
Keempat kultivator pedang itu akhirnya terkecoh dengan keadaan dan memutuskan untuk mengakhiri formasi pedang mereka.
Sebenarnya itu adalah sebuah kebodohan yang seharusnya tidak mereka lakukan. Jika mau bertahan sedikit saja maka mereka bisa mengimbangi kekuatan Fang Yin. Meskipun tidak menang, setidaknya pertarungan mereka akan berakhir seri.
Dengan berakhirnya formasi yang mereka buat, Fang Yin akan lebih mudah untuk mengalahkan mereka.
'Bagus! dengan begini aku tidak akan kewalahan lagi.' Fang Yin merasa senang dengan bubarnya formasi itu.
Mata kejam Fang Yin mengeluarkan hawa kekejaman sesaat sebelum dia turun ke hadapan empat kultivator pedang.
Mereka tidak mampu menghindar lagi dari serangan Jurus Pedang Yin Yang milik Fang Yin.
Tanpa formasi empat pedang perlawanan mereka tidak ada artinya lagi. Dengan sadis Fang Yin menebaskan pedangnya pada mereka.
Jurus Pedang Yin Yang yang telah dipadukan dengan jurus pedang dari Kitab Sembilan Naga, membuat keempat kultivator itu kewalahan dan akhirnya satu persatu tumbang. Tubuh mereka mengalami luka-luka yang cukup serius.
Tidak puas hanya dengan memotong anggota tubuh keempat kultivator itu, Fang Yin kembali menyerang mereka hingga keempatnya benar-benar mati dengan kondisi tubuh yang tak berbentuk.
Raja Yang tertegun melihat kematian kultivator pedang andalannya. Sebenarnya dia masih memiliki kultivator bayaran yang sebelumnya membantunya. Namun di dalam serangan mendadak ini tidak mungkin bagi dirinya untuk memanggil mereka semua.
Nyali Raja Yang menciut dan sedikit kehilangan konsentrasinya saat melawan Panglima Jing. Kesempatan itu diambil dengan baik oleh Panglima Jing untuk melumpuhkannya.
Di dalam dunia kultivasi yang kejam memang tidak ada larangan bagi Panglima Jing untuk membunuh Raja Yang. Demi kehormatan Kaisar Benua Barat, putusan hukuman untuk Raja Yang akan dia serahkan pada Kaisar Han.
Panglima Jing tersenyum senang penyerangan hari itu memberinya kemenangan mutlak dalam waktu yang singkat.
Para prajurit Raja Yang meletakkan senjata mereka dan menyerah ketika melihat pemimpin mereka telah dikalahkan oleh Panglima Jing.
Pasukan Panglima Jing bersorak-sorai sambil meneriakkan yel-yel kemenangan.
Dalam peperangan ini, tidak banyak korban di pihak Panglima Jing. Selain bekal pelatihan yang diberikan oleh Fang Yin, ketidaksiapan lawan juga menjadi salah satu alasan kemenangan mereka.
__ADS_1
Dalam keadaan tidak berdaya, Raja Yang diikat dan dibawa oleh Panglima Jing ke markas mereka. Hari ini juga mereka akan membawanya ke ibukota Kekaisaran Benua Barat.
Sebagian prajurit Raja Han melarikan diri dari area pertarungan setelah melihat kematian keempat kultivator pedang dan kekalahan Raja Yang.
Sebagian lain menyerah dan pasrah dibawa oleh prajurit Panglima Jing untuk diadili bersama Raja Yang.
"Terimakasih, Xu Chen. Aku sangat kagum dengan kemampuanmu. Di usiamu yang masih sangat muda, kamu memiliki bakat yang sangat luar biasa. Jika kamu tidak keberatan, aku akan meminta Kaisar untuk menjadikanmu seorang punggawa kerajaan," ucap Panglima Jing di dalam perjalanan mereka meninggalkan markas lawan.
"Saya sangat merasa tersanjung dengan tawaran Anda, Tuan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya sedikitpun, saya tidak bisa menerima semua ini. Bukan karena saya tidak mau atau sekedar mencari alasan saja. Namun karena saya masih memiliki sebuah misi yang harus saya jalankan."
Panglima Jing merasa heran mendengar jawaban Fang Yin.
