
Jian Heng mencoba menggerakkan badannya untuk mengetahui apakah sudah lebih baik atau belum. Badan yang semula dibuat bernapas saja terasa sakit kini sudah tidak terasa lagi.
'Sepertinya aku harus mencoba hal yang lebih menantang untuk membuktikan badanku sudah benar-benar sembuh atau belum.' Jian Heng tersenyum saat menemukan ide gilanya.
Dia memutar tubuhnya dengan posisi tangan di bawah dan kaki di atas. Kini seluruh tubuhnya ditopang oleh kedua tangannya. Perlahan Jian Heng berjalan dengan tangannya itu menuju ke kamarnya.
'Aku benar-benar sudah sembuh.' Jian Heng tersenyum sambil terus berjalan terbalik menuju ke kamarnya.
Hal tak terduga terjadi. Hanfu Jian Heng tersangkut pada sebuah kait yang menyembul di dinding.
Jian Heng tidak bisa bergerak dan mulai kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung dan ambruk menimpa pintu kamarnya. Suara berisik akibat pintu yang rusak itupun terdengar hingga ke kamarnya Fang Yin.
Fang Yin yang baru saja selesai mandi langsung mengambil cadarnya dan berjalan keluar ruangan.
Takutnya ada bahaya lagi yang mengancam mengingat peristiwa yang dialami oleh Jian Heng baru saja berakhir.
Matanya melebar ketika mendapati Jian Heng yang berada dalam kondisi menyedihkan. Tubuhnya terkapar di antara pintu dan lorong pembatas diantara kamar mereka.
"Tetua Yu! Kau tidak apa-apa!" Fang Yin ingin menolong Jian Heng tetapi Jian Heng buru-buru bangkit dengan sendirinya.
__ADS_1
Malu. Satu kata yang pantas untuk Jian Heng kali ini.
"Aku tidak apa-apa. Tadi aku hanya terpeleset karena mengantuk saja dan ... ya ... begitulah ... aku jatuh." Jian Heng meringis sambil menahan malu.
Tanpa disadari penampilan Fang Yin pun sangat berantakan. Rambutnya terurai tanpa ada ikatan atau hiasan apapun. Fang Yin juga hanya menggunakan baju dalam yang tidak terlalu tebal.
Menyadari akan hal itu, Fang Yin segera berpamitan pada Jian Heng untuk beristirahat sambil berlari-lari kecil memasuki kamarnya.
'Menarik!' gumam Jian Heng dalam hati.
"Aku mikir apa, sih!" Jian Heng menepuk jidatnya lalu pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Jian Heng pergi melaporkan hasil dari misi yang dia lakukan kepada Ketua Sekte. Di sana dia mendapatkan sambutan yang meriah dari Ketua Sekte dan para tetua yang lain karena berhasil menyelesaikan misi.
Misi rahasia yang dia jalani menyangkut para kultivator yang cukup sulit untuk di hadapi. Mereka merong-rong kekuasaan di Kekaisaran Benua Tengah dengan membantu para pemberontak untuk mengganggu kenyamanan rakyat. Jian Heng mau menerima misi ini karena Kekaisaran Benua Tengah adalah kekuasaan ayahnya, Kaisar Xi.
Meskipun tidak ada yang tahu jika dia berjasa dalam mengamankan negerinya, tetapi Jian Heng tidak mempermasalahkan akan hal itu.
Jian Heng sudah melewati banyak hari di luar istana dan merasakan indahnya sebuah kebebasan sehingga membuatnya merasa malas untuk kembali ke istana.
__ADS_1
Di sekte ini adalah tempat yang paling aman untuknya. Para prajurit dan mata-mata yang dikirimkan oleh ayahnya tidak akan mampu untuk menembus tempat ini. Ketua Sekte telah menebarkah mantra berkabut di sekeliling sekte.
Di hadapan semua tetua, Ketua Sekte ingin memberikan hadiah untuk Jian Heng selain upah yang telah ditetapkan dalam misi kali ini.
Semua orang tercengang ketika mendengar bahwa Jian Heng menolak hadiah yang diberikan oleh Ketua Sekte karena dia merasa tidak pantas untuk menerimanya.
Misi itu hampir saja gagal andai saja Fang Yin tidak datang untuk menyelamatkannya. Jian Heng tidak menceritakan tentang siapa yang menyelamatkannya. Namun hanya menyebutkan ciri-ciri yang tidak mengarah pada Fang Yin.
Jika sampai Jian Heng mengatakan tentang ciri-ciri siapa penyelamatnya, nyawa Fang Yin bisa terancam.
Para tetua itu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jian Heng dan menganggap hal itu sebagai keberuntungan untuknya. Bagaimana tidak, saat berada di dalam kesulitan, seseorang yang tak dikenal datang untuk membantu.
Meskipun para tetua berusaha untuk membujuknya ajar mau menerima hadiah dari Ketua Sekte. Namun Jian Heng tetap saja menolaknya.
'Hadiah itu adalah milik Xiao Yin. Tidak peduli apa isiannya, aku tidak ingin mengambilnya.
Ketua sekte membuka hadiah itu di depan semua orang yang hadir di sana termasuk Jian Heng.
****
__ADS_1
Bersambung ...