
"Arrgghh!" Fang Yin kembali berteriak, darah mengalir dari hidungnya menandakan ada pembuluh darah yang pecah di kepalanya.
Sepertinya apa yang dikatakan oleh Yang Hui benar, satu-satunya jalan untuk bisa keluar dari formasi ini adalah menggunakan teknik dimensi antar ruang.
'Aku belum pernah menggunakan teknik ini dan baru berencana untuk melatihnya. Apakah ini tidak beresiko?' Fang Yin bertanya pada Yang Hui.
'Setiap teknik ada resikonya, tetapi setidaknya kita telah berusaha menunda kematian. Kita sama-sama tidak tahu apakah teknik itu akan bekerja atau tidak sebelum mencobanya,' ucap Yang Hui sambil meringis menahan sakit. Dia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Fang Yin.
Pembuluh darah Fang Yin seperti sedang mengalami pemuaian dan penebalan. Oksigen yang mengalir di seluruh tubuhnya mulai berkurang. Dadanya terasa sesak dan wajahnya terlihat pucat kebiruan.
Darah dihidungnya terus menetes dengan tangan dan kaki yang semakin kaku. Tubuhnya jatuh ke tanah dengan keadaan yang sama seperti ketika dia berdiri.
Fang Yin terus membaca mantra untuk mengaktifkan dimensi lain yang ada di dalam inti pikirannya. Pandangan matanya mulai kabur dan ketakutan mulai menyelimuti hatinya.
Kesadarannya mulai melemah dan hampir hilang tepat di saat mantra pengaktifan selesai dibacanya. Matanya terpejam dan merasakan tubuhnya melayang di dalam kegelapan. Namun, itu hanya sebentar saja karena suasana berbeda kembali dia rasakan.
Tubuhnya seperti sedang berbaring di atas bongkahan es. Fang Yin pun segera membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya.
'Yang Hui, kita di mana? Apakah kita sudah mati dan ini adalah alam kematian.' Fang Yin berusaha berdiri di tengah kesakitan yang dia rasakan.
Fang Yin mengeluarkan pil pemulih energi lalu memakannya. Untuk menunggu pil itu bereaksi, dia mengatur posisi duduknya dan mengatur pernapasannya.
'Bodoh! Apakah orang mati bisa merasakan sakit? Kita sedang berada di dimensi antar ruang. Kita bisa keluar masuk ke dalam tujuh dimensi yang berbeda. Setiap dimensi memiliki elemen yang tidak sama,' jelas Yang Hui.
'Iya, aku tahu itu. Elemen api, air, tanah, batu, gurun, magma, dan es, bukan?' Fang Yin sudah menyerap seluruh isi Kitab Sembilan Naga bintang tujuh.
'Pintar! Saat ini kita sedang berada di dalam dimensi dengan elemen es. Kamu belum menguasai teknik ini dengan benar sehingga masuk ke dalam dimensi secara acak.' Yang Hui menambahkan.
Kondisi tubuh Fang Yin mulai pulih. Dia bangkit dari duduknya dan berdiri dengan susah payah. Pertarungannya belum usai dan dia harus membalas kekalahannya.
"Tunggu saja kultivator sialan! Aku pastikan kalian akan menjadi abu setelah ini." Fang Yin mengabaikan luka-lukanya dan bersiap untuk melakukan teleportasi antar dimensi.
Dalam keadaan terpaksa dia bisa menggunakan teknik ini dengan sendirinya. Pertarungan ini juga menjadi pelatihannya untuk menerapkan isi Kitab Sembilan Naga bintang tujuh.
Fang Yin mulai berkonsentrasi dan melintas ke dimensi miliknya sebelum masuk kembali ke alam nyata. Beruntung luka fisiknya tidak membuat pondasi dantiannya melemah. Dia masih bisa mempertahankan penyimpanan energinya dan menggunakannya saat ini.
Di alam nyata tempat pertempuran sedang berlangsung, tiga kultivator yang menyerangnya terlihat kebingungan. Mereka masih mempertahankan formasi mereka meskipun Fang Yin sudah tidak terjebak di dalamnya.
Mereka mengira jika Fang Yin hanya menggunakan jurus ilusi mata dan sejenisnya, di mana siapapun tidak menemukan fisiknya meskipun dia tetap berada di tempat yang sama. Ketiganya tidak menyadari jika saat ini Fang Yin telah berdiri di belakang mereka dan siap dengan serangannya.
