hitam akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Di masa mendatang, dia yakin desa ini akan terus berkembang.
Fang Yin juga memuji kekayaan kuliner di tempat ini. Para wanita di tempat ini memiliki kemampuan memasak yang baik. Bumbu-bumbu dan rempah-rempah yang mereka campurkan memiliki rasa yang unik. Ada efek menyehatkan juga dari bahan-bahan yang mereka gunakan.
Para penduduk Giok Hitam mengucapkan banyak terimakasih pada Fang Yin, Jian Heng dan Guan Xing. Apa yang terjadi saat ini sama persis dengan yang tertulis di dalam ramalan kitab kuno yang mereka yakini selama ini.
"Nona Yin, beristirahatlah selama hari tenang." Qin Yushang terlihat sangat senang.
"Tentu saja. Aku akan menikmati keindahan tempat ini sebelum tercemar oleh dunia luar." Fang Yin membalas senyum Qin Yushang.
Qin Yu Zhu terlihat frustasi karena Wong Li terus memata-matainya. Dia hampir tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Jian Heng. Begitu juga dengan hari ini, Wong Li terus saja muncul ketika dia berusaha untuk mendekatinya.
Merasa lelah dengan angan kosongnya, Qin Yu Zhu pergi ke ladang sayuran di pinggir desa. Dia duduk menyendiri di sebuah parit. Kakinya menjuntai ke parit yang tidak dialiri oleh air. Saat ini adalah musim kering sehingga penduduk desa mengandalkan air dari pegunungan untuk mengairi tanaman mereka.
"Ehem!" Seseorang berdehem untuk menunjukkan kehadirannya.
Qin Yu Zhu menoleh. Wajahnya terlihat ketakutan saat melihatnya.
"Maaf, apakah aku terlihat begitu menakutkan?" Pria itu mendorong tangannya ke depan lalu mundur selangkah.
"Ah, ti-tidak masalah. Apa yang kamu lakukan di sini?" Qin Yu Zhu berdiri dan menatap pria itu dengan canggung.
"Namaku Tan Yuxi." Pria itu memperkenalkan dirinya pada Qin Yu Zhu.
Qin Yu Zhu mengangguk. Dia yakin jika Tan Yuhi sudah tahu siapa namanya. Sebagai putri dari pemimpin bukit Giok Hitam, dia cukup populer dan namanya sering di sebut oleh orang-orang disekitarnya.
"Saya lihat ada Anda sedang melamun, bisakah kita berteman?" Tan Yuhi berbicara dengan lembut, jauh berbeda dengan sikapnya ketika pertama kali datang ke tempat ini.
"Em, aku hanya merasa bosan saja. Jadi aku pergi kemari untuk mengusir jenuh." Qin Yu Zhu beralasan. Dia mencoba menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
Insting seorang iblis sangat kuat, dia bisa menebak perubahan ekspresi wajah dari lawan bicaranya. Tan Yuhi melihat kekecewaan yang besar dalam dirinya, lebih tepatnya wanita di hadapannya itu sedang patah hati. Namun, meskipun dirinya tahu tentang hal itu, dia tidak ingin menyinggung perasaannya.
"Aku juga sangat menyukai tempat ini. Apakah ini adalah tanaman yang biasanya kamu masak untuk kami?" tanya Tan Yuhi.
Dia berharap Qin Yu Zhu akan melupakan kesedihannya jika mereka membahas hal yang lain. Benar saja, wanita itu segera menjawabnya dan terlihat bersemangat menceritakan perkebunan yang ada di hadapannya. Keduanya berbincang tentang makanan yang berbahan dasar dari tanaman di hadapan mereka.
Seseorang melihat keakraban mereka dari tempat yang jauh. Tersungging senyuman yang menandakan jika dirinya sedang bahagia.
"Aku harus membuat keduanya menjadi semakin dekat. Hal ini akan membuat hubungan antara iblis api dan penduduk bukit Giok Hitam semakin dekat. Kemungkinan sebuah aliansi akan terbentuk."
\*\*\*\*
Bersambung ....
__ADS_1