"Misi? Bolehkah aku tahu tentang misimu itu?" Panglima Jing tidak ingin menyimpan rasa penasaran.
"Maaf, Tuan. Misi ini sedikit berat. Saya harus pergi ke Kekaisaran Benua Tengah untuk mencari Kitab Sembilan Naga bintang lima. Saya mendengar kitab itu dipegang oleh seorang pendekar dari Kekaisaran Benua Tengah." Fang Yin memancing kejujuran Panglima Jing.
Jika memang dia bukan pemilik kitab itu, tentu dia pasti akan memberitahukannya pada Fang Yin.
Keduanya sama-sama terdiam dan memacu kudanya dengan cepat agar segera sampai di kamp. Fang Yin merasa berkecil hati ketika tidak mendengar jawaban apapun dari Panglima Jing.
'Sabar, Fang Yin, sabar. Mungkin Panglima Jing butuh waktu untuk berpikir. Kitab Sembilan Naga bukanlah kitab sembarangan yang bisa diketahui oleh sembarang orang. Semoga saja aku mendapatkan kabar baik setelah ini.' Fang Yin mencoba optimistis di tengah rasa kecewanya.
Semuanya belum berakhir. Masih ada banyak waktu dan kesempatan untuk mendapatkan kitab itu dengan cara halus.
Kuda Fang Yin yang semula memacu di belakang Panglima Jing, kini melaju cepat dan telah sejajar dengannya. Mereka telah sampai kembali di kamp saat matahari baru terbit setengah tombak.
Beberapa orang prajurit yang berjaga di kamp terkejut mendengar suara riuh ratusan kaki kuda di kejauhan. Mereka berteriak dan berlari mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi serangan.
Setelah kekalahan mereka beberapa waktu lalu, prajurit yang berjaga kini lebih bersikap waspada. Mereka mengira jika suara itu adalah suara pasukan musuh yang datang untuk menyerang mereka.
Pasukan yang tersisa di kamp berbaris rapi di depan pintu gerbang dengan membawa senjata mereka.
__ADS_1
Kedua sudut bibir mereka terangkat menjadi sebuah lengkungan manis di wajah para prajurit itu ketika mereka melihat Panglima Jing dan Fang Yin.
Di dalam rombongan para prajurit terlihat banyak sekali korban terluka dan juga Raja Yang yang.
Raja Yang dibawa dengan tubuh yang terikat pada seekor kuda perang milik salah seorang prajurit. Selain Raja Yang, ada juga beberapa orang prajurit dari pihak Panglima Jing yang terluka parah.
Prajurit penjaga kamp bernapas lega setelah melihat kedatangan mereka dari dekat. Mereka segera menyimpan senjata mereka lalu membantu para prajurit yang baru saja datang.
Fang Yin turun dari kudanya lalu berjalan menuju ke tenda miliknya Dengan sisa-sisa energi yang dia miliki, Fang Yin mengambil langkah cepat meninggalkan tempat itu.
Panglima Jing berjalan mengikuti ke mana Fang Yin pergi.
Sesampainya di depan Fang Yin, Panglima Jing mencoba bersikap tenang dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Xu Chen! Bisakah kita bicara sebentar?" Suara Panglima Jing mengejutkan Fang Yin yang sedang melamun.
Mereka kini sudah berada di depan tenda pribadi Panglima Jing. Sebelum sampai di tenda Fang Yin, mereka harus melewati tenda milik Panglima Jing.
Jantung Fang Yin berdetak lebih kencang dari biasanya ketika hatinya kembali diberikan harapan.
"Saya tidak mungkin menolak perintah Panglima Jing." Fang Yin menyatukan kedua tangannya memberi hormat.
"Ikut saya!" Panglima Jing meminta Fang Yin untuk berjalan mengikutinya masuk ke dalam tenda milik Panglima Jing.
Hati Fang Yin harap-harap cemas menantikan apa yang akan dikatakan oleh Panglima Jing. Sesampainya di dalam tenda, Panglima Jing duduk di depan sebuah meja yang berada di tengah ruangan.
"Duduklah!" seru Panglima Jing sambil menuang minuman yang ada di atas meja.
Fang Yin berjalan pelan lalu duduk di hadapan Panglima Jing.
****
__ADS_1
Bersambung ...