"Aku di sini. Apakah kalian akan terus mengurung udara kosong? Buang-buang energi," ucap Fang Yin bernada ejekan.
Mereka bertiga berbalik dan melihat ke arah sumber suara. Ketiganya sulit untuk menerima hal yang menurut mereka berada di luar logika mereka. Selama ini belum ada yang bisa lolos dari formasi segitiga iblis milik mereka.
Fang Yin berjalan dengan tangan kiri yang masih memegangi dadanya. Pembuluh darah pada organ dalamnya yang pecah membuatnya belum bisa berdiri dengan benar. Sorot mata penuh amarah dan kebencian seakan mengutuk ketiga kultivator yang berdiri di depannya.
Mereka bertiga mengeluarkan energi di tangan dan siap untuk melepaskannya pada Fang Yin.
Fang Yin menyerang mereka terlebih dahulu dan disambut oleh serangan mereka. Ledakan demi ledakan terus terdengar dan menghasilkan daya rusak yang besar. Tanah di sekitar pertarungan terkoyak hingga beberapa tempat muncul lubang yang sangat dalam.
Ketiga kultivator itu semakin sering memberikan serangan pada Fang Yin dan membuatnya sulit untuk menghindar. Tubuhnya yang terluka tidak bisa melompat dan bergerak dengan lincah.
__ADS_1
Hampir saja Fang Yin terkena serangan mereka jika tidak segera berpindah dengan teknik teleportasi. Tubuhnya tak terlihat dan muncul di tempat yang berbeda sehingga membuat musuhnya sulit untuk menentukan serangan.
Fang Yin mengeluarkan pedang pemberian Jian Heng dan memainkannya dengan satu tangan. Teknik teleportasi cukup membantunya di saat kondisi fisiknya sedang terluka.
"Pengecut! Beraninya kamu menyerang secara diam-diam!" teriak salah seorang kultivator yang mendapatkan serangan dari arah belakang.
"Masa bodoh dengan kata-katamu. Pertarungan tetaplah pertarungan, jika kalian hebat harusnya kalian tahu di mana aku." Suara Fang Yin terdengar tetapi tubuhnya tidak terlihat.
Dia terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain hingga serangan membabi buta yang dilakukan oleh para kultivator itu mengenai tempat kosong saja.
Setelah merasa puas mempermainkan mereka, Fang Yin menyerang mereka dengan pedangnya dan melumpuhkan alat geraknya. Ketiganya jatuh saling berhimpit dan berlumuran darah.
"Uhukk! Uhukk!" Fang Yin terbatuk dan mengeluarkan darah segar akibat luka dalam yang dia rasakan. Secepatnya dia harus mengakhiri pertarungan ini.
Fang Yin melangkah pelan menghampiri ketiga kultivator yang sudah tidak berdaya. Tangan kanannya terulur ke depan tepat di atas kepala ketiganya.
"Sayang sekali jika aku tidak memanfaatkan energi kalian sebelum membunuh kalian. Hahaha!" Fang Yin tertawa kejam.
"Ampun, Nona!"
"Jangan bunuh kami, Nona!"
Fang Yin tidak mempedulikan teriakan mereka dan terus mengeluarkan Jurus Napas Naga tingkat atas. Esensi energi yang tersimpan di tubuh ketiganya berpindah ke tangannya dan membentuk sebuah inti energi.
Inti energi itu ditelan dengan buas oleh Fang Yin seperti seekor singa yang kelaparan. Keberadaan Yang Hui yang menyatu di tubuhnya membuatnya menjadi lebih kejam dan tidak berbelas kasihan.
Setelah menelan inti energi, tubuh Fang Yin perlahan mulai pulih. Seluruh energi kultivasi lawan yang terserap membuat luka-lukanya berangsur pulih.
"Aku tidak akan meninggalkan jejak kematian kalian. Tidak akan ada yang menemukan keberadaan kalian setelah ini." Sebuah lemparan api hitam membakar habis tubuh tiga kultivator itu dan menjadikannya debu yang tertiup angin.
Ying Ruo yang mengintip pertarungan Fang Yin dan ketiga kultivator itu dari dalam goa, melihat jika semuanya telah selesai. Dia tidak bisa keluar untuk membantu karena segel pelindung yang melindunginya akan menjadi rusak jika dia melewati pintu goa. Lima belas phoenik yang bersamanya akan berada dalam bahaya jika mereka tidak berdiam diri di sana.
"Yang Mulia!" panggil Ying Ruo saat melihat Fang Yin telah selesai dari kultivasinya. Wajahnya terlihat khawatir melihat noda darah di cadarnya. Meskipun berwarna hitam darah yang mengering itu masih terlihat.
Fang Yin merubah posisi duduknya menjadi lebih santai sebelum berbicara pada Ying Ruo.
"Di sini sangat berbahaya, Han Han juga sangat mengkhawatirkanmu. Sebaiknya kalian segera kembali. Sekalian aku ingin berpamitan padamu. Aku akan melanjutkan perjalananku untuk mencari Kitab Sembilan Naga bintang delapan."
Ucapan Fang Yin membuat Ying Ruo merasa bersedih. Kebersamaan mereka selama ini begitu membekas di hatinya. Setiap perpisahan pasti meninggalkan kesedihan, saat ini mereka pun merasakan hal yang sama.
"Tetapi saat ini Anda sedang terluka, Yang Mulia. Apa tidak sebaiknya Anda mengobatinya terlebih dahulu dan beristirahat beberapa hari lagi di sini?" bujuk Ying Ruo. Keadaan tubuh Fang Yin yang penuh luka membuatnya khawatir.
"Ini hanya luka ringan saja. Tidak perlu khawatir. Justru aku mengkhawatirkan kalian. Sebaiknya kalian membudidayakan pangan kalian di dalam dimensi kalian sendiri agar tidak perlu keluar-keluar lagi. Ras phoenix akan benar-benar lenyap jika kalian tidak berhati-hati. Bahaya setiap saat akan mengintai kalian," jelas Fang Yin.
"Saya akan melakukan nasehatmu, Yang Mulia. Lagi pula lahan ini juga telah rusak. Kami akan membuka lahan di dalam dimensi untuk membuat kebun spiritual," jawab Ying Ruo mantap.
"Sekarang pergilah! Tidak aman berlama-lama tinggal di luar dimensi kalian." Fang Yin berdiri dengan tegap dan memperlihatkan jika dirinya sudah baik-baik saja.
"Tapi, Yang Mulia ...." Wajah Ying Ruo terlihat sedih.
Rasanya tidak mungkin Ying Ruo akan kembali ke istananya jika Fang Yin tetap berada di sana. Dia mengeluarkan artefak daun lalu melompat ke atasnya.
__ADS_1
"Selamat tinggal, Ying Ruo. Semoga ras ini tetap ada dan terus berkembang dari generasi ke generasi." Tanpa menunggu jawaban dari Ying Ruo, Fang Yin meninggalkan tempat itu. Dia tidak sanggup melihat wajah-wajah sedih ras phoenix yang merasa kehilangannya lebih lama.
Luka dalam yang diderita oleh Fang Yin cukup parah. Bisa dibilang saat ini pembuluh darahnya sudah pulih, tetapi akan sangat beresiko jika dia bertarung dalam beberapa hari ini.
"Aku harus menghindari pertarungan setidaknya tiga hari ke depan. Tinggal di alam bebas akan lebih beresiko. Sebaiknya aku pergi ke perkotaan dan tinggal di penginapan."
Saat ini Fang Yin masih tinggal di Benua Timur. Dia harus berhati-hati di negaranya sendiri. Akan sangat berbahaya jika sampai ada yang melihatnya masih hidup.
Fang Yin turun di tempat yang sepi lalu berjalan menuju ke perkotaan yang cukup ramai. Sepanjang perjalanannya dia beberapa kali bertemu dan menatapnya aneh. Dia tidak mengganti pakaiannya yang terkoyak di beberapa bagian. Mungkin mereka pikir dia adalah seorang pendekar yang kalah bertarung.
Setelah berjalan beberapa saat, Fang Yin melihat sebuah penginapa. Di depan penginapan itu berdiri sebuah kedai yang sangat ramai. Sudah lama dia tidak menikmati makanan yang lezat.
Selama tinggal di dimensi ras phoenix dia hanya memakan buah-buahan saja. Mencium aroma lezat masakan membuatnya tidak sabar lagi untuk menikmatinya.
"Mau apa kamu kemari?" tanya penjaga kedai sambil melirik tubuh Fang Yin dari atas sampai bawah. Orang itu berpikir jika dari penampilannya, dia tidak memiliki uang untuk memesan makanan.
Fang Yin tersenyum kecut di balik cadarnya. Tatapan seperti itu sudah biasa dia dapatkan. Tidak ingin menjadi pusat perhatian lebih lama lagi, dia segera mengeluarkan segenggam koin emas dan memberikannya pada pelayan itu.
"Bawakan aku makanan yang lezat dari kedai ini!" seru Fang Yin lalu pergi meninggalkan pelayan yang masih terbengong mengamati koin itu.
Ada beberapa meja kosong, Fang Yin duduk di sebuah meja yang sedikit berada di tepi. Penampilannya yang aneh memang selalu mengundang rasa penasaran orang yang melihatnya. Mereka merasa penasaran seperti apa wajahnya yang tertutup.
Uang memang seperti sebuah benda sihir yang bisa merubah apapun. Tidak menunggu lama, beberapa orang pelayan membawakan makanan untuknya. Koin emas yang dia berikan memang lebih dari cukup tetapi Fang Yin tidak ingin serakah dengan makanan.
"Cukup! Kalian boleh memakan sisa pesananku. Anggap saja aku sedang berbagi makananku." Fang Yin hanya menginginkan tiga jenis makanan saja. Mungkin itupun tidak akan dia habiskan semuanya.
Pelayan itu merasa senang dan membawa makanan itu pada pelanggan lain. Dia memilih menukar makanan itu dengan uang yang seharga dengan itu.
Fang Yin menikmati makanannya dengan lahap tanpa membuka cadarnya. Sudah lama dia tidak menikmati makanan selezat itu. Rasanya sayang untuk menyisakannya meskipun perutnya telah kenyang.
Setelah makan dia tidak segera meninggalkan tempat itu dan beristirahat sejenak di sana.
"Aku dengar Kaisar Ning sedang mencari prajurit sebanyak-banyaknya," ucap seseorang berbaju merah.
Dia sedang berbicara pada dua rekannya yang menikmati makanannya dalam satu meja.
"Aku tidak memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni. Aku pasti tidak akan sanggup bertahan di medan perang. Bukankah hanya menggadaikan nyawa namanya," jawab seorang yang berbaju putih.
"Kamu benar, aku tertarik dengan upahnya yang besar tetapi aku masih sayang dengan nyawaku. Selama tidak diwajibkan, aku tidak akan turun tangan untuk menjadi prajurit," imbuh orang berbaju biru tua.
Mereka berbincang-bincang santai membahas isu terhangat yang terjadi di Kekaisaran Benua Tengah. Diperkirakan saat ini kekaisaran kekurangan prajurit karena sebagian dari kerajaan kecil menghentikan dukungannya pada Kaisar Ning.
Di dalam tubuh pemerintahan Kaisar Ning mengalami banyak masalah dan perebutan kekuasaan. Rakyat juga mengeluhkan pemungutan pajak yang tinggi pada golongan tertentu. Selain itu mereka juga sering mendapatkan tekanan dari pemerintah daerah yang meminta upeti.
'Apakah yang direncanakan oleh Kaisar Ning? Apakah dia ingin memperluas kekuasaannya? Jika tidak untuk apa dia membuka lowongan prajurit secara besar-besaran?' Fang Yin bertanya-tanya dalam hati.
Dari tempat duduknya dia bisa melihat kedatangan pengunjung kedai. Beberapa orang berseragam prajurit memasuki kedai itu dan duduk di sebuah meja yang berada di samping kiri meja Fang Yin.
'Bagus, mungkin aku akan mendapatkan informasi lagi tentang Kekaisaran Ning. Waktu penyeranganku semakin dekat, dengan mengetahui kekuatan lawan, maka aku bisa memperkirakan pasukan yang akan kubawa.
Untuk membuatnya tidak terlihat sedang memata-matai, Fang Yin kembali memesan kudapan pada pelayan agar dia mempunyai alasan untuk duduk di sana lebih lama.
__ADS_1
****
Bersambung ....